[Fanfiction] Tangled (part 4) | FanHan/KrisHan/KrisLu

Fanfiction

cover-tangled-2

Tangled © 2017

A KrisLuhan Fanfiction by Ranifa Billy

Cast

Lu Han

Kris Wu Yifan

Other Cast

Meng Jia

Jake Miller (OC)

Pairing

FanHan / KrisHan / KrisLu

Genre

Romance, Drama, (a bit Humor)

Rate

PG-15

Warning

fem!Lu, younger!Lu, typo(s), OOC

(A/N: This idea came when I was spacing out while waiting for sunrise. Then I remembered a novel, Anna Karenina, and decided to write this. I’ll update this fanfiction once a month.)

Happy Reading! Enjoy!

•••••

Part 4

Ten Little Toes tidak jauh beda dengan tempat Lu Han mengajar sebelumnya. Bedanya hanya usia dari anak-anak didiknya. Mengajari anak-anak berusia empat sampai tujuh tahun untuk melakukan pointe adalah sebuah tantangan baru baginya. Sebelumnya, dia mengajari anak-anak berusia sembilan sampai remaja lima belas tahun, itu lebih mudah karena mereka sudah mulai mengerti tanggung jawab.

Selain menantang, melihat anak-anak kecil berjinjit dan berputar di lantai kayu menjadi sebuah hiburan bagi Lu Han. Dia juga tidak merasa kesulitan untuk berkomunikasi dengan mereka. Diam-diam memperlancar bahasa Inggrisnya melalui bahasa anak-anak. Di samping itu, rekan pelatih yang mendampinginya juga sangat ramah. Dan yang paling penting, dia keturunan Cina.

Meng Jia adalah teman pertama Lu Han sejak menginjakkan kakinya di Vancouver. Memang, sebelumnya dia sudah bertemu dengan teman suaminya, Jessica Jung. Namun, sejak hari itu mereka belum pernah bertemu lagi. Lu Han juga mempelajari banyak hal baru dari wanita yang seumuran dengannya itu. Bersama Meng Jia juga Lu Han memperbaiki bahasa Inggrisnya.

Sama seperti dirinya, Meng Jia juga pengantin baru. Tapi wanita itu sudah tinggal di kota ini sejak lima tahun yang lalu. Memikirkan tentang pengantin baru, membuat Lu Han agak merinding. Di pikiran banyak orang, kesan dari pengantin baru adalah pasangan romantis. Namun, beda halnya dengan Lu Han. Jangankan menjadi pasangan romantis, dia dan Wu Yifan bahkan jarang berbicara.

Sudah lima puluh hari sejak Lu Han menjadi pelatih baru di sanggar tari itu. Sejak itu pula, rutinitasnya yang hanya tidur-tiduran dan menonton televisi di apartemen berubah banyak. Setelah kelas bubar, Meng Jia akan menunjukkan hal-hal baru yang belum diketahuinya dari Vancouver. Tanpa disadarinya, dalam waktu singkat itu, dia sudah mengenal kota tempatnya tinggal sekarang.

“Lain waktu, kau harus ke sini lagi bersama suamimu,” ucap Meng Jia saat mereka sedang menikmati makan malam di sebuah restoran terbuka. “Atau double-date. Aku akan mengajak suamiku juga.”

Seperti ada suara petir di telinganya. Lu Han tersadar akan hal yang hampir saja dia lupakan. Sejak Wu Yifan membawa dan mengenalkannya kepada pemilik sanggar, dan akhirnya mendapatkan pekerjaan ini, Lu Han belum mengucapkan terima kasih pada pria itu—suaminya.

Meski tinggal satu atap, sekarang mereka jarang sekali bertemu. Dulu, Lu Han masih sering ditegur karena ketiduran di sofa saat menonton televisi ketika pria itu pulang kerja. Baru lima puluh hari dan Lu Han hampir lupa bagaimana rupa suaminya. Apa dia baik-baik saja? Kegelisahan tiba-tiba memeluknya.

