[Fanfiction] Wildest Dream (part 1) | FanHan/KrisHan/KrisLu

cov-seq-lk

Fanfiction

Title                : Wildest Dream (sequel Last Kiss)

Author            : Ranifa Billy

Cast                 : Lu Han, Wu Yifan

Pairing           : KrisHan/KrisLu/FanHan

Genre              : Romance, Drama

Rate                 : PG-15

Warning         : BL, shounen-ai, boyxboy

 

A/N

Hai~~ ^^

Karena (maha)karya abal-abalku (read: Last Kiss) mendapat beberapa komentar, dan ada yang meminta kelanjutan, aku tiba-tiba bersemangat!

Setelah mendapatkan feel yang sempat hilang, inilah ide cerita yang muncul dan berhasil aku tuangkan menjadi beberapa—banyak—paragraf.

Aku menjadikan ini sebagai sequel, bukan part 2 dari Last Kiss. Terinspirasi dari Taylor Swift – Wildest Dream.

Selamat membaca. Semoga tidak mengecewakan. *biong*

 

Part 1

When we’ve had our very last kiss

My last request is…

* * *

Natal kurang seminggu lagi. Hari berlalu seperti biasanya—setiap kali menjelang Natal. Terkadang serpihan salju terjun dari langit. Berharap akan terus turun sampai Natal tiba. White Christmas, begitulah orang-orang menyebutnya.

Di kamarnya, tampak Lu Han sedang bermain game di laptop. Awalnya, dia sedang belajar, namun akhirnya bosan. Sang ayah memintanya untuk kuliah lagi. Jadi, Lu Han menggunakan waktu luangnya untuk belajar—mempersiapkan untuk ujian. Meskipun dia sendiri belum yakin ingin mendaftar kapan. Entah tahun depan, atau tahun depannya lagi. Terlebih, perguruan tinggi mana yang mau menampung (calon) mahasiswa berusia 25 tahun untuk gelar sarjana?

Bicara mengenai waktu luang, Lu Han ingin meminta libur Natal pada manajernya. Rasanya sudah lama sekali dia tidak bersama keluarganya saat Natal tiba. Dia selalu bekerja. Bahkan pegawai di perusahaan mendapat libur Natal, pikirnya.

Bukan hanya bersama keluarganya, tapi orang itu juga. Di mana dan apa yang akan dilakukannya pada malam Natal? Apa dia masih bekerja? Kalaupun libur, apa dia akan menyempatkan untuk bertemu? Meski hanya sebentar?

* * *

Langit sudah menggelap. Penerangan di kamarnya pun belun dinyalakan. Namun cahaya dari penerangan di luar sedikit mengurangi kegelapan kamarnya. Wu Yifan terbangun setelah menyerah pada smartphone-nya yang sedari tadi berdering—berkali-kali tanpa tahu kapan harus berhenti.

Tanpa melihat ID-caller, ditempelkannya smartphone tersebut ke telinga. Selanjutnya, dia hanya diam mendengarkan penjelasan orang di seberang. Sesekali menanggapi dengan gumaman tak jelas. Pembicaraan selesai dan dia membiarkan orang di seberang memutuskan sambungan.

Dia memutuskan untuk melanjutkan tidurnya, namun tiba-tiba mengerang seolah frustasi seraya menendang bantal yang kebetulan berada di dekat kakinya. Dengan langkah berat, dia menyeberangi ruangan menuju ke kamar mandi untuk membasuh muka.

Kenapa dia masih harus bekerja di hari Natal? Dia berencana merayakan Natal bersama keluarganya, bukan bekerja. Apa dia tidak akan mendapatkan kesempatan ini lagi? Oh, ayolah. Apa tidak ada penyanyi lain yang bisa mengisi posisinya hari itu?

Tapi, tunggu dulu. Dia mungkin saja bisa bertemu dengan orang itu. Apa dia akan bekerja? Haruskah menghubunginya? Jujur, Wu Yifan juga merindukannya. Kapan terakhir kali kami bertemu, pikirnya. Haruskah dia merencanakan bersamanya saat malam Natal?

