[Fanfiction] Tangled (part 3) | FanHan/KrisHan/KrisLu

Fanfiction

cover-tangled-2

Tangled © 2017

A KrisLuhan Fanfiction by Ranifa Billy

Cast

Lu Han

Kris Wu Yifan

Other Cast

Jessica Jung

Jake Miller (OC)

Pairing

FanHan / KrisHan / KrisLu

Genre

Romance, Drama, Angst, (a bit Humor)

Rate

PG-15

Warning

fem!Lu, younger!Lu, typo(s), OOC

(A/N: This idea came when I was spacing out while waiting for sunrise. Then I remembered a novel, Anna Karenina, and decided to write this. I’ll update this fanfiction once a month.)

Happy Reading! Enjoy!

•••••

Part 3

Seperti biasa, menjalani rutinitas membosankannya, Lu Han tidur-tiduran di sofa, menonton film animasi berbahasa Inggris tanpa terjemahan bahasa Mandarin—tentu saja. Lu Han menganggap ini sebagai metode lain untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris level menengahnya. Langit Vancouver telah berwarna jingga tanpa disadarinya.

“Sedang apa?” Lu Han terkejut bukan main mendengar suara berat yang mulai dihapalnya sebagai suara suaminya. Dia tidak mendengar suara pintu terbuka ataupun langkah kaki, tiba-tiba pria tinggi itu sudah berdiri di belakang sofa yang ditidurinya.

“Kapan kau datang?” tanya Lu Han dengan suara tegang, kedua matanya masih terbuka lebar—karena terkejut—menatap Wu Yifan.

“Baru saja.”

“Kenapa sudah pulang?” Lu Han kembali bertanya, kali ini suaranya terdengar pelan. Entah kenapa, dia merasa kikuk saat melontarkan pertanyaan itu.

Wu Yifan tidak segera menjawab. Menatap Lu Han yang memalingkan wajah ke televisi, “Nanti, kau ikut denganku.” Setelah mengatakan itu, dia beranjak menuju kamar. Meninggalkan Lu Han yang menatapnya dengan tanda tanya.

“Orang aneh,” gumamnya.

Sore itu, Wu Yifan mengajak Lu Han ke sebuah salon kecantikan yang merangkap dengan butik milik seorang kenalannya. Seorang wanita Korea berkewarganegaraan Amerika, Jessica Jung.

“Dia bisa berbahasa Mandarin,” bisik pria tinggi itu pada Lu Han setelah memperkenalkannya dengan Jessica.

Lu Han mengangguk pelan, mengerti, dan membalas senyuman ramah wanita di hadapannya.

“Panggil saja Jessica,” ucap wanita itu—dengan bahasa Mandarin, menyodorkan tangannya pada Lu Han.

“Lu Han,” menjabat tangan wanita itu. Lu Han berpikir, mungkin dia bisa menjadikannya sebagai teman.

So, pada akhirnya kau menikah dengan wanita, Kris Wu. Aku kira, kau akan menikahi pekerjaanmu,” sindir Jessica.

Shut up,” balas Wu Yifan dingin.

“Kenapa aku tidak mendapat undangan pernikahannya?” tanya wanita itu dengan sinis.

“Pernikahannya di Beijing,” jawab Wu Yifan seadanya.

“Apa menurutmu, aku dan Tyler tidak mampu mengeluarkan uang untuk biaya akomodasi di sana?” lagi-lagi, wanita itu berbicara dengan sinis.

Wu Yifan menghela napas, “Hanya pernikahan biasa. Tidak dibesar-besarkan. Hanya anggota keluarga dan beberapa teman dekat di Beijing saja yang diundang. Kenapa kecewa?” jelasnya.

Jessica tertawa mendengar penjelasan dari pria tinggi itu, “Okay. I understand. Don’t be mad,” menepuk pundak Wu Yifan beberapa kali.

Sementara yang dilakukan Lu Han hanyalah melihat dan mendengarkan percakapan antara kedua orang di depannya—yang tidak terlalu dimengertinya karena mereka berbicara dengan bahasa Inggris.

So, ada keperluan apa denganku?” tanya Jessica.

“Berikan gaun yang bagus dan cocok untuknya, dan lakukan apa yang seharusnya kau lakukan,” tutur Wu Yifan, lebih terdengar seperti sebuah perintah.

