[SS] My Parent’s Love Story (part 3)

cover part 3

My Parent’s Love Story © 2015 Ranifa Billy

Part 3

Kali ini, aku mendengar cerita dari sudut pandang Mama. Sebelumnya, Mama menjelaskan padaku alasan kenapa dia tidak pernah mempunyai kekasih dan akhirnya menikah dengan Papa. Mama pernah menyukai seseorang saat masih SMU. Namun, Mama tidak tahu jika saat itu dia tengah jatuh cinta. Dan cinta pertamanya itu mempermainkan perasaannya. Orang itu memperlakukan Mama seolah-olah Mama adalah kekasihnya. Namun, pada kenyataannya, orang itu sudah memiliki kekasih. Dan lebih parahnya, orang itu memperkenalkan kekasihnya pada Mama.

Mama membenci orang itu, tapi tidak bisa melupakan. Karena kejadian itu, Mama tidak bisa jatuh cinta pada pria lain. Baginya, itu semacam trauma. Mama tidak mau tersakiti karena cinta. Itulah alasan kenapa Mama tidak mau berkencan dengan siapapun. Itulah alasan kenapa saat itu Mama tidak mempunyai perasaan yang romantis terhadap Papa meskipun mereka tinggal bersama.

“Kau pasti tidak percaya. Tapi, memang benar. Tidak ada perasaan terlibat di antara kami sampai wisuda,” tutur Mama. “Lagipula, Papamu sudah mempunyai kekasih saat itu.”

“Benarkah?!” seruku tak percaya. Di saat Mama menjadi gadis single, Papa sudah mempunyai kekasih. Aku benar-benar tidak percaya ini. Bagaimana Papa bisa membiarkan Mama seperti itu, gerutuku.

“Lalu, kalian menikah karena murni dijodohkan?” tanyaku dengan menuntut.

“Eum~ begitulah~” jawab Mama seadanya.

“Aku benar-benar bingung. Tapi kalian saling mencintai, kan? Papa bilang, jika kalian tidak saling mencintai, tidak mungkin aku ada di sini. Dan aku percaya, jika aku bukan hasil hubungan gelap,” ucapku dengan cepat.

“Mana yang ingin kau ketahui lebih dulu, Sweet Tomato?”

“Bagaimana kalian bisa dijodohkan, jika saat itu Papa sudah mempunyai kekasih? Lalu, bagaimana kalian bisa jatuh cinta, sehingga aku bisa ada di sini?” tanyaku penih semangat.

Mama tampak berpikir seolah mengulur waktu, “Baiklah. Bab selanjutnya dimulai di sini.”

Lucy dan Kris duduk berhadapan di meja makan. Melahap sepanci mac and cheese dengan uap masih mengepul. Di luar nampak hujan turun begitu lebat. Sebelumnya, Lucy sedang berkutat dengan laptop dan kertas-kertas laporan di kamar, ketika dia mendengar pintunya diketuk. Setelah terbuka, dilihatnya Kris berdiri di depannya dengan handuk bertengger di atas kepala. Rambut dan pakaiannya tampak setengah basah.

“Oh, kau sudah pulang,” sapanya. “Kau kehujanan, ya? Bukannya kau mengendarai mobil?”

“Aku tidak membawa payung di tasku. Aku kehujanan saat menghampiri mobilku,” jawab pria itu. “Kau sedang apa? Kau sudah makan?”

“Menyelesaikan laporanku. Deadline besok pagi. Kurang pembahasan bab terakhir,” jelasnya, menunjuk ke dalam di mana banyak lembaran kertas berserakan di atas ranjang. “Dan aku tidak lapar.”

Kris memandangnya tidak percaya, “Eii~ bagaimana bisa? Tadi pagi aku hanya melihatmu keluar kamar saat ke toilet saja. Setelah itu kau tidak keluar kamar lagi sampai aku berangkat kuliah. Hari ini kau libur kuliah, kan?”

Lucy mengangguk pelan.

“Ini sudah sore dan kau tidak memakan apapun sejak pagi. Bagaimana bisa kau hidup seperti itu? Pantas kau sangat kurus,” omel pria itu.