“Han, ada apa?” tanya Meng Jia karena wanita itu berhenti melahap menu pesanannya.

Tersadar, Lu Han memberikan senyuman tipis. “Ah, tidak. Tiba-tiba, aku ingin segera tiba di rumah.”

“Begitu?” Meng Jia mengangguk samar. “Kalau begitu, setelah ini kita langsung pulang saja. Berkelilingnya bisa kita lanjutkan lain hari.”

•••••

Biasanya, pukul sembilan Wu Yifan sudah tiba di rumah. Pukul sepuluh adalah yang paling terlambat. Dua belas menit lepas dari pukul sepuluh malam, dan Lu Han masih sendirian. Menyangga dagu dengan tangannya, menatap jam dinding di dapur. Membiarkan televisi tetap menyala sebagai temannya.

Ini untuk pertama kalinya, Lu Han benar-benar menunggu Wu Yifan pulang kerja. Sejak dia sendiri mulai bekerja di sanggar, Lu Han akan langsung pergi tidur setelah membersihkan diri.

“Kenapa tidur di dapur?” Lu Han berjengit mendengar suara berat dan sebuah sentuhan tangan di kulit pundaknya.

“Oh, kau sudah pulang?” ucapnya spontan, jantungnya masih berdebar-debar karena terkejut. Menyentuh dahi saat terasa pusing karena terbangun tiba-tiba.

Dapat didengar, Wu Yifan menghela napas, “Tidurlah di kamar. Kebiasaan lamamu kembali lagi,” tegurnya.

Lu Han mendelik saat melihat jam dinding dapur menunjukkan pukul sebelas lebih sepuluh. Kemudian menatap Wu Yifan, “Kenapa kau pulang larut sekali?”

“Kalau kujelaskan, apa kau akan mengerti?” Wu Yifan balik bertanya. Penampilannya berantakan, dia terlihat sangat lelah.

Tidak menjawab, Lu Han bangkit dari kursi dan berdiri berhadapan dengan Wu Yifan. Membantu melepas ikatan dasinya yang sudah melonggar. Apa yang dilakukan Lu Han sangat tidak biasa, dan cukup membuat Wu Yifan terkejut.

“Kau sudah makan?” tanya Lu Han setelah berhasil melepas ikatan dasi. Menatap wajah lelah suaminya.

“Kau kenapa?” sekali lagi, Wu Yifan balik bertanya.

“Kau sudah makan?” Lu Han mengulang pertanyaannya.

Menghela napas, merasa pertanyaannya tidak akan dijawab. “Tentu saja sudah,” jawab Wu Yifan singkat.

“Kalau begitu, akan kusiapkan air hangat untukmu, lalu kau pergi mandi, setelah itu pergi tidur.” Sebelum Lu Han melangkah lebih jauh, Wu Yifan menahan lengannya.

“Tidak perlu. Aku akan menggunakan shower, kemudian tidur. Sebaiknya kau tidur sekarang.”

“Kenapa kau tidak mengijikanku berbuat baik padamu?” Lu Han menatapnya, kedua alisnya bertemu.

Setelah beberapa detik berpikir, Wu Yifan menarik lengan Lu Han dan berjalan menuju kamarnya, seraya berucap, “Kalau begitu kau tidur denganku malam ini. Aku akan menggunakan shower, jadi kita bisa segera tidur.”

“Apa?!” Lu Han tercengang mendengar penjelasan pria itu. Tapi entah kenapa kakinya tetap melangkah.

“Kau ingin berbuat baik padaku, kan?”

•••••

Pukul satu dini hari, dan Lu Han masih terjaga. Sebenarnya dia sangat mengantuk, tapi tidak bisa tidur. Mungkin karena tadi dia sempat tertidur sebentar di dapur saat menunggu Wu Yifan. Sementara di sampingnya, Wu Yifan sudah terlelap. Napasnya teratur. Bahkan saat tidur pun wajahnya masih galak, batin Lu Han.

