[Fanfiction] In Love (Wu Yifan) | FanHan/KrisHan/KrisLu

inlove-cover

Fanfiction

Title: In Love (Wu Yifan)

Author: Ranifa Billy

Cast: Wu Yifan, Lu Han

Pairing: FanHan/KrisHan/KrisLu

Genre: Romance, School Life

Rate: T

Warning: fem!Lu, typo(s), OOC

(A/N: Recommendation song, Taylor Swift – You Are In Love. Also got inspiration from this song. Credit lyric on cover goes to Taylor Swift.)

Part 1: In Love (Lu Han version)

***

[1]

Pertama kali aku melihatnya, di sana. Di bukit. Lokasi di mana diadakan perkemahan untuk para siswa baru. Dia berdiri di sana dengan wajah inosen. Kedua matanya seolah menerawang jauh. Kemudian, pergi begitu saja. Membuatku penasaran, siapa namanya?

Kurasa, Tuhan cukup baik padaku. Kembali kulihat wajah inosen itu—menatapku—saat aku membuat kecerobohan di kelas. Kami berada di kelas yang sama! Apa itu kesempatan yang diberikan Tuhan untuk mengenalnya?

Aku menerka-nerka, tipe gadis seperti apa dia? Aku hanya bisa memandangnya dari jauh. Menurutku, dia tipe gadis pendiam dan kutu buku. Aku jarang mendengar suaranya—baik saat pelajaran maupun jam istirahat. Dia lebih suka duduk diam di kelas pada jam istirahat, di saat teman-teman yang lain berebut untuk keluar kelas lebih dulu.

Kenyataannya, dugaanku tidak 100% benar. Dia memang gadis pendiam. Namun, dia bersikap agak galak dan dingin pada anak laki-laki di kelas. Dia hanya bicara seperlunya. Nampaknya, dia tipe yang sulit akrab dengan orang lain. Apa aku bisa akrab dengannya?

[2]

Aku tidak pernah berniat membuatnya kesal padaku. Aku suka mengganggunya karena dia sangat lucu dan polos. Tapi, justru karena itu, aku bisa mengakrabkan diri dengannya. Aku bisa mengenalnya sedikit demi sedikit.

Seperti biasa, saat jam istirahat, dia tidak akan beranjak dari bangku. Selalu sibuk berkutat dengan buku dan alat tulisnya. Aku penasaran, apa yang sebenarnya dia lakukan? Jadi, aku menghampiri dan duduk di hadapannya. Bisa kulihat dia terkejut.

“Kenapa?” tanyanya pelan.

“Apa yang sedang kau lakukan?”

“Menulis.” Kemudian, dia kembali melanjutkan kegiatannya seolah aku tidak ada. Sepertinya dia sedang menulis cerita.

“Apa itu cerpen?”

“Entahlah.” Aku tersenyum kecil mendapatkan perlakuan seperti itu. Tidakkah dia lucu? Atau, apa aku sudah gila?

“Hei,” aku memanggilnya, kemudian kutunjukan sebuah foto hitam-putih padanya. “Apa ini fotomu saat SMP?”

Dia melirik foto itu, detik berikutnya, dia menatapku. “Darimana kau mendapatkannya?”

“Aku, kan, ketua kelas. Kau ingat, seminggu lalu aku meminta kalian menyerahkan foto untuk melengkapi profil kalian? Untuk dokumen kelas,” jelasku.

Dia menatapku sebentar sebelum melanjutkan kegiatannya lagi. Tidak masalah dia mengacuhkanku, yang penting dia tidak menyuruhku pergi.

“Apa kau mau menulis cerita untukku?” tanyaku, iseng.

“Diamlah.”

[3]

Di tahun kedua, kami tidak satu kelas. Itu membuatku kecewa, dan khawatir. Tapi setidaknya, kelas kami bersebelahan. Aku cukup berkunjung ke kelasnya setiap jam istirahat dan kembali memandangnya dari jauh. Dia masih sama. Tetap inosen, dan galak pada anak laki-laki. Sampai sekarang aku tidak tahu alasan dari sikapnya itu.

