[Fanfiction] Erasure | FanHan/KrisHan/KrisLu

Fanfiction

erasure-cover

ERASURE © 2017

A fanfiction by Ranifa Billy

Cast

Lu Han

Kris Wu Yifan

Pairing

FanHan / KrisHan / KrisLu

Genre

Drama

Rate

PG-15

Warning

fem!Lu, typo(s), OOC

•••••

[A/N] Fanfiction dadakan. Ini oneshot yang agak panjang. Rekomendasi backsound ‘Barlow Girl – Never Alone’. Soalnya, aku dapat ide pas dengerin lagu ini. Hehe.

Happy Reading! Enjoy!

•••••

In this fake world I lived in, I know one is real. You.

•••••

Mungkin aku dikutuk. Mungkin aku adalah sebuah kesalahan. Mungkin aku tidak diharapkan berkeliaran di dunia ini. Tapi Tuhan memberiku nyawa. Dia membiarkan jantungku tetap berdetak. Dia membiarkanku bernapas, berjalan, berlari, tertawa, menangis. Jadi siapa yang mengutukku?

Wanita yang kusebut ‘ibu’ menganggapku sebuah kesalahan, sebuah kesialan dalam hidupnya. Dia membesarkanku seorang diri. Aku tidak tahu masa lalunya. Rumor yang sering kudengar, dia diusir oleh keluarganya karena kesalahan yang dibuatnya semasa muda. Kesalahan itu adalah aku.

Dia pergi ke negara orang dan melahirkanku di sana. Aku tinggal bersamanya sampai usiaku sepuluh tahun, sampai akhirnya dia memilih untuk bertemu dengan Tuhan. Hari itu aku menangis. Tidak, hampir setiap hari aku menangis karenanya. Seorang pekerja sosial membawaku ke panti asuhan.

Mungkin aku tidak seharusnya tetap hidup di dunia ini. Aku tidak tahu kesalahan apa yang pernah kuperbuat, tapi aku dibenci. Dimanapun kakiku berpijak, aku dibenci. Apa karena aku berasal dari ras yang berbeda? Di sekolah, bahkan di panti asuhan, aku sudah terbiasa dengan segala tindak pem-bully-an itu.

Awalnya hanya sebuah sindiran, yang kemudian berubah menjadi kekerasan fisik. Pikirku, jika aku membalas, tindakan itu akan semakin menjadi-jadi. Oleh karena itu, aku memilih diam saja. Mereka sudah pasti akan bosan sendiri, dan melangkah pergi.

Setiap malam, aku bertanya pada Tuhan, apa tidak ada orang baik di kehidupanku? Kupikir, Tuhan memberiku sebuah jawaban. Suatu hari, beberapa orang siswa menghampiriku. Hari itu, entah bagaimana aku berteman dengan mereka. Pem-bully-an yang kualami pun perlahan berhenti. Aku mulai bisa bersosialisasi dengan lingkungan sekitarku.

Hal baik menjadi hal buruk. Secepat kedipan mata. Saat suatu hari aku mengetahui fakta bahwa mereka mengajakku berteman hanya karena merasa kasihan. Awalnya, aku berpura-pura tidak mengetahui fakta itu. Mencoba memalsukan apa yang sebenarnya kurasakan. Berakting semuanya baik-baik saja saat mereka menunjukkan kepedulian. Perlahan-lahan melangkah mundur.

Kukira aku tak lagi mengalami pem-bully-an, ternyata hal itu masih berlangsung, secara halus. Seperti mengulang rekaman tua, kekerasan fisik kembali kudapatkan. Usiaku lima belas tahun, dan aku hanyalah gadis lemah yang hidup sendirian di dunia ini.

Sebenarnya, aku sering melihat beberapa siswa lain yang mengalami nasib yang sama denganku. Bukan hanya yang memiliki ras berbeda saja, si kutu buku dan teman-temannya juga. Tapi nampaknya aku tidak bisa berteman dengan mereka. Aku memutuskan untuk tidak berteman dengan siapapun. Sendirian lebih baik daripada dikelilingi oleh orang-orang palsu.

