[Fanfiction] I Know Places

ikp-cov

Title                : I Know Places

Author            : Ranifa Billy

Cast                 : Choi Seungcheol (17’s S.Coups), Han Byul (OC)

Genre              : Romance (a little bit humor)

Rate                 : T

Warning         : Typo(s), feel minus

A/N (1)          : Terinspirasi dari lagu Taylor Swift – I Know Places. Aku memakai judul yang sama. Tidak pandai membuat judul. -_____-

***

Jalanan di depan kafe malam itu tak seramai biasanya. Mungkin karena faktor hujan. Kafe juga tampak sepi. Hanya beberapa pelanggan yang kemungkinan besar menumpang berteduh. Awalnya, mereka berteduh di teras. Namun, karena hujan semakin deras, mereka terpaksa memilih masuk. Dan tentu saja mereka akan memesan sesuatu yang hangat—minuman.

Seorang gadis dengan pakaian serba hitam tampak kontras dengan nuansa kafe yang seputih salju. Duduk di meja paling dekat dengan pintu masuk, kedua mata tajamnya memandang keluar. Mengikuti seorang pria yang berlari—menembus hujan—memasuki kafe. Orang bisa saja salah mengenalinya sebagai pria karena beanie yang dikenakan menyembunyikan rambut merahnya.

Namun, tidak dengan pria yang baru memasuki kafe itu. Melangkah mendekati meja gadis itu dengan senyum lebar, dia menyapa, “Hai. Sudah lama?”

“Menurutmu?” balas gadis itu dengan suara pelan namun terdengar dingin.

Mengambil tempat berhadapan dengan kekasihnya, pria itu berucap, “Maaf. Kau tahu, kan, aku harus membuat alibi baru?”

“Kau tidak perlu memaksa untuk bertemu denganku jika kau sibuk,” kekasihnya menanggapi. “Aku sudah memesan untukmu. Minumlah dulu,” menunjuk gelas tinggi berwarna putih di hadapannya.

“Apa ini?” menghirup aroma dari gelas terturtup itu. “Bukan kopi.”

“Susu coklat panas,” tutur kekasihnya. “Jangan minum kopi. Ini sudah malam. Nanti kau tidak bisa tidur,” lanjutnya.

Seulas senyum terbentuk di bibir pria itu. Memandang kekasihnya, dia berucap, “Terima kasih. Kau perhatian sekali padaku.”

Dengan menggedikkan bahu, si gadis ikut menyesap minumannya.

“Apa punyamu?” tanya pria itu.

“Sama,” jawab si gadis, menatapnya. “Bedanya, punyaku ada obat tidurnya.”

Penjelasan tambahan itu cukup mengejutkan si pria, “Apa? Jangan bercanda!”

“Ya. Aku bercanda,” jawab si gadis, acuh.

“Selera humormu menakutkan,” tanggap si pria seraya menepuk poni rambut si gadis yang menyembul dari beanie yang dikenakan.

“Aku terkena insomnia lagi. Tapi, tidak perlu khawatir. Aku bisa mengatasinya,” jelasnya. “Tenang saja, aku tidak memerlukan obat tidur,” dengan cepat menambahkan sebelum kekasihnya menanggapi.

“Begitu,” si pria mengangguk paham. Kembali menyesap minumannya kemudian bertanya, “Bagaimana kuliahmu? Mengalami kesulitan?”

Mendengar pertanyaan kekasihnya, gadis itu berdecak kesal, “Jangan menanyakan itu! Kau membuat kepalaku pusing lagi.”

Sebuah senyuman muncul di bibir pria itu. Seraya menggenggam sebelah tangan kekasihnya, dia berucap, “Semakin sulit, ya? Berjuanglah! Aku yakin, kau mampu.”

Gadis itu menghela napas berat, memberikan senyuman yang terlihat terpaksa pada kekasihnya. Wajahnya tampak lelah, “Terima kasih, Cheol.”

***

Malam semakin larut. Hujan sudah reda. Terbentuk genangan air di trotoar dan tepi jalan. Jalanan mulai tampak ramai dengan kendaraan. Para pejalan kaki menyusuri trotoar dengan langkah cepat. Khawatir jika hujan tiba-tiba turun lagi.

Dengan lengan merangkul pundak kekasihnya, Seungcheol berjalan menyusuri trotoar. Menceritakan semua hal yang terjadi selama dia tidak bertemu sang kekasih. Sementara Han Byul menanggapinya dengan beberapa anggukan mengerti. Baginya, saat seperti ini, Seungcheol terlihat seperti seorang anak yang sedang menceritakan pengalaman barunya di sekolah pada orang tuanya.

“Oia, kalian mendapatkan penghargaan lagi, kan, semalam? Selamat!” ucap Han Byul, memotong cerita kekasihnya.

Bukannya kesal karena ceritanya dipotong, Seungcheol justru menunjukkan cengiran lebarnya, “Terima kasih!” balasnya. Kali ini tangannya berpindah merangkul pinggang Han Byul. “Kau juga voting untuk kami, kan?”