Ini pertama kalinya mereka tidur di ranjang yang sama. Saat malam pertama mereka setelah menikah, Wu Yifan membiarkan Lu Han tidur di ranjang, sementara dirinya tidur di sofa hingga pagi. Lagipula, sebenarnya ini tidak salah, kamar ini adalah kamar mereka. Lu Han saja yang ngotot ingin berada di kamar terpisah. Mereka sudah menjadi suami-istri yang sah, meskipun tidak saling mencintai. Wu Yifan juga sudah menegaskan di awal bahwa dia tidak akan melakukan itu padanya.

Tiba-tiba, sebuah pemikiran bahwa Wu Yifan melakukan hal itu dengan wanita lain muncul di benak Lu Han. Bagaimanapun Wu Yifan adalah pria dewasa. Bukan hal yang tidak mungkin baginya untuk melakukan itu dengan wanita lain di luar sana. Mungkin alasan dia pulang larut juga karena hal itu. Detik itu juga, Lu Han merasa menyesal berniat berbuat hal baik pada pria itu. Menyesal karena menunggu kepulangannya sampai tertidur di dapur, dan membuatnya tidak bisa tidur sekarang.

Menarik selimut dan menggulung tubuhnya, tidur memunggungi Wu Yifan. Pemikiran itu membuat Lu Han kesal. Kenapa aku harus memikirkannya?

Keesokan harinya, Wu Yifan hanya memperhatikan gerak-gerik Lu Han yang lebih aneh dari yang semalam. Seolah apapun yang dipegangnya akan dibanting.

•••••

Jake Miller. Lu Han ingat, Wu Yifan pernah menyebutkan nama ini sebelumnya. Dan Wu Yifan juga memintanya untuk tidak dekat dengan pria itu. Lu Han tidak pernah memikirkan kemungkinan akan bertemu lagi dengan pria itu. Firasatnya mengatakan, dia akan sering bertemu lagi dengan pria itu setelah hari ini.

“Aku senang, karena akhirnya aku bisa berdialog denganmu,” ucap Jake Miller, diakhiri dengan tawa ringan. “Sudah lama sejak kita terakhir kali bertemu. You’re improved a lot.”

Lu Han tersenyum tipis sebagai balasan. Hari ini, salah satu anak didiknya datang bersama Jake Miller. Ternyata gadis kecil itu adalah keponakan dari pria ini.

“Jadi, kau benar orang Cina?” tanya Jake antusias. Lu Han mengangguk singkat.

“Dulu sewaktu kuliah, aku sempat belajar bahasa Mandarin dengan temanku. Tapi, aku sudah lupa. Mungkin aku masih mengerti beberapa,” tanpa ditanya, Jake bercerita.

Samar-samar, Lu Han dapat mencium bahwa pria itu ada ketertarikan padanya. Sial! Siapa yang bisa menyelamatkannya dari situasi ini sekarang? Tidak ada Wu Yifan seperti hari itu.

“Jadi, bagaimana aku harus memanggilmu? Ms. Lu? Ms. Han?”

“Lu Han saja,” meskipun Lu Han merasa tidak nyaman, dia tidak boleh menunjukkannya secara terang-terangan pada orang yang baru dikenalnya. Meski mempunyai sisi pemberontak, Lu Han tetap mengerti tata krama sebagai seorang wanita Asia.

“Aah~ Begitu. Kau juga panggil aku Jake saja,” tutur pria itu.

Sekali lagi, Lu Han tersenyum tipis, “Aku harus masuk. Anak-anak pasti sudah menunggu.”

Okay. Nice to meet you, again, Lu Han,” Jake menyodorkan tangannya. “Aku rasa, kita akan sering bertemu setelah ini.”

Kalimat terakhir Jake terdengar seperti sebuah teror bagi Lu Han. Hanya menatap tangan Jake yang masih terulur, Lu Han membungkukkan badannya, “Nice to meet you, too.” Membalikkan badan dan melangkah masuk ke dalam sanggar. Hatinya resah. Mungkin dia harus menceritakan hal ini pada Wu Yifan nanti.

