[Fanfiction] In Love (Revelation) | FanHan/KrisHan/KrisLu

inlove-cover

Fanfiction

Title: In Love (Revelation)

Author: Ranifa Billy

Cast: Lu Han, Wu Yifan

Pairing: FanHan/KrisHan/KrisLu

Genre: Romance, School Life

Rate: T

Warning: fem!Lu, typo(s), OOC

(A/N: Recommendation song, Taylor Swift – You Are In Love. Also got inspiration from this song. Credit lyric on cover goes to Taylor Swift. Credit lyric on story goes to Westlife)

Part 1: In Love (Lu Han version)

Part 2: In Love (Wu Yifan version)

***

Ini bukan reuni pertama. Sebelumnya, pernah diadakan reuni kecil-kecilan dan hanya beberapa orang dari satu alumni yang hadir. Ini reuni pertama yang sungguhan disebut reuni, setelah enam tahun sejak kelulusan. Karena kali ini dibentuk panitia, dan dengan undangan cetak, bukan melalui sosial media. Reuni diadakan di sekolah, dan hanya satu alumni, tidak bersama alumni senior maupun junior.

Lu Han duduk di meja dengan kursi untuk enam orang bersama dengan teman-teman lamanya. Lima gadis yang sudah tidak single lagi seperti saat sekolah dulu. Nampaknya, hanya Lu Han yang masih bertahan dengan status itu sampai sekarang. Bukan karena dia tidak laku, hanya tidak berminat saja.

Jujur, sebenarnya dia tidak berniat sama sekali untuk menghadiri acara semacam reuni seperti ini. Dia berada di sana karena sahabatnya dengan sangat baik hati membelikan gaun dan heels sebagai hadiah ulang tahunnya—pekan lalu, dan menyeretnya ke acara ini.

Namun, Lu Han tidak memakainya dengan benar. Dia memang memakai gaun berwarna cokelat muda itu, malam itu. Untungnya, gaun itu mencapai lututnya. Tapi bagaimanapun, tidak mungkin dia membiarkan kulit bahu dan lengannya terekspos begitu banyak. Jadi, dia menambahkan blazer dan legging berwarna gelap, dan memakai sneaker hitamnya dengan alasan,

“Aku tidak membutuhkannya. Aku tetap lebih tinggi darimu tanpa benda itu,” tuturnya pada sahabatnya yang memang lebih pendek darinya.

Sementara teman-temannya sibuk mengobrol, Lu Han mengeluarkan snapback dari dalam tas dan menutupi rambut sebahunya yang kini berwarna merah tua.

“Lu, apa yang kau lakukan?” seru sahabatnya, mencoba melepaskan snapback dari kepalanya. “Lepaskan! Itu tidak cocok dengan gaunmu.”

Lu Han segera menahannya, “Rambutku terlalu mencolok. Dan jangan mengomentariku. Ini disebut fashion, kau tahu?”

Kelima gadis lain hanya menggeleng tak percaya. Lu Han yang mereka kenal dulu ternyata semakin gila setelah enam tahun tidak bertemu.

“Kau seperti teroris yang sedang menyamar, kau tahu?” komentar salah satu dari mereka. Dan Lu Han sudah pada keputusan akhirnya, berpura-pura tidak mendengar.

Acara sudah dimulai. Memang belum 100% hadir, namun panitia tidak ingin mengulur waktu lebih lama. Diawali dengan sambutan dari ketua panitia, kemudian dilanjutkan oleh mantan presiden sekolah di angkatan mereka. Namun, karena yang bersangkutan belum hadir—atau tidak hadir—maka digantikan oleh salah satu mantan staff-nya.

“Apa menurutmu, dia akan datang, Lu?” tanya salah satu temannya.

“Aku tidak peduli,” ucap Lu Han, acuh.

Tentu saja, gadis itu tidak peduli. Mantan presiden sekolah di angkatan mereka adalah Wu Yifan. Pemuda yang suka mengganggunya semasa sekolah. Pemuda yang dengan seenaknya menyuruh untuk berjanji tanpa memberikan kepastian apapun tentang sikapnya. Pemuda yang baru disadari gadis itu—semasa kuliah—sebagai cinta pertamanya. Alasan mengapa gadis itu enggan menghadiri acara ini. Lu Han tidak ingin bertemu dengan pemuda itu lagi, selamanya.

