[Fanfiction] Tangled (part 2) | FanHan/KrisHan/KrisLu

Fanfiction

tangled-cover-1

Tangled © 2016

A KrisLuhan Fanfiction by Ranifa Billy

Cast

Lu Han

Kris Wu Yifan

Other Cast

Song Qian [f(x)’s Victoria]

Pairing

FanHan / KrisHan / KrisLu

Genre

Romance, Drama, Angst, (a bit Humor)

Rate

PG-15

Warning

fem!Lu, younger!Lu, typo(s), OOC

(A/N: This idea came when I was spacing out while waiting for sunrise. Then I remembered a novel, Anna Karenina, and decided to write this. I’ll update this fanfiction once a month.)

Happy Reading! Enjoy!

•••••

Part 2

“Lu Han! Aku tidak menyangka, kau mendahuluiku. Padahal, kan, kau tidak berkencan dengan siapapun sebelumnya. Bagaimana kau bisa menikah lebih dulu?” rengek Song Qian, memeluk Lu Han dari belakang.

Lu Han sedang duduk di depan meja rias, menatap lurus pada pantulan dirinya di cermin. Wajah mulus yang biasanya hanya dilapisi BB cream, kini telah tertutup full make-up sederhana. Rambut sepunggung yang biasanya diikat ekor kuda, kini terurai dan berhiaskan tiara kecil. Mengenakan gaun putih dengan bahu terbuka, tidak menyangka hari ini tiba begitu cepat. Hari ini adalah pernikahannya.

“Aku yang lebih tua darimu, yang sudah berkencan selama empat tahun terakhir ini bahkan belum menikah. Oh, betapa beruntungnya dirimu,” lanjut Song Qian, dramatis. Menata rambut Lu Han yang sedikit berantakan.

Lu Han melirik pantulan diri Song Qian dari cermin, “Sudah kubilang, aku dijodohkan. Jadi, ini terpaksa,” ucapnya dengan berbisik, mengingat masih ada beberapa orang—bride’s staff—yang berkeliaran di ruangan itu. “Lalu, kenapa kau tidak meminta Zhoumi ge untuk segera melamarmu, jiejie?”

“Benar juga, ya? Kenapa Zhoumi belum juga melamarku, ya? Kami, kan, sudah tua. Jangan-jangan, hubungan kami selama ini palsu,” ucap Song Qian, dramatis (lagi), menempelkan kedua tangannya di pipi.

Lu Han hanya memberinya tatapan datar. Sudah terbiasa dengan sifat dramatis dari seniornya. Song Qian juga merupakan pelatih di sanggar tari tempat Lu Han bekerja. Dia belajar banyak hal dari wanita yang dua tahun lebih tua darinya itu.

“Tapi Lu Han,” wanita itu duduk di kursi kosong di samping Lu Han. “Mungkin sekarang kau mengatakan, menjalani semua ini karena terpaksa. Siapa yang tahu dengan masa depan? Siapa yang tahu, mungkin saja pria ini sebenarnya adalah jodoh yang disiapkan Tuhan untukmu. Kalian mungkin tidak saling mencintai sekarang. Namun, cinta bisa datang kapan saja, kau tahu? Semua hanya masalah waktu.”

Mendengar kuliah dari seniornya, Lu Han tertawa hambar, “Terima kasih sudah menghiburku, jiejie.”

Saat itu, terdengar suara ketukan di pintu. Salah seorang staff membukakan pintunya dan tampak berdiri menjulang bak pangeran impian dari negeri dongeng, Wu Yifan dengan setelan dan tatanan rambut yang rapi. Kesan pertama Lu Han untuk pria itu hilang sudah. Lu Han memalingkan wajah. Tidak mau melihat pemandangan yang tidak baik untuk mata itu terlalu lama.

Song Qian tersenyum penuh arti pada Lu Han, “Aku keluar dulu, ya. Semoga berhasil!” seraya beranjak dari tempatnya, dia memberi tepukan ringan di lengan Lu Han. Memberi senyuman pada Wu Yifan saat berpapasan dengannya, yang dibalas dengan senyuman sopan dari pria itu.

Wu Yifan melangkah menghampiri calon istrinya dan duduk di kursi yang ditempati Song Qian sebelumnya. Tanpa disadari oleh Lu Han bahwa mereka hanya berdua di ruangan ini. Semua staff juga telah meninggalkan ruangan.

“Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya pria itu dengan suara tenang.

Tanpa menatapnya, Lu Han menjawab, “Biasa saja.”

