[Fanfiction] Tangled (part 1) | FanHan/KrisHan/KrisLu

Fanfiction

tangled-cover-1

Tangled © 2016

A KrisLuhan Fanfiction by Ranifa Billy

Cast

Lu Han

Kris Wu Yifan

Pairing

FanHan / KrisHan / KrisLu

Genre

Romance, Drama, Angst

Rate

PG-15

Warning

fem!Lu, younger!Lu, typo(s), OOC

Happy Reading! Enjoy!

•••••

Part 1

Musik klasik mengalun lembut, mengisi ruangan yang dikelilingi oleh cermin. Seorang wanita berperawakan kurus menggerakkan tubuhnya dengan anggun, mengikuti alunan musik klasik. Menikmati setiap detik waktu kesendiriannya. Dia mengakhiri tarian dengan indah. Ditatap pantulan dirinya di cermin. Sebuah senyuman terbentuk di bibir tipisnya, senyum penuh kepuasan. Peluh membasahi dahinya, membuat anak rambutnya menempel.

Membiarkan musik tetap mengalun, dia duduk di sudut ruangan. Mengembalikan cairan tubuh yang hilang dengan meneguk minuman isotonik yang dibawanya. Dia menolehkan kepala ketika mendengar pintu ruangan terbuka.

“Lu Han, kau masih di sini?” tanya seorang wanita lain yang membuka pintu.

Wanita bernama Lu Han itu tersenyum tipis, “Ya. Seperti biasa,” jawabnya.

“Pulanglah. Ini sudah larut malam,” ucap wanita itu, berjalan menghampiri Lu Han dan duduk di sebelahnya.

Lu Han menghela napas, menatap langit-langit ruangan, “Aku lebih suka di sini.”

“Apa kau sudah makan?” tanya wanita itu. Lu Han menggeleng pelan.

Wanita itu menepuk dahinya, “Ya Tuhan! Jangan bilang, kau belum keluar dari sini sejak anak-anak bubar tadi.”

Lu Han menunjukkan cengirannya, “Kau benar, jiejie.”

“Anak ini~” wanita itu menggelengkan kepalanya tak percaya. Menarik lengan Lu Han agar berdiri, “Ayo. Aku yang traktir.”

Sekali lagi, Lu Han hanya menghela napas. Membiarkan tubuhnya ditarik oleh wanita itu keluar dari sanggar tari.

•••••

“Dari mana saja kau? Kenapa baru pulang?” Setibanya di rumah, Lu Han mendapat sambutan dingin dari sang ayah.

Menghela napas, tanpa menatap sang ayah, Lu Han melanjutkan langkahnya.

“Lu Han!!”

Lu Han mempercepat langkah, membanting pintu segera setelah masuk ke kamarnya. Cukup terkejut saat berbalik menemukan sang ibu duduk di tepi ranjangnya.

“Apa yang Mama lakukan di sini?”

Ibunya berdiri, menghampirinya. “Xiao Lu, bisakah kau tidak membuat Papamu marah setiap hari? Hari ini, Papamu benar-benar mengamuk. Karena kau sudah menghilang pagi-pagi buta, kau menon-aktifkan ponselmu seharian, dan kau baru pulang tengah malam seperti ini.”

Mengambil napas sejenak, ibunya melanjutkan, “Pergi kemana kau seharian ini?”

Lu Han dapat mendengar ada kemarahan dari pertanyaan terakhir ibunya. Oh, bagus, sekarang Mama sudah tidak memihak padaku, pikirnya.

“Besok, aku tidak akan pergi pagi-pagi buta lagi, Ma. Sekarang, aku ingin beristirahat. Sebaiknya, Mama juga segera beristirahat,” ucap Lu Han, mengabaikan pertanyaan ibunya.

Ibunya cukup cepat untuk menahan lengannya, ketika Lu Han akan beranjak, “Katakan pada Mama, Xiao Lu. Ada apa denganmu? Mama hampir tidak mengenalimu lagi.”