* * *

Sembilan belas bulan berlalu sejak kasus pertama terjadi.

Setelah kasus pertama terjadi, Lu Han mencoba menghubungi Wu Yifan, namun tak bisa dijangkau. Dia hanya butuh beberapa penjelasan. Apa yang telah dilakukannya tidak sesuai dengan rencana yang telah mereka susun selama ini. Lu Han hanya tidak mengerti kenapa Wu Yifan melakukannya lebih awal. Bukan itu rencananya. Bukankah mereka seharusnya pergi bersama? Dan bukan hari itu waktu yang disetujui. Apa yang sebenarnya dia pikirkan?

Lu Han memilih menunggu dan melakukannya sesuai dengan rencana awal. Menjaga emosinya tetap stabil setiap kali melihat anggota lain tampak bersedih ketika kasus itu diungkit. Tidak pernah menunjukkan air matanya dan tetap tersenyum—meski terkadang terlihat palsu. Lagipula, untuk apa dia harus menangis? Tidak seperti anggota lain yang bersedih—bahkan ada yang marah—Lu Han justru bingung dan (sedikit) kesal.

Karena tidak mendapatkan penjelasan dan tidak bisa menghubungi melalui telepon, Lu Han menguntit akun Weibo dan Instagram-nya, serta membaca pemberitaan online China tentangnya.

Dia menghindariku? Apa ini sudah berakhir?

Semakin hari berlalu, Lu Han bahkan tidak menyadari jika perlahan dia kehilangan berat badan. Hal itu membuat anggota lain dan para penggemarnya—tentu saja—khawatir. Apalagi, melihatnya mempertahankan senyum dan selalu tampak ceria seolah tidak ada yang terjadi. ‘Topeng’ yang bagus, Lu Han.

Lu Han tidak memikirkan kesehatannya sendiri. Dia terlalu memikirkan, bagaimana perasaan anggota lain jika hari itu tiba? Lu Han sangat menyayangi mereka. Kesepuluh anak itu sudah seperti keluarga baginya. Lu Han merasa berat harus meninggalkan mereka. Namun, jika dia masih ingin hidup normal, maka harus melakukannya. Dia sudah tidak merasa seperti manusia lagi di tempat ini. Dia ingin pulang.

* * *

Empat belas bulan berlalu sejak kasus kedua terjadi.

Sejak hari itu, tidak sehari pun dilalui Wu Yifan tanpa perasaan bersalah. Sebenarnya, dia tidak ingin melakukan hal seperti ini. Namun, dia sudah lelah dengan semua perlakuan itu. Di hanya menginginkan sebuah keadilan.

Penyesalan terbesarnya dari kasus ini adalah dengan membiarkan Lu Han clueless. Sama sekali tidak memberikan penjelasan apapun mengenai tindakan tak terduganya—di luar rencana mereka. Dia sadar, dia telah jahat. Tidak apa-apa, dia akan maklum jika Lu Han membencinya.

Wu Yifan terbang ke Beijing setelah membaca pemberitaan online China bahwa Lu Han membuat kasus kedua. Dan melihat kiriman pada akun Weibo dan Instagram-nya. Tidak pernah disangkanya, bahwa Lu Han benar-benar melakukannya sesuai dengan rencana. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kondisinya sejak dia pergi—lebih dulu—sampai hari itu tiba.

Dia sudah pulang? Bagaimana kondisinya sekarang?

Wu Yifan sempat menghubungi Lu Han lagi sebulan sebelum kasus kedua terjadi. Awalnya, Lu Han mengabaikan semua panggilan dan pesannya. Dia tidak bisa meninggalkan pesan di sosial media, karena pasti akan menimbulkan kehebohan.

