[Fanfiction] You Are My Angel | SeungHan/Jeongcheol (part 1)

cover-yr-m-a

You Are My Angel © 2016 Ranifa Billy

Cast

Choi Seungcheol (17’s S.Coups)

Yoon Jeonghan (17’s Jeonghan)

May (OC)

Pairing

SeungHan/CheolHan/CoupsHan/JeongCheol/CoupsJeong (whatever it is)

Rate

Teen

Warning

fem!Jeonghan, typo(s), OOC(?)

(A/N: inspired from Indonesian Movie ‘Heart’ © 2006. And just because some people said that SC—sometimes—looks alike Irwansyah, so I got this idea, keke~
Credit lyric on cover goes to BTOB)

Happy Reading!

=.=.=.=.=

Part 1

“Aku bertemu malaikat!” seru Seungcheol seraya menghampiri saudara tirinya, May, yang sedang mengerjakan tugas kuliahnya di konter dapur.

“Mengigau apa lagi anak ini,” gumam May tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.

Seungcheol mengambil tempat di samping May, “Aku bertemu malaikat,” ulangnya, menaruh beberapa kantong belanjaan di konter.

“Selesaikan saja tugasmu, dan kembalilah tidur. Jangan menggangguku,” omel May, masih tanpa menatap Seungcheol.

“Aku serius~” rengek Seungcheol, mengguncang bahu May yang sedang menulis sesuatu di buku catatannya.

“Hei!” seru May yang akhirnya menatap Seunghceol—dengan tatapan membunuh yang membuat pemuda itu langsung menyingkirkan tangan dari bahunya, dan menutup mulut rapat-rapat.

“Lihat, apa yang telah kau lakukan!” masih dengan berseru, May menunjukkan catatannya yang kacau karena ulah saudara tirinya—yang agak gila itu. “Kau benar-benar hama!”

“Aku minta maaf,” sesal Seungcheol. “Akan kutuliskan ulang untukmu,” berniat mengambil alih buku catatan May, namun ditahan oleh gadis itu.

“Aku serius. Tugas ini deadline-nya besok pagi. Jangan menggangguku! Kau tata saja belanjaan itu, dan pergilah ke kamarmu. Aku tidak punya waktu untuk meladeni fantasi kekanakanmu tentang malaikat atau apapun itu,” omel May, dalam satu napas, dengan volume suara yang terus meninggi pada setiap katanya.

Seungcheol menatapnya takjub, “Ini bukan fantasi kekanakan. Aku memang bertemu dengan malaikat di supermarket tadi~” ucapnya, memaksa saudara tirinya untuk mendengarkan dan percaya pada ceritanya.

Sebelum Seungcheol dapat berbicara lebih banyak, May memotongnya, “Hei, aku beri kau waktu tiga detik sebelum aku melempar laptopku ke wajahmu yang selalu kau banggakan itu.”

Seungcheol bisa merasakan tatapan mata May mengiris wajah—tampan—nya. Maka, daripada saling merugikan, dia memilih jalan aman, “Okay. Terima kasih karena menyuruhku berbelanja hari ini,” ucapnya seraya beranjak dari tempatnya.

=.=.=.=.=

“Jadi, malaikat ini, aku tidak—belum tahu namanya,” oceh Seungcheol, mengekor May menyusuri lorong-lorong rak buku di sebuah toko.

Seungcheol dan May berkuliah di universitas yang sama namun berbeda fakultas. Hari ini, Seungcheol tidak ada jadwal kuliah. Untuk menebus kesalahannya karena merusak tugas May, dia bersedia mengantar gadis itu kemanapun seharian ini. Yang mana, sebenarnya, ide itu sangat tidak disetujui oleh May. Karena dia tahu, saudara tirinya itu akan kembali mengocehkan tentang malaikat-yang-ditemuinya-kemarin.

“Malaikatmu perempuan?” sejujurnya, May tidak peduli. Namun, entah kenapa suaranya keluar sendiri untuk bertanya.

“Tentu saja! Untuk apa aku membicarakan laki-laki?!” seru Seungcheol. Tanpa diminta, dia mengambil alih beberapa buku yang tampak—memang—tebal dan berat dari tangan May.

May hanya menggedikkan bahunya, tidak peduli lagi. Dia memeriksa buku-buku yang kini dalam pelukan Seungcheol sebelum berkata, “Bayar bukunya! Aku tunggu di luar,” bukan, itu perintah.

“Mana uangnya?” Seungcheol menodongkan tangan kanannya.

“Pakai uangmu. Apa itu tidak termasuk dalam ‘aksi minta maaf’mu?” ucap May, yang terdengar seperti sindiran di telinga Seungcheol.

“Hei, hei, yang benar saja. Buku-buku ini mahal. Bagaimana dengan nasib uang jajanku~?” rengek Seungcheol.

Dan May bersumpah akan menendang anak itu jika mendengarnya merengek lagi. Seraya mengeluarkan dompetnya, May menggerutu, “Bahkan uang jajanmu, aku yang memberi. Belanja kemarin juga menggunakan uangku.”