Aku bisa mencium bau darah setelah aku tersungkur di tanah. Hal terakhir yang kulihat adalah sebuah kaki yang bersiap menghantamku. Tapi aku tak merasakan apapun setelah beberapa detik. Apa aku pingsan? Apa aku sudah mati? Bau anyir darah semakin jelas tercium.

Saat mataku terbuka, kupikir aku akan terbaring sendirian di gang lembab itu. Atau terbangun di sebuah ruang rawat di klinik terdekat. Barang kali saja ada orang yang menemukan dan membawaku ke sana. tidak keduanya. Aku memang masih berada di gang lembab itu. Sebuah tubuh tinggi menjulang berdiri di depanku, memunggungiku. Posturnya asing, bukan salah satu dari mereka. Siapa? Aku mengabaikan darah yang mengalir dari hidungku. Menodai seragam sekolahku.

Aku tidak mengerti apa yang terjadi setelah itu. tapi orang itu membalikkan tubuhnya ke arahku, dan berjongkok. Kukira orang dewasa, ternyata dia seorang siswa laki-laki. Dia memakai seragam sekolah yang berbeda denganku. Apa yang akan dilakukannya terhadapku?

“Hidungmu berdarah.” Hal pertama yang diucapkannya, kemudian berlari keluar gang. Aku hanya menatap punggungnya yang menjauh dengan bertanya-tanya.

Baru kusadari, gang itu sudah sepi. Tidak ada tanda-tanda keberadaan mereka. Kuusap darah di hidungku, tanganku penuh darah. Aku mengelapkannya pada rok seragamku. Saat aku berusaha meninggalkan gang itu, sebuah suara asing menghentikanku.

“Mau pergi ke mana? Kau terluka.” Itu siswa laki-laki yang tadi. Dia mencengkeram tanganku.

Aku menatapnya takut, perlahan melangkah mundur, “Aku minta maaf.”

“Apa? Kenapa? Kau tidak bersalah.” Dia masih mencengkeram tanganku. Aku mencoba melepaskan diri.

“Hidungmu masih berdarah.” Kemudian dia menyodorkan sesuatu yang dibawanya. Sekotak tisu.

Aku tidak mengerti kenapa aku membiarkannya membantu menghentikan darah yang mengalir dari hidungku.

“Jangan diam saja saat ditindas,” dia memberiku gulungan tisu untuk menyumbat hidungku. “Setidaknya, kau harus membalas semampumu, kemudian kabur. Terus lakukan hal yang sama saat kau kembali ditindas.”

“Kau siapa?” tanyaku. Terlihat jelas kedua matanya menunjukkan keterkejutan setelah mendengar responku. Mungkin tidak sesuai ekspektasinya.

Dia terdiam sebentar sebelum memberi jawaban, “Kau bisa memanggilku Fan.”

Kini aku yang terdiam setelah mendengar jawabannya.

“Kau dipanggil apa? Berapa umurmu?” dia kembali bersuara.

“Kenapa bertanya banyak?” responku.

Kembali, dia terkejut. “Aku hanya mengajukan dua pertanyaan, belum sepuluh.”

Tanpa menjawab, aku kembali bangkit berdiri. Membungkukkan punggung semampuku. “Terima kasih sudah membantuku,” dan berjalan meninggalkan gang, dengan tertatih. Dia tidak lagi menghentikan langkahku.

Aku tidak boleh terlalu naif. Dunia ini kejam. Tidak mungkin orang baik muncul begitu saja. Aku harus lebih berhati-hati saat menerima kebaikan atau kepedulian seseorang.

Aku tidak ingin mengatakannya. Aku juga bukan orang yang religius. Aku percaya Tuhan itu ada, tapi apa Dia juga membenciku?

Beberapa minggu setelahnya, aku dan si Fan itu kembali bertemu. Dia masih mengingatku. Kali ini, dia bersama beberapa siswa laki-laki lain dari sekolah yang berbeda-beda. Ada juga yang mengenakan seragam dari sekolahku. Mereka memiliki postur tubuh yang sama, tinggi besar. Apa dia termasuk anggota gangster?

