[Fanfiction] Tangled (part 5) | FanHan/KrisHan/KrisLu

Fanfiction

cover-tangled-2

Tangled © 2017

A KrisLuhan Fanfiction by Ranifa Billy

Cast

Lu Han

Kris Wu Yifan

Pairing

FanHan / KrisHan / KrisLu

Genre

Romance, Drama, (a bit Humor)

Rate

PG-15

Warning

fem!Lu, younger!Lu, typo(s), OOC

(A/N: This idea came when I was spacing out while waiting for sunrise. Then I remembered a novel, Anna Karenina, and decided to write this. I’ll update this fanfiction once a month.)

Happy Reading! Enjoy!

•••••

Part 5

Entah kenapa, semenjak kembali dari Beijing, Wu Yifan dan Lu Han menjadi lebih akrab. Sebelumnya, mereka memang mencoba untuk akrab. Namun, tetap saja, keduanya menyadari masih ada dinding tak kasat mata di antara mereka. Kali ini, nampaknya dinding itu telah hilang tanpa mereka sadari.

Tujuh hari di Beijing ternyata cukup untuk membuat mereka menjadi lebih dekat. Penyebab terkuatnya adalah karena mereka berbagi kamar selama di Beijing. Tentu saja, tidak mungkin mereka tidur di kamar terpisah seperti saat di Vancouver. Penyebab lain adalah karena Lu Han sempat kursus memasak kilat pada ibunya. Sehingga setiap pagi, Wu Yifan akan selalu menemukannya membuat kerusuhan di dapur. Mereka akan sarapan bersama sebelum berangkat bekerja, dan pergi berbelanja setiap hari Minggu. Kini Wu Yifan juga mengantarkan Lu Han ke sanggar.

Lu Han sudah kembali bekerja, dan tidak ada tanda-tanda kehadiran Jake Miller lagi di sanggar. Sophie Miller kembali diantar ke sanggar oleh ibunya. Kenyataan itu membuat Lu Han bernapas lega. Dia tidak perlu lagi memikirkan hidupnya akan menjadi lebih rumit.

“Tidak ingin pergi ke suatu tempat?” tanya Wu Yifan. Setelah berbelanja kebutuhan primer, seperti biasa, dia dan Lu Han akan makan siang di luar.

“Mau pergi ke mana lagi? Sepertinya akan hujan hari ini,” Lu Han melihat ke luar jendela restoran. Langit Vancouver meredup, awan mendung mulai terlihat. “Langsung pulang saja,” lanjutnya.

“Tidak hari ini. Maksudku, lain waktu.”

Lu Han hanya menatapnya, belum seratus persen mengerti maksudnya.

Meletakkan alat makannya, Wu Yifan berucap, “Aku berniat mengajakmu pergi berlibur.”

Kedua mata Lu Han agak melebar, “Ah~! Kalau begitu, pulang ke Beijing saja.”

Wu Yifan menghela napas, “Kita baru kembali dari Beijing dua pekan yang lalu.”

“Kalau begitu, ke kampung halamanmu saja di Guangzhou.”

Sekali lagi, Wu Yifan menghela napas mendengar usul Lu Han. “Bagaimana kalau kita pergi berbulan madu? Aku bisa ambil cuti.”

Untuk kedua kalinya, kedua mata Lu han melebar. Kali ini lebih lebar dari sebelumnya. “Apa? Kenapa tiba-tiba?”

Memandang ke arah lain, Wu Yifan mencoba beralasan, “Mm… Yah, setidaknya kita harus punya satu. Bagaimanapun kita suami-istri yang sah.”

“Ta-tapi… k-kau bilang… tidak akan melakukan itu… padaku,” entah kenapa Lu Han menjadi gugup. Ini tidak keren sama sekali, umpatnya dalam hati.

Wu Yifan menyadari kegugupan istrinya, tersenyum kecil, “Kenapa gugup? Aku, kan, hanya ingin mengajakmu berbulan madu, bukan berbuat mesum. Lagipula, tidak masalah, kan, jika kita mencobanya sekali. Sudah kubilang, kita suami-istri yang sah.” Dan kemudian, dia dihantam dengan sebuah tomato cherry.

