[SS] My Parent’s Love Story (part 7)

 

cover-part-7

My Parent’s Love Story © 2016 Ranifa Billy

Part 7

Hari ini adalah peringatan setengah abad ulang tahun pernikahan kakek dan nenek Holmes. Kami berkumpul di rumah Paman Stefan untuk merayakannya. Tentu saja aku bertemu dengan semua saudara sepupu dari keluarga Holmes. Di keluarga Holmes, aku adalah cucu kedua, sedangkan di keluarga Hayden, aku adalah cucu pertama. Aku sangat senang jika ada pertemuan keluarga seperti ini. Mungkin karena aku anak tunggal, aku merasa agak kesepian. Temanku yang masih ‘awet’ dari masa kanak-kanak hingga sekarang hanyalah Jackson Barlow. Aku sendiri heran, aku tidak bosan berteman dengannya selama 15 tahun.

“Jadi, bagaimana kuliahmu, Scarlett? Apa kampusmu menyenangkan? Apa banyak pria tampan di sana?” tanya Valerie bertubi-tubi. “Aku juga ingin berkuliah di sana. Aku tidak mau terikat terus dengan si idiot Denzel seumur hidupku,” tambahnya. Valerie dan Denzel adalah kembar. Mereka anaknya paman Stefan yang usianya dua tahun lebih muda dariku.

“Err~ just so-so,” jawabku singkat.

“Jawaban macam apa itu!” seru Valerie. Sebenarnya, kami sudah selesai makan malam bersama. Sekarang hanyalah sesi berbincang-bincang saja. Kami semua akan menginap di sini nanti.

“Jawaban seperti apa yang kau inginkan? Belajar saja yang giat,” ucapku, mendorong dahinya dengan jari telunjukku.

Dia berdecak kesal, kemudian bertanya, “Oia, kenapa kau tidak mengajak pacarmu ke sini? Tyler berniat mengundang pacarnya, tapi tidak jadi karena pacarnya sibuk.” Untuk informasi, Tyler adalah anak pertama Paman Stefan, lebih tua dariku satu tahun.

“Aku tidak punya pacar.”

“Ooh~ lalu, pria bernama Jackson yang selalu menempel denganmu itu, bukan pacarmu?” Valerie menyikut lenganku dan tersenyum menggodaku. Oh, dan dia mengenal Jackson karena orang itu sering main ke rumah dan suka sok akrab dengan anggota keluarga besarku.

Aku menghela napas, dan menjelaskan, “Dia temanku sejak kecil. Kau tahu itu. Kami tidak berpacaran.”

“Kau membosankan. Memangnya, kau tidak ingin punya pacar? Memangnya kau tidak ingin menikah suatu saat nanti?” Valerie menatapku serius.

Aku terdiam sebentar sebelum menggedikkan bahu, “Entahlah. Aku tidak yakin bisa melakukannya. Aku takut.”

“Apa yang kau takutkan?”

Sekali lagi, aku hanya mengangkat bahu, “Aku ingin seperti Mama. Hanya berpacaran satu kali dengan pria yang akan menjadi suamiku nantinya,” jelasku, tersenyum bangga.

Valerie menatapku dengan ekspresi datar, “Itu kuno.” Dan aku menatapnya tajam kemudian mengunci lehernya dengan lenganku. Begitulah kami saat berkelahi.

Aku selalu mengelak setiap kali orang-orang mengatakan bahwa Jackson Barlow adalah kekasihku. Karena pada kenyataannya memang seperti itu. Kami hanya berteman. Meskipun Jackson pernah mengatakan bahwa dia mempunyai perasaan romantis terhadapku, bukan berarti kami berkencan, kan?

Aku tidak pernah memikirkan kami akan berkencan suatu saat nanti. Jackson mungkin memberiku banyak perhatian, memperlakukanku seperti seorang kekasih. Namun, sepengetahuanku, dia melakukannya hampir pada semua wanita—tua maupun muda. Aku sudah tahu itu.

Menurutku, dia sedikit mirip dengan Papa. Sopan, gentleman, pantang menyerah… oh, apa aku memujinya? Dia akan melakukan apapun untuk membuatku terkesan padanya. Papa juga akan melakukan apapun agar Mama tidak marah padanya.

