[SS] My Parent’s Love Story (part 6)

cover part 6

My Parent’s Love Story © 2016 Ranifa Billy

Part 6

Jackson benar mengenai fakta bahwa Papa dan Paman Henry (Papa Jackson) adalah seorang playboy semasa sekolah dulu. Dan aku benar menendang Papa setelah mendengar pengakuannya sendiri. Setelah itu, aku mengatainya tipe pria tak setia dan disetujui oleh Mama. Tentu saja Papa tidak tinggal diam. Namun, bukannya membantah dengan menyatakan berbagai alasan yang masuk akal—seperti, dia termasuk siswa populer di sekolah—Papa justru mengumbar rayuan pada Mama agar tetap percaya padanya.

Mama selalu mengatakan—dengan percaya diri—bahwa dia adalah tipe setia. Kalaupun Mama tiba-tiba menjadi tidak setia, itu karena dia dikhianati. Papa adalah pacar pertama dan terakhir Mama. Dan Papa akan memastikan mereka akan selalu bersama sampai ajal yang memisahkan mereka. Meskipun dulunya playboy, Papaku pria yang romantis, kan?

Tiga tahun waktu yang digunakan Papa untuk mendapatkan gelar Master. Selama itu, Papa tidak pernah pulang ke negara kelahirannya. Saat itu, Mama tidak ikut serta mengantar keberangkatan Papa di bandara. Mereka bertemu kembali untuk pertama kalinya dalam acara makan malam. Di sanalah Kakek Hayden dan Kakek Holmes memutuskan untuk menjodohkan keduanya.

Sore itu, tidak seperti biasanya, keluarga Holmes berkumpul di ruang TV. Biasanya, Lucy lebih suka mengurung diri di kamarnya berkutat dengan laptop, sama halnya dengan sang Kakak, Stefan. Kali ini, mereka berdua ikut tuan dan nyonya Holmes menonton TV. Karena Krystal kuliah di luar kota, mereka hanya berempat di rumah.

Dan tidak biasanya, sang ayah membawa percakapan mengenai kisah cinta. Awalnya, hanya nostalgia tuan dan nyonya Holmes. Kemudian, mereka mulai menyinggung hubungan Stefan dengan kekasihnya. Saat itu, Lucy merasa terintimidasi. Dia tahu, setelah itu pasti ayah dan ibunya akan beralih menanyainya.

“Aku baru 28 tahun,” ucap Stefan ketika sang ibu mengatakan ingin segera menggendong cucu dari anaknya sendiri.

“Lalu, kau ingin menikah umur berapa? Tiga puluh plus?” tanya sang ibu. “Ibu dan ayah sudah cukup tua untuk menggendong cucu, Stefan. Lagipula, bukankah Jillian seumuran dengan Lucy?”

“Dia setahun lebih tua dari Lucy,” ralat Stefan.

“Jangan mengintimidasinya. Dia anak laki-laki,” tutur sang ayah. Mendengar itu, Lucy merasa dirinya disinggung secara tidak langsung.

“Bagaimana hubunganmu dengan Kris, dear?” sang ibu kini beralih pada Lucy.

Untuk Lucy, dia cukup terkejut mendengar pertanyaan itu, “Apa maksud ibu?” tanyanya.

“Kalian masih berkomunikasi, kan? Meskipun dia berkuliah sangat jauh,” jelas ibunya.

“Tentu saja. Kami berteman-”

Belum sempat Lucy menyelesaikan ucapannya, sang ibu menyela, “Teman? Ibu kira, kalian sudah pacaran,” ucapnya dengan nada sedikit menggoda.

“Tidak. Kami hanya berteman,” tegasnya. Apa-apaan ini?

“Tidak apa-apa, dear. Ayah dan ibu tidak pernah melarangmu untuk berpacaran. Ayah justru khawatir karena kau terlihat tidak tertarik,” tutur ayahnya.

“Aku memang tidak tertarik,” sahut Lucy terlampau cepat.

Tuan dan nyonya Holmes saling berpandangan setelah mendengar jawaban dari putri mereka. Sedangkan, Stefan hanya memutar bola matanya. Dia tahu, adiknya ini paling keras kepala di antara mereka bertiga.

Sebelum kedua orang tuanya berkata lebih banyak, Lucy segera mengakhiri percakapan itu. “Aku tahu, ayah dan ibu menginginkan cucu pertama dariku, meskipun Stefan adalah kakakku. Karena dia laki-laki dan aku perempuan, jadi kalian mengharapkan aku menikah lebih dulu. Tapi aku tidak punya siapapun sebagai pasangan. Dan aku tidak tertarik,” tuturnya panjang.