Hanya dia yang menghampiriku, saat aku memutuskan untuk berbalik arah dan lari. Dia kembali mencengkeram tanganku.

“Hei, kau masih ingat aku? Sudah lama sekali. Apa sudah ada satu bulan lebih?” dia bertanya, memberiku senyuman lebar.

“Aku minta maaf,” aku kembali mencoba melepaskan diri.

“Kenapa meminta maaf? Kau tidak melakukan kesalahan padaku,” dia memberiku tatapan… khawatir?

Seperti hari itu, aku menatapnya takut. Sekilas, kulihat teman-temannya dari balik kepalanya. Aku khawatir mereka akan ikut menghampiriku.

“Aku minta maaf,” dia melepaskan tanganku. “Apa aku membuatmu takut? Kau memberiku tatapan yang sama seperti hari itu.”

Aku tertegun mendengarnya. Entah kenapa, aku merasa bersalah, “Aku minta maaf,” menundukkan kepalaku.

Dia kembali membuatku terkejut dengan mendaratkan tangannya di kepalaku, mengusak rambutku perlahan. Kembali memberiku senyuman lebar yang akan selalu kuingat, “Tidak apa-apa.”

Aku tidak ingat, bagaimana akhirnya kami menjadi teman dekat. Ternyata kami berada di usia yang sama. Aku tidak tahu, apa dia bisa kusebut mempunyai ras yang sama denganku. Tapi dia mempunyai setengah ras yang sama denganku. Dia bercerita, ayah dan ibunya berasal dari negara yang berbeda. Seperti seorang Demigod jika di kisah Percy Jackson. Dia tertawa saat aku mengungkapkan pendapatku. Entah kenapa, mendengarnya berbicara, melihatnya tersenyum lebar, dan tertawa memberikan kemudahan bagiku. Seolah beban di pundakku terangkat.

“Kau tahu? Aku senang, karena muncul dalam kehidupanmu sebagai seorang pahlawan,” tuturnya suatu hari, seperti biasa, dengan senyuman lebarnya. Aku penasaran, bagaimana dia bisa tersenyum begitu lebar hingga gusinya terlihat seperti itu.

“Kau bukan pahlawan,” aku mendorong pundaknya, cukup kuat. Tapi dia masih bertahan pada posisinya. Apa aku memang selemah ini?

“Kau memang gadis yang lemah, secara fisik,” ucapnya. Meraih tanganku, kemudian menempelkan dengan tangannya. Kusadari betapa mungilnya tanganku jika dibanding dengan miliknya.

“Tapi kau sangat kuat di sini,” imbuhnya, menunjuk dadanya sendiri. “Dunia memang kejam, tapi aku tahu, kau lebih dari ini. Kau pasti mampu melaluinya. Jangan menyerah.”

Aku tersanjung. Dia sering memberiku nasihat-nasihat seperti layaknya seorang kakak. Meski pada kenyataannya dia beberapa bulan lebih muda dariku. Hal selanjutnya yang kutahu, dia memelukku. Tindakannya membuatku cukup terkejut, tapi aku tidak melepaskannya. Pasalnya, ini pertama kali dia melakukannya. Rasanya aneh, seperti aku merindukan untuk dipeluk. Tapi kapan terakhirk kali aku mendapat pelukan? Siapa yang melakukannya? Apa ibuku? Apa aku pernah dipeluk sebelumnya?

Tanpa sadar, dahiku sudah mendarat di pundaknya. Membalas pelukannya, ringan. Kurasakan tangan besarnya menepuk-nepuk kepala belakangku.

“Hei, bagaimana kalau kita mendaftar ke SMA yang sama?” tanyanya dengan antusias, setelah mengakhiri pelukannya. “Aku bisa minta ke orang tuaku, agar kau bisa mendapatkan beasiswa. Kau sangat pintar, aku yakin mereka tidak akan menolakmu.”

