[SS] Red Snow

cover-red-snow

Red Snow © 2015 Ranifa Billy

Surai mentari di ufuk timur menembus cakrawala. Mengangkat tirai kelabu langit dan menggantinya menjadi jingga. Sang surya baru menampakkan dirinya pada pukul 10 di langit pagi musim dingin. Angin berhembus membawa suhu rendah. Seluruh kota berwarna putih. Aktivitas musim dingin dimulai lebih siang jika dibandingkan hari biasanya di musim lain.

Ada kalanya, salju tiba-tiba mencair menjadi lapisan es tipis karena gerimis yang datang. Saat itu, kau mungkin dapat menemukan sesuatu seperti genangan red wine di salah satu jalan berlapis es tipis. Suatu kelalaian yang mungkin dilakukan seseorang akan membuat gundukan salju tebal di tepi jalan menjadi berwarna merah. Hal seperti itu pernah terjadi.

Kecelakaan lalu lintas di jalan berlapis es tipis jarang terhindarkan. Seseorang dapat menjadi ceroboh hanya karena terburu-buru. Kehilangan kendali pada roda kendaraan yang dikemudikannya, kemudian melukai dirinya sendiri atau bahkan orang lain—yang sialnya berada di lokasi yang sama. Mungkin yang lebih tragis, Tuhan memilih untuk memanggilnya kembali kepada-Nya.

Sudah hampir satu tahun, Nathan melakukan kegiatan membosankannya ini. Bangun lebih pagi dari yang biasa dilakukannya, hanya untuk menyusuri sebuah jalan kecil yang terletak jauh dari rumahnya. Sebuah jalan kecil yang mengukir memori mengerikan dalam hidupnya. Setelah kejadian itu tersimpan di memorinya, dia mengambil keputusan yang rumit. Dengan cara, tidak mempercayai hal yang terjadi di depan matanya hari itu.

Sienna adalah satu-satunya keluarga yang masih dimiliki Nathan. Sienna adalah adik perempuannya yang masih belajar di tahun pertama SMA. Sienna adalah gadis yang manis dan penurut. Nathan kehilangan ibunya setelah Sienna lahir. Nathan dan Sienna hanya dirawat oleh ayah mereka sampai Nathan berusia 15 tahun. Ayah mereka meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas.

Nathan sangat menyayangi Sienna. Dia telah berjanji pada kedua orang tuanya akan menjaga Sienna apapun yang terjadi. Dia tidak pernah membiarkan adik perempuannya itu lecet sedikitpun. Dia akan langsung membuat babak belur siswa-siswa yang mem-bully Sienna di sekolah. Dia akan menyalahkan dirinya sendiri jika Sienna sakit.

Terkadang, gadis itu berpikir, kakaknya terlalu berlebihan dalam menjaganya. Dia juga kasihan pada kakaknya yang belum mempunyai kekasih, hanya karena sang kakak terlalu menyibukkan diri untuk menjaganya. Padahal ada banyak gadis yang menyukai kakaknya, dan Sienna tidak keberatan jika kakaknya mempunyai kekasih.

“Kak, seharusnya kau sudah mulai berpacaran,” ucap Sienna saat mereka sedang menyantap sarapan.

“Untuk apa?” Nathan bertanya tanpa menatap adiknya.

“Agar ada yang merawatmu juga,” jawab Sienna sekenanya.

“Aku bisa merawat diriku sendiri. Lagipula, ada kau, Sienna,” tutur sang kakak, diakhiri dengan senyuman tulus. Sienna hanya menghela napas mendengar jawaban kakaknya.

“Aku, kan, tidak bisa merawatmu selamanya, Kak. Memangnya kau tidak ingin menikah suatu saat nanti?”

“Bicara apa kau? Segera habiskan sarapanmu. Kau bisa terlambat ke sekolah nanti,” ucap Nathan seraya beranjak dari duduknya untuk meletakkan piring.

“Biar aku saja yang mencuci piringnya. Bukannya kau harus berangkat lebih pagi hari ini?” Sienna menghentikan kakaknya yang akan mencuci piring.

Nathan berhenti dan tak lama mengangguk setuju. Setelah mencuci tangannya, dia menghampiri Sienna untuk memeluknya. Seperti yang biasa dilakukannya setiap akan berangkat bekerja.

“Hati- hati!”

“Kau juga,” Nathan beranjak keluar. Baru satu langkah dari pintu, Nathan dapat mendengar adiknya berteriak.

“Aku akan merindukanmu!”

