[Fanfiction] Wildest Dream (part 2) | FanHan/KrisHan/KrisLu

cov-seq-lk

Fanfiction

Title                : Wildest Dream (sequel Last Kiss)

Author            : Ranifa Billy

Cast                 : Lu Han, Wu Yifan

Pairing           : KrisHan/KrisLu/FanHan

Genre              : Romance, Drama, a little bit Humor

Rate                 : PG-15

Warning         : BL, shounen-ai, boyxboy

 

Part 2

* * *

Lu Han tidak bisa menyembunyikan senyumannya ketika teringat mimpinya semalam. Entah kenapa, kejadian setahun yang lalu masuk ke alam mimpinya. Dia sekarang terlihat seperti gadis SMA yang sedang jatuh cinta.

“Xiao Lu, ada apa?” suara sang ibu yang menegurnya membawa kembali kesadarannya. Bodoh! Dia sampai lupa kalau sedang sarapan bersama ibunya.

Dengan tertawa kikuk, Lu Han menjawab, “Tidak ada apa-apa, Ma,” dan kembali melahap sarapannya dalam diam.

Sang ibu hanya menggedikkan bahu, kemudian bertanya, “Kau jadi libur Natal nanti?”

Lu Han tampak ragu sejenak, “Sepertinya. Aku sudah mengatakannya pada manajer, dan dia akan mengusahakannya.”

“Semoga kita bisa merayakan Natal bersama-sama lagi, ya?”

Lu Han mengangguk berkali-kali dan tersenyum lebar.

“Kalau benar bisa, kau ingin kita pergi kemana, Xiao Lu?” tanya ibunya.

“Di rumah saja. Aku ingin makan malam di rumah seperti biasanya, Ma.”

“Begitu? Kalau itu keinginanmu, Mama akan berbelanja dan memasak untuk malam Natal nanti,” tutur ibunya. “Nah, sekarang habiskan sarapanmu.”

Lu Han tersenyum lebar dan mengangguk mantap. Membayangkan kembali merayakan Natal bersama keluarganya membuat perasaannya tenang dan tentram. Dia sangat merindukan momen keluarga seperti itu.

* * *

“Mama akan ke sini?” tanya Wu Yifan. Dia sedang tersambung panggilan telepon dengan ibunya yang berada di Guangzhou.

“Ya. Apa tidak boleh Mama mengunjungi anak sendiri?” ibunya balik bertanya dari seberang sana.

“Bukan begitu. Maksudku, Mama tidak perlu terbang ke sini. Begitu pekerjaanku selesai, aku langsung pulang,” jelas Wu Yifan, berusaha membujuk ibunya.

“Tidak, tidak. Mama tidak ingin kau kelelahan, Fan,” tutur ibunya. “Saat Natal, kau tidak boleh kelelahan. Kau harus bahagia, okay?”

Wu Yifan menghela napas pasrah. Nampaknya, kali ini dia tidak bisa membujuk sang ibu. “Okay~”

Good boy! Sampai bertemu pada malam Natal, baby~”

Yeah~ telepon aku kalau Mama sudah tiba di bandara. Aku akan menjemput,” ucap Wu Yifan sebelum ibunya memutuskan sambungan telepon.

“Ya, ya. Mama mengerti. See you!”

See you,” Wu Yifan melemparkan smartphone-nya ke ranjang.

Meskipun dia merasa senang karena ibunya akan berkunjung, Wu Yifan merasa ada yang kurang. Haruskah? Haruskah menghubunginya? Dia sangat ingin bertemu dengannya, tapi tidak tahu kapan waktu yang tepat.

Wu Yifan melempar tubuhnya ke ranjang dan menutupi wajahnya dengan bantal. Tiba-tiba kepalanya pusing. Di saat yang sama, ucapan ibunya kembali terngiang.

“Saat Natal, kau tidak boleh kelelahan. Kau harus bahagia, okay?”

Menarik bantal yang menutupi wajahnya, Wu Yifan bergumam, “Bahagianya saat Natal saja,” dan memilih tidur lagi.

