[SS] My Parent’s Love Story (part 1)

cover part 1

My Parent’s Love Story © 2015 Ranifa Billy

Part 1

Lima tahun yang lalu. Sabtu pagi memasuki pertengahan musim gugur. Aroma pancake keju dan kopi telah mengisi ruang makan. Aku sudah berpakaian rapi, duduk di salah satu kursi di konter, dan menyantap pancake keju dengan khidmat. Mama masih berkutat dengan adonan pancake yang tersisa. Papa baru keluar dari kamar dan berjalan menghampiri Mama. Dan aku tidak perlu menjelaskan rutinitas pagi mereka saat ini.

“Hari ini libur, kau ingin pergi ke suatu tempat?” tanya Papa setelah mengambil tempat di sebelahku.

“Papa ingin mengajakku piknik?” aku balik bertanya. Menyuapkan secuil pancake keju ke mulutnya, mencegahnya menyeruput kopi panas. “Jangan minum kopi saat perutmu masih kosong,” lanjutku.

Papa meletakkan cangkir kopinya di konter dan terkekeh. Mama menyodorkan sepiring pancake keju untuknya dan meletakkan mangkok bekas adonan ke wastafel sebelum mengambil tempat di sampingnya.

“Maksudnya, kenapa kau sudah rapi sepagi ini?” sahut Mama. “Memangnya orang ini pernah—sekali saja—mengajak kita piknik?” sindirnya sambil menyentil dahi lebar Papa.

“Hei, aku tidak sekejam itu pada kalian. Aku pernah mengajak kalian ke Disneyland, kan?”

“Sekarang usiaku tiga belas tahun. Masa balita sampai aku di Taman Kanak-Kanak lebih banyak kuhabiskan bersama Nenek dan Kakek. Aku tidak ingat Papa pernah mengajakku ke Disneyland,” aku menatap Papa dengan alis berkerut.

“Aah~” Mama menepukkan telapak tangannya. “Tentu saja kau tidak ingat, Sweet Tomato. Kau masih ada di sini,” Mama mengusap perut datarnya. “Papamu ini licik sekali.”

Dan kulihat Papa hanya menatap datar pada Mama tanpa mengucapkan pembelaan.

“Benarkah? Aku tidak percaya!” seruku.

“Baiklah. Maaf, Papa jarang punya waktu untukmu,” sesal Papa dengan wajah memelas yang sama sekali tidak cocok untuknya.

“Jadi, ingin pergi piknik hari ini? Papa bisa mengambil cuti sehari,” lanjutnya.

“Eum, meski aku ingin, aku tidak bisa. Mungkin lain kali. Aku sudah terlanjur punya janji dengan temanku,” jelasku.

“Janji? Teman? Siapa? Laki-laki atau perempuan?” serbu Papa dengan penuh selidik.

“Ooh~ Janji kencan?” tanya Mama dengan nada menggoda seraya menaikkan alisnya.

“Kencan? Dengan siapa? Jangan bilang dengan anak laki-lakinya Barlow,” dan sisi over-protective Papa yang sedang menginterogasiku sekarang.

“Bukan kencan, Ma~” rengekku. Aku paling tidak bisa digoda. “Ya, aku pergi dengan Jackson. Tenang saja, ini hanya untuk proyek sekolah. Kami hanya akan ke perpustakaan,” jelasku berusaha menenangkan Papa.

“Apa kau tidak punya teman lain di sekolah? Yang perempuan?” tampaknya usahaku tidak berhasil.

“Ada Leslie dan Greta yang pernah kuajak ke sini, kan? Tapi untuk proyek ini, kami tidak satu kelompok,” jelasku. Sebelum Papa menginterogasiku lebih lanjut, aku segera merajuk, “Ayolah, Pa~! Aku dan Jackson sudah berteman sejak kecil, kenapa Papa tidak menyukainya?”

“Papa bukannya tidak menyukainya…” ucap Papa dengan kikuk.

“Tapi, Papamu dan Ayahnya Jackson, kan, rival sejak lama, Sweet Tomato~” sambung Mama. “Mungkin Papamu tidak ingin berbesan dengan keluarga Barlow.”