Jessica menganggukkan kepalanya, “Kau ingin aku meriasnya juga?”

Wu Yifan hanya mengangkat bahunya.

Jessica mencibirnya sebelum kembali bertanya, “Untuk acara apa?”

“Aku diundang untuk pesta jamuan makan malam oleh klienku,” jelas pria itu. “Tolong jangan berlebihan.”

Sekali lagi, Jessica mengangguk mengerti. Mengalihkan perhatiannya pada Lu Han yang sedari tadi terdiam, “Ayo, Lu Han. Ikut denganku.”

Lu Han sedikit terkejut mendengar wanita itu berbicara padanya. Apa dia melamun sejak tadi? Sebelum mengikuti Jessica yang sudah melenggang lebih dulu, Lu Han memberi Wu Yifan tatapan bertanya. Dia sama sekali tidak mempunyai petunjuk tentang hal yang dibicarakan kedua orang tadi.

Wu Yifan membalas tatapan itu dan berucap, “Ikut saja. Aku tunggu di sini.”

Meski masih diliputi perasaan tidak yakin, Lu Han tetap membawa langkahnya mengikuti Jessica.

•••••

“Ini berpasangan dengan gaun yang kupilihkan untuk istrimu,” tutur Jessica setelah merapikan jas yang dikenakan Wu Yifan. “Aku seperti sedang membantu anakku bersiap-siap untuk ke prom nite,” lanjutnya agak dramatis, membuat Wu Yifan menatapnya jengah.

“Tunggulah di tempatmu tadi. Mungkin dia sudah selesai,” ucap Jessica, meninggalkan ruangan.

Memeriksa penampilannya untuk terakhir kali, merapikan tatanan rambutnya, Wu Yifan melangkah keluar ruangan, kembali ke ruang tunggu. Dia masih harus menunggu Lu Han untuk beberapa menit ke depan. Dia tahu, wanita membutuhkan waktu yang lama untuk bersiap-siap.

“Kita akan pergi ke mana?” tanya sebuah suara lembut dalam bahasa Mandarin, bersamaan dengan suara langkah kaki beralaskan sepatu hak tinggi.

Wu Yifan mendongakkan kepala dan melihat istrinya bersama dengan Jessica Jung berjalan menghampirinya. Untuk beberapa detik, dia sempat terpesona pada penampilan Lu Han. Sempat kembali teringat pada Lu Han di hari pernikahan mereka. Dia mendapatkan kembali kesadarannya dan bersikap profesional seperti biasa, saat Lu Han sudah berdiri di depannya.

“Kau sudah selesai?” tanyanya, tanpa menjawab pertanyaan Lu Han.

“Wah~ kalian tampak serasi. Apa kalian juga tampak seperti ini di pernikahan?” Jessica menatap Wu Yifan dan Lu Han secara bergantian dengan mata berbinar.

More or less,” jawab Wu Yifan singkat. Lu Han tetap diam seperti awal.

“Ow, kalau begitu, aku ingin mengambil gambar kalian juga. Ini bagus untuk promosi,” tutur wanita itu, mengisyaratkan pegawainya untuk menyiapkan photo set. “Kalian tidak keberatan, kan?” tanyanya, lebih kepada Wu Yifan.

Menatap jengah pada wanita itu, Wu Yifan bertanya, “Kau berani membayar berapa?”

“Aku akan memberimu diskon untuk layanan kali ini,” ucap Jessica diakhiri dengan senyuman manis. “Setengah harga?” menambahkan saat pria tinggi itu menatapnya dengan mata menyipit.

“Tujuh puluh persen,” Wu Yifan menanggapi.

Kali ini Jessica Jung yang menatapnya jengah, “Kau benar-benar pelit, Kris Wu. Tujuh puluh persen untuk dua pose. We got a deal!” mengulurkan tangannya, menjabat paksa tangan Wu Yifan.

Okay.”

Setelah menyelesaikan negoisasi dengan Jessica Jung, Wu Yifan segera membawa Lu Han ke gedung pertemuan.

•••••

Tidak terbiasa dengan kondisi seperti ini, penuh orang asing, dan bukan di negaranya sendiri, Lu Han memilih duduk di kursi dekat meja hidangan pastry dan juice. Wu Yifan meninggalkannya untuk ke toilet. Memilin gaunnya, Lu Han menatap sekitar dengan pandangan awas. Berjengit saat merasakan sebuah tangan menepuk pundaknya.