“Aku akan membeli tiket ke Beijing untuk satu orang, dan aku tidak akan kembali lagi ke kota ini!” ucap Lu Han dingin, sedikit mengancam.

“Wah, padahal kau yang sedang gugup terlihat lebih manis. Kenapa kau harus jadi dingin lagi,” Wu Yifan melahap tomato cherry yang tadi menghantam wajahnya. “Dan kau bersikap seolah aku ini seorang pedofil. Kita hanya selisih dua tahun.”

Menundukkan kepalanya, Lu Han memikirkan setiap ucapan Wu Yifan. Pria itu benar. Tidak ada yang salah dengan pergi berbulan madu, mereka adalah suami-istri yang sah. Tapi Lu Han masih ragu dan tidak siap.

“Maaf,” dia merasa harus meminta maaf karena sikapnya yang terbilang agak kekanakan.

Tak disangka, Wu Yifan menyentuh tangannya, “Tidak perlu meminta maaf.”

Mereka saling berpandangan. Lu Han merasa lega. Meskipun suaminya itu termasuk pria yang dingin dan agak sombong, namun sebenarnya dia pria yang penyabar. Sejauh ini, Wu Yifan belum pernah menunjukkan amarahnya. Diam-diam Lu Han mengaguminya.

“Jadi, ingin pergi ke luar kota? Atau ke luar negeri? Atau ke luar benua?”

“Apa memungkinkan ke luar benua?” tanya Lu Han ragu, melupakan fakta bahwa suaminya adalah pria kaya pekerja keras.

“Kau lupa aku ini siapa? Apa menurutmu aku tidak sanggup membawamu ke luar benua ini?” Lu Han hanya bisa facepalm saat ‘sindrom’ sombong suaminya kambuh.

“Ke luar angkasa pun aku sanggup, kau tahu.” Mendengar ucapan terakhirnya, membuat Lu Han tertawa lirih. Dia selalu berpikir, Wu Yifan adalah pria dewasa yang sombong, dingin, dan membosankan. Ternyata dia masih mempunyai sisi kekanakan.

Mendengar suara tawa Lu Han membuat Wu Yifan takjub. Untuk pertama kalinya juga dia melihat Lu Han tertawa, dan dia adalah penyebabnya. Tak pernah menyangka, istrinya bisa secantik itu saat tertawa. Kembali terhipnotis oleh paras rupawan Lu Han seperti pada hari pernikahan mereka.

•••••

Dari beberapa opsi tujuan yang diberikan Wu Yifan, Lu Han lebih memilih Switzerland—setelah melakukan beberapa pencarian di internet. Salah satu negara dengan biaya hidup paling mahal di dunia. Nampaknya Lu Han tahu bagaimana cara memanfaatkan uang suaminya. Wu Yifan sendiri nampak tidak keberatan, dan segera melakukan pemesanan: tiket pesawat dan hotel.

Tiba di bandara internasional Zurich, Wu Yifan membawa Lu Han untuk membuat Swiss Pass, tanpa menunggunya pulih dari jet lag. Selanjutnya, mengambil kereta menuju Bern, mereka akan bermalam di sana. Hari pertama lebih banyak mereka lewatkan di hotel, dikarenakan Lu Han yang masih harus mengatasi jet lag-nya serta acrophobia yang masih terasa menghantuinya.

Pada hari kedua, setelah sarapan di hotel, mereka menelusur Kota Tua Bern dengan berjalan kaki. Memutuskan untuk berpetualang berdua tanpa bantuan pemandu wisata. Lu Han sangat percaya pada kemampuan berbahasa asing suaminya, meskipun Wu Yifan sudah mengatakan dia tidak terlalu fasih berbahasa Jerman. Untungnya, beberapa orang penduduk yang sempat diajaknya berkomunikasi, memahami bahasa Jerman level menengahnya.

Berhenti untuk membeli minuman di coffee shop, mereka melanjutkan berjalan, kali ini keluar-masuk toko. Membeli beberapa cinderamata khas Bern untuk dibawa pulang. Mengambil foto di beberapa tempat terkenal di Bern. Terakhir, melihat beruang, maskot dari kota Bern.

“Apa yang kaulakukan?” tanya Wu Yifan pada Lu Han yang hanya berdiri beberapa langkah di belakangnya. “Kau bilang, ingin melihat beruang.”