Lu Han duduk diam di tempat. Menelungkupkan tubuhnya di atas meja. Tidak menyentuh makanan apapun, hanya menyesap sedikit minuman bersoda yang diambilkan temannya tadi. Sementara, acara mulai diramaikan dengan penampilan group band kelas di angkatan mereka. Membawakan lagu-lagu lama yang membuat Lu Han mengantuk.

“Hei, boleh aku pulang sekarang? Aku mengantuk,” Lu Han mengguncang bahu sahabatnya yang nampaknya agak mabuk. “Kau tidak boleh mabuk. Pacarmu bisa membunuhku nanti,” tambahnya.

“Tidak, Lu. Ini baru setengah jam sejak acara dimulai,” jawab gadis berpostur pendek dengan rambut panjang bergelombang itu. “Dan aku belum mabuk. Aku akan minum jus saja.”

“Ini sudah satu setengah jam, kau tahu?” gerutunya. “Duduk saja. Biar kuambilkan untukmu,” Lu Han beranjak dari kursinya menuju meja tempat minuman.

Saat itu, Lu Han dapat mendengar alunan melodi dari gitar akustik. Komposisi lagu yang sangat dia kenal. Lagu kesukaannya. More Than Words. Lu Han melangkah kembali ke mejanya dengan segelas jus jeruk dan segelas susu vanilla. Menikmati alunan musik itu tanpa rasa ingin tahu pada siapapun orang yang menyanyikan liriknya.

“Ini,” Lu Han kembali duduk seraya menyodorkan segelas susu vanilla pada sahabatnya. “Minum susu untuk menetralkan kadar alkoholmu.”

Gadis berpostur pendek itu menerimanya dan meneguknya hingga habis. Kemudian, mengambil segelas jus dari tangan Lu Han.

“Wu Yifan?”

Tiba-tiba, tubuh Lu Han membeku setelah mendengar sahabatnya menyebut nama itu. Tubuhnya semakin menegang ketika sahabatnya itu menunjuk ke arah belakangnya.

“Itu Wu Yifan, kan?”

“Ya. Itu memang dia.”

“Kapan dia datang, ya? Bukannya tadi tidak ada?”

“Entahlah.”

Kelima gadis itu menatap Lu Han yang masih terlihat shock. Kemudian saling berpandangan satu sama lain, seolah bertelepati. Dengan gerakan cepat, Lu Han menoleh ke belakangnya. Berharap teman-temannya hanya ingin mengerjainya saja. Namun, pria itu ada di sana. Duduk di kursi, memetik gitar, dan masih menyanyikan lagu kesukaannya.

Oh, dia sudah menjadi pria sekarang. Bukan lagi murid SMA yang labil dan ceroboh. Lu Han terpaku melihat sosok itu. Ternyata enam tahun dapat merubah seseorang. Lu Han sempat tidak percaya dengan yang dilihatnya. Namun, dia tersadar, dia teringat. Suara itu. Dan senyum itu. Masih terasa begitu hidup dalam ingatannya.

Saat lagu hampir berakhir, terjadi kontak mata antara mereka. Dan senyuman Wu Yifan melebar. Pria itu mengakhiri penampilannya dan mendapatkan tepuk tangan yang meriah dari semua alumni yang hadir. Kecuali Lu Han yang masih terpaku.

Wu Yifan meletakkan kembali gitar di tempatnya dan melompati panggung rendah itu. Alumni yang berdiri di depan panggung menepi, memberikan jalan pada pria itu. Seolah masih terhipnotis oleh penampilannya, pandangan alumni mengikuti gerakannya.

Kini, dia telah berdiri tepat di depan Lu Han, mungkin terlalu dekat. Samar-samar terdengar suara sorakan rendah dari alumni di sekitarnya. Nampaknya, mereka menjadi pusat perhatian saat ini. Wu Yifan menyadarinya, berbeda dengan Lu Han yang masih mematung.

“Hai,” sapanya.

Sebuah sapaan singkat dan ringan itu membuat jantung Lu Han berdetak lebih cepat. Perasaan itu, apakah kembali lagi? Lu Han mendongakkan kepalanya dengan gerakan perlahan. Dilihatnya Wu Yifan yang menatap dan tersenyum padanya.

“Lu Han,” panggilnya. “Aku menemukanmu. Apa kau melihatku sekarang?”

