[SS] My Parent’s Love Story (part 5)

cover part 5

My Parent’s Love Story © 2016 Ranifa Billy

Part 5

Pada sesi cerita yang lain, Mama mengakuinya. Memang benar, Mama yang jatuh cinta pada Papa terlebih dahulu. Namun, Mama tidak ingat kapan perasaan itu ada. Dan Mama memang tidak memberitahu Papa jika dia sedang jatuh cinta padanya saat itu.

Mama selalu menunggu. Dulu, saat pertama kali jatuh cinta, Mama juga menunggu. Tidak mau menjadi pihak pertama yang menyatakan. Sayangnya, cinta pertamanya tidak peka. Namun, Tuhan menunjukan jalan untuk bertemu dengan Papa. Seorang pria yang ditakdirkan-Nya untuk mendampingi hidup Mama.

Menurut cerita dari Mama, Papa menyatakan perasaannya beberapa bulan setelah keduanya lulus kuliah. Untuk informasi, meskipun mereka diwisuda pada tahun yang sama, tapi Mama melakukannya lebih dahulu, kemudian Papa. Sebagai sahabat, Papa datang ke wisuda Mama, begitupun sebaliknya.

Setelah kembali dari perantauan, keduanya jarang bertemu. Kris dan Lucy hanya berkomunikasi melalui telepon dan sosial media. Lucy memilih untuk membantu di bakery milik keluarganya sementara mencari pekerjaan yang sesuai minatnya. Sedangkan, Kris langsung diajak bekerja di kantor milik ayahnya.

“Lucy, kenapa tidak menjadi dokter hewan saja?” tanya salah seorang pegawai bakery. Saat itu, Lucy sedang membantu membuat adonan roti.

“Tidak bisa. Aku tidak berkuliah di kedokteran hewan,” jawab Lucy pelan. Kedua tangannya sedang sibuk menguleni adonan.

“Ooh~ lalu, kau bisa bekerja di mana?” tanya pegawai itu.

“Entahlah,” jawab Lucy, mengangkat bahu. “Aku berencana pergi ke Afrika untuk melihat singa. Tapi Ayah melarang.”

“Untuk melihat singa, kenapa harus ke Afrika? Di kebun binatang juga ada,” timpal pegawai yang lain yang kebetulan mendengar ucapan Lucy. Beberapa pegawai lain yang mendengarnya tertawa.

Lucy menghela napas, kemudian menjelaskan, “Meskipun sama-sama singa, tapi singa yang hidup di kebun binatang dengan yang di alam liar itu berbeda.”

Saat itu, terdengar ringtone ponselnya, “Oh, ada telepon. Bagaimana ini?”

“Sudah, cuci tanganmu. Biar kami yang meneruskan ini,” ucap pegawainya.

“Baiklah,” Lucy beranjak ke wastafel dan membersihkan tangannya dari adonan yang menempel. Setelah itu, dia beranjak keluar dari dapur untuk menerima panggilan telepon.

Seraya meniti tangga menuju lantai dua, Lucy menempelkan ponselnya ke telinga, “Halo?”

Missed me?” terdengar suara pria yang familiar di telinganya.

Kedua alis Lucy bertemu, dilihatnya layar ponsel untuk mengetahui ID-caller, “Mr. Bussinesman.”

“Apa kabar?” tanya suara di seberang.

“Baik. Kau?”

Terdengar pria di seberang menghela napas, “Melelahkan.”

“Benarkah? Kau benar-benar langsung bekerja?” tanya Lucy seraya menahan tawanya.

“Begitulah~ apa ayahmu tidak pernah bercerita?” pria itu balik bertanya. “Aku tidak menyangka, Papa langsung memberiku tanggung jawab yang besar.”

“Apa kau langsung menjadi direktur? Bukankah itu bagus?”

“Tidak. Tapi tanggung jawabku besar. Ah, ayo jangan bicarakan pekerjaan. Kepalaku pusing,” jelas pria itu.

Lucy hanya terkekeh mendengarnya.

“Apa kau sibuk?”

“Aku tidak pernah sibuk. Aku sedang mencari kesibukan. Ada apa?”