“Kenapa harus berbesan?” tanyaku dengan lugu.

“Yah~ siapa yang tahu kalau suatu saat nanti, bisa saja kau dan Jackson berkencan kemudian memutuskan untuk menikah-”

“Tidak perlu diteruskan, Honey~” Papa memotong penuturannya, dan Mama benar-benar berhenti mengoceh.

“Aku baru tiga belas tahun, dan Papa tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Aku tidak akan berkencan sampai aku lulus sekolah. Sama seperti Mama,” tuturku menatap Mama dengan berbinar dan tersenyum lebar. Mama membalas senyuman lebarku.

“Papa kantongi ucapanmu, Sweet Tomato,” Papa menepuk puncak kepalaku.

“Janji pelaut!”

Begitulah awal mulanya. Alasan kenapa aku memilih tidak berkencan dengan siapapun semasa sekolah. Banyak orang beranggapan, aku berkencan dengan Jackson Barlow. Mereka bilang, kami terlihat saling melengkapi dan serasi. Mungkin karena cowok idiot itu memanggilku dengan panggilan sayang ‘Sweet Tomato’ yang hanya digunakan oleh orang tuaku. Atau karena dia selalu memperlakukanku seperti tuan putri.

Jackson mengetahui tentang janjiku pada Papa. Jadi, dia baru mengatakan jika dia juga menyukaiku secara romantis setelah kami resmi menjadi mahasiswa—sekitar dua bulan yang lalu. Tapi aku tidak menganggap pengakuannya serius. Sehingga kami masih menjalani hubungan lama kami.

Aku Scarlett Hayden. Usiaku 18 tahun 6 bulan. Aku anak tunggal. Dan ini bukanlah kisah romansaku. Ini tentang kedua orang tuaku ketika mereka seusiaku. Interested?

Setelah resmi lulus SMU, Papa mengajakku dan Mama berlibur ke Venice, Italia. Siapa yang menyangka, Papa menyiapkan hadiah se-eksklusif ini untuk kelulusanku? Sore itu, setelah kami menyusuri kanal-kanal dengan gondola, kami duduk di salah satu meja di restoran yang cukup terkemuka di sini, menunggu waktu makan malam. Aku berniat menggoda Mama dan Papa dengan bertanya, “Apa kalian membuatku di sini—Venice?”

Mama langsung menatapku dengan kedua mata membulat. Sedetik kemudian, menatap tajam Papa. Kulihat Papa membalasnya dengan seringaian sebelum beralih menatapku dan bertanya, “Kenapa tiba-tiba bertanya?”

“Hanya penasaran setelah mendengar percakapan nostalgia kalian tentang Venice. Aku tidak tahu, kenapa dari sekian banyak tempat wisata di Eropa, kalian memilih Venice? Kemudian aku mengambil kesimpulan, mungkin aku dibuat di sini,” jelasku.

“Kau tidak suka dengan Venice?” tanya Mama, berusaha mengubah topik pembicaraan.

“Oh, siapa yang tidak suka Venice? Tentu saja aku suka. Terima kasih karena mengajakku ke sini, Ma, Pa~” ucapku dengan mode anak manis.

Aku kembali bertanya setelah makanan pesanan kami diantar. “Bagaimana Mama dan Papa bertemu? Berapa lama kalian berkencan sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah?”

“Kenapa tiba-tiba ingin membahas topik ini?” kali ini Mama yang bertanya.

“Kami tidak berkencan. Kami langsung menikah,” jawab Papa dengan tenang.

“Kris!” Mama kembali memberi tatapan tajam padanya.

“Tidak apa-apa, Honey. Scarlett hanya penasaran. Lagipula, dia sudah memenuhi janjinya dengan tidak berkencan hingga dia lulus sekolah. Aku akan menyalakan lampu hijau untuknya jika dia ingin berkencan,” tutur Papa dengan lembut, mengusap punggung Mama.

“Benarkah? Bahkan dengan Jackson sekalipun?” tanyaku penuh semangat.

“Tampaknya kau sudah terlanjur terikat padanya. Apa jangan-jangan kalian sudah berkencan secara diam-diam?” tanya Papa dengan mata menyipit, menuduhku.