Sejujurnya, Kris tidak tahu, harus melakukan apa untuk membuat Lucy kembali jatuh hati padanya. Karena dia tidak pernah tahu, hal apa dari dirinya yang pernah membuat Lucy jatuh cinta. Apa wajah tampannya? Apa senyumannya? Apa sikap manly-nya?

Hubungan mereka menjadi agak canggung setelah pemberitahuan tentang perjodohan. Kris tidak menemui Lucy setelah malam itu. Dia memberikan gadis itu waktu untuk sendirian. Tidak ingin gadis itu terlalu tertekan.

Suatu hari, Kris mampir ke bakery milik keluarga Holmes saat jam makan siang. Hari itu, dia bertemu—melihat Lucy dari balik kaca di belakang kasir yang terhubung ke dapur. Gadis itu—dengan rambut ekor kuda—sedang membantu membuat adonan roti. Dia tampak bahagia dengan senyuman yang mengembang di bibirnya. Tanpa sadar, Kris ikut tersenyum. Sudah seminggu, dan tampaknya gadis itu sudah lebih baik.

Esok harinya, Kris sengaja datang—pada jam yang sama. Dan hari itu, dia benar-benar bertemu dengan Lucy. Gadis itu tampak terkejut saat keluar dari dapur dan bertemu pandang dengan Kris—yang sedang memilih roti. Kris memberinya senyuman, namun gadis itu kembali masuk ke dapur.

Kris menjadikannya kebiasaan. Setiap hari berkunjung ke bakery, hanya untuk melihat Lucy. Meskipun gadis itu bersikap dingin, dan mengabaikannya. Sampai suatu hari—setelah Kris melakukan kebiasaannya selama dua minggu—Lucy mengajaknya berbicara.

“Apa kau tidak bekerja?” tanya gadis itu. Kalimat tanya bernada dingin itu membuat Kris bahagia. Betapa Kris merindukan suara gadis itu.

“Sekarang istirahat makan siang,” jawab Kris, tanpa menghilangkan senyuman di wajahnya.

“Kenapa pergi ke bakery? Bukan pergi untuk makan siang?” tanya Lucy.

“Apa kau memperhatikanku?” Kris balik bertanya. Senyumannya berubah menjadi seringaian tipis.

Lucy hanya memutar bola matanya—jengah.

“Mau menemaniku makan siang?” tawar Kris. Memberi Lucy tatapan penuh harap.

Lucy tampak diam, memberi tatapan penuh selidik, dan tampak menimbang-nimbang tawaran pria itu. “Kau yang traktir?”

Senyuman Kris mengembang, “Tentu saja.”

Selama mereka menyantap makanan, tidak terjadi percakapan apapun. Kris tidak melepaskan pandangannya dari Lucy, bahkan saat sedang menyuap makanan. Senyumannya juga tak hilang. Dia masih bisa mengingat bagaimana cara dan kebiasaan gadis itu saat makan. Bahkan setelah tiga tahun lebih, semua itu tak ada yang berubah. Gadis itu masih tetap Lucy yang dikenalnya.

Sejak hari itu, mereka kembali akrab. Kris mampu menghilangkan kecanggungan di antara mereka. Seperti biasanya, saat mereka masih menjadi mahasiswa. Kris mencoba menghindari segala hal dan topik pembicaraan yang kemungkinan dapat membuat hubungan mereka kembali canggung. Seperti, tidak mengungkit soal perjodohan mereka.

Selain itu, meski Lucy terkadang masih judes, namun sekarang gadis itu lebih mudah untuk dijinakkan. Kris mensyukuri perubahan kecil itu. Namun, sebenarnya bukan Lucy yang melakukan perubahan. Kris-lah yang sudah ahli dalam mengatasinya.

Kris tidak lagi memikirkan cara untuk membuat Lucy kembali jatuh cinta padanya. Dia sudah tidak terlalu peduli. Yang penting untuk sekarang adalah mereka sudah kembali berteman akrab. Kris hanya perlu percaya bahwa suatu saat nanti Lucy akan kembali jatuh cinta padanya. Entah bagaimana caranya. Semua hanya masalah waktu.

“Siapa yang mengundangmu ke sini?” tanya Lucy, dingin, pada Kris yang menatapnya dari puncak kepala sampai ujung kaki dengan takjub.