“Begitu, ya? Jadi, aku tidak perlu terlalu mengkhawatirkanmu untuk hari ini,” gumam Wu Yifan, menyamankan duduknya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Lu Han, masih tanpa menatap pria itu. Entah kenapa dia merasa tidak nyaman saat menyadari mereka hanya berdua. Mungkin karena beberapa menit lagi mereka akan menjadi pasangan suami-istri.

“Menemui calon istriku. Apa lagi?” jawab Wu Yifan, santai.

Pria itu tidak tahu efek dari jawabannya. Lu Han berusaha menahan agar pipinya tidak merona. Wanita itu juga tidak tahu, meski dia memalingkan wajahnya sejak tadi, Wu Yifan dapat melihat wajahnya dari pantulan cermin. Dan tidak mengetahui efek apa yang didapatkan pria itu.

“Aku pergi dulu,” Wu Yifan beranjak dari tempatnya, melangkah keluar ruangan. Menyandarkan punggungnya setelah menutup pintu, menatap langit-langit koridor.

“Sial! Ada apa denganku?” menutup wajahnya yang terasa panas dengan kedua telapak tangan.

•••••

Upacara pernikahan berlangsung lancar dan normal. Kedua orang tua Lu Han sempat merasa khawatir jika putrinya berbuat ulah di acara sakral ini. Seperti melarikan diri saat mengucapkan janji suci, misalnya. Namun, dia tak melakukan hal-hal yang abnormal, mengikuti semua alur dengan baik.

“Aku akan segera menyusulmu, Lu Han~” seru Song Qian setelah berhasil menangkap sebuket bunga yang dilempar Lu Han.

Cukup terkejut ketika Wu Yifan menggenggam tangannya, Lu Han menurut saja ketika pria itu membawanya melangkah keluar gereja menuju mobil pengantin yang menunggu di luar. Mereka akan ke salon pengantin untuk mengganti kostum, kemudian menuju gedung yang telah disewa untuk resepsi pernikahan mereka.

Tanpa sepengetahuan Wu Yifan, Lu Han memperhatikannya sesekali. Wanita itu berpikir, pria itu—suaminya—sangat profesional dalam menangani semua hal yang terjadi hari ini. Caranya menyambut para tamu undangan yang hadir. Caranya menunjukkan kemesraan—palsu—nya dengan Lu Han di depan para tamu. Dan yang lainnya, yang dapat membuat orang-orang berpikir bahwa keduanya bahagia dengan pernikahan ini.

“Ini pernikahanmu yang ke-berapa?” tanya Lu Han asal, mengikat rambutnya ke atas.

Mereka sedang berada di kamar hotel bintang lima yang telah disiapkan. Lu Han baru saja selesai membersihkan dirinya. Sementara Wu Yifan—masih dengan setelan lengkap—tidur-tiduran di ranjang, televisi menyala dengan volume maksimum.

“Hei, aku bertanya!” seru Lu Han, merebut remote televisi dan menurunkan volume.

“Apa?” sahut pria itu malas. Duduk di tengah ranjang, melepas jas, melemparnya ke lantai dengan asal.

“Ini pernikahanmu yang ke-berapa?” ulang Lu Han, melipatkan kedua tangannya di depan dada.

Wu Yifan menoleh, menatapnya tajam, “Pertanyaan macam apa itu?”

“Jawab saja,” ucap Lu Han, memaksa.

“Bagaimana bisa pertanyaan itu muncul di otakmu?” Wu Yifan kembali bertanya.

Menghela napas, Lu Han menjelaskan, “Kau terlihat profesional menangani para tamu, maksudku, pernikahan ini. Aku jadi pernasaran, sudah berapa kali kau menikah.”

Memamerkan seringaiannya, Wu Yifan melangkah menghampiri Lu Han. Mendorong wanita itu hingga terbaring di ranjang dan memerangkapnya dengan kedua lengan. “Bagaimana menurutmu?” tanyanya, mendekatkan wajahnya pada Lu Han.

Mendapat perlakuan yang tidak biasa seperti itu membuat Lu Han memejamkan kedua matanya, dan berdoa akan keselamatannya. Setelahnya, dia dapat mendengar pria di atasnya tertawa mengejek. Saat kedua matanya terbuka, Wu Yifan sudah tidak ada. Pria itu masih tertawa—menyebalkan—seraya melangkah ke kamar mandi. Lu Han mengumpat dan melempar bantal ke lantai.

•••••

Lu Han merasa tidak mampu. Membayangkan berada di atas awan selama kurang lebih duabelas jam membuatnya pusing. Dia bahkan tidak bisa mengingat kapan terakhir kali dia tidur di kamarnya sendiri. Padahal baru dua hari yang lalu.

