[SS] My Parent’s Love Story (part 4)

cover part 4

My Parent’s Love Story © 2016 Ranifa Billy

Part 4

Siang ini panas seperti biasanya. Aku sedang tidur tengkurap di lantai keramik rumahku, ketika ada yang menendang kakiku. Saat menoleh, kulihat Jackson Barlow berdiri di sana. Aku segera bangkit dari posisi tengkurapku dan mulai menginterogasinya.

“Bagaimana kau bisa masuk?” tanyaku penuh selidik. Aku tidak ingat, Jackson punya kunci duplikat rumahku. Lagipula, untuk apa dia harus memilikinya.

“Pintunya tidak dikunci. Aku sudah mengetuk pintu dan menekan bel berkali-kali, tapi tidak ada respon. Aku terkejut melihatmu tergeletak tadi. Aku kira, kau mati,” jelasnya. “Bagaimana kau bisa bertahan di dalam rumah pada cuaca sepanas ini?”

Mengabaikan pertanyaannya, aku berjalan menuju kulkas dan mengambil dua kotak drink yogurt. Ku-oper salah satunya pada Jackson, “Aku sedang malas pergi keluar. Lagipula, Mama dan Papa sedang pergi. Jadi harus ada yang menjaga rumah.”

Jackson menjatuhkan dirinya di sofa di depan TV, “Rumahmu tidak akan pergi kemanapun sekalipun kau tinggal.”

Setelah menyetel suhu air conditioner, aku duduk di sebelah Jackson dan menyalakan TV, “Aku tahu.”

“Jadi, apa kau menyuruhku ke sini untuk meneruskan ceritamu?” tanyanya setelah meneguk yogurt.

Aku mengangguk penuh semangat ketika ingat tujuanku. Aku memang menceritakan pada Jackson tentang kisah romansa kedua orang tuaku. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku memilih menceritakannya pada Jackson. Tapi, karena dia tampak tidak keberatan untuk mendengarnya, aku terus saja bercerita.

“Sekarang tentang apa?”

“Tentang bagaimana mereka jatuh cinta,” jawabku dengan mata berbinar dan senyum lebar.

“Ow! Jadi, apa akhirnya Paman berselingkuh dengan Bibi?” tanyanya dan aku langsung memukul pundaknya dengan kekuatan penuh sampai telapak tanganku terasa panas.

“Apa Papaku terlihat seperti tipe yang suka selingkuh?” tanyaku emosi.

“Hei, hei, tenang~” Jackson menepuk-nepuk puncak kepalaku. “Papa bilang, dia dan Paman sama-sama playboy saat masih sekolah dulu, kau tahu?”

“Benarkah? Aku tidak pernah tahu jika Papaku dulunya playboy,” ucapku kecewa. “Lihat saja! Aku akan menendangnya kalau mereka sudah pulang!”

Semalam, Papa pulang lebih awal jadi kami bisa makan malam bertiga. Setelah itu, kami memutuskan untuk menonton film action bersama dari TV. Rasanya sudah lama sekali tidak melakukan kegiatan seperti ini. Aku merasa kembali ke masa kecilku. Duduk bertiga di sofa panjang dengan aku di antara kedua orang tuaku. Aku merasa aman dan nyaman.

“Siapa di antara kalian yang jatuh cinta terlebih dahulu?” tanyaku saat jeda tayangan komersial.

“Kau tahu? Mamamu sudah menyukaiku sejak pertama kali kami bertemu,” ucap Papa, menyesap maple tea-nya.

Seperti refleks, Mama langsung memukul pundaknya, “Percaya diri sekali. Itu tidak benar, Sweet Tomato. Papamu yang pertama bilang dia menyukaiku.”

“Ya, memang benar aku yang pertama menyatakan, tapi bukannya kau yang pertama jatuh cinta padaku?” Papa meletakkan maple tea-nya di meja dan memulai berargumen dengan Mama.

“Oh ya? Apa aku pernah memberitahumu?” tanya Mama dengan menantang.

“Tidak. Tapi terlihat dari wajahmu. Kau selalu tersipu setiap kali aku memujimu,” balas Papa sambil mencolek pipi Mama.

“Apa itu membuktikan kalau aku sedang jatuh cinta? Terlebih padamu?” kembali Mama menantang. Kali ini Mama membalas dengan menjewer hidung Papa.

“Oh, tentu saja~” Papa melepaskan tangan Mama dari hidungnya. “Ah, lihat! Kau merona sekarang. Kau memang mudah digoda,” ucapnya sambil menyeringai.