Tapi, dia tidak bisa berhenti membuatku khawatir. Seperti saat dia terpeleset di kolam renang. Apa dia tidak tahu aku mengkhawatirkannya? Saat itu aku ingin menghampirinya, namun dia sudah bangkit berdiri. Memamerkan cengiran bodoh pada teman-temannya, dan melangkah dengan tertatih. Diam-diam aku menghela napas lega. Setidaknya tidak terjadi pendarahan. Tatapan mataku terus mengikutinya saat dia melewatiku.

Atau saat dia jatuh pingsan di sekolah. Hari itu, aku sedang bertugas di tim kesehatan. Aku segera menghampiri saat melihatnya berjalan keluar barisan dengan dipapah oleh temannya. Itu pertama kalinya kulihat dia begitu lemah dan pucat.

Dia memejamkan mata, kulihat air matanya mengalir saat dia memanggil ibunya. Dia pasti tidak tahan sakit. Tangannya sangat dingin, tapi saat kusentuh dahinya panas. Perlahan aku meraih tangannya, mencoba menyalurkan kehangatan. Dan dia tidak menolak. Aku tersenyum samar, dia menerima keberadaanku di sampingnya.

Meski aku tahu, dia tidak bisa mendengarnya, aku berbisik dalam hati, aku di sini.

[4]

Sejujurnya, aku tidak mengenalnya dengan baik. Dia selalu tampak menjaga jarak denganku. Atau dia memang memperlakukan semua anak laki-laki seperti itu. Aku sempat mendengar dari temanku yang sekelas dengannya. Dia tidak suka cowok playboy, dan baginya aku playboy. Itu tidak benar. Aku hanya terkenal di kalangan para gadis saja.

Bagiku, dia gadis yang unik, berbeda dengan gadis lain. Dari segi positif, tentu saja. Aku tahu, dia pasti tidak menyukai hal-hal yang mainstream. Itulah kenapa aku tidak pernah memperlakukannya secara romantis. Aku memberinya setangkai daun daripada setangkai bunga. Tapi, aku tidak menyangka dia akan menerimanya. Dia juga tidak melemparnya ke wajahku setelah itu. Dia terus memegangnya.

Aku tidak tahu, apa lagi yang dipikirkannya tentangku selain playboy. Dia tidak suka kalau aku berada di dekatnya. Aku suka reaksinya setiap kali teman-temannya mulai menggodanya tentangku. Kalau tidak kesal, dia terkadang tersipu. Ya. Aku tidak salah. Aku pernah melihatnya tersipu, kemudian melangkah pergi. Kalau tidak begitu, dia akan berusaha keras agar tidak tersipu. Hal itu justru membuatku semakin rajin mengganggunya.

Setiap kali dia membawa bekal ke sekolah, aku akan selalu menghampirinya. Duduk berhadapan, dan mengatakan agar dia mau berbagi denganku. Meski awalnya kesal, dia tetap membagi bekalnya denganku.

“Aku rasa, aku akan makan di bangku yang lain,” ucap teman sebangkunya setelah melihat interaksi kami.

“Tunggu! Kenapa kau seperti ini? Tetap duduk di sini, jangan kemana-mana!” ucapnya dengan panik. Menahan lengan teman sebangkunya.

Aku tersenyum kecil melihat reaksinya.

“Aku tidak ingin mengganggu kalian. Lagipula, aku tidak mau diabaikan kalau aku tetap di sini,” tutur teman sebangkunya, beralasan.

Dia tidak tahu, aku memberi tatapan maaf-dan-terima-kasih pada teman sebangkunya.

“Tunggu! Tidak ada yang terganggu, dan aku tidak pernah mengabaikanmu, kan?” serunya ketika teman sebangkunya beranjak pergi dan memberi gesture ‘semangat’.