“Ayo bertemu. Atau aku akan menjemputmu dan kita pergi kencan.”

“Apa?” Lucy tampak tak setuju.

“Oh, kau harus mau. Ini akan menjadi reuni pertama kita,” tutur pria itu.

Lucy tampak terdiam, mempertimbangkan ajakannya, “Aku tidak suka menunggu di tempat umum. Jadi, jemput aku.”

Lucy bisa mengetahui jika pria di seberang sedang bersorak senang meskipun dia tidak melihatnya. “Oke. Malam ini, aku akan ke rumahmu jam 6. How?”

“Sepakat.”

Dengan kesepakatan itu, kini mereka berada di arena ice skating. Lucy tampak berdiri di tepi arena, berpegangan pada pagar, dengan wajah ditekuk. Sedangkan, Kris dengan santainya meninggalkannya, ice skating sendirian.

“Aku kira, kita akan pergi makan,” gerutu Lucy ketika Kris berseluncur menghampirinya sambil tertawa lepas.

“Setelah ini, kita pergi makan,” tutur Kris seraya menepuk puncak kepala Lucy.

“Kenapa tidak pergi makan sekarang?” Lucy masih menggerutu. “Aku sudah lapar.”

“Wow! Tumben kau mengeluh lapar,” ucap Kris pura-pura kaget.

Sebagai jawaban karena masih kesal, Lucy menjegal kaki pria tinggi itu hingga dia terjatuh.

“Hei, sopan sekali responmu~” keluh Kris sambil mengusap lututnya yang membentur lantai es. Sementara, Lucy berpura-pura tidak melihatnya.

Setelah kembali berdiri, Kris meraih kedua tangan Lucy, “Bilang saja jika tidak bisa ice skating. Aku bisa mengajarimu.” Tanpa menunggu jawaban dari gadis itu, Kris menariknya ke tengah arena dan otomatis menghasilkan teriakan histeris dari Lucy.

“Wuooo~~ kau gila!!”

Seolah tak mendengarnya, Kris masih terus menarik Lucy untuk berseluncur. Melakukan sedikit tarian Waltz yang canggung. Kemudian menarik Lucy dengan kuat hingga gadis itu mendarat di pelukannya.

Lucy mencengkeram jaket yang dipakai pria itu, ketika merasakan sebuah lengan melingkar di pinggangnya. Dilihatnya Kris sedang tersenyum penuh arti padanya. Asal pria itu tahu, Lucy sedang berusaha keras menahan semburat merah muda agar tidak muncul di kedua pipinya.

“Mencoba bersikap romantis?” ejek Lucy dengan suara tenang setelah berhasil mengontrol aliran darah di wajahnya.

Kris terkekeh, “Jadi, bagaimana? Apa aku sudah romantis?”

“Menjijikkan,” ucap Lucy seraya melepaskan diri dari pelukan Kris. “Sudah selesai? Ayo kita pergi makan.”

“Tidak. Belum,” Kris menahan tangan Lucy yang mulai beranjak pergi. “Aku akan menjadi guru les privat ice skating untukmu.”

Sebelum Kris menjelaskan lebih banyak, Lucy menyela, “Aku tidak membutuhkannya, okay?”

“Hmm~ tapi aku memaksa,” dalam sekali gerakan, Kris kembali membawa Lucy dalam pelukannya. “Ini akan selesai dengan cepat jika kau menurut. Setelah itu, kita benar-benar pergi makan. Aku yang traktir.”

Sekali lagi, tanpa menunggu persetujuan Lucy, Kris membawanya berseluncur mengitari arena ice skating. Tidak mau berteriak histeris lagi, Lucy menumpukan 90% berat tubuhnya pada Kris, dan terus mencengkeram jaket yang dikenakan pria itu.

Mereka belum pernah sedekat ini secara fisik sebelumnya. Dalam pikirannya, Lucy bertanya-tanya, apa yang dirasakan Kris saat ini? Apa pria itu menyadari betapa cepat aliran darah di wajahnya karena jarak mereka saat ini? Sial! Lucy sudah lupa bagaimana rasanya jatuh cinta. Dia tidak ingat merasa seperti ini saat jatuh cinta untuk pertama kali. Apa benar pria itu berhasil membuka hatinya yang tertutup dan mencurinya?