* * *

Lu Han mendapatkan libur Natalnya. Dia dan ayahnya sedang menghias rumah sedangkan ibunya memasak untuk makan malam nanti. Dia merasa kembali ke masa kecilnya. Menghias rumah dengan nuansa merah-hijau dan keemasan. Menghias pohon Natal mereka yang masih terlihat baru meski umurnya sudah separuh dari usia Lu Han. Dan membungkus hadiah Natal. Tadi pagi, Lu Han mengantar ibunya berbelanja sekaligus membeli beberapa hadiah Natal dan dekorasi tambahan. Natal tahun ini pasti menyenangkan!

Di lain pihak, Wu Yifan menjadi salah satu pengisi pada acara spesial Natal yang di tayangkan langsung di TV. Dia agak kecewa karena orang yang diharapkannya tidak mengikuti acara yang sama. Namun senyumnya kembali saat menemukan ibunya yang sedang duduk di bangku penonton VIP dan melambaikan tangan padanya. Berkat tiket yang diberikan manajernya, sang ibu bisa berada di sana sekarang.

Untungnya, urutan tampilnya termasuk gelombang awal. Jadi, setelah selesai tampil, Wu Yifan segera berpamitan pada beberapa kru dan pengisi acara yang lain yang ditemuinya di belakang panggung, dan menyusul ibunya yang ternyata sudah dibawa manajer ke tempat parkir.

“Terima kasih, Ge,” ucap Wu Yifan seraya membenarkan syalnya.

“Bukan masalah. Bersenang-senanglah!” sang manajer menepuk pundaknya sebelum mengalihkan perhatian pada ibunya. “Selamat Natal, Nyonya Wu.”

“Terima kasih. Kau juga,” balas sang ibu.

“Hati-hati, oke?”

Wu Yifan mengangguk sebelum beranjak sambil menggandeng tangan ibunya. Sesuai dengan rencananya, Wu Yifan mengajak sang ibu makan malam bersama, selanjutnya berjalan-jalan di kota dan membeli beberapa hadiah Natal.

Setelah acara makan malam dan berdo’a, Lu Han berkumpul bersama keluarganya di ruang tamunya yang luas. Beberapa anggota keluarga dari ayahnya turut diundang ke rumah. Jadi, ruang tamu tampak sangat ramai. Setelah menyempatkan mengobrol dengan beberapa sepupunya, Lu Han ijin ke kamar.

Menghidupkan laptopnya, Lu Han membuka halaman pencarian. “Acaranya pasti sudah selesai,” gumamnya seraya mengetik beberapa kata kunci pada kolom pencarian Youku.

Sambil menunggu salah satu video yang dipilihnya tayang, Lu Han meraih smartphone-nya dan mengirim pesan pada orang itu.

“Maaf. Aku tidak menontonmu melalui siaran langsung. 😦

Dalam hati, Lu Han berterima kasih pada penggemar orang itu yang sudah merekam penampilannya dan langsung mengunggahnya ke Youku. Tanpa menunggu pesan balasan, Lu Han kembali mengirim.

“Kau terlihat tampan seperti biasanya. ^^”

Satu video selesai, kemudian Lu Han melanjutkan mencari foto-foto orang itu melalui akun Weibo-nya. Saat itu, dia mendapatkan sebuah panggilan. Tanpa melihat ID-caller, Lu Han menjawab panggilan tersebut.

“Halo?”

“Han.”

Napas Lu Han agak tercekat mendengar panggilan itu. Menjauhkan smartphone dari telinganya untuk melihat ID-caller yang terpampang di layar. Senyum lebar tercetak di bibir tipisnya, Lu Han menempelkan kembali smartphone ke telinga.

“Fan!”

Terdengar suara tawa ringan dari orang di seberang. Wu Yifan. Merry Christmas! Bagaimana kabarmu?”

Senyuman tak hilang dari bibirnya, “Selamat Natal! Aku sedang bahagia.”

“Karena menikmati Natal bersama keluargamu atau karena menerima telepon dariku?” tanya suara berat itu dengan nada menggoda.

Lu Han mengipasi wajahnya yang agak memanas setelah mendengar pertanyaan itu, “Eum~ aku rasa, keduanya. Kau sendiri? Sekarang ada di mana? Sayang sekali, kau tidak bisa pulang ke rumah. Haruskah aku mengunjungimu agar kau tidak kesepian?”