Memberi jeda untuk mengambil napas, Lucy melanjutkan, “Maafkan aku. Tapi, aku tidak ingin menikah. Aku tidak ingin terikat hubungan dengan siapapun,” berdiri dari kursi dan beranjak menuju kamarnya.

Meski tidak tahu pasti alasannya, tuan dan nyonya Holmes maklum dengan reaksi dari putrinya itu. Lucy memang sangat sensitif terhadap hal yang berhubungan dengan cinta dan jodoh. Dulu, saat Lucy tahu Stefan sudah mempunyai kekasih semasa sekolahnya, dia menolak dengan keras. Hal yang sama berlaku pada Krystal. Lucy lebih tidak setuju jika adiknya sudah berpacaran. Baginya, Krystal masih terlalu kecil saat itu.

Lucy juga tahu benar bahwa kedua orang tuanya tidak pernah melarangnya untuk berpacaran. Hanya saja, dia sangat keras kepala, tidak ingin berpacaran. Dia bahkan bersikap sangat tertutup dan dingin terhadap pria. Makanya, mereka terkejut ketika mengetahui Lucy bisa akrab dengan Kris. Dari situ, mereka berpikir untuk menjodohkan Lucy dengan Kris.

Kini Lucy duduk di salah satu meja di dalam lobi tempat acara perayaan hari jadi perusahaan tempat ayahnya bekerja—perusahaan milik Papanya Kris. Dia duduk diam di samping Stefan yang sibuk dengan ponselnya. Kedua orang tuanya sedang menemui tuan dan nyonya Hayden.

Tak lama, kedua orang tuanya kembali bersama tuan dan nyonya Hayden. Lucy dan Stefan berdiri dari duduk dan memberi salam.

“Sebentar lagi Kris datang bersama Evan,” ucap nyonya Hayden. Mendengarnya, Lucy tampak terkejut. Namun, dia tidak bertanya.

“Oh, Kris sudah kembali? Kapan?” tanya tuan Holmes.

“Ya. Tiga hari yang lalu dia tiba di rumah. Dia sempat jetlag, kemudian demam. Jadi, dia tidak berkunjung ke kantor,” jelas tuan Hayden. “Sepertinya dia sangat merindukan Mamanya. Begitu tiba, dia malah sakit dan menjadi manja,” sambungnya.

Penjelasan tuan Hayden membuat mereka tertawa, sementara Lucy menahan tawanya. Tidak bisa membayangkan orang seperti itu bermanja-manja pada mamanya.

“Memangnya Evan sudah liburan, ya?” kali ini yang bertanya nyonya Holmes.

“Benar. Liburannya sudah dimulai sejak kemarin,” jawab nyonya Hayden. Evan adalah adik laki-laki Kris yang seusia dengan Krystal.

Tak lama, kedua orang yang dibicarakan tiba. “Maaf, kami terlambat,” ucap Kris mewakili. Kemudian, keduanya memberi salam pada keluarga Holmes dan mengambil tempat di kursi yang masih kosong. Evan membiarkan kakaknya mengambil kursi yang berhadapan dengan Lucy seraya tersenyum penuh arti.

Kris tahu, gadis itu menatapnya sejak dia tiba, “Hai,” sapanya.

Lucy terdiam sesaat sebelum membalas dengan anggukan pelan. Hal itu membuat semua orang di meja itu saling bertatapan bingung. Bukan hanya bingung, Kris juga terkejut. Seingatnya, mereka masih berkomunikasi dengan baik sebelumnya. Dia tidak ingat membuat kesalahan.

Sempat terjadi keheningan sesaat di meja itu sebelum tuan Hayden bersuara dan memulai acara makan malam mereka. Sementara Lucy menyimpan suaranya, mereka membicarakan banyak hal. Lucy hanya merespon dengan anggukan dan senyuman kecil setiap kali pertanyaan jatuh padanya. Dia mencoba mengabaikan Kris yang menatapnya sejak tadi.

“Apa aku membuat kesalahan?” tanya Kris setelah menemukan Lucy yang sedang duduk di bangku panjang di beranda gedung.

Makan malam sudah selesai, Lucy meminta ijin untuk keluar sebentar—mencari udara segar—meninggalkan mereka yang masih membincangkan banyak hal. Kris menyadari keluarganya dan keluarga Holmes berharap agar dia mengikuti Lucy. Hal itu membuatnya merasa telah membuat kesalahan pada gadis itu dan harus segera memperbaikinya.