“Tidak, tidak. Uang itu adalah jatah bulanan dari Papa untuk kebutuhan kita,” ucap Seungcheol membela diri. Menerima beberapa lembar Won dari May, dan berjalan menuju kasir.

=.=.=.=.=

Napas Seungcheol tercekat, langkahnya berhenti ketika kedua matanya menangkap sosok yang membuatnya tersenyum seperti orang idiot sepanjang hari sejak pulang dari berbelanja kemarin. Setelah memastikan bahwa pandangan matanya tidak salah, dengan langkah cepat, penuh percaya diri, Seungcheol menghampiri ‘malaikat’nya.

Seungcheol berdiri di depan ‘malaikat’nya, hanya terhalang oleh rak buku yang tingginya sebatas bahu. Memandangi wajah tanpa cacat ‘malaikat’nya, tanpa suara. Saat si ‘malaikat’ melangkah ke rak buku yang lain, Seungcheol mengikutinya. Dan masih dengan posisi terhalang-oleh-rak-buku.

Wajahnya bersih dan mulus. Bulu matanya yang panjang. Kedua mata yang memancarkan kelembutan. Hidungnya yang mancung. Bibirnya yang seperti busur Cupid dan berwarna peach. Rambut lurusnya yang tergerai melewati bahu terlihat selembut sutera. Benar-benar seperti malaikat.

Tak disangka oleh Seungcheol, ‘malaikat’nya mengangkat wajah dan kini menatapnya dengan tanya. Seungcheol terkejut bukan main saat bertemu pandang dengan ‘malaikat’nya. Dia merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Dia meletakkan tangannya yang bebas di dada, mencoba menenangkan debarannya. Setelahnya, dia merasa ingin pingsan ketika bibir peach itu membentuk seulas senyuman yang begitu indah.

Setelah berhasil menenangkan perasaannya, Seungcheol melangkah menghampiri ‘malaikat’nya yang ternyata sudah berada dalam antrian di kasir. Seungcheol segera berdiri tepat di belakang ‘malaikat’nya ketika ada seorang pria yang juga akan masuk ke dalam antrian. Setelah memberikan senyum meminta maaf pada pria itu, Seungcheol mengembalikan perhatiannya pada si ‘malaikat’ yang kini begitu dekat dengannya.

Seketika, aroma permen karet menyapa hidung Seungcheol. Saat Seungcheol menghirupnya, aromanya berganti strawberry. Tanpa sadar, hidungnya sudah mengendus rambut si ‘malaikat’. Strawberry adalah aroma shamponya. Permen karet adalah aroma parfumnya. Jadi, seperti ini aroma ‘malaikat’.

Pikirannya mulai melantur kemana-mana. Seungcheol segera menguasai pikirannya kembali. Menjauh dari rambut si ‘malaikat’, kemudian menepuk pipinya sendiri, karena merasa tindakannya tadi tidak sopan. Dia bersyukur karena si ‘malaikat’ tidak memergokinya.

Berdeham sekilas, Seungcheol menepuk bahu ‘malaikat’nya dengan pelan. Dia bisa merasakan betapa lembutnya rambut si ‘malaikat’ saat tangannya tidak sengaja bersentuhan. Seungcheol mampu menguasai kegugupannya ketika si ‘malaikat’ menolehkan kepalanya.

“Ya?” Oh, Tuhan! Suaranya begitu lembut.

“Hai,” sapa Seungcheol. “Kita bertemu kemarin. Masih ingat?” Saat menyadari kebingungan pada wajah ‘malaikat’nya, dia menambahkan, “Di supermarket. Spaghetti.” Dalam hati, Seungcheol mengumpat dirinya sendiri karena ucapannya yang tidak jelas.

Dia bisa melihat ada harapan ketika ekspresi ‘malaikat’nya berubah cerah, “Aah~ kau yang kemarin itu. Ya, aku ingat. Halo~”

Seungcheol mengusap tengkuknya, bertanya, “Apa yang kau lakukan di sini?” Ayolah, Seungcheol. Kau tahu, itu pertanyaan bodoh.

“Membeli beberapa buku. Novel,” jawab ‘malaikat’nya. Seungcheol bisa menangkap jawaban seadanya itu.

Seungcheol tertawa canggung. Sekilas dia dapat melihat judul buku—novel yang dibawa ‘malaikat’nya. “Kau suka cerita detektif?”

Si ‘malaikat’ hanya menggedikkan bahu. Senyuman itu tidak hilang dari bibir peach-nya, “Hanya untuk mengisi waktu luang.”

“Aku juga suka cerita detektif,” tutur Seungcheol tanpa ditanya.

Si ‘malaikat’ hanya mengembangkan senyumnya, dan melangkah maju. Membayar buku-buku yang diambilnya.

“Aku tahu Sherlock Holmes, Hercule Poirot. Eum~ kau tahu, Detective Conan, Detective Kindaichi, Detective Shcool Q,” Seungcheol mengoceh sendiri.

