[Fanfiction] In Love (Lu Han) | FanHan/KrisHan/KrisLu

inlove-cover

Fanfiction

Title: In Love (Lu Han)

Author: Ranifa Billy

Cast: Lu Han, Wu Yifan

Pairing: FanHan/KrisHan/KrisLu

Genre: Romance, School Life

Rate: T

Warning: fem!Lu, typo(s), OOC

(A/N: Recommendation song, Taylor Swift – You Are In Love. Also got inspiration from this song. Credit lyric on cover goes to Taylor Swift.)

***

[1]

Suasana kelas selalu ricuh dan kacau setiap kali guru mata pelajaran datang terlambat atau jam kosong. Banyak kegiatan yang dilakukan para siswa saat itu, meliputi mengobrol, tidur, memainkan permainan apapun itu, bahkan bermain bola di dalam kelas. Aku lebih memilih tidur dari semua kegiatan yang kemungkinan dilakukan. Aku terkena insomnia semalam, dan aku benar-benar butuh tidur sekarang. Semoga ini jam kosong. Tapi, aku tidak akan bisa tidur sungguhan dalam keadaan kelas seperti ini.

Aku merebahkan kepalaku di meja, mencoba untuk tidur. Gagal. Aku mengganti posisi kepalaku ke arah berlawanan, mencoba tidur lagi. Sama saja. Kubuka kelopak mataku perlahan. Aku tidak mengerti. Kenapa dia? Melakukan hal yang sama denganku. Menatap—kemungkinan besar—ke arahku. Kemudian, yang tidak kusangka, perlahan ujung bibirnya tertarik membentuk senyuman samar. Apa maksudnya? Segera kuhadapkan kepalaku ke arah berlawanan. Senyum samar itu memberikan efek yang luar biasa padaku.

Orang gila!

[2]

Pelarajan olahraga kali ini adalah renang. Aku paling tidak suka berenang. Aku mempunyai trauma tenggelam. Guru akan menguji kami satu per satu untuk berenang ke sisi lain kolam. Sambil menunggu giliranku, aku duduk di tepi kolam bersama teman-teman perempuanku. Kulihat dia juga duduk di tepi lain kolam. Menunggu gilirannya dengan mengobrol bersama kelompok laki-laki. Beberapa kali aku menangkapnya menatap ke arahku. Apa maunya orang itu?

Aku sangat terkejut ketika guru akhirnya memanggil namaku. Apa aku melamun tadi? Dengan terburu-buru, aku mengeluarkan kakiku dari kolam dan menuju sisi kolam yang dimaksud guru. Namun, karena kurang berhati-hati, aku terpeleset lantai kolam. Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Aku mendengar teman-teman memanggil namaku. Ada yang mengguncang tubuhku juga. Kubuka kelopak mataku perlahan.

“Lu Han, kau tidak apa-apa?”

“Kau bisa bangun?”

Aku bangkit dari posisiku dan tersenyum pada mereka seraya mengacungkan ibu jariku.

“Syukurlah. Aku kira kau pingsan.”

Aku melanjutkan langkahku dengan tertatih. Aku melewati sisi kolam di mana kelompok laki-laki duduk menunggu. Beberapa dari mereka juga menanyakan kondisiku. Aku hanya mengangguk perlahan sebagai jawaban. Pada akhirnya, guru memberi keringanan padaku, tidak perlu melakukan tes kali ini. Aku berterima kasih dan kembali ke kelompok perempuan.

“Kau tahu? Saat kau jatuh tadi, dia menatapmu dengan khawatir,” tutur salah satu temanku.

“Benarkah? Bercandamu lucu sekali,” ucapku.

“Aku serius. Kurasa dia memang menyukaimu.”

Aku hanya terkekeh. Apa itu fakta? Atau opini?

[3]

Langit mendung pagi ini. Mungkin itu yang membuatku merasa kedinginan. Hari ini ada pelantikan kepengurusan OSIS. Seluruh murid berbaris di lapangan sekolah. Sebenarnya, aku kurang enak badan. Temanku mengusulkan agar aku di ruang kesehatan saja. Tapi, aku memaksa ikut berbaris. Belum lama sejak acara dimulai, aku merasa kedinginan dan kepalaku pusing. Aku berpegangan pada teman di sampingku untuk bertahan.

“Lu Han, ayo ke ruang kesehatan saja,” dia merangkul pundakku. Sebelum aku memberi jawaban, dia sudah membawaku keluar barisan.

Di belakang barisan terdapat anggota dari tim kesehatan sekolah. Sekilas aku menangkap sosoknya. Dia berjalan menghampiri kami dan mengambil alih dengan membopongku. Aku terlalu lemas sehingga tindakannya membuatku terkejut. Dia sangat tinggi dan dia menggendongku di lengannya, itu membuatku takut. Aku mencengkeram seragamnya dan memejamkan mata. Setibanya di ruang kesehatan, dia merebahkanku di kasur.