“Kau mengagetkanku!” serunya dalam bahasa Mandarin. Dengan cepat menutup mulutnya, kedua matanya mendelik. Itu bukan Wu Yifan. Segera berdiri, membungkuk, dan meminta maaf pada pria itu.

I’m sorry,” ucapnya, wajah masih tertunduk.

Pria itu tertawa ringan, menyodorkan segelas minuman berwarna merah pekat padanya, “It’s okay. I’m the one who should said so. Sorry.”

Masih dengan raut khawatir, Lu Han hanya menatap pria itu.

Wine?” kembali, pria itu menyodorkan minuman yang dipegangnya pada Lu Han.

Lu Han menatap minuman itu sekilas sebelum menggeleng pelan, “No, thanks.”

So, you are a Chinese?” pria itu menaruh minumannya di meja, kembali memperhatikan Lu Han, “What are you doing here? Remember me?”

Cukup lama bagi Lu Han untuk menjawab hanya dengan gelengan kepala saja. Kali ini menatap pria itu dengan pandangan awas. Diam-diam berharap Wu Yifan segera kembali, menyelamatkannya dari situasi ini.

We met before, a few days ago. You know, the job vacancy?” Lu Han mencoba mengerti bahwa pria itu sedang menjelaskan sesuatu padanya. Apa mereka pernah bertemu sebelumnya? Tapi dimana? Siapa orang ini? Terlalu banyak orang yang Lu Han lihat dan temui saat pertama kali keluar dari apartemen. Ingatannya sedang payah.

Saat Lu Han memutuskan ingin lari dari tempatnya berdiri, Tuhan mengabulkan harapannya. Sebuah tangan menyentuh pinggangnya, Lu Han mendongak dan melihat Wu Yifan telah berdiri di sampingnya. Dalam hati berterima kasih pada Tuhan.

Long time no see,” sapa Wu Yifan—pada pria itu, yang terlihat agak terkejut dengan kehadiran dan gesture-nya pada Lu Han.

Hey, Kris Wu.”

“Jake Miller.”

•••••

Jam dinding besar di ruang tamu menunjukkan tepat dua menit sebelum tengah malam. Dengan menenteng high heels yang tadi dikenakannya, Lu Han melangkah masuk ke apartemen setelah Wu Yifan. Meletakkan high heels-nya di dekat sofa dan berbaring tertelungkup di sana.

Tidak pernah menyangka, jamuan makan malam bisa sampai selarut ini. Apa Wu Yifan sering mendapat undangan semacam ini? Ini menyebalkan, pikirnya. Karena dia telah menjadi Nyonya Wu, dia pasti akan sering diminta untuk mendampingi Wu Yifan ke acara-acara sejenis ini. Oh, Lu Han tidak mampu membayangkannya. Lu Han merindukan masa-masa dirinya menjadi gadis yang bebas.

“Tidur di dalam. Jangan di sini,” suara berat Wu Yifan mengejutkannya.

Bangkit dari posisinya, duduk di sofa, menatap pria itu—yang sudah berganti pakaian dengan piyama. Cepat sekali, pikir Lu Han. Dilihatnya, Wu Yifan berjalan menuju dapur, membuka lemari pendingin, dan mengeluarkan sekaleng bir.

Setelah meneguk birnya sedikit, Wu Yifan balas menatap Lu Han yang masih menatapnya dari ruang tamu, “Apa yang kau tunggu? Cepat ganti pakaianmu dan tidur.”

“Aku ingin bertanya, kapan gaun ini dikembalikan?” Lu Han berdiri dari sofa, merapikan gaun yang dikenakannya.

“Apa maksudmu?”

“Gaun ini disewakan, kan?” tanya Lu Han dengan polosnya. Lu Han bukan tipe wanita yang menyukai barang-barang yang terlihat cantik dan elegan. Harus diakuinya, gaun itu tidak buruk. Memang tidak sesuai dengan seleranya, tapi Lu Han menyukainya.

Meletakkan kaleng birnya di konter, Wu Yifan menjawab, “Apa menurutmu, aku tidak punya uang untuk membelinya?”

“Oh,” menundukkan kepalanya, Lu Han menyesal telah bertanya.