Lu Han menatap ibunya tak percaya, “Ada apa denganku? Ada apa dengan kalian?” membebaskan lengannya, beranjak menuju pintu kamar. Kembali terkejut, mendapati ayahnya sudah berdiri di depan kamarnya.

“Mau kemana lagi kau?” dengan gerakan cepat, ayahnya menarik lengan Lu Han dan membawanya kembali masuk ke kamar.

Lu Han yang masih shock kembali tersadar ketika mendengar pintu kamarnya terkunci dari luar. Kedua orang tuanya sudah keluar dari kamarnya. Berusaha membuka pintunya, namun tidak mebuahkan hasil. Lu Han memukul pintu, mengumpat.

Melempar tubuhnya ke kasur, tanpa melepas mantel, memaksa matanya terpejam.

•••••

Sudah dua hari sejak kejadian itu, dan Lu Han tidak keluar dari kamarnya sama sekali. Bahkan beranjak dari ranjangnya. Dia hanya menggelung tubuhnya dengan selimut, dan memaksa matanya untuk terus terpejam saat bibi Shu—pelayan di rumahnya—membawakan makanan untuknya. Membujuknya untuk bangun dan makan.

Hari ini, ibunya yang datang membawakan sarapan. Lu Han bisa mengetahuinya dari langkah kaki beralas high heels itu.

“Xiao Lu, Mama memasak makanan kesukaanmu. Makanlah. Tidak enak kalau sudah dingin,” ucap sang ibu dengan lembut, mengusap rambut Lu Han.

Lu Han tak bergeming. Dia terlihat seperti benar-benar sedang tidur, napasnya teratur. Namun, sang ibu tahu, itu hanya sandiwara. Meski samar, ekspresi keras ada di wajahnya.

“Xiao Lu, mau sampai kapan seperti ini terus, hm?” dengan lembut, ibunya masih mengusap rambutnya.

“Tolong, jangan keras kepala, Xiao Lu. Sekali saja. Mama memohon padamu,” mendengar kalimat itu terucap oleh ibunya, air mata Lu Han mengalir tanpa di sadarinya.

“Kau sudah dewasa, Xiao Lu. Papa dan Mama tidak akan muda selamanya,” air mata Lu Han mengalir semakin deras mendengar kelanjutan penuturan ibunya.

Masih dengan mata terpejam, dan air mata mengalir deras, Lu Han bangkit dari posisinya dan segera memeluk ibunya.

“Maafkan aku,” bisiknya.

Sang ibu membalas pelukannya, dan mengusap rambutnya berkali-kali sebagai jawaban.

Setelah menghabiskan sarapannya dengan beurai air mata, Lu Han beranjak ke kamar mandi. Sementara sang ibu menunggunya di kamar. Kemudian, dengan ditemani sang ibu, Lu Han pergi kantor ayahnya untuk meminta maaf.

“Papa bukannya tidak mau memaafkanmu, Xiao Lu. Bagaimanapun, kau adalah anakku. Papa tidak mungkin membencimu,” ucap ayahnya setelah Lu Han menyampaikan permintaan maafnya.

Sang ibu meninggalkannya hanya berdua di ruang kerja sang ayah. Membiarkannya menyelesaikan masalah yang telah dibuatnya. Lu Han tidak menjawab. Membiarkan ayahnya menyampaikan semua yang ingin dikatakannya.

“Tapi, Papa sudah tidak tahu harus melakukan apa lagi untuk menanganimu. Papa masih tidak mengerti, kenapa kau tidak mau melanjutkan kuliahmu? Kau tidak ingin mewarisi perusahaan ini?” tanya sang ayah dengan tegas.

Lu Han masih menundukkan kepalanya, menjawab, “Aku tidak mengerti tentang bidang ini. Aku juga tidak suka.”

Sang ayah menghela napas kasar, mencoba menahan emosinya, “Lalu, apa yang kau suka? Bekerja di sanggar itu? Mengajari anak-anak SD menari?”