Lucy hanya menatapnya datar. Dia mulai terbiasa dengan sikap, sifat, dan cara berbicara pria itu. Dia memang tampak dingin dan kaku di luar. Namun, setelah mengenalnya, ternyata pria itu suka mengomel dan bertingkah konyol. Selain itu, dia juga pria yang hangat serta penuh sopan santun dan perhatian. Huh? Kenapa aku memujinya?

“Keluar dari kamarmu! Ayo kita membuat mac and cheese. Aku tahu, kau tidak bisa menolak keju,” ucap Kris, menarik lengan Lucy secara paksa.

“Darimana kau tahu, aku belum makan sejak pagi?” tanya Lucy sebelum menyuapkan sesendok mac and cheese ke dalam mulutnya.

Kris nampak terburu-buru menelan, kemudian menunjuk ke arah wastafel, “Itu kering. Artinya kau tidak menggunakan dapur sama sekali.”

Lucy tidak berniat berbicara lagi. Dia melanjutkan makan dengan tenang.

“Kenapa kau tidak pernah makan setiap kali libur kuliah?” tanya Kris tiba-tiba, membuatnya hampir tersedak.

“Tidak ada apa-apa.”

Kris menatapnya datar, kembali melahap.

“Aku tidak pernah melihatmu menggunakan dapur. Aku hanya pernah melihatmu mencuci piring atau gelas. Aku tidak pernah memasak sesuatu yang ingin kau makan. Kau tidak bisa memasak, ya?” kali ini, Lucy benar-benar tersedak.

Seolah tidak mengetahuinya, Kris melanjutkan, “Aku juga tidak pernah melihatmu menonton TV. Apa kau tidak suka?”

Lucy sedang mengatasi tersedaknya, sedangkan Kris dengan tenang melanjutkan makannya sambil menunggu penjelasannya.

Setelah berhasil, Lucy menatap tajam pria itu, “Ya. Itu semua benar. Aku tidak bisa memasak. Aku tidak suka menonton TV. Aku juga tidak terlalu menyukai makan.”

Kris nampak tidak puas dengan jawabannya, “Entah kenapa, aku merasa, kau tidak berani menggunakan fasilitas yang ada di sini, kecuali kamarmu, kamar mandi plus toilet, dan ruang laundry. Ayo, jelaskan padaku alasannya!”

Tatapan Lucy masih sama, tatapan tidak suka yang tajam, “Ya. Itu juga benar!” serunya kemudian berdiri.

Sebelum Lucy sempat beranjak pergi, Kris menahan tangannya, “Hei, kenapa marah? Aku hanya bertanya. Ayo, ceritakan padaku. Kau tampak tidak nyaman.”

Sekarang mereka ada di sini. Duduk bersebelahan di sofa, meluruskan kesalah-pahaman sambil menonton TV. Wajah Lucy masih menekuk, dia sama sekali tidak menatap ke layar TV. Kris meliriknya sesekali.

“Kau tahu alasan, kenapa sejak awal aku mengatakan, bersikaplah yang santai padaku. Itu agar kau merasa nyaman di sini. Aku berusaha menjadi tuan rumah yang baik,” tutur pria itu dengan tenang. “Kau boleh menggunakan fasilitas di sini dengan bebas seolah kau di rumahmu sendiri. Tidak perlu takut. Aku bukan pria jahat.”

“Terima kasih,” ucap Lucy dengan pelan. “Dan maaf.”

“Sama-sama. Dan tidak perlu meminta maaf. Kau cukup bersikap dengan santai saja. Tidak perlu canggung lagi. Kita, kan, sudah menjadi teman,” Kris menepuk-nepuk pundaknya.

Lucy bernapas lega. Untungnya, pria ini menerima keberadaannya di sini dengan baik. Tanpa sepengetahuannya, pria ini juga telah memperhatikannya. Selama ini, dia merasa keberadaannya sering diabaikan oleh teman-temannya. Dia bersyukur bertemu dengan orang seperti Kris yang benar-benar memperlakukannya sebagai seorang teman. Mungkin Kris adalah sosok teman yang selama ini dicarinya.

“Hei, kenapa diam?” tanya Kris membuyarkan pikirannya. “Kau suka dengan hewan, kan? Bagaimana dengan NatGeo Channel?”

Setelah Kris mengganti ke channel yang dimaksud, Lucy baru melihat ke layar TV. Tidak terjadi percakapan di antara keduanya. Lucy tampak serius menonton, membuat Kris juga ikut serius. Saat akhirnya merasa bosan, Kris beranjak mengambil cemilan dan membuka percakapan.