Aku memberinya tatapan ragu, mempertimbangkan tawarannya. Dia berasal dari keluarga berpendidikan dan berpenghasilan tinggi. Jika ditinjau dari dimana dia bersekolah sekarang, kemungkinan besar dia akan mendaftar ke SMA elit dengan biaya sekolah mahal dan berisi para siswa dari kelas atas. Di sekolah biasa saja—bukan elit, aku mendapat pem-bully-an. Apa yang akan terjadi padaku jika aku bersekolah di tempat seperti itu? Aku akan dianggap seperti kutu, parasit yang harus dimusnahkan.

Terkejut. Dia menepuk kedua pundakku. Apa aku berpikir terlalu keras?

“Jangan khawatir. Tidak akan ada yang manyakitimu lagi. Aku akan melindungimu.” Dia tidak mengatakan itu adalah sebuah janji. Aku juga tidak menganggapnya demikian. Tapi dia benar melindungiku, seperti janji seumur hidup.

Benar dengan apa yang kukhawatirkan. Aku kembali di-bully, bahkan lebih parah dari yang pernah kualami sebelumnya. Bukan melalui kekerasan fisik, melainkan sindiran-sindiran tidak benar. Aku lebih baik dilukai dengan pisau yang tajam. Luka fisik bisa disembuhkan seiring berjalannya waktu. Tapi sindiran-sindiran tertanam dalam jiwa. Seberapapun lama waktu yang dibutuhkan, itu tidak akan sembuh.

Bukan hanya karena aku berbeda—dari ras dan strata sosial. Kami berada di kelas yang sama, dan kami kemanapun selalu berdua. Dia bisa langsung menyedot perhatian banyak orang di hari pertama sekolah. Tidak butuh waktu lama untuk membuatnya menjadi siswa populer. Pem-bully-an yang kualami mayoritas berasal dari penggemarnya. Aku hampir menyerah setelah melalui semester pertama. Tapi dia selalu menyemangati dan melindungiku dari mereka.

Sampai lulus SMA, kami berkuliah di Universitas yang sama. Aku mengikutinya, dia mengikutiku. Kami melangkah di jalan yang sama. Namun kali ini sedikit berbeda. Kami berkuliah di luar negeri. Di sebuah negara dimana, dia mengatakan, kemungkinan kecil aku akan mendapatkan tindakan pem-bully-an, bahkan mungkin tidak sama sekali. Sebuah negara yang kemungkinan besar adalah kampung halamanku. Negara dimana penduduknya mempunyai ras yang sama denganku.

Benar dengan prediksinya, aku diterima. Aku mulai bisa menjalani kehidupan normal. Menghirup oksigen tanpa perlu mengkhawatirkan tindak pem-bully-an apa yang akan kudapatkan setelahnya. Mulai bisa merasakan kemudahan yang nyata. Mungkin karena aku terbiasa dengan keberadaannya. Selalu ada dalam suka dan duka. Aku berterima kasih pada Tuhan karena memberikannya sebagai jawaban untuk pertanyaanku di masa sulit. Orang baik di kehidupanku.

“Setelah wisuda nanti, aku harus kembali. Kau ingin tetap di sini atau ikut denganku?” tanyanya, suatu hari.

Sekitar dua minggu lagi, kami akan melakukan wisuda sarjana. Di tahun kedua perkuliahan, aku mengungkapkan padanya bahwa aku ingin tinggal di negara ini setelah lulus kuliah. Dia tampak setuju dengan keputusanku, namun kini dia tampak ragu akan meninggalkanku.

“Aku sudah membulatkan tekadku. Aku akan tetap tinggal di sini,” ucapku, tegas. “Jangan khawatir. Bukankah kau bilang, aku akan baik-baik saja di sini?” lanjutku, dengan senyuman kecil.

Dia terdiam untuk beberapa saat sebelum membalas senyumanku. “Baiklah. Aku mengerti. Kau harus bisa menjaga dirimu sendiri selama aku tidak ada. Jangan sampai sakit.”