Lu Han mengangkat kepalanya, menatap lurus ke kedua mata ayahnya, “Ya,” jawabnya tegas. “Aku suka menari. Aku suka mengajari anak-anak menari.”

Sebelum sang ayah sempat mengatakan sesuatu, Lu Han kembali berucap, “Kalau Papa tidak suka dengan keputusanku, aku bisa pergi-”

“Jangan membuat Papa marah lagi, Lu Han!” bentak ayahnya. Lu Han terdiam di tempatnya.

“Belum ada sepuluh menit sejak kau meminta maaf, dan kau ingin membuat Papa marah lagi? Apa sebenarnya maumu?” tanya ayahnya, mencoba meredam emosinya yang sempat tak terkendali.

Menggigit bibir bawahnya, Lu Han memikirkan, kalimat apa yang tepat untuk diucapkan saat ini.

“Beberapa hari lalu, Papa mendiskusikan hal ini dengan Mamamu, dan Mamamu tampak setuju,” sang ayah kembali berucap saat Lu Han tak kunjung bersuara. “Kali ini, Papa memohon padamu. Menurutlah.”

Apa lagi sekarang? Kenapa orang tuanya harus menggunakan kata ‘memohon’ untuk membujuknya? Lu Han tidak suka jika kedua orang tuanya harus memohon padanya. Dia merasa seperti anak durhaka. Hal itu membuatnya tidak mempunyai pilihan lain, selain menurut.

•••••

Tahun ini, Lu Han berusia genap duapuluh delapan tahun. Sudah sepuluh tahun sejak terakhir kali orang tuanya mengetahui bahwa dia berkencan dengan seseorang. Semenjak masuk kuliah, Lu Han tampak tidak dekat dengan pria manapun. Orang tuanya berpikir, mungkin putrinya ingin fokus pada kuliah. Namun, tidak pada kenyataannya.

Nilai-nilai Lu Han tidak ada yang baik, semua hanya dibatas rata-rata. Atas inisiatifnya sendiri, Lu Han mulai membolos kuliah. Agar terlihat seolah-olah dia pergi kuliah, Lu Han menghabiskan harinya di sanggar tari sebelum kembali ke rumah.

Sampai suatu hari, tindakannya ketahuan oleh orang tuanya. Lu Han disidang oleh ayahnya dan dilarang keluar rumah sebagai hukuman. Namun, Lu Han berhasil kabur dan mengungsi di sanggar tari. Pemilik sanggar membantunya bersembunyi dan memberinya pekerjaan. Membantu mengajari anak-anak SD menari balet, karena Lu Han berbakat.

Lu Han melakukan tindakan pemberontakannya itu bukan tanpa alasan. Alasan terkuat adalah Lu Han selalu merasa sendiri. Kedua orang tuanya sama-sama berkarir. Sejak kecil, Lu Han diurus oleh bibi Shu. Di sekolah, dia juga tidak terlalu mempunyai teman. Teman-temannya hanya memanfaatkan kekayaannya. Lu Han muak, dan memilih untuk tidak mempunyai teman.

Di SMA, untuk pertama kalinya, Lu Han merasa diperhatikan. Ada seorang siswa yang menunjukkan ketertarikan padanya, sekalipun Lu Han selalu menyikapinya dengan dingin. Di tahun kedua, mereka berakhir dengan berkencan, selain itu, dia juga mendapatkan seorang sahabat. Baginya, tahun kedua SMA adalah masa berakhirnya kesendiriannya. Setidaknya, dia mempunyai tempat untuk melampiaskan perasaan senang maupun sedih. Entah itu pada kekasihnya, atau pada sahabatnya.

Namun, mungkin Lu Han masih terlalu naif. Di hari terakhirnya di SMA, dia mendapatkan pengkhianatan dari kekasih dan sahabatnya. Sejak hari itu, dia mulai tidak percaya pada siapapun. Semua orang terlihat seperti pengkhianat baginya. Kedua orang tuanya tidak mengetahui hal ini. Lu Han berubah menjadi seorang pemberontak tanpa disadarinya.