Lucy menoleh sekilas, kemudian terkejut ketika Kris menyampirkan jas pada bahunya, “Kau pikir aku gantungan jas?” semburnya.

Ujung bibirnya terangkat, Kris mengambil tempat di samping gadis itu, “Jadi, aku tidak membuat kesalahan, kan?”

Lucy tidak menjawab pertanyaannya. Dikembalikannya jas milik pria itu. Wajahnya masih tidak bersahabat.

“Sangat langka melihatmu berpakaian seperti ini. Memangnya kau tidak kedinginan,” tutur pria itu seraya kembali menyampirkan jasnya di bahu Lucy.

Malam itu, Lucy mengenakan gaun panjang tanpa lengan berwarna merah gelap. Dia menutupi kulitnya yang terlihat dengan cardigan tipis berwarna putih. Lucy menatapnya sinis dan mencibir, “Mau bersikap romantis?”

Kris tersenyum penuh arti, “Bagaimana? Apa aku sudah romantis?”

Lucy kembali tidak menjawab dan mengalihkan pandangannya. Dia tidak mengembalikan jas milik Kris, justru mengeratkannya karena dia mulai merasa dingin. Meneruskan kegiatannya yang sempat terganggu, menatap lurus ke depan.

“Apa kabar?” tanya pria itu. Mendongakkan kepalanya menatap langit gelap dengan beberapa bintang.

“Baik,” jawab Lucy singkat, dengan nada datar yang membuat Kris menoleh ke arahnya.

Merasa gadis itu tidak ingin balik menanyakan kabarnya, Kris terdiam untuk beberapa saat. Memikirkan topik apa yang harus dia ambil untuk membuat percakapan yang panjang dengan gadis itu.

Berdeham untuk mendapat perhatian gadis itu, Kris bertanya, “Apa saja yang telah kau lakukan selama tiga tahun ini?”

Lucy menghela napas, merilekskan posisi duduknya, masih menatap lurus ke depan, “Tidak banyak. Hanya mempelajari beberapa hal baru,” jawabnya.

“Begitu? Apa saja? Kau tidak ingin berbagi cerita denganku?” Kris kembali bertanya. Mencoba terdengar antusias.

Kali ini, dia mendapatkan perhatian gadis itu. Lucy menatapnya. Tatapan itu masih sama seperti di ingatannya.

“Kenapa harus aku dulu yang bercerita?” gadis itu balik bertanya.

“Karena kau lebih tua,” jawab Kris sekenanya, kemudian tersenyum tanpa dosa. Dan dia mendapatkan tatapan aku-akan-membunuhmu-setelah-ini sebagai balasan. Kris tertawa pelan.

Lucy mengalihkan pandangannnya seolah menerawang ke masa lalu. Menceritakan keinginan kuatnya untuk pergi ke Afrika yang ditentang oleh sang ayah, sampai dia memperoleh teman baru—sepupu dari calon kakak iparnya—yang mempunyai ketertarikan terhadap hewan dan alam liar sepertinya.

“Dia punya hobi fotografi dan travelling. Musim dingin tahun lalu, dia mengajakku ke Taman Nasional Yellowstone,” Lucy mengakhiri penjelasannya dengan senyuman yang menurut Kris menggemaskan untuk seusianya.

“Benarkah? Kau melihat bison?”

“Dan serigala.”

“Wow~ kau pasti bahagia sekali.”

“Tentu saja. Hal seperti itu yang ingin kulakukan pada singa,” Lucy melipat kedua tangannya di depan dada.

“Hal apa?” tanya Kris. Memancing Lucy untuk berbicara lebih banyak.

“Melihat hewan di alam liar dari jarak dekat, bukan di dalam kandang,” jelas Lucy dengan tegas. Menatap Kris dengan serius.

“Aah~ jadi itu impianmu?” Lucy mengangguk.

“Kau terlihat seperti anak rumahan, tapi ternyata kau punya jiwa petualang,” tutur Kris. “Fakta baru,” gumamnya.

“Apa itu pujian?” tanya Lucy. Kali ini dia memberikan tatapan tajam.

Kris hanya mengangkat bahunya. Lucy berdecak kesal dan memalingkan wajahnya. “Giliranmu.”

Kris tersenyum lebar. Dia sempat berpikir, Lucy akan mengakhiri percakapan ini dan pergi. “Bertanyalah. Aku akan menjawab semuanya.”