“Aku mengerti, Ma~” aku meninju pundaknya. Dia membalasku dengan menepuk-nepuk ringan puncak kepalaku. Kami saling melempar senyum.

“Han, aku punya permintaan,” ucapnya.

“Permintaan apa?”

“Aku ingin kau menungguku. Aku akan menemuimu duabelas musim lagi. Di tempat ini, di waktu yang sama, apapun yang terjadi,” tuturnya.

“Kau mengatakan seolah-olah kau akan kembali hari ini,” ucapku, sedikit murung. Dia tersenyum lebar, tanpa dosa.

“Berjanjilah padaku,” mengulurkan jari kelingkingnya padaku.

“Kau serius? Duabelas musim? Bukan duabelas bulan? Duabelas musim sama dengan tiga tahun. Kenapa kau memintaku untuk menunggumu selama tiga tahun?” bukannya menyambut jari kelingkingnya, aku menyerbunya dengan pertanyaan.

“Aku tahu itu. Jadi, kau mau berjanji padaku atau tidak?” dia masih menungguku menyambut jari kelingkingnya. Dengan malas, kukaitkan jari kelingkingku padanya. Dia kembali tersenyum lebar.

“Ingin mengetahui sebuah fakta?”

Aku hanya menatapnya, masih murung. Tiba-tiba mood-ku turun. Ada perasaan yang mengatakan bahwa aku tidak bisa bertemu dengannya lagi setelah kami berpisah.

“Setelah mengenalkanmu pada kedua orang tuaku, sebenarnya mereka mempunyai niat untuk mengadopsimu. Mereka meminta pendapatku, tapi aku menolak. Aku memang menginginkan seorang saudara, tapi aku tidak ingin punya saudara yang seumuran,” dia mengakhiri ceritanya. Setelah menatapku sekilas, dia meminta maaf.

“Maaf, aku tidak pernah memberitahumu soal ini. Bukannya aku tidak mau bersaudara denganmu. Tapi aku mempunyai perasaan yang aneh jika kita menjadi saudara. Aku…” dia mencoba mencari kata-kata yang baik dan tepat.

Memotong ucapannya, “Aku mengerti. Tidak masalah. Aku baik-baik saja. Aku senang kita masih berteman,” kuberikan senyuman yang lebar agar dia tidak merasa bersalah.

Menggaruk kepalanya, dia tersenyum kecil, seolah baru saja ketahuan melakukan hal konyol. Mencoba mencairkan suasana, dia mengungkapkan hal lain, “Tapi mereka punya ide lain. Kalaupun tidak bisa mengadopsimu, mereka ingin menjadikanmu menantu.”

Mendengar penuturannya, aku tertegun.

Dia tertawa canggung setelah bertukar pandang denganku, “Mungkin mereka hanya bercanda. Kenapa ekspresimu serius begitu?”

Aku masih terdiam. Menatapnya dengan tatapan yang bahkan aku sendiri tidak mengerti. Apa karena aku masih terkejut? Kami saling diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba suasana menjadi lebih canggung dari sebelumnya. Kudengar dia berdeham.

“Apa kau tidak mau menjadi istriku?”

“Apa?”

“Tidak mau, ya?” dia terdengar murung. Aku merasa canggung.

Dia menghela napas berat, “Mama menyuruhku memberikan ini padamu saat aku sudah siap,” mengeluarkan sebuah cincin perak dari saku celananya. “Sepertinya aku terlalu terburu-buru. Kau tampak tidak suka.”

Pandangan mataku terpaku pada cincin perak itu.

“Mama bilang, dulu Papa melamarnya dengan cincin ini. Aku ingin menirunya,” jelasnya. “Mungkin aku bisa memberikannya padamu setelah tiga tahun. Aku tahu, kau butuh waktu.”

Pandangan mataku tidak beralih dari cincin perak itu. Tiba-tiba di pikiranku berkelebat banyak hal. Aku tidak bisa mencerna dengan cepat apa yang sedang terjadi. Entah kenapa cincin perak itu mengabur. Apa ini hanya ilusi?