“Tidak perlu, HanHan. Aku memang tidak bisa pulang, tapi aku tidak kesepian,” jawab Wu Yifan. “Mamaku berkunjung,” lanjutnya.

“Benarkah?” tanya Lu Han tak percaya. “Wah~ kau pasti senang. Kapan Mamamu tiba? Kau sedang bersamanya?”

“Kemarin. Ya. Kami baru saja makan malam, sekarang aku mengajaknya jalan-jalan dan berbelanja,” jelas pria itu.

Lu Han mengangguk-angguk meskipun tahu pria itu tidak bisa melihatnya, “Kalau begitu bersenang-senanglah. Oh ya, sekali lagi aku minta maaf tidak menonton penampilanmu. Aku baru saja melihatnya dari video yang direkam penggemarmu di Youku.”

“Wow, mereka sudah mengunggahnya di Youku? Secepat itu?”

“Ya. Fans-mu benar-benar hebat!”

Kembali terdengar suara tawa ringan sebelum pria itu memanggilnya, “Han, ayo bertemu.”

“Apa?”

“Mamaku kembali besok sore. Setelah mengantarnya ke bandara, ayo kita bertemu. Kau mau?”

Kau mau? Tentu saja aku mau, batin Lu Han seraya mengangguk mantap. Kemudian menjawab dengan penuh semangat, “Tentu!”

Lu Han dapat merasakan Wu Yifan tersenyum. “Kalau begitu, sampai bertemu besok. Aku akan mengirimkan lokasi dan waktu pertemuan melalui pesan.”

“Oke,” jawab Lu Han. Sebelum Wu Yifan memutuskan sambungannya, dengan cepat Lu Han mengatakan, “Fan, miss you.”

I miss you more.”

Setelah percakapan telepon itu, Lu Han berguling-guling di kasurnya dengan senyum masih bertahan di bibirnya. Dia benar-benar telihat seperti gadis SMA yang baru saja menerima ajakan kencan dari orang yang disukainya.

* * *

White Christmas! Salju sudah turun ke bumi sejak langit mulai menggelap tadi. Bukan hujan salju yang lebat. Hanya kepingan-kepingan salju yang meluncur dengan ringan dan mendarat di tanah. Pencahayaan di tepi jalan membuat kepingan-kepingan itu seolah bersinar. Berkilau seperti kristal.

Suasana kota masih sangat kental dengan nuansa Natal. Orang-orang masih memilih menghabiskan Natal di luar rumah. Baik makan malam bersama atau hanya sekedar berjalan-jalan. Jalanan di Beijing selalu ramai seperti biasanya.

Uap hangat dari kopi panas—yang dibelinya dalam perjalanan—menerpa wajahnya. Membuat kedua pipinya yang sempat kedinginan menjadi lebih hangat. Lu Han duduk di sebuah kursi panjang di dalam sebuah gedung. Menunggu orang yang memintanya datang ke tempat ini.

Wu Yifan. Orang yang ditunggunya, melangkah dengan tergesa menghampirinya.

“Han, kau sudah lama?” tanyanya khawatir.

Lu Han menggeleng pelan sambil menunjukkan senyum lebar. Disodorkannya segelas kopi panas lain padanya.

Wu Yifan mengatur napasnya seraya menerima gelas itu dan duduk di samping Lu Han.

“Jadi, apa yang akan kita lakukan? Kita akan naik ke atas?” tanya Lu Han.

Wu Yifan mengangguk setelah menyesap sedikit kopinya, “Di luar sedang turun salju. Melihat pemandangan kota di malam hari dari ketinggian ditambah dengan salju yang turun merupakan hal yang romantis, HanHan.”

Lu Han memutar kedua bola matanya dengan malas setelah mendengar penjelasan dari pria tinggi di sampingnya. “Jadi, menurutmu, tempat ini romantis?”

Kembali menyesap kopinya, Wu Yifan menjawab dengan beberapa anggukan. Lu Han hanya menghela napas pasrah mendapat jawaban ringan seperti itu.