Di balik punggungnya, Jake Miller tersenyum lebar.

•••••

Hari itu juga, begitu Wu Yifan tiba di rumah, Lu Han tidak perlu repot-repot menunggu suaminya untuk berganti pakaian ataupun sekedar mencuci muka, dia langsung menceritakan pertemuannya dengan Jake Miller. Meski hanya samar-samar, Lu Han dapat melihat ekspresi tidak suka dari wajah suaminya selesai mendengar aduannya. Jauh di dalam hatinya, Lu Han bertanya-tanya, kira-kira apa yang membuat suaminya ini melarangnya untuk dekat dengan pria bernama Jake Miller itu.

Bagi Lu Han, Jake Miller memang—masih—pria asing. Namun siapa tahu, mungkin sebenarnya dia pria yang baik. Dia ramah, tapi tetap saja ada hal yang membuat Lu Han gelisah setiap kali bertemu dengan pria itu.

Sudah dua pekan berlalu, dan Sophie masih saja diantar ke sanggar oleh pamannya, Jake Miller. Sebelumnya, gadis lima tahun itu selalu diantar oleh ibunya. Hari itu, Sophie bercerita bahwa kaki ibunya terkilir sehingga tidak bisa mengantarnya. Jadilah pamannya yang mengantar.

Lu Han masih menanyakan kabar ibu gadis kecil itu sampai tiga hari kemudian. Gadis itu bercerita bahwa kaki ibunya sudah sembuh, dan besok dia akan kembali diantar oleh sang ibu. Namun, yang Lu Han temui justru Jake Miller, bahkan sampai hari ini. Apa pria ini tidak mempunyai pekerjaan? pikirnya.

“Hai, Lu Han!” sapanya, pada Lu Han yang akan masuk ke dalam kelas. Tangannya menggenggam tangan mungil Sophie, yang melambaikan tangan ke arahnya. Gadis kecil itu berlari kecil, masuk ke dalam kelas lebih dulu.

Seperti biasa, Lu Han hanya tersenyum sekilas sebagai balasan. Sejujurnya, dia merasa agak tidak nyaman setiap kali pria ini memanggil (hanya) namanya. Mengingat cerita Wu Yifan, bahwa pria ini adalah adik kelasnya semasa kuliah dulu. Wu Yifan berada di tahun terakhir, sementara Jake Miller berada di tahun pertama. Artinya, pria ini juga lebih muda darinya. Tapi di sini, mereka tidak mempunyai honorifik. Jadi, Lu Han harus terbiasa dengan itu.

“Bisa kita bicara? Dua menit saja. Setelah itu, aku langsung pergi,” ucap pria itu, agak terburu-buru, seolah Lu Han akan berlari meninggalkannya.

Menghela napas, Lu Han menanggapi, “Ada apa?” menutup pintu kelas.

“Akhir pekan ini, apa kegiatanmu?” tanya Jake, kedua matanya memancarkan penuh harapan.

“Ada apa?” respon Lu Han, terlalu cepat.

Jake menggaruk kepala belakangnya, “Ah, tidak. Kalau kau ada waktu-” mengeluarkan selembar tiket pertunjukan.

Lu Han menatap tiket itu lama. Sebuah tiket pertunjukan tari kontemporer. Lu Han menyukai semua jenis pertunjukan seni. Sebagai seorang penari, tentu saja Lu Han tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Gratis, kan?

“Berapa harganya?”

Pertanyaan polos yang meluncur begitu saja dari mulut Lu Han berhasil membuat Jake menjadi kikuk untuk beberapa detik. “Ah, tidak perlu. Aku tidak menjualnya. Aku membeli dua tiket, tapi tidak tahu harus menonton dengan siapa. Jadi, kuberikan padamu.”

“Lalu, kenapa membeli dua lembar, kalau tidak tahu harus menonton dengan siapa?” pertanyaan kedua dari Lu Han bagaikan pukulan telak tepat di wajahnya.