“Apa kau tahu? Mungkin sebenarnya, kita ini dijodohkan,” ucapannya seketika membuat Lucy menoleh.

“Apa? Kata siapa? Siapa yang menjodohkan?” tanya Lucy dengan cepat. Merasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

“Orang tua kita yang menjodohkan. Aku hanya menebak saja, sih~” jawab Kris sambil melahap cemilannya.

“Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?”

“Yah~ tidak mungkin Papaku membiarkanku tinggal dengan seorang gadis jika tidak ada maksud tertentu,” jawaban Kris terdengar tidak meyakinkan.

“Apa… maksudmu?” Lucy memandangnya penuh selidik. “Kenapa Papamu ingin menjodohkanmu denganku? Bukannya kau sudah bersama Victoria?”

“Itu hanya hipotesisku. Lagipula, keluargaku tidak ada yang tahu aku sedang berkencan,” jelas Kris dengan tenang.

Memang benar. Kris sudah memilik kekasih sebelum dia mengenal Lucy. Dia memang sengaja tidak memberitahu keluarganya tentang gadis yang dikencaninya itu karena Victoria beberapa tahun lebih tua darinya. Victoria adalah senior Kris di fakultas. Dia sudah lulus dua tahun yang lalu, dan sudah bekerja. Mereka berkencan hampir dua tahun.

Alasan Lucy mengetahui tentang Victoria bukan karena Kris sengaja menceritakannya. Namun, gadis itu pernah melihat Kris dan Victoria berkencan di coffee shop langganannya. Jadi, mau tidak mau, Kris harus menjelaskannya. Karena gadis itu menjadi panik dan merasa canggung dengan posisinya.

“Jadi kau sudah punya kekasih, ya? Bagaimana ini? Aku jadi sungkan padanya karena tinggal serumah denganmu. Bagaimana kalau dia datang kemari? Wah~ aku tidak mau menjadi perusak hubungan orang. Apa yang harus kulakukan? Kenapa hal seperti ini tak terpikirkan olehku?”

Justru Kris yang merasa sungkan pada Lucy. Pasalnya, pada saat itu, gadis itu melihatnya saat sedang mencuri ciuman di pipi Victoria. Dan gadis itu mengatakan dengan polosnya, “Aku melihatmu menciumnya. Tentu saja aku yakin, gadis itu kekasihmu.”

Setelah menjelaskan bahwa Victoria tidak pernah berkunjung ke apartemennya, dan mereka hanya bertemu di luar saja, entah kenapa Kris merasa sedikit lega. Selama ini yang mengetahui bahwa dia berkencan dengan Victoria hanya beberapa orang teman dekatnya saja. Keluarganya dan keluarga Victoria sendiri tidak mengetahui hal ini.

“Wow! Benarkah itu?” Lucy menatapnya tak percaya. “Bagaimana mungkin kau memberitahuku tapi tidak memberitahu keluargamu?”

“Kalau waktu itu kau tidak melihat kami, aku juga tidak akan cerita,” jawab Kris, tiba-tiba ekspresinya berubah galak. “Papa tidak ingin aku mempunyai kekasih yang lebih tua dariku. Dulu sewaktu SMU aku juga berkencan dengan senior. Dan Papa mengetahuinya dari mulut adik laki-lakiku yang ember itu. Dan begitulah, aku harus merahasiakan hubungan ini. Bagiku, usia bukanlah penghalang untuk mencintai seseorang,” jelasnya melankolis.

“Ow~ kau bisa bicara seperti itu juga ternyata,” Lucy tampak menahan tawanya setelah mendengar penjelasan pria itu.

Kris tidak menanggapinya dan terus menyuapkan cemilan ke mulutnya.

“Kalau memang benar Papamu menjodohkanmu denganku, berarti dia tidak tahu kalau aku lebih tua darimu,” ucap Lucy, ikut menyuapkan cemilan saat Kris menawarinya.

“Hanya beberapa bulan. Lagipula kita lahir di tahun yang sama. Kalaupun Papa tahu fakta itu, aku rasa dia tidak akan mempermasalahkannya,” tutur Kris, kedua matanya terpaku pada layar TV.

