[Fanfiction] Tangled (part 6) | FanHan/KrisHan/KrisLu

Fanfiction

cover-tangled-7

 

Tangled © 2017

A KrisLuhan Fanfiction by Ranifa Billy

Cast

Lu Han

Kris Wu Yifan

Pairing

FanHan / KrisHan / KrisLu

Genre

Romance, Drama, (a bit Humor)

Rate

PG-15

Warning

fem!Lu, younger!Lu, typo(s), OOC

(A/N: This idea came when I was spacing out while waiting for sunrise. Then I remembered a novel, Anna Karenina, and decided to write this. I’ll update this fanfiction once a month.)

Happy Reading! Enjoy!

•••••

Part 6

“Jembatan Chapel adalah ikon dari kota Lucerne, yang melintang di atas Sungai Reuss. Merupakan jembatan kayu beratap tertua di Eropa yang dibangun tahun 1333. Pada penyangga atapnya terdapat lukisan-lukisan yang menjelaskan tentang sejarah Switzerland.”

Wu Yifan membaca—dan menerjemahkan ke bahasa Mandarin—artikel online dari smartphone-nya. Mengekor Lu Han yang memandang takjub pemandangan di depannya. Hari ketiga mereka pergi ke Lucerne, mengikuti rencana yang disusun Wu Yifan semalaman. Tepatnya, mereka akan ke puncak Rigi Mountain.

“Wah! Bangau!” seru Lu Han saat mereka menyeberangi Jembatan Chapel. Menunjuk beberapa ekor angsa di tepian sungai Reuss. Nampaknya dia tidak mendengarkan penjelasan suaminya.

“Kau tidak mendengarkanku, kan?”

“Kau membacanya dari internet. Aku juga bisa mencari dan membacanya nanti.”

“Kau belum tentu mengerti isi dari artikel itu.”

“Aku bisa mencari artikel berbahasa Mandarin.”

Checkmate! Menyimpan smartphone-nya, merasa kalah berargumen. Wu Yifan mencari topik lain, “Bukankah itu angsa?” merujuk pada beberapa ekor angsa yang disebut Lu Han sebagai bangau.

Lu Han sedikit terkejut dengan perubahan topik pembicaraan, “Oh, iya. Itu angsa,” menundukkan wajahnya. Memukul pundak Wu Yifan dengan cukup keras—karena malu, dan melanjutkan langkahnya lebih dulu.

Wu Yifan tersenyum menang sebelum menyusul langkahnya. Checkmate!

“Kudengar, angsa hanya berpasangan satu kali seumur hidupnya,” gumam Lu Han, random. Wu Yifan hanya diam, menunggu Lu Han melanjutkan kalimatnya.

Sinar mata Lu Han sedikit berbeda. Seolah dia sedang kembali ke masa lalu. “Menyebalkan sekali,” lanjutnya, masih bergumam. Menendang beberapa kerikil dengan asal.

“Darimana kau mendengarnya?” tanya Wu Yifan. Lu Han menoleh ke arahnya, agak terkejut, tidak sadar jika pria itu mendengarkannya.

“Bukankah semua unggas hanya berpasangan satu kali seumur hidupnya?” Wu Yifan juga menatap Lu Han.

Kedua mata Lu Han agak melebar, “Benarkah?”

Wu Yifan mengangkat bahunya, “Entahlah. Aku juga tidak yakin.” Untuk kedua kalinya hari itu, Lu Han memukul pundaknya dengan keras.

Mereka menumpang kapal pesiar untuk wisatawan menuju ke Vitznau. Cuacanya mendukung, matahari bersinar terang, langit berwarna biru, air danau tampak jerih, pepohonan hijau segar, dan Lu Han yang tak menghilangkan senyumnya sejak kapal mulai berlayar. Pemandangan itu membuat Wu Yifan tenang. Tanpa sepengetahuan Lu Han, dia mengambil satu potretnya dengan kamera polaroid.

“Apa kau baru saja memotretku?” Lu Han sadar pada akhirnya, menatap suaminya.