“Apa kau menangis?” suaranya menyadarkanku. “Kenapa menangis?” tangan besarnya menangkup wajahku. “Jangan menangis.” Tiba-tiba dia sudah membungkus tubuhku dalam pelukannya.

Aku sadar. Aku menangis. Aku sendiri tidak tahu kenapa. “Kau bodoh!” ucapku tidak jelas karena wajahku terbenam di dadanya.

“Sst! Sudah, jangan menangis. Kau boleh memakai cincinnya sekarang, tidak perlu menunggu tiga tahun lagi,” aku bisa mendengar suaranya dengan jelas.

Aku bisa melihat cengiran bodohnya saat dia melepas pelukannya. Mengambil tangan kiriku dan menyusupkan cincin perak itu di jari manisku. Mempertemukan bibir kami dalam sebuah ciuman manis, ringan, dan lembut, tanpa nafsu.

Cincin itu masih berada di tempatnya seperti tiga tahun yang lalu. Aku bukan tipe yang suka mengingkari janji, apalagi pada calon suamiku. Dia memintaku untuk menunggunya selama tiga tahun, aku melakukannya. Aku datang ke tempat dan pada waktu yang sama persis seperti tiga tahun yang lalu.

Tapi dia tidak datang.

Mungkin dia masih sibuk dengan pekerjaannya. Meski memutuskan untuk tidak bertemu selama tiga tahun, kami masih berkomunikasi dengan telepon. Aku kembali menunggunya esok hari. Dan besoknya lagi. Dan besoknya lagi. Dan seterusnya.

Tapi dia tidak pernah datang.

Dia tidak akan datang.

Dia tidak bisa melakukannya. Bahkan untuk tiga tahun ke depannya lagi.

Orang tuanya datang mengunjungiku, beberapa minggu setelah penantian panjangku. Membawa sebuah catatan harian dan sepucuk surat. Dia menemui Tuhan agar dipertemukan dengan ibuku untuk meminta ijin menjadikanku sebagai istrinya. Begitulah yang ditulisnya di akhir suratnya untukku. Dia juga memberiku ijin untuk menanggalkan cincinnya. Tidak ingin aku terus terikat dengannya. Menginginkanku untuk melangkah maju.

Dia benar-benar bodoh.

Aku menanggalkan cincin itu dan menyimpannya. Menemui seorang ahli hipnoterapi, dan memintanya untuk menghapus semua ingatan burukku, dan beberapa ingatan tentangnya. Rasanya menyedihkan terus mengingatnya dan tetap bersedih. Aku menyisakan ingatan saat pertemuan pertama kami, dan hari dimana dia mengatakan akan melindungiku.

Di duniaku yang penuh dengan kepalsuan ini, aku tahu satu yang nyata. Dirimu.

_END_

2017.01.19

 

[A/N] Hai! ^^/ #abaikansaja #unfaedah

Apa-apaan ini!! Tulisan gagal yang lain. Berantakan sekali. Bahasanya amburadul. Judulnya gak nyambung. Alurnya juga aneh. Nulisnya semalaman langsung jadi, takut idenya menguap. Tanpa editing, lagi males. Seharusnya, aku ngerjakan revisi proposal, tapi karena efek mood-swing, jadi males ngapa-ngapain. #curhatdikit

Aku dapet ide cerita ini juga beberapa hari sebelumnya. Kemudian dapet pencerahan buat mengembangkan ide itu, jadi tulis aja semuanya langsung sebelum ngilang. Sebenarnya aku mendapatkan dua ide di hari yang sama. Setelah kupikir-pikir, kalau dibuat cerita sendiri-sendiri rasanya akan hambar. Jadi, aku gabungkan karena ada beberapa part yang mirip juga. Dan jadinya… makanan hangus. ㅠㅠ

Sebenarnya pengen di-posting besoknya, tapi ragu-ragu. Akhirnya baru berani posting hari ini. Posting tidak ya, posting tidak ya. #tidaksedangmenyanyi