Ingatan Lu Han kembali pada hari terakhir kali mereka bertemu. Pria itu mengajaknya untuk membuat perjanjian yang bahkan—seingatnya—tidak disetujuinya. Lu Han tidak pernah menginginkan hari ini datang. Lu Han tidak pernah mengharapkan hari ini ada. Lu Han tidak siap bertemu dengan pria di hadapannya.

Saat Lu Han sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, Wu Yifan membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Tentu saja, tindakannya mengundang sorakan meriah dari alumni yang sejak tadi memperhatikan mereka. Bahkan kelima teman Lu Han nampak shock melihat momen langka yang terjadi tepat di depan mata mereka.

Sorakan terdengar semakin meriah ketika pria itu melonggarkan pelukannya untuk menempelkan bibirnya di kening Lu Han. Namun, momen langka yang manis itu tidak berlangsung lama karena Wu Yifan menyudahinya. Menggenggam tangan mungil Lu Han dan mengajaknya meninggalkan lokasi.

Suara sorakan masih mengiringi langkah mereka. Telinga Lu Han serasa tuli dibuatnya. Dia hanya bisa mendengar detak jantungnya yang lebih cepat dan langkah kaki mereka. Samar-samar terdengar ada yang mengucapkan ‘selamat’, ‘semoga hubungan kalian langgeng’, dan sejenisnya.

Wu Yifan menyodorkan sekaleng soda yang baru di belinya dari vending machine pada Lu Han yang duduk di tepi kolam air mancur. Mengambil tempat di sampingnya, Wu Yifan melepaskan snapback yang masih dikenakan gadis itu.

“Kenapa menutupi rambutmu?” tanyanya, dia mendapatkan sepasang mata inosen gadis itu menatapnya. “Kau semakin keren setelah lulus SMA. Kau mewarnai rambutmu,” tambahnya.

Lu Han mengambil snapback-nya kembali, “Kenapa mengajakku kemari?” tanyanya pelan.

“Sejak tadi kuperhatikan, kau tampak tidak menikmati acara. Jadi, aku membawamu pergi dari tempat itu selagi ada kesempatan,” jelasnya. “Aku menyelamatkanmu, kan?”

Lu Han terdiam dan mengalihkan pandangannya, “Tapi, tidak perlu sampai melakukan itu, kan? Aku tidak suka jadi pusat perhatian, berbeda denganmu.”

Wu Yifan tersenyum kecil, “Maaf,” ucapnya. Menggenggam sebelah tangan Lu Han yang bebas, mendapatkan kembali perhatian gadis itu.

“Kau tahu, lagu itu, aku menyanyikannya untukmu,” tuturnya.

Now I’ve tried to talk to you and make you understand

All you have to do is close your eyes

And just reach out your hands and touch me

Hold me close don’t ever let me go

More than words, is all I ever needed you to show

Then you wouldn’t have to say that you love me

Coz I’d already know

Wu Yifan menyanyikan kembali sebait lirik dari lagu More Than Words di depan Lu Han. Dia dapat melihat dengan jelas reaksi dari gadis itu. Lu Han menggigit bibir bawahnya dan mengalihkan pandangannya. Sulit baginya mempercayai bahwa hal yang terjadi padanya ini nyata. Dulu, dia pernah berharap ada seseorang yang menyanyikan lagu itu untuknya. Dan hal itu baru saja terjadi di depan matanya.

“Aku sudah menyukaimu sejak pertama kali melihatmu hari itu. Kau tidak mengetahuinya,” tuturnya, mempererat genggaman tangannya pada gadis itu.

“Kini, aku sudah sangat yakin dengan perasaanku,” lanjutnya. “Aku mencintaimu, Lu Han.”

“Berhenti mempermainkanku.” Tak seperti dugaannya, Lu Han menjawab dengan cepat.

“Tidak. Kali ini aku serius,” Wu Yifan membuat Lu Han menghadap ke arahnya. “Aku minta maaf atas diriku sendiri enam tahun lalu. Aku hanyalah murid SMA labil, ceroboh, dan pengecut.”

“Kali ini, apa kau mau melihatku?” tanyanya, menatap ke dalam kedua mata inosen itu.

Lu Han melakukan hal yang sama, seolah mencari kebenaran dari kedua mata tajam itu. Meninju bahu Wu Yifan dengan cukup keras, dia berucap, “Apa maksudmu? Aku sudah melihatmu sejak dulu. Kau tidak menyadarinya?”