Mengangguk ringan, Wu Yifan meminta bantuan dari salah satu wisatawan untuk memotret mereka berdua, menggunakan kamera digitalnya. Wu Yifan merangkul pinggang Lu Han dan menariknya mendekat, sontak Lu Han menatapnya. Kembali merasakan pipinya memanas, Lu Han teringat dengan kejadian tadi pagi di kamar hotel mereka.

Once more,” ucap pria yang membantu memotret mereka. “Miss, please look at the camera,” lanjutnya dengan tersenyum.

“Kau tidak melihat ke kamera, ya?” Wu Yifan mendelik padanya, namun Lu Han tak acuh. Mereka kembali melakukan pose yang sama, kali ini Lu Han mencoba untuk tersenyum natural pada kamera.

Thank you very much,” ucap Wu Yifan menerima kembali kameranya dari pria itu. Melihat hasil potretnya, tidak buruk. Sebuah senyuman kembali menghampiri bibirnya, mengetahui alasan kenapa Lu Han tidak menatap ke kamera sebelumnya.

Dilihatnya, Lu Han yang tidak tertarik melihat hasil potret dan justru sedang memperhatikan pasangan muda yang berdiri di ujung kapal, sedang memparodikan salah satu adegan fenomenal dari film Titanic.

“Ingin mencoba pose Titanic juga?” tanya Wu Yifan. Terdengar begitu jelas di telinga Lu Han, sehingga membuatnya terkejut.

“Tidak,” jawabnya ketus, dengan rona merah samar di pipinya yang tidak luput dari mata Wu Yifan.

•••••

Rigi Mountain berwarna putih, tertutup salju tebal. Kontras dengan panorama dibawahnya yang berwarna hijau segar dengan bias warna biru dari Danau Lucerne. Lanskap dari puncak susah untuk diabaikan. Wu Yifan tidak berhenti untuk mengambil potret dari sudut yang berbeda. Hampir melupakan Lu Han yang hanya duduk berjongkok cukup jauh di belakangnya, membuat beberapa bola salju.

Wu Yifan menoleh ke belakang, “Lu-” berniat memanggil Lu Han tepat saat sebuah bola salju mendarat di kepalanya. Jangan tanya siapa pelakunya.

“Kenapa melempar bola salju ke arahku?!” protes Wu Yifan, membersihkan salju di rambutnya.

“Kau mengajakku ke sini, tapi kau mengabaikanku,” Lu Han mengambil satu bola salju. “Rasakan itu!” dan kembali melemparnya ke arah Wu Yifan.

Entah kenapa pria itu tidak bisa menghindarinya. Kali ini bola salju mendarat di wajahnya. Jadi, dia membawa langkahnya menuju Lu Han, mengambil satu bola salju, dan balas melemparnya pada istrinya. Setelah itu, mereka terlibat perang bola salju selama beberapa menit. Sampai Lu Han menyerah terlebih dahulu karena merasakan dingin di wajahnya.

Berbaring di atas salju tebal, “Dasar kekanakan! Tidak mau mengalah,” Lu Han menggerutu.

Wu Yifan melangkah menghampiri, dan duduk di sampingnya. Membersihkan salju yang masih menempel di wajah Lu Han, “Maaf. Aku tidak bermaksud mengabaikanmu.”

Tindakannya membuat Lu Han tertegun, namun dia tidak menghentikannya. Dapat dirasakan pipinya merona. Lu Han bangkit dari posisinya, mereka duduk bersebelahan dengan canggung. Mungkin hanya Lu Han yang merasakannya.

Wu Yifan menggenggam tangannya dan menariknya agar berdiri. Membawanya ke tebing.

“Kau mau membunuhku, kan?” ucap Lu Han dengan wajah horor. Mencoba menahan kakinya agar berhenti melangkah. Wu Yifan hanya menatapnya datar.

Sampai di tebing, sebelum Lu Han sempat berteriak histeris, Wu Yifan membawa lengannya menuju pinggang Lu Han dan menariknya lebih dekat. “Kau tidak akan jatuh,” ucapnya.