Lucy menatapnya takjub, “Wow! Kau terlihat tidak menolak. Kalau benar kita dijodohkan, aku akan menolaknya. Kau bukan tipeku!”

Kris langsung menoleh ke arahnya dengan wajah galak, “Aku bukan tipemu? Aku yang tampan ini, bukan tipemu?” tanyanya penuh ketidak percayaan.

“Selain tidak setia, kau juga narsis. Sama sekali bukan tipeku!” ucapan Lucy kali ini bagaikan pukulan telak. Selama beberapa saat dia tidak mampu membalas ucapannya.

“Menurutmu, aku tidak setia?” tanya Kris—pada akhirnya—dengan suara pelan.

Lucy mengangguk mantap, “Sekarang kau punya kekasih, tapi kau tampak tidak menolak kalau kita dijodohkan.”

“Sudah kubilang, itu hipotesis. Belum tentu benar, nona Biologi,” ucap Kris dengan geram.

“Kalau begitu, semoga hipotesismu salah. Aku tidak mau menjadi perusak hubungan orang. Semoga hubunganmu dengan Victoria baik-baik saja,” tutur Lucy menatap layar TV dengan seirus.

“Terima kasih,” ucap Kris pelan. Menatap Lucy agak lama dengan alis berkerut sebelum mengucapkan, “Kau juga. Sebaiknya kau mulai berkencan.”

“Tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku tidak suka terikat hubungan dengan seseorang. Aku juga tidak tertarik untuk berkencan dalam waktu dekat ini,” ucap Lucy, lebih terdengar seperti gumaman. Kedua matanya masih terfokus pada layar TV. Dia tidak mendengar suara Kris yang mencoba menanggapi ucapannya. Saat menoleh, dia melihat pria itu menatapnya dengan khawatir.

“Tenanglah!” Lucy menepuk pundak Kris terlampau keras hingga pria itu agak terkejut. Kemudian memberinya senyuman lebar, “Aku bisa menjamin, tidak akan ada perasaan terlibat di antara kita sekalipun aku tidak mempunyai kekasih.”

Kris menatapnya, tidak tahu harus mengatakan apa. Setelah cukup lama, muncul sebuah senyuman di bibirnya. Tangannya terulur unutk menepuk puncak kepala Lucy.

“Kau terlihat sangat yakin, dan… menggemaskan~” tangan Kris beralih mencubit pipi Lucy yang chubby.

“Menggemaskan?” Lucy mencoba membebaskan pipinya dari tangan jahat Kris. “Aku memang tidak bermasalah jika ada yang menyentuh kepalaku. Tapi, untuk mencubit pipi…” Lucy memberikan tatapan ganasnya yang justru membuat Kris tergelak, “Hei! Itu tidak sopan!” dengan gerakan cepat, tangan Lucy balas mencubit lengan Kris.

“Aw! Tanganmu tampak mungil, tapi cubitanmu mematikan!” seru pria itu sambil mengusap-usap lengannya yang telah dicubit Lucy.

“Itu pelajaran untukmu,” Lucy menyilangkan kedua lengannya di depan dada. “Waa~h, jadi seperti ini rasanya!” serunya tiba-tiba sangat bahagia. “Aku benar-benar bersikap santai padamu! Aku merasa bebas~”

Mendengar ucapan Lucy yang baginya sedikit konyol, membuat Kris kembali tergelak. Lucy yang awalnya tidak tahu, kenapa pria itu tiba-tiba tertawa seolah tidak tahu caranya berhenti, ikut mengiringi tawanya.

Lucy merasakan kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan alat apapun. Kris benar-benar sosok teman yang dicari-carinya selama ini. Mungkin mereka baru bertemu beberapa bulan yang lalu. Namun, Kris bersikap seolah Lucy adalah sahabat lamanya. Bersama Kris, Lucy merasa nyaman dan bahagia.

Baik Lucy maupun Kris, keduanya tidak tahu sampai kapan akan bertahan dengan perasaan mereka kini. Pertemuan mereka adalah takdir yang telah ditulis oleh Tuhan. Semua keputusan ada di tangan keduanya. Ingin tetap dengan hubungan yang telah ada atau merubah hubungan menjadi sesuatu yang lebih indah. Apapun itu, semua hanya masalah waktu.

>Next<

Advertisements

One thought on “[SS] My Parent’s Love Story (part 3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s