“Apa?”

“Aku berpikir, kenapa kau bersikap seperti itu padaku semasa sekolah. Apa kau menyukaiku? Aku memperhatikanmu untuk mendapatkan kepastian,” jelas gadis itu. “Tapi, aku tidak mendapatkan fakta, hanya beberapa opini yang tidak jelas. Aku merasa dipermainkan,” tambahnya, kali ini menendang tulang kering Wu Yifan.

Wu Yifan mengusap tulang keringnya, “Aku merencanakan pernyataan cinta yang romantis, kenapa aku malah menerima ‘kekerasan’ seperti ini,” gumamnya.

“Kau mengatakan sesuatu?” suara Lu Han membuatnya kembali menatapnya.

“Tidak,” kini menggenggam kedua tangan Lu Han. “Dengar. Aku tidak pernah berniat mempermainkanmu atau apapun itu yang telah membuatmu merasa kesal padaku,” jelasnya.

“Seperti yang kukatakan tadi, aku ini pengecut. Aku tidak berani mengatakannya padamu saat itu. Aku menyembunyikannya darimu dengan berkeyakinan bahwa suatu hari nanti aku mampu memberitahumu,” tuturnya, dengan mimik wajah serius.

“Aku sudah melakukannya tadi. Aku akan mengatakannya sekali lagi. Aku mencintaimu.”

Lu Han menatapnya lama. Ada banyak kalimat terlintas di pikirannya. Namun, dia tidak tahu harus menggunakan yang mana sebagai jawaban.

“Jawaban seperti apa yang kauharapkan dariku?”

Kini, Wu Yifan yang bingung harus menjawab apa. Diambilnya napas dalam dan menghembuskannya perlahan. “Aku ingin kita bersama. Seperti sepasang kekasih.”

“Apa sebelumnya kau tidak memikirkan kemungkinan aku sudah mempunyai kekasih saat ini?” pernyataan telak itu sempat meruntuhkan kepercayaan dirinya. Namun, dia segera membangunnya kembali.

“Aku tidak memikirkannya sampai ke sana. Tapi, aku yakin kau tidak mempunyai kekasih saat ini,” ucapnya optimis.

Karena Lu Han menatapnya sangsi, dia menambahkan, “Aku yakin kau tidak berkencan dengan siapapun selama enam tahun ini. Aku yakin kau menungguku selama ini. Kau masih menyimpan kaosku, itu buktinya,” masih dengan optimis.

“A-aku…” Lu Han terlihat sedang mencari alasan. “Aku berniat mengembalikannya padamu, suatu hari nanti. Aku akan mengembalikannya besok. Terima kasih sudah mengingatkan,” ucapnya, sedikit gugup.

Wu Yifan tertawa kecil, gemas mendengar penjelasan gadis itu. “Menurutmu, dari mana aku tahu, kalau kau masih menyimpan kaosku, hm?”

Karena Lu Han tidak membalas, dia melanjutkan, “Aku melihatmu memakainya. Dua hari yang lalu, kalau tidak salah. Aku mengenali kaos itu di manapun. Karena hanya aku yang punya di sini. Aku membelinya di Vancouver, dan itu kaos favoritku,” jelasnya, sedikit menyombong.

“Jadi, kau ingin aku mengembalikannya?” tanya Lu Han dengan lugu.

Wu Yifan ingin sekali menampar wajahnya sendiri, “Tidak, Lu. Aku ingin kau tetap menyimpannya. Kau pasti sedang merindukanku saat itu. Makanya, kau memakainya,” menatap Lu Han dengan senyuman lebar.

Lu Han merasa pipinya memanas. Kembali dia meninju pundak pria itu untuk mengalihkan perhatian. “Percaya diri sekali!”

Wu Yifan terkekeh, menepuk kepala Lu Han dengan pelan dan mengusap rambutnya, “Kau tahu itu. Tingkat kepercayaan diriku memang tinggi.”

Untuk beberapa saat, mereka terdiam. Mendengarkan suara air. Wu Yifan kembali menggenggam kedua tangan Lu Han. Mencoba membangun kembali suasana romantis.

“Jadi?”

“Apa?”

“Jawabanmu?”

“Bukannya, kau sudah mengetahuinya?” Lu Han dapat melihat pria itu tampak bingung. “Seperti lagu yang kau nyanyikan tadi. You wouldn’t have to say that you love me. Coz I’d already know.”