Lucy terlalu sibuk dengan pikirannya hingga tidak menyadari dia sudah duduk di bangku penumpang di mobil Kris. Sebuah sentuhan ringan di pipi membawanya kembali ke alam sadar.

“Kau melamun,” ucap Kris. “Ada apa? Ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya pria itu dengan khawatir. Lucy menjawabnya dengan gelengan pelan.

Kris nampaknya tidak ingin bertanya lebih lanjut. “Kau ingin makan apa?”

Seafood,” jawab Lucy terlampau cepat. Namun suaranya terdengar datar seolah dia belum tersadar sepenuhnya.

Okay!” seru Kris, mulai melajukan mobilnya.

Lucy menyantap makanannya dalam diam. Bahkan berusaha tidak menimbulkan suara sekecil apapun ketika menyendok ataupun mengunyah makanannya. Hal itu membuat Kris kembali khawatir. Awalnya dia pikir, Lucy akan kembali ‘normal’ setelah mendapatkan makanannya. Namun, gadis itu tak lagi mengeluarkan suara setelah mengucapkan menu yang dipesannya.

Kris memutar otaknya. Mengulang memori. Mengingat kembali, kesalahan apa yang mungkin sengaja atau tidak sengaja dia perbuat. Selain itu, memikirkan ide untuk membuat gadis di hadapannya kembali berbicara padanya.

“Lu,” panggilnya, dan Lucy mengangkat kepalanya sedikit.

Kris menghela napas sebelum bertanya, “Kau bersikap tidak normal. Maksudku, apa aku membuat kesalahan?”

Dengan segera, Lucy menggelengkan kepalanya.

“Katakan sesuatu,” ucap Kris, sedikit frustasi. Alasannya mengajak Lucy ‘berkencan’ malam ini adalah untuk menenangkan pikirannya. Akhir-akhir ini dia merasa frustasi dan ingin marah setiap kali kembali bekerja. Tapi dia tidak mampu melampiaskannya. Jadi, dia memilih gadis itu untuk membantunya menenangkan pikirannya.

“Kau tidak membuat kesalahan,” jawab Lucy dengan pelan, hampir berbisik.

“Kalau begitu, jangan diam saja, Lu. Kau membuatku khawatir,” keluh Kris, berusaha menahan emosinya.

“Maaf,” ucap Lucy. Kembali dengan suara hampir berbisik.

Kris menghela napas kasar. Hal itu membuat Lucy takut. Jadi, ditundukkannya kepalanya dalam-dalam. Apa reuni mereka harus seperti ini? Lucy merasa ingin mengumpat dirinya sendiri karena menciptakan suasana canggung di antara mereka. Aku membuatnya marah, batinnya.

Dirasakannya tangan Kris menyentuh tangannya. Tindakan itu membuatnya sedikit terperanjat.

“Hei, aku tidak marah padamu,” ucap pria itu dengan lembut. Kali ini, Kris yang terperanjat karena Lucy langsung menarik tangannya dan beranjak berdiri.

“Aku ke toilet dulu,” tutur gadis itu tanpa menatap Kris dan langsung melangkah. Kris menatapnya bertanya-tanya. Ini jelas tidak normal, batinnya.

Cukup lama waktu yang dibutuhkan Lucy di toilet. Saat dia kembali ke meja mereka, Kris tampak duduk tenang seraya menatapnya dengan senyuman tipis. Sepertinya pria itu menunggunya, karena peralatan makannya diletakkan kembali di dekat piring.

“Aku membuatmu menunggu?” tanya Lucy dengan kikuk.

“Tidak apa-apa,” pria itu beranjak dari duduknya. Menarik kursi untuk Lucy dan menyuruhnya duduk. Kemudian meletakkan serbet makan di pangkuan gadis itu.

“Kali ini, mencoba bersikap gentleman?” tanya Lucy dengan sinis. Bola matanya mengikuti gerakan Kris yang kembali duduk di kursinya.