Sang ibu duduk di sampingnya, membantu menenangkan pikirannya tentang ketakutan-ketakutannya selama berada di pesawat nanti. Lu Han paling tidak suka bepergian dengan pesawat terbang. Kenapa dia harus meninggalkan Beijing, sih?

Tadi pagi, dari hotel, Wu Yifan membawanya pulang ke rumah untuk mengambil barang-barang yang akan dibawanya ke Vancouver. Ya, benar. Mereka menikah kemarin dan berangkat ke Vancouver hari ini. Betapa melelahkannya hari-hari Lu Han.

Saat membuka pintu, Lu Han merasa kamarnya hampa. Ada yang berubah. Nampaknya ada yang membereskan barang-barangnya. Ada dua koper besar di samping ranjangnya. Dia membuka lemari pakaiannya dan melihat hanya ada beberapa potong pakaian yang sengaja ditinggal.

Lu Han merebahkan tubuhnya ke ranjang. Mencoba mencerna apa saja yang telah terjadi. Masih tidak bisa mempercayai bahwa dia telah menjadi istri orang. Tanpa disadari, air matanya mengalir. Menutup wajah dengan bantal, Lu Han mulai terisak. Dalam hati, dia berharap bisa menjadi gadis kecil orang tuanya lagi. Ini menit-menit terakhirnya di rumah. Apa kedua orang tuanya bahagia karena dia sudah menikah?

“Yifan, Lu Han mempunyai acrophobia. Tolong bantu dia saat pesawatnya akan take off, ya?” Lu Han dapat mendengar ibunya berbicara pada suaminya.

“Xiao Lu, dengarkan Mama,” kali ini sang ibu bicara padanya. “Jangan bersedih. Ini bukan perpisahan. Ini adalah awal kehidupanmu yang baru. Kau masih bisa bertemu lagi dengan Mama dan Papa. Kita masih bisa berkomunikasi melalui video call. Yifan akan membawamu kembali ke Beijing kalau dia mendapat hari libur. Dan jadilah istri yang baik. Tidak masalah kau tidak bisa memasak saat ini. Yang penting adalah kau patuh pada suamimu,” sang ibu mengakhiri pesannya seraya mengusap rambut Lu Han.

Mendengar penuturan panjang dari sang ibu membuat Lu Han tidak mampu lagi menahan air matanya. Dengan gerakan cepat, Lu Han memeluk sang ibu dan menangis sepuasnya.

“Hubungi kami saat kalian sudah mendarat, ya?” pesan ayah Lu Han pada keduanya.

“Ya. Segera setelah kami keluar dari pesawat,” jawab Wu Yifan, mewakili. Merengkuh Lu Han yang masih terisak kecil.

“Hati-hati,” ibu Lu Han memeluk dan mengecup kening putrinya, kemudian beralih memeluk menantunya. Begitu pula dengan sang ayah.

•••••

Pada awalnya, Lu Han berpikir, suaminya tinggal di Vancouver dengan kedua orang tuanya—mertuanya. Namun, tidak pada kenyataannya. Pria itu mempunyai unit apartemen mewah yang ditinggalinya sendiri. Orang tuanya memang—juga tinggal di Vancouver, tapi pria itu memutuskan untuk tinggal sendirian semenjak dia mendirikan perusahaannya sendiri.

Wu Yifan mengajak Lu Han berkeliling apartemen—tanpa membiarkan wanita itu beristirahat sejenak. Dia menunjukkan ruangan-ruangan dan interior apa saja yang ada, serta kamarnya—yang sekarang menjadi kamar mereka.

“Kita berbagi kamar?” tanya Lu Han.

“Tentu saja.”

“Apa tidak ada kamar kosong untukku?” tanya Lu Han (lagi).

“Apa maksudmu? Kita sudah menjadi suami-istri, tentu saja kita sekamar. Lagipula, aku tidak akan melakukan hal itu padamu. Jangan khawatir,” jelas Wu Yifan, sedikit ngotot.

Lu Han mencibirnya, “Benarkah? Lalu, kenapa saat di hotel, kau memilih tidur di sofa dan tidak di ranjang bersamaku, hm?” tanyanya, menantang.

Wu Yifan tertegun, namun tidak menunjukkannya. Bisa jatuh harga dirinya.

“Sudahlah. Tunjukkan saja padaku di mana kamar kosongnya. Aku mau beristirahat,” ucap Lu Han acuh.