Kedua alis Lu Han bertemu, memberi tatapan ragu pada suaminya.

Menghela napas, Wu Yifan membawa langkahnya menghampiri Lu Han, “Kau tidak akan terjatuh. Kau lihat orang-orang itu? Apa mereka terjatuh?”

Lu Han masih terdiam. Menatap orang-orang yang berdiri menempel pada pagar pembatas. Mereka terlihat aman berdiri di sana. Namun Lu Han masih merasa ragu. Pagarnya hanya sebatas perut.

“Kau tidak percaya padaku, kan?” mendengar itu, Lu Han menatap suaminya. Wu Yifan mengulurkan tangannya pada Lu Han.

Masih agak ragu, Lu Han akhirnya menggenggam tangan Wu Yifan. Tidak perlu repot-repot menyembunyikan senyumannya, Wu Yifan membawa Lu Han berjalan mendekati pagar.

“Woah~ anaknya lucu sekali. Aku ingin pegang!” Lu Han menjulurkan tangannya seolah berhasil memegang anak beruang yang dimaksud. Untuk kali ini, Lu Han ingin melupakan bahwa dia (juga) mempunyai imej gelap.

Lagi-lagi, Wu Yifan tidak mampu untuk menahan senyumannya. Melihat Lu Han tersenyum, entah kenapa membuatnya otomatis ikut tersenyum.

“Apa beruang boleh dipelihara?” tanya Lu Han tiba-tiba, dengan menatap ke arahnya.

Wu Yifan sedikit gugup karena jarak mereka yang dekat, namun tidak menunjukkannya. “Aku tidak tahu. Tapi sepertinya, kau butuh surat ijin jika ingin memeliharanya.”

“Apa kita bisa memelihara satu?” Wu Yifan berani bersumpah, Lu Han memberinya tatapan memelas, dan itu pertama kali dia melihatnya.

“Kau sepertinya suka hewan peliharaan?” tanya Wu Yifan, mencoba bersuara senormal mungkin. “Ingin memelihara satu?”

“Aku suka kucing… dan anak anjing,” jawab Lu Han to-the-point.

“Kita bisa beli dua-duanya kalau sudah kembali,” ucap Wu Yifan.

“Kucing saja,” Lu Han tampak tidak setuju- “…atau anak anjing?” -dan bimbang. Dia terlihat terlalu serius untuk memikirkan hal sepele seperti itu, membuat Wu Yifan gemas.

“Atau dua-duanya?” sahut Wu Yifan.

“Ide bagus,” Lu Han menjentikkan jarinya, seolah baru mendapat pencerahan.

Wu Yifan benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Tangannya bergerak sendiri menuju pipi Lu Han, dan menariknya.

“Apa yang kau lakukan?! Sakit!” seru Lu Han, memukul pundak Wu Yifan.

Hal itu justru membuat Wu Yifan menjewer kedua pipinya. Tidak tinggal diam, Lu Han mencoba membalas dengan menjewer pipi Wu Yifan, namun gagal karena pria itu dapat menangkisnya.

“Oh, manisnya pasangan muda.” Tingkah mereka mengundang tawa lirih dari pasangan paruh baya yang berdiri tak jauh dari mereka. Dan sialnya, mereka juga orang Cina. Pasti mereka mengerti dengan pembicaraan konyol keduanya.

Wu Yifan melepaskan pipi Lu Han dan membungkuk ramah, “Apa kabar?” ucapnya dalam bahasa Mandarin. Lu Han ikut membungkuk dan tersenyum kikuk sambil memegangi pipinya.

“Sedang berlibur berdua?” tanya si pria.

“Ya. Kami sedang berbulan madu,” jawab Wu Yifan dengan percaya diri, diakhiri dengan senyuman lebar. Lu Han mendelik, mengumpatnya dalam hati karena memberi jawaban seperti itu dengan santainya.

“Oh, pasangan yang baru menikah,” pasangan paruh baya itu mengangguk mengerti. “Nikmatilah! Switzerland mempunyai banyak tempat bagus untuk berbulan madu,” lanjut si pria.

“Ah, terima kasih.”