“Kenapa aku harus melakukan itu? Apa susahnya langsung bercerita?” protes Lucy tanpa menatapnya.

Kris menghela napas lelah. Selamat, Kris. Kau telah membawa kembali sisi judes Lucy. Tapi, pria itu nampak tak menyesal. Dia merindukan semua tentang gadis itu. Saat menceritakan tentang pengalamannya selama tiga tahun terakhir, Kris dapat melihat semua ekspresi Lucy yang dirindukannya. Awalnya tidak tertarik, kemudian melirik tajam. Mulai tertarik. Penasaran. Dan akhirnya ekspresi inosen yang paling dirindukannya.

“Hmm~ menarik sekali,” ucap Lucy—menanggapi—setelah Kris mengakhiri ceritanya.

Kris menatapnya datar saat mengetahui ekspresi dan ucapan gadis itu tidak cocok, “Apa itu ekspresimu saat tertarik pada sesuatu?”

Lucy balas menatapnya, kemudian mengangkat bahu. Dia kembali menatap lurus ke depan, sementara Kris menghela napas pasrah. Untuk beberapa menit setelahnya, tidak terjadi percakapan di antara keduanya. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

Sebenarnya, Kris ingin menanyakan sesuatu pada gadis itu. Namun, dia bimbang. Apa ini saat yang tepat atau terlalu cepat, mengingat mereka baru bertemu hari ini setelah tiga tahun lamanya.

“Lu,” panggilnya, tidak ingin keheningan melingkupi mereka terlalu lama.

Tonight, the moon looks beautiful,” ucapnya begitu Lucy menoleh menatapnya. “Just like you.”

Lucy terdiam selama tiga detik. Kemudian, mendongakkan kepalanya untuk melihat seindah apa bulan malam ini. Tak lama, Lucy kembali menatap Kris, dan berucap, “Pembohong. Tidak ada bulan malam ini.”

Ucapan Lucy terasa seperti pukulan telak di wajah baginya. Gagal sudah niatnya untuk menjadi pria romantis. Lucy tidak berubah. Dia tetap inosen.

“Tidak. Maksudku… Aku hanya ingin mengatakan… kau cantik malam ini.”

Dengan segera menambahkan, ketika melihat Lucy kembali menautkan kedua alisnya, “Maksudku, ini pertama kalinya aku melihatmu mengenakan gaun. Dan kau membiarkan rambutmu tubuh panjang tanpa poni. Kau terlihat berbeda. Seperti wanita.”

Kerutan di dahi Lucy semakin kentara setelah mendengar penjelasan itu, “Jadi, selama ini kau menganggapku pria? Dan hanya malam ini saja aku terlihat seperti wanita? Untuk informasi, aku menjepit poniku ke belakang.”

Kris panik bukan main mendengar tuduhan itu,  “Bukan, bukan! Aduuh~” mengacak rambutnya frustrasi. “Tidak bisakah kita berbicara dengan normal?” tanyanya, memasang wajah memelas.

“Memangnya, sejak tadi pembicaraan kita tidak normal?” Kali ini, Kris benar-benar menampar wajahnya. Selama ini, dia mengira gadis itu menyukai hal-hal yang romantis. Namun, kenyataannya gadis itu nampak menyangsikan sikap romantisnya.

“Apa kau haus? Mau kuambilkan minum?” tanya Lucy seraya menepuk pundaknya. Kris dapat menangkap nada khawatir di dalamnya.

Kris menahan tangan gadis itu sebelum dia sempat beranjak, “Tidak. Tetap di sini. Ada yang ingin kutanyakan. Dan… aku serius.”

Dengan kedua tangannya, Kris menahan Lucy agar tetap duduk dengan posisi menghadapnya. Sementara, gadis itu terdiam menunggunya berbicara. Mengambil napas dalam beberapa kali untuk mengontrol emosinya, Kris menatap ke dalam mata Lucy.

“Lu,” panggilnya pelan. “Apa kau berkencan dengan seseorang selama tiga tahun terakhir ini?” tanyanya. Tanpa sadar, dia menahan napasnya seletah melontarkan pertaanyaan itu.

Namun, tidak berlangsung lama. Karena gadis itu segera menjawab dengan satu kata yang membuatnya—diam-diam—menghembuskan napas lega. “Tidak.”

“Kenapa?”

Memberinya tatapan penuh arti, Kris menjawab, “Aku senang mendengarnya.”

Tanpa disangka Lucy, Kris membawanya ke dalam sebuah pelukan, dan berkata, “Aku senang, kau menepati janjimu.” Sebuah senyuman mengembang di bibirnya.