Dia sadar, dia sok tahu. Tapi jika itu bisa membuatnya lebih dekat dengan ‘malaikat’nya, dia tidak peduli. Sejujurnya, dia tidak tahu apa-apa tentang cerita detektif. Dia hanya pernah mendengar dan membaca sekilas dari koleksi novel dan manga detektif milik May.

Si ‘malaikat’ kembali memberinya senyuman sebelum melangkah meninggalkannya. Saat itu, dia sadar, bahwa dia berada di antrian terdepan. Dengan tergesa, dia menyerahkan buku-buku yang dibawanya pada kasir.

“Tunggu aku!” serunya. “Berapa totalnya?” tanyanya pada penjaga kasir.

Seungcheol berhasil menyusul ‘malaikat’nya di pintu toko, “Hei,” panggilnya. Si ‘malaikat’ menoleh.

“Aku merasa, kita akan bertemu lagi,” tutur Seungcheol. “Aku Choi Seungcheol,” mengulurkan tangannya pada ‘malaikat’nya.

Si ‘malaikat’ menatap tangannya sekilas sebelum menjabatnya—dengan senyuman yang akan selalu diingatnya, “Yoon Jeonghan.”

Seungcheol tersenyum lebar. Ada perasaan enggan untuk melepaskan jabatan tangan mereka, “Senang berkenalan denganmu, Angel.”

‘Malaikat’ Jeonghan menahan senyumannya mendengar ucapan itu. Melepaskan jabatan tangan mereka, dan melangkah menuju Range Rover putih yang menunggu di seberang jalan.

Seungcheol melambaikan tangannya pada ‘malaikat’ Jeonghan sampai mobil itu menghilang di pertigaan jalan. Dia menutup mulut dan hidungnya dengan tangan kanan. Menghirup aroma ‘malaikat’ Jeonghan yang menempel di sana. Tidak menyadari saudara tirinya yang berdiri di sampingnya, menatap dengan sinis.

“Ooh~ jadi, itu yang membuatmu sangat lama?”

Seungcheol gelagapan mendengar suara dingin yang sangat familiar di telinganya. Dia menoleh dan dapat melihat May, menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Kedua mata itu menusuknya, mengirimkan sensasi dingin di tengkuknya. Seungcheol merasa kesulitan hanya untuk menelan ludah. Dia juga tidak bisa menemukan suaranya.

“Malaikatmu cantik. Korea sekali,” ucap May dengan sinis.

“M-ma-ma…af,” Seungcheol tergagap.

May merebut kantong kertas berisi buku-bukunya dari tangan Seungcheol, “Mana kembaliannya?”

Seungcheol menyerahkan beberapa lembar Won dengan nominal lebih kecil. Dia menyadari tangannya gemetar.

“Kunci mobil juga!” tambah May.

Seungcheol masih bisa menangkap nada kesal di sana. Kembali dia merogoh sakunya dan mengeluarkan kunci mobil. May segera menyambarnya dan melangkah dengan cepat menuju Colorado merah yang terparkir di samping toko buku. Seungcheol kembali mengekor, menyamai langkahnya.

“Kau yang mengemudi?” tanyanya ketika melihat May membuka pintu kemudi. Tak mendapat jawaban dari saudara tirinya, Seungcheol membuka pintu penumpang, “Okay,” dan duduk di sana.

Seungcheol selalu mengagumi cara May mengemudikan mobil. Sangat halus dan profesional. Berbeda dengannya yang masih canggung. Namun, kali ini berbeda. May mengemudi seperti pembalap F1 yang kerasukan. Seungcheol sampai harus mengeratkan sabuk pengamannya, dan memilih tidak protes.

“Belikan pembalut,” ucap May dengan tegas. Setelah menginjak rem dengan tiba-tiba, yang membuat Seungcheol hampir membentur kaca depan. Mobil berhenti di depan sebuah mini market.

“Pembalut apa?” tanya Seungcheol dengan kikuk.

“Pembalut wanita,” jawab May, menodongkan selembar Won di depan Seungcheol. Tidak mempedulikan semburat merah muda yang muncul di kedua pipi pemuda itu.

Tanpa berani protes, Seungcheol mengambil uang itu dan keluar dari mobil. Melangkah ke dalam mini market. Mengabaikan pandangan dua siswi SMA yang berdiri di sampingnya saat dia mengambil sekotak pembalut wanita dengan asal. Seungcheol juga tidak mempedulikan penjaga kasir wanita—yang sedang menahan tawanya. Dia sibuk mencari keberadaan Colorado merah miliknya—dan May—yang seharusnya menunggu di luar. Setelah menerima uang kembalian, dia segera berlari keluar. Menengok ke kanan dan kiri. Sama sekali tidak ada tanda keberadaan mobil itu.

“Aku tahu, ini akan terjadi!” serunya, menendang angin.

=.=.=.=.=

>NEXT<

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s