“Terserah kau saja. Cepat selesaikan ini dan kita pergi ke tempat lain,” ucapnya.

Senyuman lebar terpampang di wajahnya. Dengan menggenggam tangan Lu Han, dia berjalan menuju lift untuk ke puncak menara.

* * *

Wu Yifan tidak bohong. Dia memang romantis, pikir Lu Han. Beijing tampak berkilauan dari atas sini. Ditambah salju yang turun, memperindah pemandangan. Meskipun kepalanya sedikit pusing setiap kali melirik ke bawah. Mereka sedang berada di Menara CCTV. Salah satu bangunan modern yang menjadi bangunan tertinggi dan ikon di Beijing.

Pada lantai di mana mereka berada sekarang sedang tidak terlalu banyak pengunjung. Setiap pengunjung melakukan kegiatan yang hampir sama dengan mereka. Menikmati pemandangan malam kota Beijing. Menyadari kecil kemungkinan pengunjung lain memperhatikan mereka, Wu Yifan beranjak berpindah tempat. Kali ini dia berdiri tepat di belakang Lu Han yang masih memandang takjub ke luar.

Lu Han dapat merasakan napas Wu Yifan di telinganya. Kedua lengan pria itu kini melingkar di pinggangnya, perlahan menarik tubuhnya agar mendekat.

“Apa yang kau lakukan?” bisik Lu Han.

“Sudah kubilang, kan? Tempat yang tinggi itu romantis,” ucapnya sambil meletakkan dagu pada bahu Lu Han.

“Itu bukan jawaban untuk pertanyaanku. Dan, tempat tinggi itu menakutkan!” tegas Lu Han yang entah sejak kapan sudah menyandarkan tubuhnya pada pria di belakangnya.

Wu Yifan terkekeh mendengarnya. Kemudian, keduanya menikmati ketenangan dan kenyamanan di antara mereka. Keduanya selalu menunggu momen seperti. Momen ketika mereka dapat melalui hari bersama-sama. Meski hal seperti ini tidak bisa terjadi setiap hari.

“Han.”

“Hm?”

“Aku punya hadiah Natal untukmu,” tutur Wu Yifan seraya melepas pelukannya dan membalik tubuh Lu Han agar menghadap ke arahnya.

“Mana?” tanya Lu Han dengan antusias.

Seulas senyum terbentuk di bibir pria tinggi itu. Merogoh saku mantelnya, Wu Yifan mengeluarkan sebuah kotak kubus yang terbungkus kertas merah mengkilap dengan pita putih di atasnya. Detik berikutnya, kotak kubus itu sudah berpindah ke tangan Lu Han. Pria manis itu menempelkannya ke telinga.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Wu Yifan. Merasa tindakan yang dilakukan Lu Han konyol.

“Menebak apa isinya,” jawab Lu Han dengan lugu.

“Kau tinggal membukanya jika ingin tahu isinya.”

Lu Han segera membuka kotak kubus itu dan mengeluarkan isinya. Sebuah kalung bermerk dengan liontin berbentuk kepala rusa kutub bertopi, salah satu karakter dalam serial anime One Piece.

“Chopper!” seru Lu Han. Kedua matanya tampak berbinar saat menatap Wu Yifan. “Thanks~”

Wu Yifan hanya mengangguk dengan sebuah garis senyum lebar di bibirnya.

“Pakaikan untukku,” pinta Lu Han seraya menyerahkan kalung tersebut.

“Kau bisa langsung memakainya seperti ini,” Wu Yifan mengambil kalung itu dan memakainya melewati kepalanya. “Kenapa butuh bantuanku?”

Dengan cepat, Lu Han mengambil kembali kalungnya. Tidak menyangka respon Wu Yifan akan seperti itu. “Kau sama sekali tidak romantis,” ucapnya kesal.

Merasa Lu Han marah padanya, Wu Yifan menahan tangan kurus itu, “Hei, hei, jangan marah,” dan mengambil kembali kalung itu dan memakaikannya di leher Lu Han.

“Kita bertemu bukan untuk bertengkar. Saat Natal, kita tidak boleh bertengkar,” lanjutnya.