Kris terkekeh mendengarnya, “Akhirnya kau kembali normal.”

Mereka kembali melanjutkan makan, diselingi beberapa candaan. Tanpa Lucy sadari, kecanggungan yang dibuatnya perlahan menghilang. Kris selalu bisa mengembalikan suasana canggung menjadi akrab kembali. Pria itu juga sudah hapal dengan hal apa yang harus dilakukannya ketika Lucy sedang marah atau suasana hatinya buruk. Dan Lucy menyadari hal itu. Mungkin itu yang membuat Lucy jatuh cinta padanya.

Kris selalu memilih untuk mengalah tanpa diminta. Dia akan melakukan apapun asal Lucy tetap berbicara dengannya, tidak mengacuhkannya. Dia sendiri tidak mengerti kenapa memutuskan untuk seperti itu. Hanya dengan berbicara pada gadis itu, perasaannya menjadi tenang, beban pikirannya berkurang. Baginya, bertemu Lucy sama seperti menemukan oasis di gurun pasir. Apa aku jatuh cinta padanya? Sejak kapan tepatnya?

“Papa memintaku kuliah lagi untuk gelar Master,” cerita Kris saat keduanya sedang duduk di bangku besi di tepi lapangan basket. Mengamati sekelompok anak muda yang sedang memperebutkan bola di tengah lapangan.

“Begitu?” sahut Lucy, mengayunkan kedua kakinya. “Kapan? Di mana?”

Kris tidak langsung menjawab, melainkan menatap Lucy yang ternyata juga sedang menatapnya. Digenggamnya tangan Lucy, “Ini pertemuan pertama kita sejak kelulusanku beberapa bulan lalu. Tapi, kita tidak akan bertemu lagi sampai dua atau tiga tahun setelah ini.”

“Hei, itu terdengar seperti perpisahan yang menyedihkan. Dan itu bukan jawaban untuk pertanyaanku,” timpal Lucy. Kali ini, dia membiarkan tangannya digenggam pria itu.

Kris tersenyum tipis, “Aku akan mengambil gelar Master di luar negeri,” jelasnya. Dilihatnya, kedua mata Lucy melebar.

“Ow, jadi ini memang benar perpisahan,” ucap gadis itu dengan pelan.

Untuk beberapa saat kemudian, tidak ada kelanjutan percakapan. Kris hanya menatap Lucy dengan tatapan yang tidak dimengerti oleh gadis itu. Sedangkan, Lucy menatapnya dengan pandangan bertanya. Kedua alisnya berkerut. Bola mata cokelatnya seolah menghipnotisnya. Apa Lucy selalu seperti ini? Apa dia selalu mempunyai wajah inosen seperti ini?

“Apa kau akan selalu seperti ini?” pertanyaan yang diajukan pria itu terdengar konyol bagi Lucy. Sebelum dia balik bertanya, Kris kembali mengajukan pertanyaan.

“Apa kau akan tetap seperti ini setelah aku kembali sekitar tiga tahun lagi?”

Nampaknya Lucy mengerti, “Jika yang kau maksud, apa aku akan tetap menjadi temanmu, tentu saja. Aku tetap akan menjadi temanmu, kapanpun itu,” jawabnya.

Kris tersenyum kecil mendengar jawaban lugu itu, “Terima kasih,” mencondongkan tubuhnya ke arah Lucy, “Berjanjilah padaku,” meletakkan ibu jarinya pada bibir Lucy, “Aku menyukaimu,” ucapnya sebelum menempelkan bibirnya.

Tidak pernah Lucy duga, malam itu dia akan menerima pernyataan dan ciuman pertama dari pria itu. Apa ini akan merubah semua yang telah ada? Apa ini terlalu cepat atau sudah waktu yang tepat?

>Next<

Advertisements

3 thoughts on “[SS] My Parent’s Love Story (part 5)

  1. Whooaaahhh hahaha aku baru baca ini keren Kak author, si Kris rimantis bangeettt *peluk Kris* XD

    Lanjut ya Author-nim, aku udah terlanjur jatuh cinta sama cerpen ini *wink*
    Tetep semangat nulisnya ya, keep writing and fighting !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s