Mereka—lebih tepatnya hanya Wu Yifan—terlibat percakapan dengan pasangan itu selama beberapa menit. Ternyata mereka adalah orang Cina yang tinggal di Switzerland. Setelah mendapatkan cukup informasi tempat tujuan yang menarik, Wu Yifan dan Lu Han mengucapkan selamat tinggal, dan kembali ke hotel.

•••••

“Oh, hujan!” Lu Han mendongakkan kepalanya. Wu Yifan melakukan hal yang sama. Rintik hujan perlahan jatuh membasahi tanah Bern, membuat suhu semakin rendah.

Menarik tudung mantel Lu Han agar menutupi kepala, Wu Yifan merangkul pundaknya dan mengajaknya berjalan lebih cepat. Hotel tempat mereka menginap masih cukup jauh jika mereka harus berjalan kaki. Wu Yifan akhirnya membawa Lu Han masuk ke sebuah café karena hujan turun semakin deras.

Seorang pelayan laki-laki menyapa mereka, membawakan handuk kering dan menunjukkan meja dengan kursi kosong. Wu Yifan membantu Lu Han melakukan pemesanan sebelum memesan untuk dirinya sendiri.

“Kurasa, kita akan terjebak di sini cukup lama,” ucap Wu Yifan, menengok ke luar jendela. Hujan turun begitu deras. Mendung putih menutupi langit Bern.

Lu Han mengangguk ringan, mengiyakan. “Untungnya kita sudah melihat beruang,” gumamnya.

Pendengaran Wu Yifan masih bisa menangkap dengan jelas gumaman Lu Han. Ujung bibirnya tertarik, membentuk senyuman kecil.

“Lu Han, you should smile more. I like it,” Wu Yifan berucap dengan menatap Lu Han yang masih melihat ke luar jendela.

“Apa?” Lu Han menolehkan kepalanya. Nampak tidak mempunyai petunjuk.

You’re pretty,” tambah Wu Yifan, tanpa mengulang ucapan sebelumnya.

Mereka saling bertukar pandang. Lu Han mengedipkan matanya beberapa kali, mencoba memahami keadaan yang membuat Wu Yifan dengan tiba-tiba mengatakan itu padanya. Lu Han belum menemukan jawabannya, bahkan saat pelayan datang mengantarkan pesanan mereka. Pandangan mereka terputus. Wu Yifan memberikan senyuman ramah pada pelayan itu saat Lu Han kembali menatapnya.

Masih dengan senyuman di bibirnya, Wu Yifan balas menatapnya, berucap, “Lu Han, later, I want to hug you tight on my sleep. I’m freezing.”

Otomatis Lu Han mendelik, mulutnya terbuka lebar. Tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan suaminya—saat pelayan masih menata pesanan mereka. Lu Han melempar serbet—tepat mengenai wajah Wu Yifan—setelah pelayan meninggalkan meja mereka dengan memberinya senyuman penuh arti.

•••••

Sebuah kamar dengan lampu temaram, sebuah ranjang yang berantakan, dan Lu Han yang masih menggulung tubuhnya dengan selimut tebal. Meski penghangat ruangan sudah menyala sejak mereka kembali ke kamar kemarin, entah kenapa suhu dingin Bern masih bisa menembus selimut tebalnya. Hal itu membuatnya malas untuk turun dari ranjang, meskipun dia sudah terbangun tak lama setelah suaminya terbangun lebih dulu.

Masih dengan selimut yang membungkus tubuhnya, Lu Han memaksa untuk duduk dan menempelkan punggungnya pada sandaran ranjang. Saat itu, dia mendengar pintu kamar mandi terbuka dan muncul Wu Yifan dari dalamnya. Rambutnya masih basah, dengan handuk bertengger di kepalanya, dan dia topless.

Mungkin suhu Bern sedang keterlaluan dingin hari ini. Kini tubuh Lu Han serasa membeku. Anehnya, wajahnya justru merasa panas. Kedua matanya membulat. Saat Wu Yifan menyadari bahwa Lu Han sudah terbangun, wanita itu mengalihkan pandangannya kemanapun selain suaminya.

“Kau sudah bangun?”

“O-ow, mm… i-iya~” jawab Lu Han, gugup dan masih tidak menatap Wu Yifan. Setelah itu, dari ekor matanya, dia melihat Wu Yifan menyeberangi ruangan untuk menyibak tirai.