Jake nampak berpikir keras. Jawaban apa kira-kira yang tepat. “Kalau tidak sibuk, datanglah. Aku tunggu di depan gedung.” Jawaban dari seorang pengecut. Memilih menghindari pertanyaan, dan berniat kabur. Sebelumnya, sempat meninggalkan sebuah kecupan ringan di pipi Lu Han.

Lu Han sadar, imajinasinya berlebihan, tapi dia seperti mendengar suara petir setelah mendapat kecupan ringan itu. Menyentuh pipinya, Lu Han masih menatap punggung Jake yang mulai menjauh. Jake menoleh sebentar, mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum menang. Ini tidak benar, batin Lu Han.

Wu Yifan memang tidak pernah melihatnya dekat (bertemu) dengan Jake. Tidak melihat apa yang baru saja dialaminya. Mereka memang tidak saling mencintai, tapi tetap saja Lu Han merasa bersalah. Setibanya di rumah, Lu Han membakar tiket itu. Wu Yifan tidak akan pernah tahu. Namun, Lu Han juga tidak tahu, Meng Jia menyimak interaksi mereka sejak awal.

Harus dihentikan sebelum terlalu terlambat.

•••••

“Sebenarnya, apa yang telah terjadi?” tanya Wu Yifan suatu malam.

Dia memaksa Lu Han untuk tidur bersamanya—hanya tidur. Karena istrinya itu bersikap aneh selama sepekan terakhir ini. Dia tidak pergi bekerja, menjadi lebih hemat berbicara. Dia—sepertinya—juga jarang makan, wajahnya pucat. Wu Yifan berniat membawanya ke dokter, tapi Lu Han tidak mau. Dia tidak mau disalahkan kalau istrinya itu jatuh sakit. Karena dia memang tidak bersalah. Seingatnya, dia memang menghindari berbuat kesalahan pada istrinya.

“Kau bertemu Jake Miller lagi?” tanya Wu Yifan, sekali lagi, karena Lu Han tak kunjung memberikan jawaban.

Lu Han merasa dadanya sakit setelah mendengar pertanyaan itu. Memang, dia hanya bercerita satu kali pada suaminya jika dia bertemu Jake Miller. Namun, setelah itu dia tidak pernah bercerita lagi. Lagipula, selama itu, Lu Han selalu mencoba menghindari pria itu—Jake Miller. Jadi, dia merasa tidak perlu bercerita setiap hari. Apalagi tentang kejadian hari itu. Terkadang, ingatan itu masih muncul di benaknya.

Masih menatap langit-langit, Lu Han baru menjawab beberapa detik kemudian, “Aku ingin pulang ke Beijing.”

Terdengar Wu Yifan menghela napas, “Aku belum bisa mengambil cuti. Akhir-akhir ini, lebih banyak yang harus kukerjakan.”

Lu Han melirik suaminya sekilas, “Tapi, kau adalah bosnya, kan?”

Wu Yifan balas meliriknya, “Aku memang bos. Tapi, aku juga tidak boleh seenaknya mengambil cuti. Aku bisa dicap sebagai pimpinan yang tidak bertanggung jawab.”

“Kalau begitu, belikan saja aku tiket ke Beijing. Aku akan pulang sendiri,” ucap Lu Han, kembali menatap langit-langit.

“Jangan keras kepala. Begitu ada waktu longgar, aku akan membawamu ke Beijing,” balas Wu Yifan. “Kalau kau pulang sendiri, orang tuamu dan orang tuaku pasti akan bertanya-tanya. Mereka pasti mengira kita sedang bertengkar. Aku bisa dicap sebagai suami yang tidak bertanggung jawab.”

Lu Han mencibirnya, “Kalau begitu, aku akan mencari tiket sendiri, dan pulang sendiri,” ucapnya, final.

Wu Yifan memijat pelipisnya, sudah terbiasa dengan istrinya yang sangat keras kepala. Namun, sekarang posisinya dia ingin segera beristirahat, bukan berdebat. “Baiklah. Aku akan mengantarmu pulang.”