Wu Yifan menatap Lu Han takjub. Usaha romantisnya tidak sia-sia. Dengan senyuman lebar terukir di wajahnya, dia membawa gadis itu ke dalam pelukannya.

“Terima kasih. Aku senang mendengarnya,” melonggarkan pelukannya, Wu Yifan berniat memberi gadis itu sebuah ciuman.

Namun, Lu Han segera menutupi bibirnya dan mendorong wajah pria itu menjauh. “Jangan berciuman untuk memulai hubungan baru.”

Lu Han seharusnya tahu, Wu Yifan tidak akan mendengarkan larangannya. Dengan gerakan cepat, Wu Yifan mencium bibir mungil itu. Didapatinya ekspresi Lu han yang terkejut luar biasa ketika melepaskan ciumannya. Lu Han selalu terlihat menggemaskan baginya. Dia memberi beberapa kecupan di bibir gadis itu. Segera memeluknya kembali dengan erat ketika gadis itu berniat memukulnya.

“Aku mencintaimu, HanHan.”

“Aku sudah mengetahuinya.”

_END_

 

A/N

Ttararira~

Aku kembali dengan FanHan fanfiction. Bagaimana? Apa kalian merindukan tulisanku? Apa kalian menyukainya? Aku telah pulih dari writer’s block, sepertinya. Keadaan itu benar-benar menyiksaku. Di saat aku mempunyai banyak ide, tapi aku tidak bisa melampiaskannya menjadi rangkaian kalimat untuk sebuah cerita.

Ide cerita ini, kudapatkan dari pengalaman pribadiku. Kisah cinta pertamaku yang menyakitkan. Sejujurnya, aku tidak ingin mengingatnya. Tapi, banyak hal terjadi yang bisa kujadikan ide cerita. Dan seperti inilah jadinya. Hanya itulah yang masih bisa kuingat.

Tidak seluruhnya berasal dari pengalamanku. Hanya yang Lu Han side saja, kecuali poin keenam—itu murni fiksi. Wu Yifan side adalah dugaanku mengenai apa yang dipikirkan cinta pertamaku. Aku menduga seperti itu berdasarkan laporan dari teman-temanku, haha. Untuk poin keenamnya, itu juga murni fiksi. Bagian terakhir juga murni fiksi.

Bagian pertama adalah dari sudut pandang Lu Han. Bagian kedua adalah dari sudut pandang Wu Yifan. Bagian terakhir adalah kesimpulannya. Jujur, untuk yang terakhir, aku pribadi kurang puas. Saat menulis bagian itu, sudah terlalu malam, dan aku harus pergi kuliah esok harinya. Jadi, ada beberapa ide yang hilang ketika aku tidur.

Maaf. Jika kalian kurang puas~ *bow*

Ah~ kenapa banyak sekali catatan yang kubuat. Aku harap kalian tidak kecewa. So, care to tell me your opinion about this?

16.02.24

Ranifa Billy

Advertisements

6 thoughts on “[Fanfiction] In Love (Revelation) | FanHan/KrisHan/KrisLu

  1. Iam so glad that you make KrisHan Fiction XD GS pula lagi I really like it. ini bagus kok ceritanya, simple dan yang paling penting adalah Happy Ending hahhaha yeaay yeaay.

    I am so interested with every FanHan fiction. I love them so much. And I’m interest to looking for your forward. I hope you can make another sweet story about KrisHan hehe …

    And I wonder about the next part of ‘My Parents Love Story’ please update ASAP!! XD. Kepp writing and figting

  2. Akhirnya.. Jadian Juga 😍😍
    Ending ny terlalu maksa tapi keseluruhan saya suka.. Asal Krishan apapun itu bentukny.. I Love it apalagi yg #genderswitch 😄😄
    Tetep semangat Bikin Ff Krishan pokok ny Hwaiting.. 😄😄

  3. Baru nemu nih ff hhuhu (╥﹏╥)
    Gue terharu karena gue sekarang ini haus ff thanks banget author-nim elo bantu gue melepaskan hasrat krishan shipper gue walaupun GS (╥﹏╥)

  4. wahhhh suka bgt sama akhir ceritanya,,jalan ceritanta juga suka,manis tapi dalam kak,,ga perlu aneh2 tp mengalir dengan tulus,,apalagi akhirnya ada kiss scene,,wahhh suka bgt,hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s