Lu Han menghembuskan napas pasrah, “Maaf,” ucapnya.

Kembali tersenyum, Wu Yifan menepuk puncak kepala Lu Han dan membawa tubuh itu ke dalam pelukan hangat. Seperti refleks, Lu Han langsung melingkarkan lengan di punggung pria tinggi itu dan meletakkan dagu pada bahunya. Mereka bertahan pada posisi itu dalam waktu yang lama.

Wu Yifan yang pertama melepaskan diri kemudian memandang ke sekeliling. Lu Han juga melakukan hal yang sama. Tidak ada perhatian dari pengunjung lain pada mereka. Dia membawa salah satu tangannya ke pipi Lu Han. Membuat pria manis itu menatap ke dalam matanya. Kegiatan mereka berlanjut, menatap ke dalam mata satu sama lain. Tanpa disadari, jarak di antara keduanya semakin pendek. Masih saling menatap, keduanya tampak ragu. Haruskah maju, atau mundur.

Waktu terasa berhenti. Mereka masih seperti itu untuk beberapa detik ke depan. Sampai Wu Yifan mengambil keputusan untuk maju. Awalnya hanya menempel. Kemudian, saat merasa Lu Han nampaknya tidak akan membuat gerakan pertama kali, maka Wu Yifan mengambil kesempatan itu. Secara perlahan, bibirnya mulai bergerak melumat bibir tipis Lu Han.

Lu Han langsung mengikuti gerakan bibirnya dengan refleks. Kedua lengannya sudah menemukan jalan untuk melingkar di leher pria tinggi itu. Sedangkan Wu Yifan menggunakan sebelah tangannya untuk menekan tengkuk Lu Han, memperdalam ciuman mereka.

Apa ini mimpi? Apa aku sedang bermimpi? Apa ini termasuk salah satu mimpi terliarku?

Di pikiran Lu Han penuh dengan berbagai pertanyaan. Dengan membiarkan kedua matanya tertutup meresapi setiap lumatan lembut di bibirnya. Sudah lama sekali dia tak merasakan sensasi seperti ini. Lu Han merasa menemukan sumber oksigennya dalam ciuman itu. Dia ingin lebih. Dieratkannya kedua lengan yang melingkar di leher Wu Yifan untuk memperdalam ciuman yang sudah dalam. Tidak peduli harus berjinjit, dia tidak ingin ciuman itu terlepas. Tanpa disadarinya, beberapa bulir air mata telah terjun dari ujung matanya. Membasahi kedua pipinya dan Wu Yifan.

Merasakan pipinya basah, Wu Yifan melepas tautan bibir mereka. Dilihatnya, Lu Han masih terpejam. Kedua mata dan pipinya basah. Dia menangis?

“Bernapas, Lu Han,” bisiknya.

Seolah baru menyadari bahwa sejak tadi napasnya tertahan, Lu Han mengambil napas dalam. Saat pria manis itu masih mengatasi napasnya, Wu Yifan mendaratkan masing-masing satu kecupan di kelopak matanya. Dan air matanya kembali mengalir. Wu Yifan menarik tubuhnya dalam sebuah pelukan. Kali ini membuat Lu Han benar-benar menangis.

Dengan gerakan lembut, Wu Yifan mengusap rambut dan punggungnya. “Ssh~ jangan menangis. Ada apa? Terjadi sesuatu?” tanyanya sementara kedua bola matanya menelusur ruangan luas itu. Orang-orang nampaknya terlalu sibuk untuk sekedar melirik mereka. Aman, batinnya.

Lu Han menggeleng pelan, menyembunyikan wajahnya pada bahu pria tinggi itu agar suara isakannya tidak terdengar. “I just miss you… a lot,” bisiknya.

Wu Yifan mengangguk dan mempererat pelukan, “Okay. I understand,” balasnya dengan berbisik pula.

Melepas pelukannya untuk mengusap air mata Lu Han, Wu Yifan menatap ke dalam mata indah itu seraya melanjutkan, “I do miss you,” dan bibir keduanya kembali bertemu. Kali ini lebih intens dengan lidah terlibat. Sayangnya, tidak berlangsung lama karena tiba-tiba Lu Han menjauh.