•••••

Jika ada seorang pemberontak yang penurut, itu adalah Lu Han. Namun, dia menurut karena terpaksa. Lu Han sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi anak gadis yang baik untuk sehari ini. Dia menuruti semua permintaan kedua orang tuanya. Kini, dia duduk dengan kedua orang tuanya, di sebuah restoran hotel bintang lima, bersama keluarga dari mitra kerja ayahnya. Lu Han bisa membaca situasi begitu tiba di tempat.

Sebelumnya, Lu Han sudah di-briefing oleh kedua orang tuanya perihal ini. Lu Han hanya pasrah pada keputusan kedua orang tuanya. Lu Han hanya tidak ingin menjadi pembunuh karena tindakan pemberontakannya. Sisi pemberontak Lu Han mengartikan tindakan kedua orang tuanya sebagai tidak-sanggup-menanganinya-lagi. Pria berwajah dingin yang duduk berhadapan dengannya kini adalah calon suaminya.

“Berapa usiamu?” tanya pria itu setelah acara diskusi berakhir. Kedua orang tua mereka memaksa mereka agar mengobrol berdua.

“Duapuluh delapan,” jawab Lu Han, jujur, singkat, dan terdengar tidak mau melanjutkan percakapan.

“Aku dua tahun lebih tua darimu. Bersikaplah yang sopan padaku,” ucap pria itu kemudian.

Lu Han akhirnya menatap pria itu, dan tersenyum sinis. Dia akan menikah dan tinggal bersama orang seperti ini? Dia seolah bisa meramalkan bagaimana dan berapa lama kehidupan rumah tangganya akan berlangsung.

“Kenapa kau mau saja dijodohkan oleh orang tuamu?” tanya Lu Han pada akhirnya, secara informal.

“Sejujurnya, aku tidak peduli pada hal seperti jodoh atau apapun itu. Aku sudah bahagia dengan kehidupanku. Aku mempunyai pekerjaan dan jabatan yang mapan, dan perusahaan sendiri. Aku tidak butuh pasangan hidup karena aku hanya mencintai pekerjaanku,” jelas pria itu, tanpa menatap Lu Han.

Lu Han kembali tersenyum sinis. Sombong sekali orang ini, pikirnya.

“Apa kau korban tidak bisa move on, atau… gay?” tanya Lu Han.

Pria itu kini menatapnya, dengan tatapan yang seolah mampu melubangi kepala Lu Han. Tidak tinggal diam, Lu Han membalas tatapannya, menantang.

“Jaga bicaramu, nona muda.”

Lu Han tertawa hambar, “Lalu, apa kau ingin membuat surat kontrak denganku? Mengenai pernikahan nanti? Mungkin kita cukup menikah selama satu tahun, kemudian bercerai?”

“Kau pikir ini drama? Aku tidak mau melakukan drama murahan di kehidupanku. Kita jalani saja apa yang ada. Selama tidak ada perasaan terlibat di antara kita, tidak ada masalah, kan? Kau menikah denganku. Kau tinggal bersamaku di Vancouver. Setelah itu, kau boleh melakukan apapun yang kau suka. Aku tidak akan melarangmu. Aku akan memfasilitasinya, jika kau tidak keberatan,” jelas pria itu.

Lu Han agak tertegun mendengar penjelasannya, “Vancouver? Kanada?”

“Ya. Aku tidak mungkin meninggalkan pekerjaanku di sana. Jadi, kau harus ikut denganku. Bukankah itu kewajiban seorang istri?”

“Jadi, kau ingin aku meninggalkan pekerjaanku di sini?” tanya Lu Han, tanpa disadarinya, suaranya meninggi.

“Kenapa? Kau tidak mau? Kau bisa mencari pekerjaan yang sama di sana. Sudah kubilang, aku akan memfasilitasinya. Tidak perlu khawatir kau akan menganggur di sana,” tutur pria itu. Entah kenapa, semua kalimat yang diucapkan pria itu, bagi Lu Han terdengar seolah dia berkuasa di sana.