“Wow! Lucy-ku seperti malaikat,” ucap pria tinggi itu.

Lucy menatapnya datar, “Lucy-ku? Kau mabuk?”

Kris menunjukkan cengiran lebar padanya, “Kenapa kau memakai gaun warna putih? Bagaimana kalau orang salah mengira kita sebagai pasangan pengantinnya?”

Ekspresi wajah Lucy tidak berubah, “Kau mabuk.”

Mereka berada di pesta pernikahan Stefan dengan kekasihnya, Jillian. Kris ada di sana sebagai tamu undangan. Dia datang bersama sang ibu, mewakili sang ayah yang sedang bertugas di luar negeri.

Dia mengenakan pakaian semi-formal dengan kemeja dark blue, celana jeans hitam, blazer hitam yang disampirkan di lengan, dan boots kulit warna hitam. Rambut hitamnya ditata dengan rapi, menunjukkan dahi lebarnya.

“Kau sendiri, kostum apa yang kau pakai? Kau pikir, ini pemakaman? Kenapa temamu all-black? Kau ini anggota organisasi hitam, ya?” omel Lucy.

Kris tertawa pelan mendengar omelannya. Menyampirkan blazer-nya pada bahu Lucy—yang kali ini benar-benar terekspos.

Gaun yang dikenakan gadis itu berwarna putih tulang, sebatas lutut dengan bahu terbuka. Dan bukannya mengenakan high heels atau sepatu yang cantik, Lucy lebih memilih sepatu larinya. Bukan tanpa alasan, karena itu satu-satunya sepatu warna putih yang dia punya.

Kali ini, Lucy tidak menolak perlakuan Kris. Karena berapa kalipun Lucy mencoba menolak, pria itu akan melakukannya lagi.

“Tapi, aku tetap terlihat tampan, kan?”

“Lucy~~” panggil sebuah suara dari kejauhan. Baik Lucy maupun Kris menoleh ke asal suara.

“Di sini kau ternyata,” ucap seorang gadis tinggi dengan rambut pirang, berjalan mendekati Lucy. Saat itu, pandangan matanya terjatuh pada sosok tampan menjulang, yang tak lain adalah Kris.

“OMG! Apa kau juga menikah hari ini? Kenapa aku tidak mengetahui apapun?” tanya gadis itu pada Lucy. Merujuk pada dresscode yang dikenakan Kris dan Lucy yang terlihat mirip seperti groom dan bride.

Mendengar pertanyaan asal itu, Lucy melotot, “Bicara apa kau!”

“Leah?”

Kali ini giliran Lucy dan gadis pirang yang menoleh pada Kris.

“Kau mengenalnya?” tanya Lucy, menatap Kris dengan tanda tanya.

Kris menatap Lucy sekilas sebelum kembali memperhatikan gadis pirang itu, “Kau Leah Johnson, kan?”

Gadis pirang itu menatapnya lama, seolah mencoba mengenali sosoknya. Sementara Lucy menatap keduanya secara bergantian. Entah kenapa ada perasaan aneh yang muncul dalam dirinya.

“Ya, aku Leah Johnson. Tapi, kau siapa?” tanya gadis pirang bernama Leah itu setelah hanya terdiam dan menatap Kris cukup lama.

Diam-diam, Kris menghela napas lelah, “Aku Kris Hayden. Kita menghadiri SMA yang sama. Kita juga pernah satu kelas. Kau lupa padaku? Aku ini terkenal di sekolah,” jelasnya panjang, sedikit menyombong.

“Kris… Hayden?” Leah kembali terdiam. Kali ini tampak seolah menerawang ke masa lalu.

Di saat yang sama, Lucy merasa seperti orang bodoh di sana. Kris dan Leah saling mengenal? Mereka teman satu SMA? Satu kelas? Dan dia tidak tahu apa-apa mengenai fakta ini? Lucy menatap Kris yang tak kunjung balas menatapnya. Ada dorongan kuat dalam dirinya yang ingin memaksa Kris menjelaskan kondisi saat ini. Namun, Lucy memilih diam saja.

Sebuah suara jentikan jari membawa Lucy kembali ke alam sadar. Apa dia melamun tadi?

“Aah~ Kau Kris Hayden yang itu! Duo playboy sekolah bersama dengan si Barlow itu,” ucap Leah setelah kembali dari masa lalu.