Oia, untuk ending-nya, aku ngasal banget. Aku tidak tahu, apa bisa menghapus beberapa ingatan di tempat hipnoterapi, ahaha. Itu terinspirasi dari MV-nya D&E – Growing Pains, termasuk judul juga. ^^v

Untuk karakter, jujur aku bingung mau pakai siapa. Apa ini akan kubuat format fanfiction atau cerpen? Trus sempet mau kubuat karakter anonymous saja. Tapi tanganku ngetik Fan dan Han tanpa sadar. Jadi, ah sudahlah. FanHan aja. *grin*

Aku mengambil tema diskriminasi terhadap ras ini karena teringat salah satu episode Hello Counselor. Dimana ada seorang muslimah yang tinggal dan berpindah kewarganegaraan Korea Selatan. Dia dan anak-anaknya mengalami diskriminasi, karena dia tidak punya darah Korea dan seorang muslimah. Juga tentang anak-anak blasteran yang mendapatkan pem-bully-an di sekolahnya.

Saat SD, aku sendiri pernah mengalami diskriminasi—secara halus. Meskipun aku bukan blasteran, tapi aku memang sedikit berbeda dari teman-temanku di sekolah. Karena dulu aku punya kulit yang lebih pucat dan mata yang agak kecil, ditambah lagi aku murid pindahan. #nostalgia #curhatdikitlagi #abaikansaja

Ah, sudahlah. Panjang amat notes-nya. Aku minta maaf jika tulisanku menyinggung pihak tertentu. Itu merupakan sebuah ketidaksengajaan. Terakhir, semoga tulisanku menghibur. Terima kasih~ *bye*

 

Big Heart,

Ranifa Billy

Advertisements

3 thoughts on “[Fanfiction] Erasure | FanHan/KrisHan/KrisLu

  1. I swear I’m crying 😭😭😭😭 I thought it will be happy ending. But I’m not sure. Kenapa Fan gk dateng. Trus soal surat yg di tulis Fan, suruh Han lepas cincinnya itu maksudnya apa 😭😭😭 aku butuh penerangan 😢😢

    Aku speechless, aku nangis dan part ini yg paling aku suka :

    “Apa kau menangis?” suaranya menyadarkanku. “Kenapa menangis?” tangan besarnya menangkup wajahku. “Jangan menangis.” Tiba-tiba dia sudah membungkus tubuhku dalam pelukannya.

    😭😭😭😭😭😭😭

    Kamu harus tanggung jawab ranifa, kenapa endingnya kayak gitu? *efek baper* oh Han-ku yang malang 😭😭😭 waaeeee~ the world is too cruel 😭😭 I swear I’m crying. I cannot please 😭😭😭😭

    1. hehe, sorry if this makes you cried. ^^v

      mungkin seharusnya aku menulis death character di peringatan.
      Fan mati di sini, dia gak pengen Han jalan di tempat, soalnya dia sudah ngelamar Han. dia pengen Han mencari seseorang yang baru, jadi cincinnya harus dilepas. bukan begitu? #belepotanbahasanya

      aku tidak menyangka kamu membagi link fanfic ini di grup. kan aku jadi malu. gak pede. #shyshyshy

      Well, thank you so much! ^^v

  2. Entah knpa klau baca ff buatan eonni yang satu ini berasa baca novel pengarang terkenal.. Daebak 👍

    Back to story..
    Ceritanya bikin nangis bombay kak.. 😭😭😭
    Kenapa Bang Yipan di matiin di ending nya..?? Waeeee??
    Cukup di Real aj yg di phpin.. Knp di epep di giniin jug 😥😒 baca awal ampe tengah Udah di bikin terbang ke udara dg ke fluffy² an fanhan trus baca ending kaya di hempaskan kembali ke tanah dengan kekuatan penuh rasanya itu nge~njLeep aned kak.. 😅😭 #maapkeunkelebayansaya
    But, overall i Love it.. 😍😘

    Di tunggu karya² nya yg Laen, eonni 😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s