Dengan berusaha menyingkirkan tangan Seungcheol, Han Byul menjawab, “Tidak. Untuk apa? Aku bukan penggemar kalian,” jawabnya acuh. Menjulurkan lidahnya, mengejek.

Seungcheol menatapnya dengan ekspresi datar, “Sepertinya, kau ingin dicium.”

Han Byul melakukan hal sama kemudian mendorong dahi lebar pria itu dengan jari telunjuknya. Diperlakukan seperti itu, Seungcheol justru mengeratkan tangannya di pinggang Han Byul dan menyandarkan kepalanya di pundak gadis itu dengan manja.

“Jangan menyandar! Kepalamu berat!” sembur gadis itu. Menyingkirkan kepala Seungcheol dari pundaknya.

“Kenapa kau kejam sekali padaku~? Kita sudah lama tidak bertemu~” rengek pria itu, kembali menyandarkan kepalanya di pundak sang kekasih.

Han Byul mengerang kesal, namun tidak menyingkirkan kepalanya, “Kau menyebalkan!” omelnya. “Aku heran, kalau bersama Junghan, kau itu seme atau uke?”

Mendapat pertanyaan seperti itu, Seungcheol mengangkat kepalanya dan kembali menatap kekasihnya tanpa ekspresi, “Tolong, jangan berbicara hal-hal yang tidak masuk akal.”

“Bagiku, itu masuk akal,” bantah Han byul.

“Oh! Ayolah! Bisakah kita membicarakan tentang kita saja?” keluh Seungcheol. “Oh! Atau jangan-jangan kau cemburu pada Junghan, ya?” Mencolek pipi Han Byul, menggodanya.

“Tidak. Untuk apa aku harus cemburu? Justru aku mendukung hubungan kalian,” tutur Han Byul, tetap acuh.

Kali ini, Seungcheol yang mengerang kesal, “Mempunyai kekasih seorang fujoshi sangat melelahkan~”

Dengan gerakan cepat, Han Byul menepuk mulut kekasihnya, “Lantang sekali suaramu! Bagaimana kalau ada yang dengar? Kau ingin membuat skandal? Aku tidak mau tanggung jawab.”

Seungcheol mengelus mulutnya karena tepukan Han Byul terasa seperti pukulan. Kuat sekali dia. Kemudian menarik tubuh gadis itu agar semakin mendekat padanya. “Tenang saja. Tidak akan ada skandal. Aku bisa menjamin hubungan kita aman,” tuturnya, tidak lupa menurunkan volume suaranya.

“Ya, selama aku selalu menyamar seperti ini setiap kali kita bertemu,” tambah Han Byul. “Kenapa kau tidak menyamar juga?”

Seungcheol, kembali hanya menunjukkan cengirannya sebagai jawaban. Memang, setiap kali mereka bertemu, Han Byul yang selalu menyamar. Bukan tanpa alasan dia meminta kekasihnya untuk menyamar. Hal itu untuk mengantisipasi jika seandainya seseorang mengenalinya. Setidaknya, dia ‘tertangkap’ bersama seorang teman pria, bukan dengan wanita. Jadi, tidak akan muncul skandal.

Dia akui bahwa kekasihnya bisa terlihat manly hanya dengan menyembunyikan rambut sebahunya di dalam beanie atau snapback. Lagipula, Han Byul terbilang cukup tinggi untuk seorang gadis. Tinggi badannya hampir mencapai telinga Seungcheol. Selain itu, kekasihnya mempunyai aura boyish. Terkadang dia mencoba melupakan fakta bahwa dia mengencani gadis tomboy.

“Ada mini market di seberang sana. Ayo beli snack dan minuman,” ujar Han Byul, menunjuk mini market di seberang jalan.

“Oke,” Seungcheol mengangguk setuju. Menggandeng tangan Han Byul untuk menyeberang jalan.

***

“Apa kau S.Coups dari Seventeen?” tanya seseorang di sampingnya ketika Seungcheol dan Han Byul sedang mengambil minuman kaleng.

Baik Seungcheol maupun Han Byul menoleh ke arah orang itu. Seorang gadis.

Seungcheol tersenyum ramah pada gadis itu, kemudian menjawab, “Maaf, bukan. Permisi,” mengikuti Han Byul yang melangkah menuju kasir.

“Lihat, apa kataku? Ada yang mengenalimu, kan? Seharusnya kau juga menyamar,” omel Han Byul ketika mereka sudah keluar dari mini market.

“Iya. Maaf~” Seungcheol mengenakan hoodie-nya. “Sekarang bagaimana?”

“Itu bukan penyamaran,” Han Byul melangkah lebih dulu.

Seungcheol segera menyusul dan mendekapnya dari belakang, “Ayolah, Byul! Jangan marah. Setidaknya, aku sudah berusaha, kan?”

“Lepaskan! Kau bisa mengundang perhatian orang-orang!” desis Han Byul. Melepaskan tangan Seungcheol yang melingkar di pinggangnya. Setelah berhasil, dia kembali melangkah lebih dulu, kali ini lebih cepat.