“Aku tidak!” seru Mama sambil menutupi kedua pipinya.

“Oh~ ayolah kalian berdua~” aku hanya memutar kedua bola mataku dan menghela napas pasrah setiap kali mereka berargumen. Sepertinya di sini bukan tempat yang nyaman lagi. Mereka berbicara dengan keras tepat di telingaku. Apa mereka memang sudah suka berargumen sejak dulu?

Menjadi mahasiswa tahun terakhir memang sangat sibuk. Mengerjakan berbagai tahapan seperti magang, laporan, penelitian, skripsi, dan yang lainnya sebelum akhirnya terdaftar sebagai wisudawan dan lulus.

Meskipun Lucy dan Kris tinggal bersama, sejak memasuki tahun terakhir perkuliahan, mereka jarang berkomunikasi langsung. Bukan karena mereka sedang berseteru, namun keduanya sama-sama sibuk dengan kegiatan masing-masing. Sama-sama ingin segera lulus kuliah dan menjadi sarjana.

Lucy juga tidak setiap malam tidur di kamar. Dia lebih sering berada di tempat penelitiannya. Hal itu membuat Kris agak kesepian karena tidak ada yang bisa diajak berargumen. Kalaupun Lucy sedang ada di rumah, mereka hanya bertemu saat pagi dan malam saja. Pagi ketika Kris baru bangun, sedangkan Lucy sudah menyelesaikan sarapannya dan bersiap berangkat.

Saat itu, Lucy hanya akan mengatakan, “Aku sudah menyiapkan sarapanmu. Aku berangkat dulu,” sampai Kris hapal. Bahkan Lucy sering lupa hanya untuk mengucapkan selamat pagi.

Saat malam hari, mereka menyempatkan makan bersama sambil menonton TV. Namun, karena sudah sama-sama lelah, tidak ada lagi waktu untuk bercanda dan berargumen. Hanya ada sedikit percakapan. Itupun seputar kesibukan masing-masing. Kemudian saling mengucapkan selamat tidur.

Kris merasa bosan dengan kegiatan mereka. Menurutnya, setiap harinya Lucy terlihat semakin kurus dan lingkaran hitam di bawah matanya semakin nampak jelas. Bukan hanya Lucy, namun dirinya sendiri. Kris berpikir untuk mengajak Lucy pergi refreshing.

“Apa?” itulah respon Lucy ketika Kris menyampaikan rencananya.

“Aku mengajakmu pergi kencan sebagai sahabat,” ucap Kris dengan yakin.

“Mana ada sahabat pergi kencan? Lagipula, aku tidak mau pergi kencan dengan orang yang sudah mempunyai kekasih,” jawab Lucy dingin.

“Baiklah, ini bukan kencan. Eum~ sebut saja ini friends outing. Sepasang sahabat pergi keluar bersama untuk refreshing. Bagaimana? Kau setuju?” tanya Kris sambil menaik-turunkan kedua alisnya.

Tatapan mata Lucy masih dingin dan penuh selidik seolah Kris sedang mengajaknya untuk menjadi selingkuhannya.

“Oh, ayolah! Kau harus mau. Aku tidak mau tinggal dengan panda yang baru selesai hibernasi.” Tadaa~ Kris sedang merajuk pada Lucy. Meskipun dia selalu bersikap seolah dia lebih dewasa dari Lucy, pada saat tertentu dia tidak bisa menolak untuk merajuk pada gadis itu. Karena itu satu-satunya cara untuk menaklukkan Lucy yang sedang marah atau judes.

Dan memang benar, Lucy tidak bisa menahannya. Baginya, Kris dan merajuk bukanlah kombinasi yang bagus. Jadi, mau tidak mau, dia harus luluh.

“Baiklah~” Lucy menghela napas pasrah. Tak ada lagi ekspresi dan ucapan dingin. “Memangnya, kau ingin mengajakku pergi ke mana?”

“Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?” Kris balik bertanya. “Aku akan membawamu ke sana.”

Atas usul Lucy, mereka pergi ke coffee shop yang belum pernah dikunjungi gadis itu. Kemudian, pergi berbelanja di Mall. Meskipun sebenarnya lebih banyak melihat-lihat saja daripada berbelanja. Tujuan selanjutnya bioskop, museum sejarah, toko buku, dan terakhir restoran Jepang.