Kris menatapnya datar, “Hanya itu yang kau ingat dariku?”

Tidak menjawab pertanyaan Kris, Leah mengembalikan perhatiannya pada Lucy yang sejak tadi terdiam. “Lucy, bagaimana kau bisa mengenal pria seperti ini~? Aku tidak mau kau menjadi korbannya~” gadis itu mengguncang bahu Lucy dengan dramatis.

“Tunggu sebentar,” Lucy menghentikan Leah agar tidak mengguncang bahunya. “Sepertinya, kalian harus menjelaskan sesuatu padaku, benar?”

Bersamaan, Kris dan Leah melongo. Kris yang sadar lebih dulu segera melingkarkan lengannya di bahu Lucy—yang segera disingkirkan oleh gadis itu. Pria itu beralih menggenggam tangan Lucy.

“Lu, Leah dan aku pernah satu SMA. Dia temannya temanku,” jelas Kris, diakhiri dengan senyuman yang seolah mengartikan bahwa dia sedang meminta maaf.

“Kalian pernah berkencan?” entah kenapa pertanyaan itu lolos dengan sendirinya dari mulut Lucy tanpa diproses otaknya terlebih dahulu. Dalam hati, Lucy mengutuk dirinya sendiri.

“Tidak!” jawab Leah dengan tegas. “Aku tidak akan mau berkencan dengan playboy seperti dia.”

“Kalau dia tidak playboy, apa kau mau berkencan dengannya?” masih sama, pertanyaan itu juga tidak diproses dulu oleh otaknya Lucy.

“Apa?! Lucy, yang benar saja~~” Leah kembali mengguncang bahu Lucy dengan tidak manusiawi.

Menilai dari cara Lucy menyikapi kondisi ini, Kris dapat menyimpulkan satu hal. Sebuah senyum tipis terbentuk di bibirnya. Saat itu, Kris kembali memikirkan cara untuk membuat Lucy jatuh cinta lagi padanya. Sebuah ide kuno terlintas di pikirannya setelah bertemu kembali dengan teman lamanya, Leah Johson. Kris hanya perlu mencari waktu yang tepat untuk menyalurkan idenya.

“Kenapa kau menginterogasinya, Lu?” tanya Kris, mengamankan Lucy dari serangan brutal Leah. Kembali merangkul bahunya, “Apa kau cemburu?”

“Apa? Untuk apa aku cemburu?” Lucy melipat tangannya di depan dada, memalingkan wajahnya dari tatapan Kris.

Melihat gesture dari kedua orang di depannya, Leah memutuskan untuk bertanya, “Lucy, bagaimana kau bisa mengenal orang ini?”

“Tidak. Aku yang bertanya,” Kris segera menyela, “Lu, darimana kau mengenal gadis pirang ini?”

Kembali, Lucy menatap Kris dan Leah secara bergantian. Dia memilih menjawab pertanyaan Kris lebih dulu, “Leah adalah saudara sepupunya Jillian. Aku mengenalnya dari Jillian. Dia adalah teman baru yang kuceritakan saat itu. Aku bekerja bersamanya sekarang,” jelasnya.

Leah mengangguk puas mendengar penjelasan Lucy, “Kami adalah partner, Hayden. Sekarang jawab pertanyaanku, Lucy.”

Lucy mengehela napas, “Kris adalah anak dari temannya ayahku. Kami juga berkuliah di universitas yang sama.”

Kris nampak tidak puas dengan penjelasan Lucy tentangnya. Dia ingin gadis itu mengenalkannya sebagai calon tunangannya. Namun, nampaknya Lucy masih tidak mau mengakui bahwa mereka telah dijodohkan dan akan segera bertunangan. Tidak apa-apa. Kris hanya perlu bertindak lebih cepat.

Beberapa hari setelahnya, Kris kembali—tidak sengaja—bertemu dengan Leah saat sedang istirahat makan siang. Hari itu, dia langsung menceritakan banyak hal perihal dirinya dan Lucy. Dia juga menjelaskan mengenai idenya.

“Kau tidak bisa memaksanya menyukaimu lagi, Hayden! Itu juga pelanggaran HAM,” omel Leah setelah mendengar ide kuno pria itu.