“Ada apa?” dapat terlihat dengan jelas ekspresi serta suara Wu Yifan bahwa dia kecewa.

Lu Han meletakkan jari telunjuknya di bibir bawah Wu Yifan dan mengusapnya, “Jangan di sini,” ucapnya, memberi tatapan penuh arti pada pria tinggi itu.

Untuk beberapa detik awal, Wu Yifan tampak mencerna arti dari tatapan Lu Han. Setelah berhasil menangkap maksudnya, sebuah seringaian muncul di bibirnya.

“Mau ikut ke tempatku?” ucapnya dengan suara berat. Dahi mereka bertemu, pada sudut ini, dia dapat melihat dengan jelas rona samar di kedua pipi Lu Han.

* * *

“Aku tidak pernah menolak ajakanmu.”

Karena jawaban Lu Han, kini mereka melanjutkannya di ranjang Wu Yifan. Oh, jangan berpikir yang ‘iya-iya’. Mereka hanya berciuman.

“Apa ini hadiah Natal untukku?” tanya Wu Yifan setelah menyudahi ciumannya. Menatap Lu Han—yang masih mengatur napas—di bawahnya.

Perlahan, Lu Han membuka kelopak matanya, “Bukan,” jawabnya, mendorong dada bidang Wu Yifan sehingga mereka duduk di tengah ranjang.

“Tapi, kalau kau lebih suka ciuman itu, aku tidak jadi memberikan hadiahnya,” lanjutnya.

“Aku ingin hadiahku!” ucap Wu Yifan terlampau cepat.

Lu Han tertawa kecil mendengarnya, “Baiklah. Dasar kekanakan!” memukul pelan dadanya sebelum beranjak mengambil mantelnya yang dia letakkan di sofa.

Sebuah kotak kubus dengan ukuran hampir sama namun beda warna, kini berada di tangan Wu Yifan. “Bukalah. Aku harap kau menyukainya,” ucap Lu Han, kembali duduk berhadapan dengan pria itu, masih di tengah ranjang.

Wu Yifan menemukan sebuah gelang manik-manik berwarna beige di dalam kotak kubus itu. Belum sempat bertanya, Lu Han sudah menjelaskan terlebih dahulu.

“Aku membuatnya sendiri. Jelek, berantakan, dan harganya tidak sebanding dengan kalung darimu. Makanya, aku ragu untuk memberikannya padamu tadi.”

Untuk sesaat, Wu Yifan terdiam, mengamati gelang itu. Hal itu membuat Lu Han tidak nyaman. Dia merasa, pria itu kecewa dengan hadiah darinya. Namun, perlahan sebuah senyuman terbentuk di bibirnya. Dia memberi Lu Han tatapan penuh arti.

“Aku menyukainya.”

“Jangan bohong,” ucap Lu Han. Dia sadar jika responnya terlalu cepat.

“Aku tidak bohong. Aku menyukainya karena kau membuatnya sendiri. Berarti kau membuatnya dengan sepenuh hati,” tutur pria itu, membuat Lu Han tersentuh. “Terima kasih. Aku akan memakainya setiap hari.”

“Jangan! Nanti kalau hilang!” lagi-lagi, Lu Han merespon terlalu cepat.

“Kau tidak percaya padaku?” tanya Wu Yifan. Lu Han hanya diam, menatapnya penuh pertimbangan.

Wu Yifan menghela napas seraya berucap, “Tenanglah! Aku akan menjaganya, dengan sepenuh hati,” kemudian memakai gelang itu di tangan kanannya.

Sebuah senyuman manis tercetak di bibir tipis Lu Han. Dia bahagia karena Wu Yifan menyukai hadiah pemberiannya, dan karena ucapan pria itu yang membuatnya tersentuh dan menenangkan.

Lu Han agak terkejut ketika Wu Yifan mengajukan pertanyaan dengan tiba-tiba, “Apa yang membuatmu berpikir untuk membuat gelang ini untukku?”

“Itu…” Lu Han menggantungkan ucapannya seraya memikirkan alasan. “Entahlah.”

“Apa?” tanya Wu Yifan tak percaya.