Langit sudah gelap ketika mereka keluar dari toko buku. Kris mengusulkan untuk makan malam di luar sekalian, dan Lucy tampak tidak keberatan. Lucy pernah bercerita ingin memakan masakan Jepang, jadi Kris membawanya ke salah satu restoran Jepang yang cukup terkenal di kota.

“Aku heran, kenapa kau tidak memesan menu lain, pahadal kau sering makan ramen instan di rumah,” komentar Kris setelah ramen pesanan Lucy diantar.

“Aku juga memesan sushi dan hotcake,” jawab Lucy seraya menunjuk menu yang dimaksud yang telah terhidang di depannya. “Kau juga hanya memesan udon.”

“Setelah ini, okonomiyaki pesananku datang,” jawab Kris mulai menyantap udon-nya.

Lucy hanya mencibir dan ikut melahap ramen-nya. Setelahnya, tidak ada percakapan yang terjadi di antara keduanya. Lucy tampak benar-benar menikmati makan malamnya. Tidak menyadari Kris yang sesekali meliriknya.

“Sepertinya, kau benar-benar lapar,” ucap Kris. Sebagai jawaban, Lucy hanya mengangguk-angguk tanpa membuat kontak mata.

“Hei,” panggil Kris dengan pelan.

Lucy hampir tersedak mendengarnya. Ditatapnya pria yang duduk berhadapan dengannya yang ternyata sedang menunduk dan mengaduk-aduk kuah udon-nya. Ada apa? Sepertinya, orang ini sedang ada masalah, pikirnya.

“Ada apa?” tanya Lucy pada akhirnya.

Kris menatapnya sekilas kemudian tersenyum pahit, “Entahlah~”

Kedua alis Lucy menyatu bersamaan dengan dahinya yang mengerut. Kris sudah tidak seceria tadi siang. Sepertinya dia sedang bersedih. Apa yang terjadi? Masalah dengan kuliahnya, atau masalah dengan Victoria?

“Yang kedua,” ucapan Kris membuat Lucy sedikit tersentak. Tanpa sadar, ternyata dia sudah menyuarakan pikirannya.

“Eum~ kau ada masalah dengan Victoria?” tanya Lucy—sekali lagi—untuk meyakinkan.

“Begitulah~” jawab Kris dengan menghela napas, disandarkan punggungnya pada kursi.

“Jadi?”

Kris menghela napas (lagi) dengan berat dan menatap Lucy, “Dia… ingin berpisah.”

Awalnya, Lucy hanya menatapnya dan tetap diam. Tepatnya, tidak tahu harus memberikan reaksi seperti apa. Menurutnya—dari cerita Kris—hubungan Kris dan Victoria nampaknya baik-baik saja. Apa yang membuat Victoria meminta berpisah? Jangan-jangan wanita itu sudah dijodohkan?

“Darimana kau tahu?” tanya Kris. Pria itu kini menatapnya penuh selidik.

Lucy melebarkan kedua mata dan menutup mulutnya. Sekali lagi, dia tidak sadar telah menyuarakan pikirannya.

Lucy mengibaskan kedua tangannya agar Kris tidak salah paham, “Aku… hanya menebak saja, hehe~” kemudian menggaruk tengkuknya dengan kikuk.

Kris tidak mempermasalahkannya, dan berkata, “Itu benar. Tapi dia mengatakan alasan lain sebelum mengatakan alasan yang sebenarnya.”

“Apa itu?”

“Dia bilang, hubungan kami tidak akan berhasil jika tetap dipertahankan. Lebih baik diteruskan sebagai teman saja. Dan dia ingin aku fokus menyelesaikan kuliahku,” tutur Kris dengan lesu. Wajahnya tampak murung, dan Lucy baru menyadari bahwa pria itu juga memiliki lingkaran hitam di bawah matanya, meski tidak sekentara miliknya.

Lucy berniat menggodanya sedikit dengan mengatakan, “Apa kau menangis setelah itu?”

Dan tentu saja Kris langsung menatapnya dengan galak, “Tentu saja tidak! Pria tidak menangis!” tegasnya. “Memangnya, aku terlihat seperti baru menangis?!”

Sambil memotong hotcake, Lucy mengangkat bahunya dan menahan tawa, “Apa kau mau mencoba hotcake yang kupesan? Aku tahu, kau akan menolak jika kutawari sushi,” disodorkannya sepotong hotcake di depan wajah Kris.

Pada awalnya, pria itu tampak ragu. Merasa Lucy masih sedang mengejeknya. Namun, dia tidak bisa menolak makanan enak di depan matanya. Jadi, dengan gerakan cepat dia melahapnya.