“Untukmu.” Kepalanya kembali mendongak, menatap Wu Yifan yang kembali meneguk birnya. Meski pria itu masih dingin dan sombong, meski mereka tidak saling mencintai, itu adalah hadiah pertama yang didapatkan Lu Han dari suaminya.

“Kalau kau tidak suka, akan kukembalikan besok,” lanjutnya. Sekali lagi, Lu Han menyesal, sempat merasa terharu. Tentu saja, Wu Yifan melakukannya karena kewajibannya sebagai suami.

“Kapan aku bilang tidak menyukainya?” dengan itu, Lu Han melangkah menuju kamarnya.

•••••

Esok harinya, Lu Han terbangun dan melihat gaun yang dikenakannya semalam. Ah, Lu Han tidak tahu apa yang harus dilakukannya pada gaun itu. Bagaimana cara mencucinya? Apa boleh dimasukkan ke mesin cuci? Bagaimana kalau gaunnya rusak?

“Akan kupikirkan lagi nanti,” gumamnya, melangkah ke kamar mandi dan membasuh mukanya.

Di ruang makan, dia dapat melihat Wu Yifan yang sedang menghadap komputer tablet-nya—masih mengenakan piyama dan secangkir kopi panas di meja makan. Lu Han sempat melihat jam dinding di ruang tamu, menunjukkan pukul sembilan pagi. Oh, dia tidur lama sekali.

“Kau tidak bekerja?” tanyanya pelan, meletakkan kedua tangannya di sandaran kursi makan.

Tanpa mengalihkan pandangannya dari layar, Wu Yifan menjawab, “Siapa yang akan bekerja di hari Sabtu? Kau pikir aku robot?”

“Oh, sekarang hari Sabtu,” gumamnya pelan, hampir berbisik. Saat itu, Lu Han baru sadar jika Wu Yifan mengenakan kacamata. Lu Han baru tahu, dengan kacamata itu suaminya terlihat keren. Detik berikutnya, Lu Han mengumpat dirinya sendiri karena telah memuji pria itu.

Untuk menghilangkan kecanggungan, Lu Han berjalan menuju lemari pendingin. Membuka pintunya, “Kau sudah sarapan?” hampir tidak ada apapun di dalamnya, seperti biasa. Hanya dua botol minuman isotonik, beberapa kaleng bir, dan keju.

“Ibumu bilang, kau tidak bisa memasak,” mendengar itu, Lu Han menutup kembali pintunya dengan gigi bergemeretak.

“Lagipula, apa ada yang bisa dimasak? Tidak ada, kan? Delivery saja. Kau ingin apa?” Wu Yifan mengeluarkan smartphone-nya.

Lu Han bersandar di lemari pendingin, menyilangkan kedua lengannya di depan dada, “Samakan saja denganmu.”

“Duduk. Kita harus bicara,” ucap Wu Yifan—lebih seperti perintah di telinga Lu Han—setelah melakukan panggilan delivery. Tanpa banyak protes, Lu Han menarik kursi yang berhadapan dengan suaminya.

“Apa?”

“Aku tidak tahu, kalau kau mengenal Jake Miller,” ucap Wu Yifan, menggeser layar komputer tablet.

“Siapa?” Lu Han menautkan kedua alisnya.

“Pria yang berbicara denganmu semalam. Kau sudah lupa?”

Untuk beberapa detik, Lu Han mencoba mengingat, “Aah~ aku tidak kenal. Pria itu menyapaku dulu. Aku tidak mengenalnya. Sungguh.” Entah kenapa, dia merasa memang harus menambahkan kata ‘sungguh’ agar Wu Yifan percaya.

“Begitu,” mengunci layar tabletnya, Wu Yifan mengalihkan pandangannya pada Lu Han. “Aku tidak ingin kau dekat dengannya.”

Tertegun. Meski diucapkan dengan nada dan ekspresi yang tenang, maknanya cukup membuat Lu Han tertegun selama beberapa detik.

“Kenapa?” tanya Lu Han setelah mereka hanya terdiam dan saling pandang. Seolah mencoba saling membaca pikiran lawannya.

“Pokoknya aku tidak ingin melihatmu dekat dengannya,” jawab Wu Yifan, terdengar agak kekanakan. “Aku tidak suka berbagi.”

“Aku tidak punya alasan untuk menuruti perintahmu,” ucap Lu Han menantang.