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya. Aku menggeleng pelan sebagai jawaban.

Seorang anggota tim perempuan menghampiri kami, “Biar aku yang menanganinya,” ucapnya.

Dia mengangguk sekilas dan kembali menatapku, “Aku akan kembali lagi nanti.”

Aku terlalu lelah dan pusing untuk memikirkan sikapnya padaku. Dia orang aneh. Terkadang menganggapku tak ada. Terkadang menghujaniku dengan perhatian. Aku benar-benar tidak mengerti. Setelah itu, dia datang beberapa kali untuk melihat keadaanku, sebelum akhirnya memilih untuk menungguiku.

[4]

Saat hari guru, para siswa akan memberikan bunga pada guru kelas ataupun guru favorit mereka. Jam pelajaran awal digunakan untuk memperingatinya. Di kelasku, kami sepakat memberikan semua bunga pada guru kelas.

Setelah acara selesai, pelajaran tidak segera dimulai. Aku rasa, akan jam kosong lagi. Aku ikut teman-temanku yang sedang menonton drama dari laptop. Saat itu, dia memasuki kelasku. Mengobrol sebentar dengan beberapa siswa sebelum menghampiri.

Tanpa mengatakan apapun padaku, dia memberiku sesuatu yang dipegangnya. Tangkai tanaman dengan beberapa daun. Bukan bunga, tapi daun saja. Apa maksudnya? Dia mengalihkan perhatian teman-temanku dengan mengomentari drama yang kami tonton.

Orang aneh!

[5]

Aku dan dia tidak akrab. Dan aku tidak berniat untuk akrab dengannya. Saat dia menganggapku ada, dia akan menggangguku. Sikapnya padaku membuat semua teman-temanku—kami—salah paham. Mereka berpikir, kami mempunyai hubungan khusus. Itu sangat mengangguku. Bagiku, semua hal yang dilakukannya sangat menyebalkan. Aku benar-benar tidak mengerti dengan kelakuannya.

Suatu hari saat ada acara pentas seni di sekolah, tidak ada pelajaran. Para siswa memilih menikmati acara di lapangan daripada di kelas. Begitupun denganku. Saat aku kembali ke kelas untuk mengambil minuman, kulihat dia duduk di bangkuku. Terpaksa, akan ada interaksi di antara kami. Dia sedang berkutat dengan komputer tabletnya. Menonton film animasi.

“Hei, itu film yang ingin kutonton,” ucapku tanpa sadar.

Dia menoleh ke arahku, tersenyum sekilas kemudian menggeser posisi duduknya, “Duduklah.”

Tubuhku tidak bekerja seperti seharusnya. Bukankah seharusnya aku mengomelinya karena duduk di bangkuku? Kenapa dia malah mempersilakan aku untuk duduk? Hei, itu bangkuku. Kenapa juga aku malah duduk di sampingnya dan ikut menonton?

Aku baru sadar dengan apa yang terjadi ketika mendengar suara kamera. Seorang temanku telah memotret kami. Dengan memamerkan senyum bangga, dia menunjukkan hasil potretnya. Aku segera mengejarnya sebelum dia menyebarkan gosip murahan.

Di hari yang lain, dia menyuruhku duduk di sampingnya. Kami membahas tentang kemana akan melanjutkan pendidikan selanjutnya. Kemudian, dia mengajariku memainkan game yang ada di komputer tablet-nya. Lagi-lagi, temanku berhasil memotret kami dan mulai menggoda kami. Itu tidak benar, dan menggangguku.

[6]

Pada hari kelulusan, hujan turun cukup deras sehingga para siswa terjebak di sekolah. Dari toilet perempuan, aku berjalan di koridor luar untuk menuju kelasku. Di sana, aku berpapasan dengannya. Dia tersenyum padaku, kemudian kami saling mengucapkan selamat atas kelulusan.

Aku melihat ada genangan air hujan di samping kami. Tiba-tiba, ide iseng muncul di otakku. Dengan cukup kuat, aku mendorongnya ke genangan itu. Namun, dia lebih cepat dariku. Meraih lenganku, kemudian menarikku sehingga kami sama-sama jatuh di genangan. Selanjutnya, aku baru sadar bahwa hanya aku yang jatuh di genangan. Dia hanya terkena cipratan air saja. Ternyata, saat menarikku tadi, dia membalik posisi kami, sehingga aku yang jatuh lebih dulu.

Aku mendorongnya agar menyingkir dariku. Kemudian, kulihat kondisi seragamku yang basah kuyub. Beralih melihat seragamnya yang sedikit basah di bagian depan dan lengan saja.

“Lihat apa yang kauperbuat! Seragamku basah kuyub!” seruku, memukul pundaknya dengan keras.