Lu Han mendongakkan kepala, mendengar suara dalam itu tepat di telinganya. Tidak menyangka, Wu Yifan juga tengah menatapnya. Mereka saling bertatapan untuk beberapa saat. Seolah saling terhipnotis oleh sinar mata lawannya. Lu Han kembali merasa pipinya menjadi lebih hangat. Bukan hanya karena aliran darahnya yang menjadi sangat cepat. Napas Wu Yifan yang menyapu wajahnya, membuyarkan lamunannya. Hidung mereka hampir bersentuhan, dan Lu Han memalingkan wajah pada lanskap yang membentang di depannya.

“Woah~ luar biasa!” ucapnya takjub. Mencoba menghilangkan kecanggungan di antara mereka.

Wu Yifan membersihkan tenggorokannya, mengusap tengkuk dengan tangannya yang bebas. Mereka saling terdiam, canggung. Sesekali, Lu Han melirik suaminya yang menjulang tinggi di sampingnya. Pria itu tak mengucapkan apapun. Mata tajamnya menelusur pemandangan yang terbentang di hadapan mereka.

“Lu Han,” panggil Wu Yifan.

“Ya?” terkejut, Lu Han mendongak. Arah pandangan mata Wu Yifan masih sama.

Ada jeda beberapa detik sebelum Wu Yifan kembali bersuara, “Would you stay with me?” Dalam hati, Wu Yifan mulai menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan istrinya untuk memberikan jawaban.

Setelah tepat enam puluh detik, Wu Yifan menengok ke arahnya. Memastikan bahwa istrinya mendengarkan pertanyaannya. Dan yang dilihatnya adalah Lu Han yang sedang menatapnya, menunjukkan ekspresi blank.

“Ada apa dengan ekspresi blank itu?” kedua alis tebal Wu Yifan bertemu.

“Aku tidak paham dengan pertanyaanmu,” menggelengkan kepalanya, Lu Han menjawab seadanya. “Aku sudah tinggal bersamamu sejak empat bulan yang lalu. Selama ini, kau tidak menganggap keberadaanku, ya?”

“Oh, aku salah bertanya,” mengusap pelipisnya, Wu Yifan tampak berpikir.

Ini aneh, tapi Lu Han berdebar-debar menunggu kalimat atau pertanyaan seperti apa yang akan keluar dari bibir Wu Yifan. Dan ini akan menjadi tidak lucu jika pria itu memutuskan untuk melupakan apa yang akan diungkapkannya. Ketika Wu Yifan menghela napas, Lu Han sudah menyiapkan tangannya untuk memukul pria itu. Namun, sebelum dia sempat menunaikannya, Wu Yifan mengucapkan kalimat yang tidak pernah diduganya.

Let’s come here again together with our babies.”

Bibir tipis Lu Han membulat sempurna, kedua pupilnya melebar. Jantungnya berdebar lebih cepat sampai terasa ingin menghancurkan tulang rusuknya. Darahnya terasa mengalir ke atas, berkumpul di wajahnya, terlebih saat Wu Yifan melanjutkan penuturannya.

“Mungkin butuh beberapa tahun lagi. Setidaknya sampai mereka bisa berjalan sendiri. Anak kembar merupakan ide yang bagus, kan?”

Membalikkan badannya memunggungi Wu Yifan, tidak mampu menahan pipinya agar tidak merona. Lu Han yakin wajahnya sudah semerah mantel yang dikenakannya sekarang. Meremas jemarinya sendiri, Lu Han dapat merasakan dua lengan melingkari pundaknya. Menariknya ke belakang secara perlahan hingga punggungnya kini bersandar pada dada Wu Yifan. Lu Han menahan napasnya saat napas hangat Wu Yifan menerpa telinganya. Hangat, namun juga memberinya sensasi menggigil.

“HanHan,” panggilan baru itu terasa menggema di telinganya. Suara dalam Wu Yifan, entah sejak kapan Lu Han mulai menyukainya.

Me and you, let’s built our own family, from now on.”

Seolah dapat mendengar dentuman keras yang dihasilkan oleh jantungnya, Lu Han membawa tangannya ke depan dada. Namun tangannya justru bertemu dengan milik Wu Yifan yang masih melingkari pundaknya. Menyebabkan jantungnya berdebar jauh lebih cepat dari sebelumnya. Memompa darahnya dengan cepat, sehingga wajahnya kini menjadi sangat panas.