Wu Yifan menyeringai, “Kau adalah istriku sekarang, itu alasanmu.”

“Tch. Dan mana tanggung jawabmu sebagai suami? Kau sudah berjanji, mampu menjaminku mendapatkan pekerjaan di sini. Sampai sekarang, aku hanya menganggur di rumah. Setiap hari kau meninggalkanku sendirian di rumah. Tanpa makanan, tanpa uang, dan kau seenaknya mengklaimku sebagai istrimu?!” Entah kenapa, Lu Han memilih meluapkannya sekarang. Sebenarnya, dia hanya ingin bertanya mengenai pekerjaannya. Tapi… ah, sudahlah. Kepalaku sakit, batinnya.

“Aku sudah membuatkanmu rekening, kan? Aku juga sudah memberimu kartu ATM-nya,” jawab Wu Yifan dengan tenang.

“Aku tidak tahu cara menggunakannya, berbeda dengan di Beijing! Dan kau tahu, bahasa Inggrisku tidak bagus!” Lu Han masih terbawa emosi, dia hampir menggebrak meja makan.

“Baiklah. Aku mengerti. Aku akan mengajarimu,” Wu Yifan menyesap kopinya. “Jangan terbawa emosi. Kau sedang datang bulan, ya?”

Mendengarnya, wajah Lu Han memanas. Memalingkan wajahnya, dan bungkam. Suara bel interkom akhirnya menyelamatkan Lu Han dari situasi tidak mengenakkan.

>next<

A/N:

Ttarariraa~~

An update! Aku bisa update tepat waktu karena aku sudah ‘menabung’ beberapa part. Tapi karena aku cukup sibuk tahun ini, mungkin akan ada late update untuk part selanjutnya. Semoga kalian suka~ ^^

Cover baru juga!! Aneh ya? Niatnya mau buat kayak moodboard gitu, tapi jadi aneh -__-

Haruskah mereka kubuat pergi honeymoon? Kemana ya destinasinya yang bagus? Ada orang ketiga tuh, hehe~

Kritik dan saran diterima. Sekali lagi, maaf untuk ending part yang nanggung. Gak ahli bikin ending~ 😦

Big Heart,

Ranifa Billy

Advertisements

2 thoughts on “[Fanfiction] Tangled (part 3) | FanHan/KrisHan/KrisLu

  1. Aku niatnya mau baca ini nanti malem. Tapi aku gk tahan 😂 gatel banget pengen liat perkembangan KrisHan.
    Part ini kayak ada manis-manisnya gitu. Dan yeah, Iam so happy, because I thought Jessica will be the third person 😂 thank you Ranifa. Sstt … I’m Jessica haters tbh.

    Aku seneng banget sama moment KrisHan, walaupun belum nonjol bgt tapi bikin gemesh. Aku sukaaaa …. Bayanginnya itu lho so sweet banget 😍😍😍

    And if you ask should this couple honeymoon. I would say yessss. Pergi camping aja. Kan kalo di kanada masih ada hutan trus ada aliran sungai kecil dan mereka ituan deh kan romantis 😂 *imajinasi apa ini*

    Aku berharap real life selalu lancar ya, biar bisa update rutin. Dan plis ff nya konsis lanjut sampe tamat ya 😁😁😁 thx for this sweet chapter. I will wait for the next one. Jia you!

  2. Nugu?? Siapa tamuny?? #KepoModeOn
    Cieee… Kaya nya ada yg muLai cembuKor nih 😏😏#LirikBangYipan
    Suka..suka.. Suka…
    Suka moment nya, suka interaksi mereka, simple but melted , pokokny suka semua 😍😘
    Honeymoon?? Aku malah belum mikir.. Aku malah mikirny konflik kaya Luhan mulai sibuk didunianya (kerjaan baru), bang yipan juga sibuk di dunia workaholicny.. Mereka jadi Miskom Trus si Jake merajalela.. Hadeeh #abaikan keabsurdan otak mini aku hehe 😅😅 tapi Honeymoon boleh jug sih biar makin mimisan gw 😍😘
    klo soal destinasi i can’t recomended cz itu t’gantung selera eonni sih… But if u ask me, maybe i think i’m choose in Japan.. Hehe 😄😅

    Late updateny jangan lama² atuh eonni.. I waiting 😆😄😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s