“Aku hanya ingin memberikan sesuatu yang bisa membuatmu selalu teringat padaku. Ya. Itulah kenapa aku membuatnya sendiri, bukan membelinya,” jelas Lu Han dengan percaya diri. Mungkin penjelasannya terdengar cheesy, karena setelah itu dia segera memalingkan wajah begitu sadar dengan apa yang diucapkannya.

Kemudian, terdengar suara tawa menggelegar yang mana pelakunya tak lain adalah Wu Yifan. Lu Han tak percaya mendapat respon seperti itu. Oleh karenanya, dia memukul bahu pria tinggi itu dengan cukup keras.

“Kenapa tertawa?” tanyanya, sedikit emosi.

Wu Yifan mencoba mengontrol tawa, “Tidak, tidak. Hanya saja, itu terdengar cheesy.”

“Itu tidak cheesy,” bantah Lu Han, sekali lagi dia merasa wajahnya memanas.

Wu Yifan kembali tertawa.

Merasa kesal, Lu Han mengancam, “Hentikan atau aku pulang sekarang.”

Tawanya langsung terhenti, sedangkan tangannya menahan lengan Lu Han, padahal pria manis itu tidak pergi kemanapun.

“Baik, aku sudah berhenti. Jangan pulang!” mendengarnya, diam-diam Lu Han menyeringai.

Menangkup wajah Lu Han dengan kedua tangannya, Wu Yifan menatapnya dengan serius seraya mengatakan, “Dengar, HanHan. Sekalipun gelang ini tidak ada, aku masih, akan selalu mengingatmu, dimanapun dan kapanpun.”

Lu Han kembali tersenyum manis.

“Tapi, aku senang kau membuat gelang ini untukku. Aku akan semakin mengingatmu sampai ke mimpi-mimpi terliarku,” lanjutnya seraya menyeringai.

Senyum Lu Han menghilang seketika melihat seringaian itu. Kemudian, dengan keras meninju bahu pria tinggi itu berkali-kali, “Dasar mesum!”

Sedangkan, Wu Yifan sendiri mencoba menahan tangan Lu Han sambil pura-pura kesakitan, “Aaw~ sakit, Han! Dan aku tidak mesum!”

“Kau mesum!” Lu Han masih terus melancarkan tinjunya. “Aku mau pulang.”

“Tidak bisa!” Wu Yifan menarik pinggang Lu Han saat pria manis itu beranjak dari ranjangnya. Kemudian, memerangkap tubuh ramping itu di antara ranjang dan tubuhnya.

“Karena kau sudah di sini, kau harus menginap,” ucapnya dengan suara serak dan berat.

Lu Han merasa dirinya dalam bahaya, jadi dia mencoba memberontak, “Tidak mau. Lepaskan aku~”

Wu Yifan mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Lu Han sekilas, “Mary Kris-mas, HanHan.”

“Tolong~~”

And you can imagine anything, everyone! But, this story end here. ^^

_END_

 

A/N

Ttararira~

Bagaimana? Apa kalian menyukainya? Menurutku pribadi, tulisanku ini lebih baik, sih~ ㅋㅋ

By the way, aku menyelesaikannya dalam tiga hari! Aku sendiri terkejut, ㅎㅎ

Tulis saja pendapat kalian di kolom komentar. Aku sangat menghargai bagaimanapun bentuk pendapat kalian. Terima kasih sudah bersedia membaca~ Salam KHS! 😀 *heart*

Advertisements

4 thoughts on “[Fanfiction] Wildest Dream (part 2) | FanHan/KrisHan/KrisLu

  1. wahhh thor ini so sweeettttt bangeeetttt jadi senyam senyum gaje bacanya hahahaha duuhhh beneran maikn cinta sama KrisHan hahahaha Yifan romantis banget pas adegan di menara CCTV ^^ jadi jealous aku wkwkwkwk thanks ya Thor udah dilanjut hehe
    ayo thor bikin ff KrisHan lagi. keep writing dan salam KHS juga hehe

  2. wahhhh so sweet,
    suka bgttt,,,
    krishan shipper hard here,
    supprise bgt bisa nemu lagi fanfic krishan yg langkanya minta ampun,hehhe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s