Dan ketika Lu Han pada akhirnya menjawab salah satu panggilannya, mereka berbicara secara formal, lebih tepatnya canggung. Saling menanyakan kabar dan tidak mengungkit alasan kepergiannya yang tidak sesuai rencana. Wu Yifan mengatakan akan membantunya mengurus hal-hal yang perlu diurus setelah Lu Han menjelaskan bahwa dia akan menyusul dan melakukannya sesuai rencana.

* * *

Hari itu, mereka bertemu untuk pertama kalinya sejak kasus pertama terjadi—tanpa diketahui oleh publik. Lu Han sudah duduk di meja dengan dua kursi yang terletak di sudut kafe ketika Wu Yifan melangkah masuk. Pria manis itu mengenakan hoodie merah dan masker hitam. Dia sedang berkutat dengan smartphone-nya ketika Wu Yifan melangkah mendekat.

Setelah tiba, tanpa menyapa terlebih dahulu, Wu Yifan berlutut di samping kursinya. Hal itu menarik perhatian Lu Han untuk menoleh. Wu Yifan sempat menangkap kedua mata Lu han yang terbelalak terkejut sebelum dia membawa tubuh itu ke dalam pelukannya. Apa Lu Han selalu kurus seperti ini?

Lu Han yang pertama melepas pelukan itu setelah mendapatkan kesadarannya. Bola matanya menelusur seluruh kafe. Tidak ada yang memperhatikan mereka. Diam-diam, Lu Han menghela napas lega.

“Apa yang kau lakukan?”

Oh, betapa Wu Yifan sangat merindukan suara itu. Tapi, suaranya agak berbeda. “Suaramu serak. Kau sakit?” dia balik bertanya.

“Aku sedikit batuk,” jawab Lu Han setelah mencoba menghilangkan rasa gatal di tenggorokannya. “Duduklah!”

Wu Yifan berdiri dari posisinya dan duduk di kursi berhadapan dengan Lu Han.

So, how’s life?

Wu Yifan menatap Lu Han yang ternyata kembali berkutat dengan smartphone-nya. Kedua alis tebalnya bertemu. Suara Lu Han kali ini terdengar dingin.

“Kau terlihat baik-baik saja,” lanjutnya, masih dengan dingin.

“Apa kau masih marah padaku?” tanya Wu Yifan, akhirnya.

Lu Han meletakkan smartphone-nya dan balas menatap, “Sampai aku mendapatkan alasan yang bisa kuterima, kurasa aku akan selalu menyikapimu seperti ini.”

Menutup kedua matanya, Wu Yifan menghela napas, “Aku minta maaf.”

Kini Lu Han yang menghela napas—dengan kasar, “Jadi, untuk apa kita merencanakan semua itu setiap kali kita berkencan jika pada akhirnya kita pergi sendiri-sendiri?” suaranya meninggi pada pengucapan setiap katanya.

“HanHan, tenanglah!” ucap Wu Yifan dengan pelan. Dia menoleh ke sekeliling untuk memastikan perhatian pengunjung lain tidak berada pada mereka.

Beberapa orang sempat menoleh ke arah mereka. Lu Han memang sedang batuk dan memakai masker. Namun, dia tidak menyangka suaranya bisa terdengar oleh pengunjung lain. Lu Han berpura-pura tidak terjadi apapun dan menghindari kontak mata dengan Wu Yifan untuk sementara.

“Kita bertemu bukan untuk bertengkar,” lanjutnya.

Meski separuh wajah Lu Han tertutup masker, Wu Yifan dapat mengetahui ekspresi seperti apa yang sedang dipasangnya, hanya dari kontak mata sekilas tadi. Dia sedang kesal, dan marah.

Wu Yifan mengambil smartphone Lu Han yang berada di atas meja dan meraih lengannya. Menarik Lu Han dengan pelan agar berdiri dan membawanya berjalan menuju pintu keluar kafe, dia berucap, “Kita ke tempat lain.”

Mereka hanya terus berjalan—cukup lama—tanpa membuat percakapan. Wu Yifan tidak melepaskan genggamannya dari tangan Lu Han. Dan tampaknya, pria manis itu tidak keberatan, membiarkan pria tinggi itu membawanya kemanapun.