“Sudahlah. Ayo makan saja. Aku lapar,” ucapku, mencoba mendapatkan perhatiannya kembali.

Dia menoleh padaku dengan wajah galak. Dari gerak bibirnya, aku bisa menebak kalau dia sedang mengumpatku. Tapi, aku tidak peduli.

“Masakanmu enak,” ucapku.

“Ini masakan ibuku,” balasnya dengan suara dingin, tanpa menatapku.

“Masakan ibumu enak,” ralatku. “Besok kau bawa bekal apa?”

“Entahlah.”

“Aku ingin makan ayam.”

Kali ini, dia menatapku, “Mana uang belanjanya?” menengadahkan telapak tangannya padaku.

Mendengar itu, aku tersenyum. Aku merasa, percakapan kami mulai terdengar seperti pasangan suami-istri. Oh, apa aku berkhayal terlalu jauh?

“Aku akan memberikannya besok,” jawabku. “Jadi, besok lauknya ayam, oke?”

Seketika ekspresi wajahnya kembali dingin. Dia menurunkan tangannya, berucap, “Tidak sudi. Kau pikir, ibuku tukang masakmu?”

Dia selalu berhasil merusak ekspektasiku.

[5]

Setiap kali kuganggu, dia akan mencari kesempatan untuk membalasku. Cara balas dendamnya menurutku lucu dan kekanakan. Kalau gagal, dia akan pura-pura menangis. Pada akhirnya, itu membuat orang-orang yang melihat berpikir aku sedang mengganggunya. Bahkan aku pernah terkena marah oleh guru karena hal itu.

Saat itu, kami berada di tahun ketiga. Akan diadakan hipnoterapi untuk murid kelas tiga di aula sekolah. Dia sedang mengobrol dengan temannya di koridor saat aku keluar dari aula. Aku melangkah menghampiri dan duduk di sebelahnya. Entah kenapa, dia selalu mudah terpancing emosi setiap kali aku ada di dekatnya. Seperti biasa, kami akan berargumen tentang ini-itu.

Saat hampir kalah berargumen, dia mengancamku, “Aku akan membuang sepatumu.”

Aku melepas salah satu sepatuku, dan berucap menantang, “Ini. Coba saja kalau bisa.”

Namun, dia tidak bercanda. Dia mengambil sepatuku dan berdiri menghampiri pagar pembatas, berniat melemparnya ke bawah. Untuk informasi, aula sekolah kami terletak di lantai dua.

Aku berusaha mencegah dengan menahan lengannya, namun tidak berhasil. Kemudian, aku mencoba menahan pinggangnya dengan sebelah tanganku—memeluknya dari belakang—sementara tanganku yang lain menggapai sepatuku.

Dia berteriak dan menjatuhkan sepatuku ke lantai. Saat itu, ada guru yang lewat.

“Hei, tidak bisakah kau tidak mengganggu murid perempuan?” tanya guru itu. Menatapku sangsi.

Aku segera melepaskannya dan membungkukkan badanku pada guru itu, “Aku minta maaf.” Dalam hati aku berucap, tidak sembarang murid perempuan yang kuganggu.

Guru itu menggeleng pelan kemudian berjalan melewati kami. Aku menghela napas lega. Saat akan mengambil sepatuku, dia menendangnya menjauh kemudian berlari meninggalkanku bersama temannya.

Anak itu!

[6]

Masa SMA memang menyenangkan. Aku senang bertemu dan mengenalnya. Meski aku tidak mempunyai cukup keberanian untuk mengungkapkan perasaanku. Aku merasa, hubungan kami cukup seperti itu saja. Sebenarnya, aku takut jika ada yang berubah setelah aku mengungkapkan kebenaran padanya. Aku tidak tahu, apa dia menyadari perasaanku? Aku sudah menyukainya sejak pertama kali melihatnya.

