[SS] My Parent’s Love Story (part 2)

cover part 2

My Parent’s Love Story © 2015 Ranifa Billy

Part 2

Ini adalah cerita versi Papa. Jadi semua berawal dari, pertemanan antara Kakek dari Papa (Kakek Hayden) dan Kakek dari Mama (Kakek Holmes). Papa dan Mama sama sekali tidak mengenal satu sama lain saat itu. Pertemuan pertama mereka adalah awal tahun ketiga mereka menjadi mahasiswa. Mereka berkuliah di universitas yang sama, namun beda fakultas.

Saat itu, Kakek Hayden menjelaskan padanya tentang masalah yang sedang dihadapi Mama. Intinya, Mama sedang butuh tempat tinggal yang nyaman dengan biaya sewa terjangkau. Dan Kakek Hayden mengusulkan agar Mama tinggal di apartemen yang disewakannya untuk Papa.

Awalnya, Kakek Holmes ragu dengan usul itu. Pasalnya, tidak mungkin dia membiarkan anak gadisnya tinggal di atap yang sama dengan seorang pria yang baru ditemuinya hari itu. Namun, Kakek Hayden meyakinkannya, bahwa Papa adalah pria yang baik dan bertanggung jawab.

Setelah berpikir cukup lama dan meminta keputusan dari Mama sendiri, Kakek Holmes menyetujui usul tersebut. Dia memberi kepercayaan penuh pada Papa untuk menjaga Mama, dan Papa sama sekali tidak keberatan. And, story begin!

Kris membantu Lucy dan keluarga Holmes membawa barang-barangnya menuju ke apartemen. Dia merasa canggung dengan keluarganya, kecuali sang ayah. Karena mereka sudah pernah bertemu beberapa kali sebelumnya.

Tiba-tiba saja, nyalinya ciut ketika tidak sengaja bertemu pandang dengan pria tinggi yang merupakan kakak laki-laki Lucy, Stefan Holmes. Wajahnya terlihat tenang tapi, kedua matanya menatap penuh sedilik padanya. Nampaknya akan sulit mendapat kepercayaan dari orang ini, batin Kris.

Berbanding terbalik dengan adik perempuannya, Krystal Holmes, yang tampak pendiam di awal namun ternyata dia sosok gadis periang. Andai aku juga punya adik perempuan, batin Kris lagi.

“Wah~ apartemenmu rapi sekali,” ucap Nyonya Holmes, bola matanya menjelajah ke setiap sudut apartemen Kris.

Apartemen itu mempunyai desain minimalis namun berkesan elegan. Ada kitchen set tak jauh dari pintu masuk. Setelahnya, ruang tamu yang merangkap sebagai ruang TV. Dua kamar tidur. Kamar mandi dan toilet yang terpisah yang bersebelahan dengan ruang laundry, dan sebuah beranda yang menghadap langsung ke sebuah taman kecil milik bangunan ini. Apartemen Kris terletak di lantai lima, sehingga kota yang menghampar di luar sana dapat terlihat jelas dari beranda.

“Terima kasih,” ucap Kris dengan tersenyum ramah.

“Kenapa Papamu menyewakan apartemen dengan dua kamar, Kris?” tanya Tuan Holmes.

“Ah~ kamar yang satunya itu biasa dipakai Papa dan Mama kalau mereka sedang berkunjung dan memutuskan untuk menginap. Tapi, mereka hanya menginap saat saya masih di tahun pertama saja. Saya melarang mereka untuk sering berkunjung karena saya merasa diperlakukan seperti anak kecil lagi,” Kris terkekeh mendengar penjelasannya sendiri.

Tuan dan Nyonya Holmes turut tertawa mendengarnya. Stefan dan Krystal melihat pemandangan kota di beranda. Sedangkan, Lucy hanya duduk diam dengan kedua alis menyatu. Setelah suasana tenang, Lucy mengajukan sebuah pertanyaan sambil menatap Kris dengan takut, “Apa tidak apa-apa aku di sini?”