Efeknya, terlalu banyak cahaya yang mengisi ruangan dan masuk melalui retina mata Lu Han dengan tiba-tiba. Menggunakan punggung tangannya untuk menghalau cahaya masuk berlebih, Lu Han takjub dengan pemandangan yang dipantulkan oleh lensa matanya saat ini. Cahaya yang menembus kaca jendela, menabrak tubuh Wu Yifan yang berdiri di depannya. Memberikan efek seolah-olah tubuhnya bersinar. Seperti Edward Cullen, pikir Lu Han.

“Ah, mataharinya sudah tinggi,” ucapan Wu Yifan membuyarkan fantasi Lu Han. “Cepat pergi mandi! Kita bisa tertinggal oleh kapalnya.”

Lu Han kembali gugup saat pandangan matanya bertemu dengan Wu Yifan. Dengan bergegas, dia turun dari ranjang dan berlari kecil masuk ke kamar mandi.

Sekitar tiga puluh menit, Lu Han akhirnya keluar dari kamar mandi. Tubuhnya terbalut bathrobe, rambutnya terbungkus handuk. Dia melihat Wu Yifan berdiri di depan lemari pakaian, masih topless. Tubuhnya kembali membeku.

“Kenapa kau mandi lama sekali?” tanya Wu Yifan, menyadari keberadaan Lu Han.

“Dan kenapa kau juga belum berpakaian sejak tadi?!” entah kenapa, secara otomatis suara Lu Han meninggi.

Wu Yifan mengembalikan perhatiannya pada isi lemari pakaian mereka, berkata, “Aku mencari kaos lengan panjangku yang berwarna hitam. Kau tahu ada dimana?”

Lu Han menghela napas, membawa langkahnya menghampiri pria itu. Meneliti lembar per lembar pakaian milik suaminya. “Aku yakin sudah mengeluarkan semua pakaian kita dari koper,” tuturnya, sedikit menggerutu.

Tanpa disadarinya, Wu Yifan tersenyum kecil karena hal itu. Mereka sudah seperti pasangan suami-istri yang normal. Samar-samar, hidungnya bisa mencium aroma shampoo yang menguar dari rambut Lu Han yang masih terbungkus handuk. Dia hampir menempelkan hidungnya pada kepala Lu Han saat wanita itu berhasil menemukan kaosnya.

“Ini! Cepat pakai!” menyodorkan kaos pada Wu Yifan, Lu Han melangkah menuju meja rias untuk mengurus rambutnya.

Bukannya segera mengenakan kaos, Wu Yifan justru meletakkannya di atas ranjang, dan menyusul langkah Lu Han. Mengambil alih handuk dari tangan istrinya, Wu Yifan membantu mengeringkan rambutnya.

“Apa yang sedang kau lakukan?” Lu Han kembali membeku dalam posisinya, menatap pantulan tubuh suaminya dari cermin. Apa dia sengaja melakukan ini, pikirnya.

“Mengeringkan rambutmu,” jawab Wu Yifan, seadanya. “Kenapa? Aku pernah melakukannya, kan? Dan kau tidak ada masalah sebelumnya.”

“Eum~” Lu Han mengalihkan pandangannya saat mata mereka bertemu di pantulan cermin. Meraih smartphone-nya yang kebetulan ada di atas meja rias. Memilih bermain game, membiarkan Wu Yifan melakukan apapun yang diinginkannya.

Tidak ada percakapan di antara keduanya. Lu Han mencoba memfokuskan dirinya pada game, namun gerakan tangan Wu Yifan pada rambutnya telah mengirimkan sensasi menggigil pada tulang punggungnya. Saat mereka berkunjung ke Beijing selama sepekan, pertama kalinya Wu Yifan membantu mengeringkan dan menyisir rambutnya. Namun saat itu, Lu Han tidak merasakan hal yang sama seperti hari ini. Ada apa ini? Ini tidak mungkin cinta, kan?

“Selesai!”