Itu tidak baik untuk kesehatannya. Lu Han ingin membebaskan dirinya saat Wu Yifan melepaskan sendiri pelukannya. Membalik tubuh Lu Han hingga menghadap padanya. Kepala Lu Han menunduk begitu dalam, menyembunyikan wajahnya yang sangat merah. Saat Wu Yifan mengangkat dagu Lu Han dengan lembut, dapat dilihatnya wajah Lu Han yang merona hebat, kedua matanya terpejam dengan erat, bulu matanya yang sangat panjang, hidung mungilnya, dan tak luput bibir tipisnya yang sewarna strawberry.

So lovely, batin Wu Yifan, terpesona.

Mengambil kesempatan itu, Wu Yifan mengecup bibir Lu Han sekilas. Kedua mata Lu Han masih terpejam. Wu Yifan mempertemukan dahi mereka. Tangan kanannya masih di pinggang Lu Han, kini tangan kirinya berada di belakang kepala Lu Han.

I like you,” bisiknya.

Kelopak mata Lu Han perlahan terbuka, dan langsung bertemu dengan sepasang mata tajam Wu Yifan yang menatapnya dengan lembut. Menghembuskan napasnya perlahan, Lu Han kembali merasakan sepasang bibir mendarat di bibirnya. Tentu saja itu milik Wu Yifan.

Kini kedua mata Wu Yifan yang tertutup. Lu Han kembali menutup matanya saat bibir Wu Yifan mulai bergerak menyesuaikan dengan bentuk bibirnya. Awalnya, Lu Han tidak tahu harus bagaimana, hanya membiarkan Wu Yifan mengambil kontrol. Dia terlalu sibuk berpikir, apa ini nyata?

Melumat bibir Lu Han dengan lembut, perlahan namun pasti, Wu Yifan mempersempit jarak antara mereka. Menekan kepala Lu Han untuk memperdalam ciuman mereka, saat samar-samar merasakan wanita itu ikut menggerakkan bibirnya. Tanpa sadar, tangan Lu Han sudah mencengkeram mantel Wu Yifan dengan erat.

•••••

Pukul 11 malam, lampu kamar mereka masih menyala seluruhnya. Duduk di sofa, seolah sedang membaca buku, kedua mata tajam Wu Yifan memperhatikan gerak-gerik istrinya. Entah apa yang dilakukannya, Lu Han baru keluar dari kamar mandi setelah satu jam. Langkahnya tergesa, menuju meja rias untuk mengambil sisir sebelum kembali ke kamar mandi. Keluar lagi setelah tiga puluh menit, kembali menuju meja rias, memainkan smartphone-nya.

Mereka tidak membuat percakapan sejak turun dari Rigi Mountain hingga tiba kembali ke kamar hotel. Wu Yifan pergi untuk mandi terlebih dahulu sebelum bergantian dengan Lu Han. Setelah itu, Lu Han tampak menyibukkan dirinya, seolah menghindari membuat percakapan dengannya.

Masih dengan memperhatikan istrinya, Wu Yifan bangkit dari sofa. Kini duduk bersandar di ranjang, melanjutkan kegiatan ‘membaca’nya. Lu Han meletakkan smartphone-nya di atas meja rias, menyisir rambutnya sekali lagi, sebelum berbalik dan terkejut saat bertemu pandang dengan Wu Yifan. Mengalihkan pandangannya ke arah lain, Lu Han melangkah dengan ragu menuju ranjang untuk mengambil bantalnya.

“Mau dibawa kemana bantalnya?” Lu Han menjatuhkan bantalnya, terkejut mendengar suara suaminya.

Tanpa menjawab pertanyaan suaminya, Lu Han mengambil kembali bantalnya. Wu Yifan merangkak di atas ranjang, mendekati Lu Han yang masih berdiri di tepi ranjang. Menahan tangan Lu Han saat wanita itu berniat menjauh.

“Mau dibawa kemana bantalnya?” Wu Yifan mengulang pertanyaannya, sedikit mengintimidasi.