“Tenang, Pa. Aku hanya bercanda. Aku dan Jackson masih berteman,” jawabku dengan cepat.

“Syukurlah, jika begitu kenyataannya,” Papa menghela napas lega dan mulai melahap Spaghetti yang dipesannya.

Sejenak tidak terjadi percakapan apapun di antara kami. Terlalu sibuk mengisi lambung kami dengan makanan orang Italia. Langit menggelap, lampu-lampu menyala. Sinarnya memantul di permukaan air. Venice benar-benar tempat yang romantis.

“Jadi, kenapa kalian langsung menikah? Apa kalian dijodohkan?” tanyaku, kembali membuka pembicaraan. Kutatap wajah Mama dan Papa bergantian ketika mereka tidak segera memberikan jawaban. Aku berpikir, apa aku salah mengajukan pertanyaan?

Well, Sweet Tomato. Papa rasa, tempat ini kurang cocok untuk mendongengimu,” ucap Papa memecah keheningan.

“Oow~” aku memandang takjub pada kedua orang tuaku. Aku rasa ini akan menjadi kisah panjang yang menarik untuk disimak. “Aku akan menagihnya ketika kita kembali ke hotel nanti.”

“Ya. Mamamu yang akan bertanggung jawab akan hal ini.”

“Apa? Kenapa aku?” protes Mama.

“Mendongeng untuk Scarlett adalah tugasmu,” jawab Papa dengan tenang, melanjutkan kegiatan makannya.

“Ugh. Aku membencimu, Kris.”

“Aku juga mencintaimu, Honey~”

Aku memandang kedua orang tuaku dengan mata berbinar. Kedua orang tuaku jarang menunjukkan hubungan romantis mereka. Aku lebih sering melihat mereka beragumen tentang hal-hal kecil. Aku suka melihat interaksi mereka yang menggemaskan, seolah mereka adalah pasangan anak muda.

“Pemikiranmu tidak salah, Sweet Tomato,” ucap Mama. Kami sedang berbaring di ranjangku di kamar hotel tempat kami menginap. Mama menolak tidur di ranjang yang sama dengan Papa.

Papa bilang, “Mamamu tidak ingin membuatkan adik untukmu,” dan dia mendapatkan pukulan penuh cinta di perut dari Mama.

“Kami memang bersikap seperti pasangan anak muda,” lanjutnya, berbaring menyamping menghadapku.

“Karena kalian langsung menikah?” tanyaku, menduga-duga alasannya.

“Karena kami langsung menikah dan karena tiba-tiba kau sudah tidur meringkuk di sini,” sambung Papa yang entah sejak kapan sudah berbaring di belakang Mama sambil melingkarkan tangan di sekitar perut Mama.

“Pergi kau!” usir Mama sambil mendorongnya turun dari ranjang.

“Jangan seperti ini. Aku sendirian di sana~” Papa mulai merajuk pada Mama. Ketika Mama merasa kesal padanya, maka Papa yang akan lebih sering merajuk. Jadi, bukan karena Papaku tipe pria yang suka merajuk.

Aku hanya meringis aneh melihat mereka, “Aku rasa, aku saja yang tidur di ranjang satunya. Kita bisa melanjutkan pembicaraan ini besok pagi.”

“Scarlett, jangan tinggalkan Mama!” seru Mama. Aku hanya melambaikan tanganku pada mereka dan membawa serta boneka Elmo-ku menuju ranjang yang kumaksud.

Esoknya, saat sedang sarapan di restoran hotel, aku membawa kembali pembicaraan semalam yang belum selesai. Aku rasa, Papa yang akan melanjutkan cerita. Karena Mama sedang berada pada periodenya, sehingga dia sangat sensitif pada hal-hal kecil yang tidak disukainya.

“Jadi, kalian memang dijodohkan?” aku menjejalkan potongan omelet yang cukup besar ke dalam mulutku.

Papa mengangguk tegas. Kulirik sekilas, Mama tidak bergeming, menikmati Fettucini Carbonara-nya yang menggiurkan.

“Oow~ berarti kalian menikah karena terpaksa?” tanyaku dengan nada yang pelan. Tiba-tiba aku merasa murung.