“Fan,” suara pelan Lu Han yang memanggilnya, menghentikan langkahnya.

Menoleh, Wu Yifan bertanya, “Ada apa, HanHan?”

Yang ditanya hanya diam dengan kepala terus tertunduk.

Khawatir, Wu Yifan membawa salah satu tangannya untuk mengangkat dagu Lu Han. Kedua matanya melebar saat melihat kedua mata Lu Han tergenang air mata. Dia akan membawa tubuh kurus itu ke dalam pelukannya, namun Lu Han sudah menubruknya lebih dulu dengan kedua lengan melingkar di punggungnya.

Saat telinganya menangkap suara isakan Lu Han dengan jelas, Wu Yifan mendekap tubuh kurus yang sekarang terlihat begitu rapuh itu. Dia tidak peduli dengan sekitarnya. Tidak peduli dengan tatapan beberapa orang yang kebetulan lewat. Mereka sedang berada di sebuah taman kecil yang tidak terlalu ramai sebenarnya.

Meski samar, Wu Yifan dapat mendengar Lu Han mengucapkan ‘maaf’ dan ‘aku merindukanmu’ di antara isakannya. Telapak tangannya mengusap punggung Lu Han dengan irama menenangkan.

“Ssh~ tidak apa-apa. Kau tidak perlu meminta maaf. Ini salahku, HanHan. Aku yang seharusnya meminta maaf padamu. Maafkan aku.”

Mendengar Wu Yifan kembali memanggilnya dengan panggilan itu, isakan Lu Han semakin menjadi seolah tak tahu bagaimana berhenti. Sedangkan, Wu Yifan kembali mengusap punggungnya dan mempererat pelukannya.

Setelah isakan Lu Han mereda, Wu Yifan melepas pelukannya. Dia membiarkan kedua lengan Lu Han yang masih melingkar di punggungnya. Dengan ibu jarinya, dia mengusap kedua mata Lu Han yang masih basah. Meletakkan kedua tangannya di pundak Lu Han, dia mendaratkan sebuah ciuman di dahi pria manis itu—yang tertutup poni.

Lu Han merasa membeku menerima perlakuan itu. Dia tidak ingat, kapan terakhir kalinya merasakan sentuhan dari pria tinggi di depannya ini—yang tengah menciumnya. Tanpa sadar, kedua tangannya mencengkeram jaket yang dikenakan pria itu. Menutup kedua matanya untuk meresapi sentuhan itu. Betapa Lu Han sangat merindukan momen seperti ini. Lu Han berharap waktu berhenti dan ini bukanlah salah satu mimpi terliarnya selama lima bulan terakhir.

Ketika Wu Yifan menyudahi ciumannya, Lu Han baru sadar bahwa sejak tadi dia menahan napas. Kedua matanya terbuka dan bertemu dengan kedua mata Wu Yifan yang menatapnya dalam.

I’m… still… loving you,” tutur Lu Han dengan pelan.

I know,” Wu Yifan kembali mendekatkan wajahnya, dan berucap, “I will always love you. No matter what,” sebelum menempelkan bibirnya pada bibir Lu Han yang masih tertutup masker.

>NEXT<

Advertisements

4 thoughts on “[Fanfiction] Wildest Dream (part 1) | FanHan/KrisHan/KrisLu

  1. whooaaahhh daebaakk Thor, aku lagi iseng2 cari FF KrisHan dan sekalian cari lanjutan Last Kiss eh ternyata udah update hehehe thank’s ya Author-nim woohooo KrisHan love in the air hahahaha

  2. whooaaahhh daebaakk Thor, aku lagi iseng2 cari FF KrisHan dan sekalian cari lanjutan Last Kiss eh ternyata udah update hehehe thank’s ya Author-nim woohooo KrisHan love in the air hahahaha

    lanjut baca ya thor. betewe itu yg kimmoon diatas juga aku. tapi aku salah email wkwkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s