Setelah lulus, kami tidak akan bertemu lagi dalam waktu yang lama. Aku selalu berharap, kami dapat bertemu lagi suatu saat. Kapanpun itu. Apa dia akan tetap seperti itu? Atau bisa saja dia bertemu orang lain saat itu. Apa yang harus kulakukan? Aku tahu ini egois, tapi aku ingin dia tidak berubah saat kami bertemu lagi.

“Setelah ini, mungkin kita tidak akan bertemu lagi untuk waktu yang lama,” ucapku. Kami duduk bersebelahan di bangku di koridor dekat toilet perempuan.

“Apa kau mau membuat perjanjian denganku?” tanyaku, menoleh padanya. Dia memakai kaosku sekarang. Aku tersenyum samar melihat betapa mungilnya dia di dalam kaosku.

“Perjanjian apa?”

“Suatu saat nanti, jika kita bertemu lagi, apa kau akan melihatku?” aku menatapnya dengan serius. Dia balas menatapku, terdiam.

“Janjiku padamu, aku akan mencarimu, aku akan menemuimu. Apa kau mau menungguku?”

Dia masih terdiam, namun aku dapat melihat kedua matanya agak melebar. Apa dia terkejut? Aku suka semua ekspresi yang dia buat. Perlahan aku mendekat padanya, berucap pelan, “Aku anggap itu sebagai ‘iya’.”

Aku sendiri tidak percaya. Aku mencium keningnya setelah itu. Ini bukan di luar kesadaranku. Aku memang berniat menciumnya—sejujurnya, bukan di kening. Namun, karena gugup, jadi di kening saja. Aku juga tidak ingin dia mendorong dan menamparku karena bertindak seenaknya di hari terakhir kami di sekolah.

Sekali lagi, tidak kusangka, dia tidak menolaknya. Aku tidak boleh membiarkan kesempatan ini. Menikmati momen langka ini selama yang kubisa. Tidakkah suasananya juga mendukung? Menunggu hujan reda. Hanya ada kami berdua di koridor ini.

Aku menjauhkan diri ketika mendengar ada yang memanggilnya. Setelah itu, kudapati ekspresi blank di wajahnya. Aku tersenyum kecil. Kusentuh pipinya untuk mengembalikan kesadarannya.

“Ada yang memanggilmu.”

Setelah itu, dia beranjak pergi menghampiri temannya tanpa mengucapkan apapun. Sepertinya dia belum sepenuhnya tersadar. Aku juga beranjak dari sana saat ada yang memanggilku.

“Aku melihatnya!” seru temanku.

“Apa?” aku merangkul pundaknya.

“Kau dan dia…” dia menatapku dengan ekspresi aneh.

“Wajahmu jangan mesum seperti itu. Tidak terjadi apapun,” aku memukul kepalanya dengan pelan.

Aku yakin, kami akan bertemu lagi. Meski membutuhkan waktu yang lama, tidak masalah. Aku akan mencarinya. Aku sudah berjanji. Baginya, aku mungkin memang menyebalkan. Selain itu, aku juga pengecut. Tapi, aku tidak akan mengulangi kesalahanku saat kami bertemu lagi. Apa dia akan mengerti?

.

Dia, Lu Han.

_part 2 end_

16.02.22

Ranifa Billy

Part 3: In Love (Revelation)

Advertisements

5 thoughts on “[Fanfiction] In Love (Wu Yifan) | FanHan/KrisHan/KrisLu

  1. Yg ke 5.. 😘😘 i like that moment
    Daebaaaak authornya..
    I can’t say anything.. But this part really i love it.. 😍😍

  2. wahhhhhh so sweet,,aku suka gayanya kris yg suka dl diam,tp juga suka iseng ke luhan,jd terasa bgt feelnya,,,
    wahahahhaha hshbsjdbhemdj ,, suka bgt interaksi mereka natural dan gak dipaksakan,hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s