Lu Han agak terkejut mendengarnya. Melihat pantulan dirinya di cermin, rambutnya sudah kering dan tersisir rapi. Sebuah senyuman mengembang di bibirnya. Di saat yang sama, Wu Yifan tidak bisa menahan jemarinya untuk mengambil rambut Lu Han, dan membawanya mendekati hidungnya. Setelah menghirup aromanya, tanpa dia sadari, kedua matanya terpejam dan bibirnya sudah menyentuh rambut Lu Han.

Tindakannya tentu saja membuat Lu Han bereaksi berlebihan. Kedua matanya kembali membulat, mulutnya terbuka seolah rahang bawahnya jatuh. Dia ingin mengucapkan sesuatu namun tidak ada suara yang keluar.

“Maaf,” Wu Yifan menarik dirinya, beberapa detik kemudian. Berdiri dengan canggung. Kemudian memilih menghampiri kaosnya, dan berpakaian. Meninggalkan Lu Han yang seolah masih terhipnotis.

•••••

A/N:

Hai, semuanya~~ ( ´ ▽ ` )ノ

This is an update! Sorry, lama. Rasanya seperti baru kemarin aku memposting part 4.

What do you think? Aku pribadi berpikiran, part ini sangat hambar dan alurnya berantakan. Aku tidak tahu ada apa denganku. Mungkin bakat menulisku hilang lagi gara-gara aku melawan non-pengguna kekuatan. #abaikan #efekthelawofueki

Laptopku baru saja rusak. (ಥ_ಥ) Di saat yang genting seperti ini aku harus mengalami musibah~ (ಥ_ಥ) Beberapa file-ku ada yang hilang. Untungnya aku masih bisa menyelamatkan fanfiction ini. (= ̄ω ̄=)

Apa part ini hambar? Apa feel-nya kurang? Apa tidak sesuai ekspektasi? Maafkan aku~ p(´⌒`。q)

Destinasi tempat honeymoon sudah diputuskan. Aku mengusulkan pada mereka untuk pergi ke Swiss, kekeke~ Karena negara itu sangat indah seperti negeri dongeng, dan aku juga ingin mengunjunginya—setelah Venice. Untuk tempat-tempat yang mereka kunjungi, aku mendapat referensi dari episode Super Junior One Fine Day. Sebenarnya, aku mencari sendiri informasinya di internet, tapi aku kurang mampu membayangkan keadaan sebenarnya. Jadi aku menonton itu, hehe~  (= ̄ω ̄=)

Eum~ semoga kalian suka dengan part hambar ini, dan masih berkenan untuk menanti kelanjutannya meski update sangat lama. Terima kasih sudah berkunjung! ( ^∇^)

 

Big Heart,

Ranifa Billy

Advertisements

2 thoughts on “[Fanfiction] Tangled (part 5) | FanHan/KrisHan/KrisLu

  1. what hambar? This is absolutely sweeeeeettt 😍😍😍😍 aaahhh aku suka aku suka kyaaaaaa!! KrisHan akhirnya ada kemajuan ah demi apa gemesh sama mereka berdua 😍😍😍 walaupun aku menanti adegan ‘ituan’nya mereka sih 😂😂😂 sorry for my pervertness lol but I can’t wait to seeing them share the love 😍😍😍

    Daaaannn fyi aku juga cintaaaa banget sama Swiss, itu negara yg paling pengen bgt aku kunjungi. Aku suka Zermett karena deket pegunungan/gunung apa gitu lupa namanya hehe 😅 yang jelas Swiss itu negara terindah deh, semoga bisa kesana one day Amiin.

    Slow update gk apa2 yang penting kamu konsis selesain ff-nya. Penantian sebulan sekali gk sia-sia deh 😂 semoga dilancarkan ya ranifa. Laptopmu semoga cepet sembuh. Real life juga lancar jaya.

    Dan yang paling penting tetep semangat ya lanjutin ff ini dan karya2 yang lain. Keep writing and fighting! 😊

  2. Ya ampuun..
    Fanhan bikin gemeeees…
    Mereka berdua itu selalu bisa bikin diabet.. 😍😍

    Hambar gak jug sih.. Mgk kurang 1% ajah jdi gregetny kurang dikit.. 😉😊
    Tpi overall.. Aku suka kog..
    Aplgi Yipan yg udah mulai kode keraaas.. 😅😂

    Lanjutkan.. Semangaat ya 😆😆
    Hwaiting 💪💪

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s