Kopernya ditinggalkan di ruang tamu, Lu Han merebahkan tubuh di ranjang. Memejamkan mata, mencoba tertidur. Di pikirannya berkelebat banyak hal. Seperti, bagaimana kehidupannya akan berlangsung mulai detik ini. Suaminya memang tampan dan kaya. Tapi, dia tidak bahagia.

Lu Han merasa, sebagian dari kebebasannya telah diambil begitu saja. Dia tahu sendiri, sisi pemberontaknya bisa muncul kapan saja saat ini. Atau mungkin akan menjadi sisi dominan pada dirinya. Dia tidak lagi mempunyai alasan untuk tersenyum.

•••••

Tidak ada honeymoon untuk pernikahan mereka. Lu Han juga tidak mengharapkannya. Wu Yifan langsung kembali bekerja keesokan harinya, seolah tidak terjadi apapun pada kehidupannya. Pria itu sudah tidak ada di kamarnya saat Lu Han terbangun. Membuat wanita itu berkomunikasi dengan lemari pendingin. Setelah membaca memo yang tertempel di pintunya, Lu Han melihat ke dalam.

“Kenapa tidak ada makanan di sini?” gumamnya. Menyeret kakinya dengan malas ke ruang tamu. Kedua kopernya masih bertahan di sana hingga detik ini.

Lu Han menemukan sekotak cokelat yang sempat dibelinya di bandara sebelum take off. Senyuman terbentuk di bibir tipisnya. Setidaknya, itu bisa mengganjal perutnya untuk sementara. Membuka kemasan, dan bibirnya membentuk kurva menurun ketika mengetahui kondisi di dalam kotak itu.

“Cokelatnya meleleh~” rengeknya.

Ada telepon kabel di apartemen pria itu—apartemen mereka. Sebuah ide untuk melakukan delivery muncul di pikirannya. Tapi, mengingat bahasa Inggrisnya yang buruk, membuatnya kembali murung. Lu Han memeriksa daftar kontak di ponselnya, dan baru menyadari sesuatu. Dia tidak mempunyai nomor ponsel suaminya.

Detik itu, dia merasa ingin membanting apapun yang ada di sekitarnya. Namun, niatnya batal saat pandangan matanya tertuju pada sekotak kartu nama di dekat telepon kabel. Itu kartu nama milik suaminya. Dengan segera, Lu Han menghubungi nomor yang tertera di sana.

Pada nada sambung keenam, panggilannya terjawab, Hello?”

“Ini aku. Kau tahu di mana aku bisa mendapatkan makanan?” tanpa menyapa, Lu Han langsung ke intinya. Dia tidak ingin membuat percakapan yang panjang.

Lu Han dapat mendengar pria di seberang menghela napas lelah, “Maaf, meninggalkanmu tanpa makanan di rumah.”

“Bagus, kalau kau sadar telah membuat kesalahan,” sahut Lu Han. “Sekarang katakan padaku, di mana aku bisa mendapatkan makanan.”

Sekali lagi, Wu Yifan menghela napas, suaranya terdengar lelah, “Kau tunggu saja. Aku akan melakukan delivery untukmu. Kau ingin makan apa?”

“Apa saja,” jawab Lu Han terlampau cepat.

“Sungguh? Kau tidak alergi terhadap sesuatu?” tanya Wu Yifan.

Lu Han terdiam sejenak sebelum menjawab dengan lirih, “Menu sarapannya McD saja.”

Setelah panggilan berakhir, Lu Han memikirkan sikap Wu Yifan padanya. Apa itu? Pria itu perhatian padanya? Ah, itu hanya kewajibannya.

Tidak tahu harus melakukan apa, Lu Han memilih mengelilingi apartemen sekali lagi setelah membereskan bekas sarapannya. Mencoba menghafal letak ruangan-ruangan dan perabot yang ada. Menata barang-barangnya di kamarnya. Dan melakukan rutinitas membosankan.

Selama sepekan sejak pernikahan mereka. Lu Han sudah hapal dengan semua hal yang akan terjadi dalam satu hari. Ketika bangun keesokan harinya, dia selalu mendapati dirinya sendirian di apartemen. Berdiri di depan lemari pendingin, dan menemukan memo yang sama dari Wu Yifan. Menurutnya, memo itu tidak pernah lepas dari sana sejak pertama kali ditempelkan. Melahap sarapan seadanya. Membersihkan diri. Menonton televisi atau bermain dengan laptopnya sampai tertidur lagi.