Janji? Tiba-tiba, Lucy merasa terbawa ke flashback tiga tahun yang lalu. Saat pertemuan terakhirnya dengan Kris sebelum dia berangkat untuk berkuliah Master. Pria itu memintanya untuk berjanji. Namun, sampai sekarang, dia tidak benar-benar tahu janji apa yang dimaksudkan. Pada saat bersamaan, Lucy merasa ada sesuatu yang hilang.

“Aku menyukaimu.”

Napas Lucy tercekat ketika flashback-nya berakhir. Ada yang hilang pada dirinya, yang baru diketahuinya detik itu. Perasaannya pada Kris. Jantungnya tidak lagi berdebar lebih cepat dan darahnya tidak lagi naik ke pipi saat Kris—mencoba—memperlakukannya secara romantis. Ada apa ini? Apa perasaannya terhadap pria itu sudah berubah? Tapi kenapa? Dan sejak kapan?

Lucy melingkarkan kedua lengannya di punggung pria itu. Membalas pelukannya, untuk memastikan perasaannya saat ini. Tidak ada yang terjadi. Jantungnya masih berdetak normal. Lucy merasa kecewa dengan kenyataan itu. Bagaimana bisa? Bukankah selama tiga tahun ini dia menunggu Kris untuk kembali? Bukankah saat itu, dia yakin telah jatuh cinta pada pria itu?

Menenggelamkan wajahnya di ceruk leher pria itu, Lucy berbisik, “Maaf.”

Seperti dapat merasakan bahwa gadis dalam pelukannya sedang bimbang, Kris mengusap kepalanya dengan lembut. Meski begitu, senyumnya masih bertahan di sana. Mencoba menikmati momen itu selama yang dia bisa. Berharap waktu berjalan lambat.

Namun, Evan datang entah darimana membuyarkan momen itu. “Ow! Maaf, aku mengganggu.”

Secepat kilat, Kris menoleh dan memberinya tatapan membunuh, tanpa melepaskan pelukannya pada Lucy. Sementara, Lucy hanya terdiam. Tidak berniat melepaskan diri dari pelukan.

Evan terkekeh melihat respon kakaknya, “Aku hanya menjalankan amanat,” jelasnya beralasan. “Sebaiknya, kalian berdua kembali ke meja. Ada pembicaraan penting,” jelasnya, kemudian melenggang pergi.

Ketika mereka sudah kembali ke tempat duduk masing-masing, dapat terasa suasana yang lebih serius di meja. Lucy melirik kedua orang tuanya dan sang kakak secara bergantian. Sedangkan Kris tampak diam saja, seolah sudah mengetahui apa yang akan terjadi.

“Jadi…” tuan Hayden membuka suara. “Papa dan Mama, serta kedua orang tua Lucy telah mengambil kesepakatan.”

Baik Lucy maupun Kris, kini menatap tuan Hayden. Sementara anggota yang lain duduk diam menunggu kelanjutan. Lucy dapat merasakan tangannya digenggam oleh sang ibu. Entah kenapa, Lucy bisa menebak apa kelanjutan penuturan tuan Hayden.

“Kris, kami menjodohkanmu dengan Lucy.”

Seketika kesunyian melingkupi meja itu. Tidak ada yang mengeluarkan suara. Kris dan Lucy, keduanya juga nampak tidak bereaksi, seolah tidak tertarik.

“Wow~ kalian tampak tidak terkejut,” ucap Evan, mengomentari pertama kali. Evan segera menutup mulutnya rapat-rapat setelah mendapat tatapan tajam dari sang ibu.

Tak disangka, Lucy beranjak dari duduknya dan melangkah pergi, membuat mereka terkejut. Sang ibu tidak bisa menahan tangannya. Stefan berniat menyusul adiknya, namun ditahan oleh sang ayah. Niatnya digantikan oleh Kris yang beranjak dari duduknya setelah mendapat kode mata dari ayahnya.

Dengan langkah lebarnya, Kris mampu menyusul gadis itu dan menahan tangannya. Lucy tampak tidak memberontak, namun dia tidak menoleh. Masih dengan menahan tangan Lucy, Kris membawa langkahnya agar berhadapan dengan gadis itu.

“Ada apa?” tanyanya dengan lembut. Namun, Lucy tak menjawab, bahkan menatapnya.

“Kau tidak setuju?” Sekali lagi, Lucy tak menjawab.