“Tahu apa kau tentang HAM?” Kris menatapnya datar. “Aku tidak berusaha memaksanya. Aku hanya mencoba membantu mengembalikan perasaannya padaku,” sangkalnya.

Kali ini, Leah yang menatapnya datar, “Menurutku, itu hal yang sama.”

“Apa kau mengetahui sesuatu? Mungkin memang aku yang mengenalnya lebih dulu dibandingmu. Tapi, selama tiga tahun lalu, kau tampaknya lebih dekat dengannya,” ucap Kris. “Lagipula, kalian sama-sama perempuan. Jadi, kurasa, dia pasti lebih banyak bercerita padamu.”

“Apa yang ingin kau ketahui?” Leah meletakkan gelas lemon tea-nya.

“Apa Lucy menyukai pria lain?”

Leah nampak berpikir, “Aku tidak tahu,” jawabnya. “Menurutku, iya. Dia sering menceritakan pria ini padaku.”

“Siapa?” tanpa sadar, Kris mencondongkan tubuhnya ke depan, seolah dia tidak bisa mendengar jawaban Leah jika duduk bersandar.

Leah ikut-ikutan mencondongkan tubuhnya, kedua bola matanya mengamati sekitar. Dengan berbisik, dia menjawab, “Pria itu, ada di sini.”

Selama dua detik, Kris mengerjapkan matanya. Kemudian, menoleh ke kanan-kiri, mencoba mencari pria yang dimaksud gadis pirang itu.

“Duuh~ kau ini tampan, tapi masih saja bodoh, ya?” gumam Leah. “Pria itu di sini, di depanku, idiot!” serunya. Kedua tangannya serasa ingin melempar benda apapun pada pria yang duduk di depannya itu, atau mencekiknya.

Selama lima detik, Kris mencoba mencerna ucapan gadis pirang itu, “Aku?” menunjuk dirinya sendiri.

“Iya, bodoh!” Leah benar-benar ingin melayangkan tinjunya. “Aku yakin Lucy masih menyukaimu. Makanya, aku tidak percaya saat kau bilang, Lucy tidak lagi menyukaimu.”

“Dia sering bercerita tentangku padamu? Bagaimana caranya menyebutku? Kris atau pria itu?” tanya Kris penasaran.

“Kris,” jawab Leah cepat.

“Kau yakin, Kris yang dimaksud itu aku?”

Leah mengangguk mantap, “Kurasa, kau satu-satunya pria bernama Kris yang dikenal oleh Lucy. Dia juga bercerita tentang cinta pertamanya, tapi namanya bukan Kris.”

“Siapa? Ceritakan padaku!” ucap Kris, lebih seperti memerintah. Dia tidak pernah tahu, seperti apa masa lalu Lucy. Kisah cintanya. Tapi, dia tidak berani untuk menanyakannya. Dia merasa, Lucy sangat sensitif jika membahas topik itu.

“Aku tidak akan memberitahumu. Cari tahu sendiri. Kau, kan, pria. Berusahalah!” omel Leah, melanjutkan makan siangnya.

Mendapat tanggapan seperti itu, Kris hanya menghela napas. “Jadi, apa kau mau membantuku?”

Memainkan sendoknya, Leah tampak menimbang-nimbang tawaran dari pria tinggi itu. “Apa aku akan mendapat imbalan?”

“Tentu saja. Tidak perlu khawatir,” jawab Kris dengan yakin dan serius.

“Baiklah. Kapan?”

“Kapanpun. Saat kita bertiga dipertemukan di lokasi yang sama, dan kondisi yang mendukung,” jelas Kris, sangat yakin dengan idenya.

“Maksudku, kapan aku mendapatkan imbalannya?”

Tidak menanggapi pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh gadis pirang itu, Kris melanjutkan makan siangnya dengan tenang. Hanya masalah waktu, pikirnya.

>Next<

 

Advertisements

2 thoughts on “[SS] My Parent’s Love Story (part 7)

  1. Whoaaaahh demi apa akhirnya kamu update juga. Aku nungguin lho hehe aku selalu suka sama tulisan kamu ceritanya ringan tapi bikin penasaran. Part ini bikin senyam senyum sendiri bayangin Kris hahaha… Thank you so much for updating this story. Gk sabar nunggu part selanjutnya. Semangat ya nulisnya ya 😁😁😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s