Hari ini, Lu Han memutuskan untuk melakukan aktivitas yang produktif. Seperti, meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya. Setelah membersihkan diri, Lu Han bersiap-siap untuk melihat seperti apa Vancouver dari luar apartemennya. Berjalan-jalan di sekitar komplek apartemen, dan melihat aktivitas yang dilakukan orang-orang asing.

Namun, apa yang telah direncanakannya di apartemen tadi tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi saat ini. Lu Han tersesat. Dia hanya terduduk diam di bangku di depan sebuah mini-market. Tidak membawa dompet, bahasa Inggris level menengah-ke bawah, dan lupa tidak mencatat nomor ponsel suaminya. Merasa menjadi orang tersial hari itu.

Memperhatikan orang-orang asing yang berlalu-lalang di hadapannya, dan sesekali melirik ke dalam mini-market, barang kali ada orang ras oriental—yang bisa bahasa Mandarin lebih bagus—yang mungkin menjadi harapannya untuk kembali ke apartemen. Setengah jam kemudian, Lu Han memilih beranjak dari tempatnya karena terik matahari mulai terasa menyengat kulit.

Bergantung dengan instingnya, Lu Han menyusuri trotoar, berbaur dengan orang-orang asing. Memperlambat langkahnya, mengamati poster-poster yang tertempel di dinding pertokoan di sepanjang trotoar. Lu Han berasumsi itu adalah pemberitahuan event-event anak muda, seperti street dance atau live performance group-band indie; atau lowongan pekerjaan; atau iklan.

Berhenti di depan salah satu poster yang warnanya paling mencolok, Lu Han mencoba memahami isinya. Itu terlihat seperti lowongan pekerjaan paruh waktu. Bicara mengenai pekerjaan, si Wu Yifan itu belum menunjukkan tanda-tanda akan mencarikan pekerjaan yang layak untuknya. Pekerjaan yang sama dengan yang pernah dilakoninya di Beijing. Pelatih tari di sebuah sanggar.

Needs some part-time job, young lady?” tiba-tiba, dia mendengar suara di sampingnya. Menoleh, Lu Han melihat seorang pria tinggi dari ras putih, tersenyum ramah padanya. Lu Han hanya menatapnya tanpa mengucapkan apapun. Tidak boleh berbicara dengan orang asing, batinnya.

Pria itu kembali berbicara padanya dengan bahasa Inggris yang tidak dimengertinya. Masih sama, Lu Han hanya diam menatapnya. Seolah menyadari ketidak-tertarikan Lu Han, pria itu berhenti bicara.

No English?” tanya pria itu. Lu Han menatapnya datar.

Yes English?” Lu Han masih tetap sama.

Just tell me, you speak English or not?” Setelah bertahan dengan ekspresi datarnya, Lu Han memilih melangkah—dengan cepat—pergi tanpa mengucapkan apapun.

>next<

p.s. percakapan terakhir aku adaptasi dari film Pitch Perfect 🙂

 

A/N:

Sorry for late update~~ *deep bow* Aku kesulitan dengan koneksi internet jadi, terlambat update.

Jika bahasa yang kugunakan dalam fanfiction ini mungkin ada yang menyinggung beberapa pihak, aku tidak bermaksud demikian, I’m sorry. Aku masih belajar membuat kalimat yang baik, sederhana, dan mudah dimengerti.

Aku juga minta maaf untuk ending part yang naggung. Untuk part ini masih datar-datar saja, konfliknya belum muncul. Semoga kalian menyukainya. Sampai jumpa di-update-an tahun depan~ 😀

 

Big Heart,

Ranifa Billy

Advertisements

2 thoughts on “[Fanfiction] Tangled (part 2) | FanHan/KrisHan/KrisLu

  1. Haha dari awal aja mereka udah cenat cenut. Cuma butuh di bombardir lagi sama moment sederhana tapi maknyuuss bisa bikin batin baper 😂😂 eaa eaaa KrisHan suuwiiiwiiiittt 😍

    Seneng kalo kamu konsis bisa update sebulan sekali. Jadi reader gk di gantung2 amat. Dan bisa mark-in kalender haha

    Aku suka momentnya, simple but its can make a electric spark between them hoho

    Berharap sih gk ada orang ketiga ya hehe aku. Pokoknya bikin KrisHan makin baper ama perasaan masing-masing dulu trus momentnya lebih naik level ya 😂😂 wait for the next chapter. Fighting!

  2. Aku baca part ini senyum² gaje.. Bisa² diabet mendadak nih baca interaksi mereka..
    Kayany benih lope² bang yipan ke neng Luhan udah mulai tumbuh nih.. 😘😍
    Jadi gemes².. Gemes..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s