“Oh, ayolah. Jangan seperti ini lagi,” Kris mengerang frustrasi. Mengacak rambut dengan tangannya yang bebas.

“Lu,” panggilnya saat gadis itu tak kunjung bersuara. “Bukankah kau menyukaiku? Aku juga menyukaimu, kan? Apa kau tidak setuju dengan kesepakatan orang tua kita? Aku memintamu berjanji untuk tetap seperti dirimu yang dulu, dan kau sudah menepatinya. Kau tidak berkencan dengan siapapun selama tiga tahun ini. Itu karena kau menungguku kembali, kan? Apa aku salah? Apa selama ini aku terlalu banyak berharap?” Kris meluncurkan semua pertanyaannya, meminta kepastian.

Lucy menggigit bibir bawahnya. Berusaha mencegah air matanya yang sudah tergenang agar tidak menetes. “Ada yang salah pada diriku,” ucapnya, hampir seperti bisikan.

Meskipun begitu, Kris masih mampu mendengarnya. Dia menunggu gadis itu melanjutkan ucapannya. Namun, yang didapatkannya adalah kedua pipi Lucy yang basah ketika gadis itu menatapnya. Tangannya otomatis bergerak untuk mengusapnya.

Mendapat perlakukan seperti itu, air mata Lucy justru mengalir lebih deras. “Aku… tidak lagi… memiliki perasaan seperti itu… terhadapmu,” tuturnya. “Aku baru mengetahuinya tadi, dan aku tidak tahu apa sebabnya.”

Lucy merasa lebih kecewa pada dirinya sendiri ketika menyadari keterkejutan di wajah pria itu. Dengan gerakan cepat, dihapus air matanya dengan punggung tangan, dan berniat melanjutkan langkahnya. Namun, gerakan Kris lebih cepat. Meski masih dilingkupi keterkejutan, Kris menahan tubuh gadis itu dan membawanya ke dalam pelukan.

“Tak apa,” gumamnya. “Aku yakin, itu tak akan berlangsung lama,” dieratkan pelukannya pada Lucy. “Aku akan membuatmu jatuh cinta lagi padaku,” dengan itu, Kris melonggarkan pelukannya, dan menyatukan bibirnya dengan Lucy. Kali ini, tak ada pembatas.

Jika Tuhan memang mentakdirkan mereka untuk bersama, tidak ada alasan bagi Kris untuk menyerah. Dia hanya perlu berusaha lebih keras. Dia yakin, perasaan Lucy padanya tidak berubah. Hanya tersembunyi, dan dia akan menemukannya.

>Next<

Advertisements

4 thoughts on “[SS] My Parent’s Love Story (part 6)

  1. Sumpah aku suka banget sama cerita ini. Pas awal udah bikin aku deg-degan. Trus pas menuju ke tengah dag dig dug plus ketawa gegara Lucy wkwkwk and then masih berdebar sich sambil senyam-senyum sendiri. Oh My God Kris is so romantic, I love it.

    Trus pas part mereka balik ke meja makan. Aku makin deg-degan agak sedih juga pas tau Lucy gk suka lagi sama Kris. Dan makin mau nangis pas Kris ngejar Lucy dan dia ngeluarin semua pertanyaannya. Duuhh kalo aku gk lagi di kereta aku mungkin nangis nich pas baca part itu.

    And at the end, my favorite part is when Kris was kiss Lucy. And I always love when Kris calling Lucy as ‘Lu’ OMG you must be know with what I mean right, Author-nim XD.

    And thx for makin’ this part is longer. I’m really satiesfied to read this part. I love it I love it so much. Please keep continue this story, and make more romantic and more hot kiss LOL XD keep spirit Author-nim.

  2. When you will update this story? I’ve been waiting for T.T so curious with next chapter. Hope to see you update this as fast as you can. Thank you.

    1. Hi!! ^^
      I’m so sorry for making you wait~~ *gloom*
      Actually the story was half-finished. But when I re-read it, the storyline was not in accordance with the original plan. So, I have to re-write it. *gloom even more*
      And I have a lot of tasks and reports to do from campus. So, those are my first priority for now. I have to delay to continue my stories. *gloom even even more*
      I will post it ASAP, when the story finished (for real). Kekeke~
      Thanks for still waiting, and sorry (again).
      *heart*
      Ranifa Billy

      1. Well it’s okay. Your real life must be number one (really understand that) but glad to hear that you will continue. I hope the story is more longer than before maybe 3k word minimum XD can’t wait for that. Keep writing and I wish all your tasks is being clear. Fighting! XD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s