Kedua orang tuanya dan juga Kris menatapnya. Lucy langsung menunduk dan memainkan ujung kemejanya. Kris tersenyum kecil dan angkat bicara, “Tenanglah. Bukankah Papaku yang mengusulkanmu tinggal di sini? Dan seperti yang kukatakan tadi, aku melarang kedua orang tuaku untuk sering mengunjungiku. Jadi, kamar itu tidak terpakai sekarang,” tuturnya, berusaha menjaga nada bicaranya agar tetap tenang.

Suasana kembali tenang. Lucy tampak tidak berniat berbicara lebih banyak. Kemudian Nyonya Holmes membuka suara, “Terima kasih karena mengijikan Lucy tinggal di sini. Kau benar-benar pemuda yang baik dan penuh sopan santun, sama seperti Papamu. Maaf kami merepotkanmu dengan menitipkan Lucy di sini.”

“Tidak, tidak. Saya tidak merasa direpotkan. Saya malah senang bertemu dengan teman dari kota asal yang sama meski berbeda fakultas. Di fakultas saya, sulit sekali menemukan mahasiswa dari kota asal yang sama. Saya rasa, saya dan Lucy bisa menjadi teman yang baik,” tutur Kris dengan sopan.

“Ooh~ begitu ya,” Nyonya Holmes mengangguk mengerti.

“Baiklah, Kris. Paman benar-benar memberimu kepercayaan penuh. Paman titip Lucy padamu, ya,” ucap Tuan Holmes, menepuk pundak Kris.

Kris mengangguk mantap.

Setelah beristirahat yang cukup, keluarga Holmes berpamitan. Kris melihat Lucy menangis dalam diam saat memeluk ibunya. Seolah ini pertama kalinya dia di lepas sendirian di perantauan. Kris merasa lega saat Stefan menepuk pundaknya beberapa kali setelah mengatakan dia mempercayakan Lucy padanya. Sedangkan, Krystal kembali menatapnya dan Lucy secara bergantian dengan mata berbinar. Apa yang dipikirkan anak ini, pikir Kris.

Kris membuka pintu kamar yang akan digunakan Lucy, dan gadis itu hanya berdiri diam di ambang pintu.

“Ada apa?” tanya Kris heran, membuka gorden dan jendela kamar itu.

“Apa kamar yang kau gunakan juga sebesar ini?” tanya Lucy. Baginya, kamar itu terlalu besar jika untuknya sendiri. Kamarnya di rumah memang dua kali lebih besar dari kamar ini, tapi dia menggunakannya bersama Krystal.

“Kamarku sedikit lebih kecil,” jawab Kris, berjalan mendekati Lucy dan mengambil kopernya untuk dibawa ke dalam. “Ada apa?”

“Benarkah? Kenapa bukan kau saja yang menggunakan kamar ini?” tanya Lucy, sebelum Kris menjawab, dia menambahkan, “Aku hanya menumpang di sini. Jadi, biar aku saja yang menggunakan kamar yang lebih kecil.”

Kris menghela napas. Dia harus mengakrabkan diri dengan gadis ini terlebih dahulu. Meskipun sudah berbicara agak banyak, tapi Lucy masih terlalu formal. Kris mencoba membuatnya bersikap dan berbicara dengan santai padanya. Bagaimanapun mereka seumuran. Kris merasa aneh diperlakukan secara formal oleh orang yang berada di usia yang sama dengannya.

“Sudah kubilang, kan? Kamar ini dulu digunakan kedua orang tua jika mereka berkunjung dan menginap. Aku sudah menata barang-barangku di kamarku, dan aku tidak mau memindahkannya ke kamar ini dan menata ulang,” jelas Kris. “Dan berbicaralah dengan santai padaku, tidak perlu terlalu formal.”

Namun, justru cara bicara Kris membuat Lucy semakin takut. Terbukti dengan gadis itu menunduk dalam-dalam dan tidak membalas ucapan Kris.

Kris menepuk dahinya dengan keras saat menyadari dia salah dalam merangkai kalimat untuk penjelasannya. Sehingga Lucy salah paham dan gadis itu terlihat lebih canggung dan lebih takut padanya.