Kembali, Lu Han tidak menjawab, juga tidak berani menatap suaminya. Tiba-tiba dia merasakan tubuhnya oleng ke depan. Saat menyadarinya, dia sudah berada di atas tubuh suaminya. Wajah mereka sangat dekat, Lu Han bisa merasakan napas Wu Yifan menerpa wajahnya. Kedua lengannya melingkari tubuh Lu Han. Dalam hitungan detik, Wu Yifan membalik posisi mereka. Kini Lu Han yang terbaring di ranjang dengan Wu Yifan di atasnya.

“Apa aku membuat kesalahan?” tanya Wu Yifan, dengan suara rendah, menatap ke dalam bola matanya.

Masih bungkam, Lu Han mencoba melihat kemanapun selain Wu Yifan, namun tidak bisa karena jarak pandangnya terbatas.

“Apa karena ciuman tadi?” Wu Yifan mengajukan pertanyaan lain, membuat Lu Han semakin gugup.

“Apa salah kalau aku menciummu?” karena Lu Han tak kunjung bersuara, Wu Yifan terus mengajukan pertanyaan lain. “Kau tidak menyukainya?”

Dalam hati, Lu Han berdoa agar kondisinya sekarang segera berakhir. Apa Wu Yifan tidak tahu, efek apa yang diberikannya pada Lu Han atas perbuatannya kini? Bersusah payah Lu Han mencoba menelan ludahnya sendiri. Dia bahkan mencoba bernapas sepelan mungkin, agar jantungnya tidak berdegup terlalu cepat. Jika diingat-ingat, entah sudah berapa kali Wu Yifan membuatnya merasakan itu dalam sehari ini.

I’m sorry, okay?” mendengarnya, Lu Han membawa pandangannya pada Wu Yifan. Terkejut menyadari pandangan mata Wu Yifan meredup. “I’ll give it back.”

Detik selanjutnya, Lu Han kembali dapat merasakan bibir Wu Yifan di bibirnya. Membawa kembali pada ingatannya tadi siang, saat Wu Yifan menciumnya untuk pertama kali dengan perasaan. Kilas balik itu berakhir begitu cepat saat Wu Yifan menarik dirinya. Lu Han tampak belum sepenuhnya sadar dari kilas baliknya. Kedua lengannya bergerak sendiri melingkari leher Wu Yifan. Menariknya kembali untuk mempertemukan bibir mereka, namun juga tak berlangsung lama. Kini Wu Yifan yang tertegun.

“Jangan,” bisik Lu Han. “Aku minta maaf,” lanjutnya.

Keadaan terbalik, Wu Yifan kini terdiam, membiarkan Lu Han melanjutkan penuturannya. Kedua bola matanya seperti magnet, membuat Lu Han tak mampu mengalihkan pandangannya, sekalipun dia masih gugup.

Menarik napas untuk menambah kekuatannya, Lu Han berucap, “Aku… hanya terkejut. Aku… aku hanya… ti-tidak, mm… belum siap,” suaranya bergetar, gugup. “Kau tidak bersalah.”

Mereka berpandangan lama. Wu Yifan kembali dapat melihat rona merah yang sangat kontras dengan kulit Lu Han. Tersenyum tipis, dia mempertemukan dahi mereka.

“Oke, aku mengerti,” jeda beberapa detik sebelum dia melanjutkan, “Jadi, kau sudah memberiku ijin untuk menciummu? Kapanpun?”

Mengalihkan pandangannya, Lu Han mengangguk pelan, mengabaikan seberapa kentara rona merah di pipinya. Senyum Wu Yifan melebar. Baginya, kini Lu Han terlihat sangat indah dan menggemaskan. Dia harus menahan diri untuk tidak menggigit pipi merah itu saat itu juga.

“Terima kasih,” mengecup bibir Lu Han sekilas, sebelum menciumnya lagi. Lama, dalam, dan dengan perasaan. Dan Lu Han membalasnya.

That night, they shared their kiss for the first time, passionately.