“Enak, kan?” tanya Lucy seraya menyuapkan hotcake ke mulutnya sendiri. Jujur, sebenarnya dia tidak tahu bagaimana cara membuat suasana hati Kris menjadi lebih baik. Namun tampaknya, usahanya kecil berhasil. Pria itu kembali melahap makanannya. Lucy tersenyum lebar dan ikut kembali menyantap makanannya.

“Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Lucy dengan pelan.

“Meski kau hanya memberiku sepotong hotcake, aku sudah merasa lebih baik,” ucap Kris.

Lucy memamerkan deretan giginya dan berkata, “Syukurlah. Aku senang mendengarnya. Aku kira, aku tidak bisa membantu.”

“Terima kasih,” ucap Kris dengan suara berat dan serak.

Saat Lucy menatapnya, pria itu sedang tersenyum padanya. Tiba-tiba Lucy mendapatkan perasaan yang aneh setelah melihat senyum itu. Seingatnya, ini pertama kalinya dia melihat senyum Kris yang seperti itu. Lucy segera menunduk ketika merasa dadanya sakit. Jantungnya berdetak terlalu cepat. Ada apa ini?

“Lu~” panggil Kris dengan hati-hati karena gadis itu tiba-tiba bertingkah aneh.

Lucy langsung menutup kedua telinganya dan menggeleng dengan kuat, “Jangan panggil aku seperti itu!” ucapnya—lebih terdengar seperti perintah—dengan pelan namun terdengar tegas.

Ini tidak benar. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali aku merasakan perasaan seperti ini. Tidak mungkin! Tidak ada perasaan terlibat di antara kami, batin Lucy.

Kris semakin khawatir pada gadis yang duduk di hadapannya. Tingkah Lucy semakin aneh baginya. Dia masih menggeleng-gelengkan kepala sambil bergumam tak jelas. Apa dia sakit? pikirnya.

Kris segera mengambil tindakan dengan memanggil pelayan untuk meminta bill dan membungkus pesanan mereka yang masih utuh. Setelah membayar, Kris menarik lengan Lucy dengan pelan dan membawanya masuk ke mobil. Gadis itu tampak tak sadar dan menurut saja.

“Jangan seperti ini,” ucap Lucy dengan pelan saat mobil Kris sudah melaju. Kris tidak bertanya meskipun dia tidak mengerti maksudnya. Dia hanya melirik gadis itu sekilas.

“Aku tidak akan jatuh cinta padamu,” ucap Lucy sekali lagi, kali ini lebih tegas.

Kris masih terdiam, pandangannya fokus pada jalan. Setelah memastikan Lucy tidak ingin mengucapkan sesuatu lagi, dia baru berucap, “Aku tidak melarangmu untuk jatuh cinta padaku.”

Lucy menatapnya dengan wajah terkejut dan penuh tanya.

“Suatu hari nanti, mungkin aku juga akan jatuh cinta padamu,” lanjut Kris dengan senyuman yang sama. Senyuman yang membuat jantung Lucy kembali berdetak lebih cepat.

>Next<

Advertisements

3 thoughts on “[SS] My Parent’s Love Story (part 4)

  1. author-nim ini tokoh Kris sama Lucy nya itu Yifan ama Luhan bukan sich ?? kok aku berasa kalo ini tuch FF KrisHan yaaaa …. wkwkwkwk please thor aku jadi kepo masa sama ini FF pengen baca dari awal.

    apa jangan-jangan Author emg ngebayangin Kris sama Lucy itu si Yipan ama Luhan #plaakkk *soktahu*

    1. Hai~ aku ngakak nemu komenan kamu di sini, keke~
      Gak salah kok. Emang bener, pas nulis ini aku bayangin Yifan ama Luhan. 😀
      Untuk ralat, ini sebenernya cerpen, eh cerbung, bukan fanfic. Tapi pas itu, aku bingung bikin nama karakternya. Trus kepikiran FanHan. Dan jadilah cerpen/cerbung ini. 🙂
      Silahkan membaca dari awal jika memang tertarik. But, dont expecting too much. 😀
      *heart* Ranifa Billy

  2. Haaawwhhh FanHan feeeellll is in the aiiirrrrr ….. ini cerpen bagus bgt thor ….. lanjutin pleaseeeeee !!!! I am so wonder to reading the next part^^

    Author-nim Fighting~ XD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s