Nathan hanya tersenyum kecil dan melanjutkan langkahnya. Dia tidak pernah menyangka bahwa itu adalah terakhir kalinya dia mendengar suara Sienna. Nathan tidak pernah percaya bahwa adiknya telah pergi. Karena dia merasa Sienna masih bersamanya, bahkan sampai saat ini.

Jalan kecil itu berada tidak jauh dari tempatnya bekerja. Sore itu, Nathan sedang membeli kopi saat dia melihat Sienna di seberang jalan. Berpikir, mungkin adiknya akan merasa bosan menunggunya pulang dan memilih mengunjunginya. Dia melihat Sienna tersenyum lebar dan berlari kecil ke arahnya. Namun, dia tidak melihat kendaraan roda empat yang melaju cepat hingga akhirnya bayangan Sienna menghilang dengan cepat pula.

Genangan red wine dingin. Salju yang berwarna merah. Mobil sedan yang bumper depannya ringsek. Kerumunan orang-orang. Suara sirene mobil ambulan dan mobil polisi. Serta tubuh bersimbah darah yang disadari Nathan sebagai milik Sienna.

“Kegiatan membosankan.”

Nathan menoleh ke asal suara dan menemukan gadis tinggi, berambut hitam, berkulit pucat, yang dikenalnya sebagai Thalia.

“Meskipun kita sudah berteman sejak SMP, aku masih tidak mengerti dengan jalan pikiranmu. Apa yang sebenarnya kau lakukan?” tanya gadis itu, merapatkan jaket yang dikenakannya.

Thalia adalah teman Nathan, atau bisa disebut sahabat. Selain itu, dia juga anak tunggal dari pemilik studio musik tempat Nathan bekerja. Thalia juga mengenal Sienna sebaik Nathan. Dia dan keluarganya sudah menganggap Nathan dan Sienna sebagai bagian dari keluarga mereka.

“Bukan apa-apa,” jawab Nathan singkat.

“Ayo masuk! Aku tahu, kau belum sarapan. Mama membuat pancake dengan keju,” Thalia menarik lengan Nathan saat temannya itu hanya berdiam diri.

Hari ini, hari Minggu. Nathan libur bekerja. Dia sedang mempelajari partitur musik yang berserakan di lantai kamar Thalia, sedangkan gadis itu sedang menyetel gitar akustiknya.

“Kau membuat lagu lagi? Untuk Natal?” pertanyaan basa-basi Nathan hanya dijawab dengan gumaman oleh Thalia.

“Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?” tanya Nathan tiba-tiba.

Thalia menghentikan kegiatannya dan menatap temannya dengan bingung. “Apa maksudmu?”

“Entahlah. Aku hanya merasa, kau mengetahui sesuatu yang seharusnya aku perlu mengetahuinya juga, tapi kau tidak memberitahuku,” tutur Nathan, balas menatapnya.

“Aku kira kau sudah bertemu dengannya,” jawab Thalia seadanya, kembali menyetel gitar akustiknya.

“Siapa?”

“Adikmu.”

Nathan membeku mendengar jawaban Thalia. Dia tahu bahwa Thalia dianugerahi kemampuan khusus. Gadis itu bisa merasakan dan melihat hal-hal supernatural.

“Kau bertemu dengannya? Kapan? Di mana?” tanya Nathan dengan nada menuntut seraya mencengkeram kedua pundak Thalia.

“Jadi dia belum menemuimu?” Thalia balik bertanya dan tidak mendapatkan jawaban dari Nathan. Dia menghela napas, kemudian menyingkirkan tangan Nathan dari pundaknya.

“Aku bertemu dengannya untuk pertama kali di jalan itu, beberapa bulan yang lalu,” Thalia memulai ceritanya. “Tapi dia menghindariku.”

“Kenapa?”

“Aku tidak tahu,” Thalia menyandarkan gitar akustiknya di sofa. “Tapi dua bulan yang lalu, dia menemuiku.”

“Tidak mungkin,” gumam Nathan.

Thalia menghiraukannya dan kembali bercerita, “Aku bertanya padanya, apa yang dilakukannya di sini, dan dia mengatakan, ada masalah yang harus diselesaikannya.”

“Masalah apa?”

“Aku heran, kenapa dia belum menemuimu?” Thalia kembali menghiraukannya.

“Hei, masalah apa?” tanya Nathan kembali dengan sedikit memaksa.

“Masalah itu sedang menuntut jawaban dariku sekarang,” jawaban Thalia kembali membuatnya membeku selama beberapa saat.