Seungcheol menghela napas dan kembali menyusul. Kali ini, menggenggam tangan kekasihnya dan berjalan berdampingan.

***

Kedua mata tajam Han Byul memandang awas ke sekitarnya. Dia merasa diikuti. Ah, tidak. Mungkin Seungcheol. Tapi, karena pria itu berjalan di sampingnya, tentu saja dia juga merasa diikuti. Siapa? Jangan-jangan penggemar!

“Cheol,” panggilnya dengan berbisik.

“Sst… tidak apa-apa. Bersikap normal,” Seungcheol mengeratkan genggaman tangannya.

“Itu S.Coups oppa, kan?”

“Kau yakin itu Coups oppa?”

“Entahlah. Terlihat mirip. Kita ikuti saja pelan-pelan.”

“Dia sedang bersama siapa, ya?”

“Yang satunya bukan Junghan oppa, kan?”

“Tidak. Sepertinya juga bukan member Seventeen.”

Terdengar suara bisik-bisik beberapa gadis dari belakang mereka. Meski itu bisikan, Seungcheol dan Han Byul bisa mendengarnya dengan jelas. Han Byul yakin, gadis-gadis itu adalah penggemar kekasihnya. Ini gawat!

Han Byul terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, sehingga dia terkejut ketika Seungcheol tiba-tiba menarik tangannya untuk berlari. Telinganya sempat mendengar suara jepretan kamera. Apa mereka berhasil memotret. Bagaimana ini?

Benar. Mereka adalah penggemar kekasihnya. Buktinya, Han Byul dapat mendengar derap lari di belakang mereka, serta panggilan-panggilan nama panggung kekasihnya. Seungcheol menariknya berlari menyeberangi jalan raya tepat sebelum lampu berubah warna.

“Aman,” Seungcheol terkekeh di sela-sela napasnya yang memburu. Mengamati sekitarnya, mereka sudah terhindar dari penggemarnya. Jauh dari keramaian. Setelah menyeberang jalan, dia membawa Han Byul berbelok ke dalam sebuah gang. Di sanalah mereka sekarang.

“Sekarang sudah aman. Kau tidak apa-apa?” tanyanya pada Han Byul yang masih nampak mengatur napasnya.

Han Byul menggeleng pelan. Napasnya masih terengah-engah. Menekan dadanya untuk mengurangi debaran jantungnya. Hal itu membuat Seungcheol khawatir.

“Byul?”

Han Byul menatapnya dan tersenyum, nampak dipaksakan, “Aku baik-baik saja. Bukankah ini sudah biasa?”

Merasa tidak yakin, Seungcheol menangkup wajah kekasihnya, mengamatinya. Wajahnya terlihat lelah. Tidak pucat. Meraih tangannya. Tidak gemetar. Diam-diam, dia menghela napas lega.

“Tidak apa-apa, kan?” Han Byul menelengkan kepala, tersenyum lebar.

“Kau membuatku khawatir. Kau tahu itu?” Seungcheol mencubit kedua pipi kekasihnya dengan gemas.

Melepaskan diri dari cubitan itu, Han Byul berkata, “Tidak perlu mengkhawatirkanku. Khawatirkan dirimu sendiri. Bagaimana kalau besok muncul skandal?”

Sekali lagi, Seungcheol menghela napas, menangkup wajah kekasihnya, “Apa kau percaya padaku?”

Han Byul menatapnya dalam diam sebelum menggedikkan bahu, “Entahlah.”

“Ayolah. Aku serius.”

“Baiklah. Aku percaya padamu,” ucap Han Byul menyerah. “Jadi?”

“Tidak akan ada yang terjadi. Semuanya akan tetap berjalan normal. Kau tetap Han Byul, dan tetap menjadi kekasihku. Aku tetap Choi Seungcheol, dan aku akan selalu mencintaimu,” tuturnya diakhiri cengiran bodoh.

“Manis sekali.”

Saat itu, Seungcheol berniat mencuri ciuman, namun Han Byul menyadarinya. Dia segera menutup bibirnya dengan tangan, sehingga kekasihnya berakhir mencium punggung tangannya.

“Ayolah. Hanya satu kali. Kecupan saja,” rengek pria itu, mengayun-ayunkan lengan Han Byul.

“Tidak. Terima kasih,” Han Byul melangkah pergi. “Aku mau pulang.”

“Byul~”

_END_

 

A/N (2)

Done!

Apa ada Carat(s) di sini? Aku memutuskan untuk menulis fanfiction setiap kali mendengar lagu Taylor Swift – I Know Places. Dan jadilah cerita ini. Aku menulisnya terburu-buru. Sehingga mungkin feel-nya kurang.

Di Seventeen, aku suka pasangan orang tua Seventeen, S. Coups dan Jeonghan. Tapi aku tidak menjadikan pairing itu sebagai karakterku di fanfic ini. Sorry~ Mungkin lain waktu aku akan menulis tentang mereka.

Lastly, maybe some opinion from you, guys? Anything. I hope you like this one.

See you~

16.02.18

Ranifa Billy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s