Setelahnya, Lu Han berbalik, memunggungi Wu Yifan dan mengeratkan selimutnya. Memaksa kedua matanya untuk tertutup. “Maaf,” mimiknya.

Wu Yifan menatap punggung kecil Lu Han. Dia merasa Lu Han sedang menyembunyikan sesuatu, karena dia tahu apa yang Lu Han coba sembunyikan darinya. Dia mungkin memang tidak akrab dengan Meng Jia, namun kehadiran Jake Miller yang tidak diduganya di kehidupan mereka membuatnya resah.

Entah kenapa, tiba-tiba rasa kantuk pergi darinya. Masih menatap punggung Lu Han, samar-samar Wu Yifan dapat mendengar suara nafas Lu Han yang teratur. Dia sudah tertidur pulas. Perlahan tangannya bergerak untuk mengusap rambut istrinya, dengan gerakan lembut agar wanita itu tidak terganggu.

Aku tidak tahu apa ini benar, tapi kau adalah milikku. Aku tidak akan membiarkan Jake Miller menarikmu dariku. Aku tahu, kita tidak saling mencintai. Tapi kita telah berjanji di depan Tuhan, dan aku akan menepati janjiku hingga mati.

•••••

A/N:

Hai~~ ^-^/

Sorry for late update. 😦

Untuk selanjutnya, mungkin juga akan late update. Aku sedang berada dalam masa kritis. Jadwalku sangat padat. Pikiranku semakin banyak. I miss my family so bad. #curhat

Di sini mereka belum honeymoon, tapi aku sudah nyusun rencana honeymoon mereka sama daddy Wu, keke~ Maaf, jika tidak sesuai harapan ya. Lack of idea~ 😦

Jika ada kritik dan saran, silahkan ditulis saja di kolom komentar.

Terima kasih sudah berkunjung!

Big Heart,

Ranifa Billy

Advertisements

2 thoughts on “[Fanfiction] Tangled (part 4) | FanHan/KrisHan/KrisLu

  1. WYF kek pencitraan bgt yak disini 😅 takut bgt di cap yg jelek2 😂

    Wah wah chapter ini bikin agak deg2an sih, apalagi interaksinya Luhan-Jake. Si Jake bikin emosi euy. Songong bgt. Aku kalo jadi Luhan langsung ngadu ke Yifan biar di hajar sampe babak belur *ikutan emosi

    Tapi moment KrisHan nya bikin gemesh ih, apalagi kata2 menggoda Yifan pas ajak Luhan tidur brg, akupun pasti langsung ambigu 😅😂
    Jadi gk sabar deh liat mereka honeymoon 😁😁

    Betewe itu kalimat terakhir Yifan ya ampun 😍😍😍😍 romantis bgt dah. Punya suami macem Wu Yifan emg goals bgt dah iri aku sama Luhan 😂😂😂 bikin baper nih si Yipan 😭

    Aku suka ceritanya, tambahin adegan yg bikin Yifan-Luhan galau ya, biar mereka cepet sadar gitu kalo mereka mulai saling jatuh cinta 😄

    Pengennya sih update cepet, tapi real life memang prioritas. Asal kamu ttp lanjut ffnya ya Ranifa 😁 pokoknya semangat ya, sukse terus buat real life. Kita berisikin grup lagi ya nanti hehe~ semangat nulisnya fighting 😙

  2. Yaap.. Aku setuju bgt ama Fatim
    Kalimat terakhir ny itu hlo.. Bikin melteed 😍😘😍

    Eemt.. Gemes² , ama sikapNya FanHan..
    Luhan yg gak peka dan Bang Yipan yg care absurd gitoh 😅😂 #ngomongapakohini

    Pengen deh rasany ngajakin jake ke kedai kopi.. 😏😏 #abaikan..

    Hwaiting buat Real Life ny 💪💪
    Dan ditunggu next chapny 😘😘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s