“Apa? Aku?”

“Seharusnya kau bisa merasakan dan melihatnya, karena alasan dia masih di sini adalah kau,” jelas Thalia.

Setelah percakapan itu, Nathan melihat Sienna duduk di meja makan—dengan senyuman khasnya—begitu dia tiba di rumah. Nathan terlalu terkejut sampai tidak menyadari Sienna sedang memeluknya. Hal itu membuatnya semakin terkejut dan bingung.

“Aku pulang,” bisik Sienna.

“Tidak mungkin,” gumam Nathan.

Sienna melepas pelukannya untuk menatap sang kakak, “Kakak, aku merindukanmu!”

Nathan balas menatapnya. Kedua bola mata itu masih berkilauan seperti biasa. Senyuman itu tampak begitu nyata dan hidup. Nathan mengangkat kedua tangannya dan menaruhnya di pundak Sienna. Napasnya tercekat ketika menyadari kedua tangannya dapat merasakan pundak Sienna.

“Sienna…” bisiknya. “Kau pulang!” Nathan tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya. Melihat adiknya berdiri tegak, sehat, tanpa cacat, dan sekarang berada dalam pelukannya.

“Maaf, aku membuat kakak khawatir,” ucap Sienna dengan tulus.

Nathan hanya menggeleng pelan. Dia terlalu bahagia sehingga tidak tahu harus mengucapkan apa. Juga melupakan informasi yang baru didapatkanya dari Thalia, bahwa keberadaan Sienna di sini hanya untuk menyelesaikan masalahnya. Bukan untuk selamanya.

Keesokan harinya, Nathan menelepon Thalia untuk memberitahukan bahwa dia mengambil hari libur. Dia tidak memberitahu gadis itu jika Sienna telah menemuinya. Dia terlalu bahagia untuk sekedar berbagi informasi.

Sienna selalu mengatakan ingin pergi ke taman hiburan keluarga. Dia ingin duduk di salah satu bangku di roller coaster atau di kincir putar. Maka, Nathan membawanya ke sana. Nathan menuruti semua permintaan Sienna. Menyingkirkan fakta bahwa mungkin semua permintaan itu adalah hal yang belum sempat dilakukan Sienna semasa dia hidup.

Sienna memutuskan untuk tinggal sedikit lebih lama. Dia tidak ingin membuat kakaknya kembali murung dan semakin murung jika dia tiba-tiba menghilang. Setidaknya, dia akan membantu kakaknya untuk mengikhlaskan kepergiannya. Sienna mencoba menjelaskan alasan keberadaannya di sini pada Nathan secara perlahan-lahan, namun pasti.

Dua bulan yang lalu, saat dia memilih untuk menemui Thalia, dia mendapatkan informasi bahwa sang kakak masih tidak mempercayai kepergiannya. Thalia mengatakan padanya bahwa Nathan selalu merasakan keberadaannya di rumah. Sienna membenarkan informasi itu. Saat dia kembali, dia memang ingin menemui Nathan. Tapi dia tidak mempunyai cukup keberanian. Maka dari itu, Sienna memilih bermain petak umpet dulu dengan Nathan.

Semua permintaannya sudah terpenuhi, Sienna tidak tahu harus meminta apa lagi ketika Nathan menanyakannya. Tinggal satu permintaan Sienna, namun dia tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya pada Nathan. Sang kakak pasti tidak mau mengabulkan permintaan terakhirnya ini.

“Kakak boleh mengingat dan mengenangku selama yang kakak mau. Tapi, kumohon. Ini permintaan terakhirku. Tolong ikhlaskan kepergianku, Kak,” ungkap Sienna ketika dia sudah tidak tahu kapan waktu yang tepat.

Persis seperti yang diduganya, Nathan tidak setuju. Dia tidak mengucapkan apapun dan langsung beranjak pergi ke kamarnya. Dia marah dan frustasi. Tapi dia tidak mau mengakui jika dia marah pada adiknya karena permintaan—yang menurutnya—konyol.

Dia tidak pernah marah pada Sienna. Dia sudah berjanji tidak akan marah pada Sienna, apapun kesalahan yang telah dilakukannya. Setelah puas melampiaskan kemarahannya pada dirinya sendiri, Nathan tertidur. Dia tampak lebih frustasi ketika terbangun keesokan harinya dan tidak dapat menemukan Sienna di manapun di rumah mereka.

“Aku di sini,” bisik Sienna.