Dia menahan tanganku, “Jangan marah. Ini, kan, karena keisenganmu sendiri.”

“Kau manusia menyebalkan! Tanggung jawab!” seruku, mencoba memukulnya lagi namun tidak berhasil.

“Baiklah. Baiklah. Aku akan bertanggung jawab,” ucapnya, kemudian berdiri dan menarik lenganku agar ikut berdiri. Masih menarik lenganku, dia membawaku menuju kelasnya.

Perhatian beberapa murid di kelasnya tertuju padaku yang basah kuyub. Aku berpura-pura tidak menyadarinya. Mengambil tasnya, kemudian membawaku keluar kelas. Kami duduk di bangku di koridor dekat toilet perempuan. Dia menyerahkan sebuah kaos dari dalam tasnya padaku.

“Kau bisa memakainya,” tuturnya. Aku menatapnya dengan alis berkerut sebagai jawaban.

“Sudah, cepat ganti seragammu sebelum kau kedinginan,” mendorong punggungku dengan pelan. Aku menurut dan melangkah masuk ke toilet perempuan.

Kami duduk bersebelahan menunggu hujan reda. Sibuk dengan pikiran masing-masing, tidak ada percakapan di antara kami. Tidak ada suara selain hujan, sesekali terdengar gemuruh dari langit. Suasana tenang seperti ini adalah favoritku. Aku hampir saja melupakan keberadaannya ketika dia membuka pembicaraan.

“Setelah ini, mungkin kita tidak akan bertemu lagi untuk waktu yang lama.”

Aku meliriknya. Ternyata pandangannya masih pada hujan. Mencoba menebak rangkaian kata yang akan dia ucapkan selanjutnya, aku memilih diam.

“Apa kau mau membuat perjanjian denganku?” tanyanya.

Kali ini, aku menoleh menatapnya, “Perjanjian apa?”

“Suatu saat nanti, jika kita bertemu lagi, apa kau akan melihatku?” dia menatapku dengan serius. Apa maksudnya?

“Janjiku padamu, aku akan mencarimu, aku akan menemuimu. Apa kau mau menungguku?”

Aku masih terdiam, menatapnya penuh tanya. Sebenarnya, apa yang ingin dikatakannya?

Dia tersenyum kecil, dan perlahan mendekat, “Aku anggap itu sebagai ‘iya’,” mendaratkan bibirnya di keningku.

Entahlah, seperti refleks, napasku tertahan. Membiarkannya, kami bertahan dalam posisi itu cukup lama. Sampai samar-samar terdengar suara memanggil namaku. Aku tersadar ketika tangannya menyentuh pipiku.

“Ada yang memanggilmu,” dia menunjuk ke belakangku dan kulihat temanku melambaikan tangannya ke arahku.

Tanpa mengucapkan apapun, aku beranjak dari bangku dan melangkah pelan menghampiri temanku. Kurasa, aku belum sepenuhnya menyadari keadaan di sekitarku. Saat aku menoleh ke belakang, kulihat dia berjalan ke arah lain dengan temannya.

Apa benar kami tidak akan bertemu lagi? Aku masih tidak mengerti dengan sikapnya terhadapku. Aku tidak mendapatkan kepastian apapun hingga saat terakhir itu. Apa dia hanya mempermainkanku?

.

Dia, Wu Yifan.

_part 1 end_

16.02.20

Ranifa Billy

 

Part 2: In Love (Wu Yifan version)

Part 3: In Love (Revelation)

Advertisements

6 thoughts on “[Fanfiction] In Love (Lu Han) | FanHan/KrisHan/KrisLu

  1. Huffttt maaf aku bacanya kebalik. Harusnya ini dulu ya wkwkwkwk tapi tadi berhubung loadingnya yg nongol part dua duluan dan aku kira itu adalah oneshot so, aku main baca aja dech hahaha ….

    I really love KrisHan, Si yipan tuch ye mesum aja nich but I love you so much XD.

    Trus bikin ff KrisHan ya Authornim hehehe. Semangat. Keep writing and fighting !!!! XD

  2. This is the real comment for this chapter !!!

    Duuhhh so sweet bgt, ya walaupun Luhan di gantung atau di php-in ama si yifan wkwkwkwk

    Yifan is belongs to you Lu hahahaha *ketawa jahat* eh tapi ngebayangin si yifan ngasih daunnya lucu bgt hahahaha ada-ada aja dah Yifan anti mainstream wlwkwkwk XD. Keep writing ya, fighting. Ditunggu ff KrisHan yang lainnya XD

  3. Daebaak.. Keren bangeet
    Saya suka..saya suka… 😄😄
    Ciuman, Senyuman Wu Yi fan emang selalu bisa mengalihkan dunia Lu Han.. 😍😍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s