“Hei, aku tidak marah tadi. Jangan takut,” ucap Kris setelah berdiri di depan Lucy. Menepuk pundaknya pelan dan mencoba melihat wajah Lucy yang masih tertunduk.

Cukup lama sampai gadis itu tiba-tiba bersuara dengan pelan, “Aku minta maaf.”

“Ti-tidak perlu meminta ma-af,” ucap Kris agak gagap. Dia terkejut dan merasa salah tingkah. Dia bingung dengan apa yang salah di sini.

“Ayo. Aku akan membantumu menata kamarmu,” Kris menarik lengan Lucy agar masuk ke kamar dan membawa barang-barangnya yang lain ke dalam.

Suasana masih terasa canggung. Mereka melakukan kegiatan masing-masing tanpa suara. Lucy membersihkan lemari pakaian, sedangkan Kris mengeluarkan buku-buku dari kardus. Entah hanya perasaan Kris saja atau memang kenyataannya seperti itu, menurutnya Lucy merasa tidak nyaman karena dia berada di sana sekarang. Tapi Kris tidak mungkin membiarkan gadis itu membersihkan dan menata kamar ini sendiri. Setidaknya, dia harus membantu meski tidak banyak.

Kris mengamati buku-buku cetak milik Lucy. Dia lupa tidak menanyakan pada Papanya, bidang apa yang diambil Lucy. Papanya hanya mengatakan kalau mereka beda fakultas saja. Dari buku-buku cetak itu, Kris dapat menyimpulkan, Lucy mempelajari ilmu Biologi. Sangat kontras dengannya yang mengambil Bisnis. Itupun pilihan Papanya. Sebenarnya, Kris memilih bidang Psikolog, tapi gagal ujian masuk, dan jatuhlah di pilihan kedua.

“Apa kau pernah membedah katak?” tanya Kris tiba-tiba, mencoba membuat percakapan, memecah kecanggungan.

Lucy menoleh ke arahnya, “Apa?”

“Apa kau pernah membedah katak?” ulang Kris, menunjukkan buku cetak dengan gambar katak hijau. “Kau mahasiswi Biologi?”

Lucy mengangguk, “Bukan katak, tapi tikus putih.”

Mendengar jawaban polos gadis itu, Kris berjengit, “Tikus putih?!”

Lucy mengangguk lagi sambil tertawa kecil melihat reaksi Kris.

Hal kecil itu tak luput dari mata Kris. Namun, dia pura-pura tak melihatnya, dan melanjutkan percakapan mereka, “Wow! Kau sangat berani. Aku sangat membenci hewan pengerat.”

Lucy menyatukan kedua alisnya seraya berkata, “Kau tidak boleh membenci hewan. Mereka juga makhluk hidup. Bernapas dan makan seperti kita.”

“Jadi, kau menyamakan manusia dengan hewan?” tanya Kris dengan polos.

Lucy menatapnya datar, “Duh~ saat masih sekolah, kau dapat nilai berapa untuk Biologi? Maksudku, hewan juga bernapas dan butuh makan. Tumbuhan juga seperti itu.”

Salah satu ujung bibir Kris terangkat. Mengetahui fakta bahwa Lucy menanggapi setiap ucapannya, membuatnya berpikir, akan mudah berteman dengan gadis. Awalnya dia khawatir, Lucy akan sulit diajak berteman, melihat gadis itu sangat pendiam. Namun, kini dia sudah tahu trik untuk berteman dengan gadis itu dan membuatnya berbicara banyak. Berargumen.

“Aku tidak ingat. Sepertinya, aku harus belajar ilmu ini lagi padamu, nona Biologi,” ucap Kris kemudian mengedipkan sebelah matanya.

“Aku tidak bisa membantu orang mempelajari sesuatu,” jawab Lucy masih dengan wajah datar. Kemudian membalikkan badan dan melanjutkan kegiatannya.

Melihat tindakannya, Kris merasa, gadis itu menyudahi percakapan mereka. Dia harus menemukan kalimat yang tepat agar gadis itu menanggapi ucapannya lagi.