•••••

A/N:

Halo~ (*^▽^)/ Apa kabar, semuanya~? Aku harap, kalian semua yang berlangganan maupun yang nyasar di sini selalu dalam lindungan Tuhan.

Okay, ini adalah update! Yaay~

Aku memikirkan untuk menaikkan rating part ini, tapi aku masih ragu. Tidak jadi, deh. Menulis kissing scene mereka saja aku senyum-senyum terus, malu sendiri. Jika aku berhasil menulisnya, itu akan menjadi pengalaman pertamaku menulis cerita dewasa(?). mungkin wajahku ikut terbakar saat menulisnya. ≧﹏≦  Maaf jika part ini tidak sesuai harapan lagi.

Eum, jika di part sebelumnya menurutku hambar, kali ini aku merasa part ini justru terlalu kompleks. Aku khawatir, aku tidak mampu menyelesaikan fanfiction ini karena terlalu kompleks. Meskipun kerangka cerita untuk ending part sudah kususun (endingnya masih jauh). Sedikit bocoran, konflik utama dari fanfiction ini belum muncul. Aku sendiri terkejut karena sudah masuk part 6 (akan ke part 7) tapi aku belum memunculkan konfliknya. (╥_╥)

Tapi aku memang merasa perlu menjelaskan bagaimana mereka saling jatuh cinta, sebelum konfliknya muncul. Hing~ aku dilema~ ○| ̄|_

Aku sudah membuat kerangka cerita untuk fanfiction ini sampai ending, tapi belum kukembangkan menjadi paragraf-paragraf cerita. Padahal awalnya, kupikir fanfiction ini paling panjang 5 episode. Ternyata justru lebih. Tapi jangan khawatir, aku akan menyelesaikan fanfiction ini meskipun mungkin berhalangan update. *deep bow*

Aku harus sudah lulus bulan Juli tahun ini. #curhatlagi Jadi, aku mohon maaf untuk ketidak nyamanannya. ︶︿︶

Maaf jika aku sering curhat di sini. Maaf jika ada kata-kataku di dalam maupun luar cerita ada yang menyinggung pihak tertentu. Sekali lagi, terima kasih sudah berkunjung! Terima kasih juga untuk dukungannya~ (´・ﻌ・`)

See you~

 

Big Heart,

Ranifa Billy

Advertisements

2 thoughts on “[Fanfiction] Tangled (part 6) | FanHan/KrisHan/KrisLu

  1. Wah maaf baru sempat komen sekarang ya ranifa, akupun sama sedang sibuk2nya dengan kerjaan di kantor sampe juni/juli -_-

    Aku suka aku sukaaaaa kyaaaaa 😍😍😍😍 momentnya sweet, bikin melted 😍😍😍 iya aku berharap ratingnya ada nyelip M M M!!! Di next chapter 😂😂😂😂 sorry for my perverted 😅 beacuse I was gemes(?) with them 😂😂😂

    Eh betewe itu di swiss ceritanya lagi winter kan? Tapi kok ada pepohonan hijau yak? 😂😂 maaf ke kudetan aku karena setauku kalo winter ya pohon akan tersisa kerangka(?) aja kan those leaves are fall. Tapi aku gk peduli yang penting FanHan romatis2an dan cepet ada adegan bikin dedek bayi 😂😂😍😍😍

    Mau sampe berapapun chapternya asal konsis even sebulan sekali update aku akan tetap mendukungmu, dan selalu semangat baca FF nya eaaaaa~ 😂😂😂

    And glad that you have been prepare this ff ’til the end wohooooo 😎😎 pokoknya tetap semangat bikin ff nya ya cerita my parents love story juga kalo bisa dilanjut. Sukses buat kuliah dan semoga wisuda sesuai jadwal ya. Fighting!! ❤❤

  2. Diaaabeet.. Ommo.. Diaabeeet
    😍😘😍😘😍

    No comment lah ama chap ini.. Sweet bgt abisnya
    Sukaaaaaaaaaa bgt ama moment ny, skinsip ny.. Pokokny sukaaaa gak bisa diungkapin pake kata² 😘😘

    Lanjutkaan.. 😍😘😍
    Daebaaak 👍👍
    Hwaiting 💪💪💪

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s