Nampaknya Papa masih bisa mendengar pertanyaanku, sehingga dia menjawab, “Tidak juga.”

Aku mendongak menatap Papa dengan bingung. Mama juga melakukan hal yang sama.

“Tapi, bukankah orang-orang yang dijodohkan itu memang terpaksa menikah? Bukankah mereka tidak saling mencintai?” tanyaku meminta penjelasan keduanya.

“Cinta bisa datang kapan saja, Sweet Tomato,” jawab Papa dengan bijak. “Lagipula, apa menurutmu kami terlihat tidak saling mencintai?” Papa balik bertanya, meminta pendapatku. Lengannya sudah merangkul pundak Mama, kemudian mencuri ciuman singkat di pipi, dan Mama membiarkan sendok yang dipegangnya mencium dahi Papa. Meski begitu, rona merah samar muncul di kedua pipi Mama. Mereka benar-benar seperti pasangan anak muda yang sedang berkencan. Aku jadi iri.

“Eum~ karena aku lebih sering melihat kalian beragumen, jadi…” aku menggantungkan kalimatku seraya mengusap tengkukku dengan kikuk.

“Hei, kalau kami tidak saling mencintai, tidak mungkin kau bisa ke sini sekarang,” sambung Papa sambil mengusap-usap dahinya.

“Yah~ bisa saja aku hasil kecelakaan, kan?” ucapku menantang. “Aaw!”

“Apa yang membuatmu berpikir begitu, Sweet Tomato?” Mama mencubit pipiku dengan gemas, tapi sakit sekali. Sepertinya aku memancing emosinya. Mama yang sedang dalam fase seperti ini benar-benar mengerikan.

“Tidak~ aku hanya bercanda, Ma~” rengekku. Memberi tatapan memelas pada Papa agar menolongku.

Papa hanya terkekeh dan kembali mengusap punggung Mama, “Sudahlah, Honey~”

Setelah itu, Mama langsung melepaskan pipiku dan mengatur emosinya. Sedangkan aku, menyatukan kedua telapak tanganku tanda meminta maaf.

Suasana kembali normal, dengan takut-takut aku membuka pembicaraan sekali lagi dengan mengajukan sebuah pertanyaan, “Jadi, kalian berkencan setelah menikah?”

“Tidak juga,” kembali, Papa yang menjawab.

“Apa itu? Sejak kemarin aku mendapatkan jawaban tak pasti untuk setiap pertanyaanku mengenai topik ini,” protesku, memasang wajah merengut.

Papa kembali terkekeh, “Jawaban pastinya, kami berkencan setelah kau lahir.”

“Jadi, saat kau mengajakku ke Disneyland dengan aku membawa Scarlett di perutku itu bukan kencan?” tanya Mama bergabung dalam pembicaraan, kedua alisnya tampak menyatu.

“Oh, itu juga bisa dihitung sebagai kencan,” jawab Papa kemudian meringis lebar. Mama hanya mentapnya datar dan melanjutkan sarapannya. Sepertinya, Mama tidak akan bergabung dengan pembicaraan ini lagi.

“Ayo, Pa, lanjutkan ceritanya! Aku tidak akan banyak bertanya dan menyela,” pintaku dengan penuh semangat. “Tapi, kalau Mama tidak suka cerita versi Papa, Mama boleh menceritakan versinya Mama sendiri. Aku tidak keberatan mendengar keduanya,” aku meringis lebar pada Mama.

“Ini akan menjadi cerita yang panjang, Sweet Tomato~”

>Next<

Advertisements

One thought on “[SS] My Parent’s Love Story (part 1)

  1. Whoaahh aku kalo baca FF atau jenis fiksi lainnya kalo bukan KrisHan yg main tuch kagak bakalan ngefeel tapi untuk yang satu ini emg bukan KrisHan/FanHan tapi aku udah terlanjur ngerasa ini tuch FanHan omo~ what should I do ???

    Ceritanya bagus bikin senyam senyum gaje apalagi yang pas bagian “Aku membencimu Kris” and then Kris said “Aku juga mencintaimu Honey~” *I’m flying*

    Good story Author-nim. I want to read the next part *wink*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s