“Berarti kau pelit ilmu~”

Dan seperti dugaannya, Lucy kembali menoleh ke arahnya. Kali ini ekspresinya tampak kesal. Akhirnya, dia bisa melihat ekspresi lain dari gadis itu, “Aku tidak pelit!”

“Tapi kau tidak mau mengajariku.”

“Kau, kan, bisa belajar sendiri. Aku bisa meminjamkan bukuku kalau kau mau,” balas Lucy, dan Kris dapat mendengar nada kesal di dalam. Hal itu membuatnya harus menahan tawanya karena berhasil membuat gadis itu berbicara banyak bahkan sampai kesal padanya.

“Baiklah, baiklah. Aku menyerah. Aku akan belajar dari bukumu saja,” Kris mengangkat tangan. “Tapi, kau akan menjawab semua pertanyaanku jika aku bertanya, kan?”

Lucy terdiam, tampak ragu sebelum mengangguk pelan.

Kris tersenyum simpul kemudian menata buku-buku cetak milik Lucy ke dalam rak. “Kau sudah tahu aku mengambil bidang apa?”

Lucy hanya menggedikkan bahu.

“Kau tidak penasaran? Kita akan menjadi teman serumah sampai wisuda nanti,” lanjut Kris.

“Memangnya apa?”

“Tebaklah!”

Lucy terdiam sambil mengamati Kris sebelum mengucapkan, “Kedokteran?”

Kris mengernyit, “Apa aku terlihat seperti calon dokter?”

“Tidak,” jawab Lucy terlampau cepat. “Kau tidak tahu apa-apa tentang Biologi. Tidak mungkin kau menjadi dokter.”

Kris terkekeh mendengar jawabannya, “Lalu?”

“Bisnis? Atau Olahraga?”

“Apa yang membuatmu berpikir aku di bidang olahraga?”

“Kau tinggi dan… atletis,” Lucy memalingkan wajah setelah mengucapkannya.

Kris kembali terkekeh, “Aku bermain basket saat sekolah dulu. Tapi, benar. Aku di bidang Bisnis.”

Lucy menjentikkan jarinya, “Tentu saja, Bisnis. Papamu seorang Bussinessman.”

Kris tidak bisa untuk tidak terkekeh melihat reaksi gadis itu. Menurutnya, Lucy mempunyai kepribadian yang menggemaskan. Dia jadi penasaran, apa benar dia seumuran denganku? Jangan-jangan dia lebih muda dariku dan mengambil kelas akselerasi karena dia jenius.

“Hei, kita berada di usia yang sama, kan?” Kris menyuarakan pikirannya.

“Entahlah. Aku 20, lima bulan yang lalu,” jawab Lucy dengan lugu.

“Benarkah?” Kris tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

“Kenapa? Bagaimana denganmu?” tanya Lucy, masih dengan lugu.

“Aku baru akan 20, dua bulan lagi,” jawab Kris dengan pelan. Sial! Ternyata dia lahir beberapa bulan lebih cepat dariku? Baginya, Lucy masih tampak seperti murid SMU tahun pertama.

“Wow! Jadi, aku lebih tua darimu beberapa bulan?” tanya Lucy meyakinkan pendengarannya.

“Begitulah~” Kris menggaruk tengkuknya dengan kikuk. “Jadi, sebaiknya kita bicara dengan santai saja. Jangan bicara secara formal padaku.”

Lucy kembali terdiam, nampak mempertimbangkan sebelum akhirnya mengangguk mantap, “Oke!”

Kris tersenyum lebar kemudian berjalan menghampiri Lucy dan mengulurkan tangannya, “Aku Kris Hayden.”

Lucy yang tampak ragu sesaat menjabat tangan Kris dan membalas senyumannya, “Lucy Holmes.”

“Mulai sekarang kita berteman,” ucap Kris dengan tegas.

Dan senyum keduanya masih bertahan di sana.

>Next<

Advertisements

One thought on “[SS] My Parent’s Love Story (part 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s