Nathan sangat terkejut menyadari adiknya berdiri di belakangnya. Dia segera membawa Sienna ke dalam pelukannya.

“Jangan pergi lagi. Kumohon!” pinta Nathan. Suaranya terdengar serak, dan Sienna tahu jika kakaknya menangis.

Sienna tersenyum dan membalas pelukan Nathan, “Terima kasih. Aku sangat bahagia memilikimu sebagai kakakku.”

“Bicara apa kau?” Nathan menarik dirinya untuk menatap sang adik, mengabaikan air mata yang membasahi kedua pipinya. Nathan membelalakkan mata saat tangannya menembus pundak Sienna. Diamatinya tubuh Sienna yang mulai transparan, memudar.

“Tidak! Kau tidak boleh pergi lagi!” Nathan mencoba mencengkeram lengan Sienna, namun tetap menembus.

“Sienna, jangan seperti ini!” teriaknya frustasi. Sienna tetap mempertahankan senyumnya, air mata mulai mengalir di pipinya.

“Aku tidak mengabulkan permintaanmu. Jadi kau tidak boleh menghilang!” Nathan kembali berteriak dan mencoba memeluk Sienna. Sekali lagi, gagal.

Sienna menggeleng pelan, “Permintaanku sudah terpenuhi karena kakak marah padaku dan kakak menangis di depanku. Selama ini, aku selalu ingin kakak marah padaku, meski hanya sekali. Tapi kakak selalu membenarkan kesalahanku. Aku juga ingin melihat kakak menangis. Selama ini, kakak selalu bersikap kuat dan tegar di depanku. Bahkan ketika Ayah pergi, ketika aku pergi. Kakak selalu menangis sendirian.”

“Hentikan!” teriak Nathan. Dia tidak bisa mendengar lebih jauh. Dia juga tidak bisa menghentikan air matanya yang terus mengalir, mendengar penuturan adiknya.

“Kak, jika kau sangat menyayangiku, kau harus mengijinkanku pergi. Aku tidak memintamu untuk melupakanku. Aku hanya ingin kau mengikhlaskan kepergianku,” ucap Sienna dengan lembut. “Kakak bisa mengikhlaskan kepergian Ibu dan Ayah, kenapa tidak padaku?”

“Karena kau yang tersisa. Kau adalah alasan aku bertahan ketika aku sedang terpuruk. Jika kau pergi, aku tidak memiliki alasan lagi,” jawab Nathan dengan suara parau.

Sienna kembali menggeleng, “Kau salah. Ada orang yang menunggumu di luar sana. Kau harus menemuinya suatu saat nanti. Orang itu, akan menjadi alasanmu yang lain setelah aku. Jangan berhenti karena aku tidak ada.”

“Sienna…” suara Nathan terdengar lemah dan tak berdaya.

“Kau selalu ingin membuatku bahagia. Buatlah aku bahagia di sana dengan menemuinya, Kak. Kau mau, kan?” tanya Sienna, setengah memohon.

Nathan menghapus air matanya dengan kasar. Mencoba mengatur napasnya sebelum mengangguk pelan.

Sienna tersenyum lebar, “Berjanjilah untuk hidup dengan baik dan bahagia, dan tetaplah tersenyum.”

“Aku berjanji,” Nathan mencoba bersuara senormal mungkin, meski masih terdengar serak.

“Terima kasih.”

Ketika sebuah sinar menyilaukan itu muncul di depan Nathan, dia merasa seperti baru terbangun dari mimpi. Tapi semua itu memang terjadi. Itu semua nyata. Nathan masih menemukan dirinya berdiri di ruang tamu. Sendirian. Dia memeluk dirinya sendiri saat samar-samar suara Sienna terdengar kembali.

“Aku akan merindukanmu, Kak.”

Mengikhlaskan kepergian Sienna ternyata tidak sesulit yang dia bayangkan. Dia hanya terlalu menyayangi adiknya. Sehingga berpikir, melepaskannya adalah hal yang paling sulit. Dia akan selalu mengenang dan mengingat adiknya. Di manapun, kapanpun, dan apapun yang terjadi.

“Aku juga… akan merindukanmu. Sienna.”

_END_

A/N

Ide cerita berasal dari adik(pr)ku. Aku menulis cerita ini untuk membantunya mengerjakan tugas sekolah. Jika ada yang pernah membaca cerita ini namun dengan judul berbeda dan alur lebih singkat, itu adalah tugas sekolah adik(pr)ku.

Sekian. Semoga ada yang membaca -______-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s