Lu Han terdiam, menimbang-nimbang pilihannya. Dia sudah berjanji akan menuruti keinginan kedua orang tuanya. Dan kedua orang tuanya ingin dia segera menikah, dengan pria paling sombong yang pernah ditemuinya ini. Dan menjadi penurut artinya, dia harus merelakan apa yang telah dimiliki dan dicintainya saat ini, pekerjaannya.

Menghela napas pelan, Lu Han berucap, “Baiklah.” Menatap pria itu seraya menyodorkan jari kelingkingnya, “Berjanjilah, kau mampu menjaminku mendapatkan pekerjaan yang sama di sana. Wu.Yi.Fan.”

Pria bernama Wu Yifan itu mengaitkan kelingkingnya pada Lu Han, “Tentu. Aku tidak akan mengingkarinya, Lu Han,” dan tersenyum sinis. “Ngomong-ngomong, seberapa bagus bahasa Inggrismu?”

>next<

A/N:

Hello! ^^

Akhirnya aku mem-posting part 1 untuk fanfiction ini, setelah bergelut cukup lama dengan pikiranku sendiri. Aku benar-benar ragu untuk mem-posting-nya, tapi akhirnya kulakukan.

Ide untuk cerita ini kudapatkan begitu saja ketika aku sedang melamun sambil menunggu matahari terbit, suatu hari di pertengahan tahun 2016. Selama proses, aku teringat dengan sebuah novel berjudul Anna Karenina, dan mencoba untuk mengkombinasikannya, menjadikan sebagai referensi.

Semoga ini tidak mengecewakan. Aku mencoba belajar menulis dengan bahasa yang sedikit tidak biasa atau agak menjurus ke sastra, tapi hasilnya sama saja. -___-

Oia, karena jadwal kegiatanku di kampus tidak menentu sekarang, mungkin aku akan meng-update fanfiction ini setiap satu bulan sekali. ^^v

So, mind to tell me your opinion?

Big Heart,

Ranifa Billy

Advertisements

3 thoughts on “[Fanfiction] Tangled (part 1) | FanHan/KrisHan/KrisLu

  1. Finally, this is what i waiting for.
    Thank you bgt Ranifa aaahhh~ seneng bangeeeeettttt KrisHan sailing lagi hahaha.
    Weh, Lulu disini nakal ya haha. Good girl gone bad ini mah tapi tetep penurut hoho
    Wah, KrisHan dojodohin yehet. Awalnya aja sok-sokan bilang gak pake perasaan, ujung-ujungnya mah saling jatuh cinta tuh cieeeee~ suwiwit XD
    Apa ini bakalan jadi marriage life gitu ya? Wah, aku gk sabar baca lanjutannya.

    Uhm, oh ya, berhubung KrisHan married, bisa kali nanti ada chap BERLABEL M+ *yadong mode on* PLEASE PLEASE PLEASE!!!
    Demi apa, aku seneng bgt. KrisHa. Always make my day 😘

    Last but not least,
    Tulisan kamu bagus kok, aku juga suka liat cara kamu nulis malah haha *ketahuan*
    aku sih berharap kamu bisa update dua minggu sekali hehe, tapi kalo kamu bisa jamin untuk rutin update sebulan sekali sih aku gk masalah asal kamu konsisten lanjutin ff ini sampe kelar. I love KrisHan fiction so much apalagi GS haha.
    Oh ya, my parent love story-nya juga dilanjut juga ya, udah lama nih blm update lagi.
    DITUNGGU LANJUTANNYA JUSEYO~

  2. Kereeen pisan ini teh..
    Lanjut atuh critanya..
    Gak sabar baca moment abis nikah pasti awkward, gemes in, nyebelin gitu ya..Di tunggu next chapternya… 😍😘
    Hwaitiiing.. 💪

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s