[Fanfiction] Tangled (part 7) | FanHan/KrisHan/KrisLu

Fanfiction

cover-tangled-7

Tangled © 2017

A KrisLuhan Fanfiction by Ranifa Billy

Cast

Lu Han

Kris Wu Yifan

Pairing

FanHan / KrisHan / KrisLu

Genre

Romance, Drama, (a bit Humor)

Rate

NC-17 (maybe -___-)

Warning

fem!Lu, younger!Lu, typo(s), OOC

(A/N: This idea came when I was spacing out while waiting for sunrise. Then I remembered a novel, Anna Karenina, and decided to write this. I’ll update this fanfiction once a month.)

Happy Reading! Enjoy!

•••••

Part 7

Malam dimana mereka berbagi ranjang untuk pertama kali, Wu Yifan menemukan dirinya terbangun di lantai keesokan hari. Meski hanya samar-samar, dia sadar, Lu Han menendangnya. Tapi dia tidak pernah mengungkitnya di depan Lu Han, itu akan menjadi rahasianya. Dari pengalaman itu, karena sekarang mereka sudah berbagi ranjang, Wu Yifan akan menunggu Lu Han tertidur lebih dulu. Setelah itu, dia akan memeluk Lu Han erat agar dia tidak menendang. Awalnya, Lu Han memberontak—meski dalam keadaan tidur—dan kembali menendangnya. Mungkin karena sudah terbiasa, kini Lu Han tidak lagi menendangnya dari ranjang.

Tiap pagi, Wu Yifan akan terbangun lebih dulu. Mengagumi paras istrinya yang masih tertidur di sampingnya, begitu murni bak malaikat. Tanpa sepengetahuan Lu Han, dia akan menyempatkan untuk meninggalkan kecupan selamat pagi sebelum beranjak ke kamar mandi. Pagi ini juga sama, namun dengan suasana yang berbeda.

Mungkin karena ciuman semalam. Terbangun dengan hati yang ringan, seolah semua bebannya menghilang begitu saja. Wu Yifan tidak mampu menghapus senyuman di wajahnya begitu kedua matanya terbuka. Ingatan tentang ciuman mereka semalam masih terasa hidup. Kini, dia seolah bisa menyerukan pada semua orang bahwa dirinya dan Lu Han sudah resmi saling memiliki. Itu terdengar konyol dan kekanakan, dia bisa mendengar pikirannya berbicara padanya.

Mengabaikan pemikiran konyolnya, melirik Lu Han yang masih terlelap, Wu Yifan menyingkirkan poni rambut yang menutupi mata istrinya. Seperti biasa, tanpa disadari Lu Han, mengecup bibirnya sekilas. Agak terkejut karena kedua mata Lu Han langsung terbuka setelah itu.

Good morning, HanHan!” bisiknya, tersenyum lebar.

Lu Han mengusap matanya sebelum menjawab, “Selamat pagi,” diakhiri dengan senyuman samar.

Senyuman Wu Yifan melebar, seperti menunggu hari seperti ini untuk tiba. Ini tidak terlalu cepat, kan? Hubungannya dengan Lu Han memang butuh proses, tapi empat bulan apakah terlalu singkat? Dia sempat khawatir dengan kehadiran Jake Miller di kehidupan mereka. Namun kini dia merasa lebih lega karena berhasil mendapatkan hati Lu Han. Tidakkah dia sudah menang?

Mereka berbincang singkat sebelum Wu Yifan menyuruh istrinya untuk menggunakan kamar mandi terlebih dahulu. Selama menikmati sarapan di hotel, Wu Yifan menjelaskan rencana yang sudah disusunnya untuk hari ini. Mereka akan check-out dan melakukan perjalan selama tiga jam menuju Zermatt. Alasannya mengunjungi Zermatt adalah untuk mencoba berbagai olahraga musim dingin seperti snowboarding, paragliding, dan skiing. Itu adalah rencana utamanya. Dia juga mempunyai rencana cadangan yang akan didiskusikannya dengan Lu Han terlebih dahulu.

•••••

Berbatasan langsung dengan Italia, Zermatt merupakan kota kecil yang dikelilingi oleh sepertiga dari ratusan puncak pegunungan Alpen. Zermatt menjadi pintu masuk untuk mendaki Matterhorn. Puncak Matterhorn merupakan puncak paling terkenal dan tertinggi di Swiss, dengan ketinggian 4.000 meter di atas permukaan laut.

Mereka tiba di stasiun Zermatt pada tengah hari. Hari itu terbilang cukup ramai. Lu Han menyelipkan tangannya di antara lengan Wu Yifan sejak mereka melangkah keluar dari kereta, dan di sepanjang jalan menuju hotel. Keduanya tidak mampu menyembunyikan kekaguman mereka melihat pemandangan bagai di negeri dongeng yang ditawarkan oleh kota kecil bebas polusi itu.

Wu Yifan mengajak Lu Han berjalan lebih cepat menuju hotel yang direkomendasikan oleh salah satu situs travel online. Selesai melakukan check-in, mereka segera menuju kamar. Begitu membuka kamar hotel, Lu Han serasa baru bisa bernapas lega. Duduk selama tiga jam di kereta sangat melelahkan.

Duduk di tepi ranjang, Lu Han melepaskan mantel tebalnya, “Bangunkan aku saat makan malam, okay?” membaringkan tubuh, dan menarik selimut hingga menutupi kepala.

“Setidaknya, cucilah tangan dan kakimu terlebih dahulu,” Wu Yifan memaklumi istrinya dan mulai membongkar isi koper mereka.

Hari ini rasanya matahari terbenam lebih cepat. Kamar hotel mereka tampak gelap, hanya sedikit cahaya yang masuk dari luar melalui kaca jendela. Wu Yifan terbangun dengan tiba-tiba karena suara alarm-nya. Setelah membuatnya non-aktif, dia baru sadar jika televisi di depannya masih menyala. Dia tertidur di sofa saat menonton televisi setelah membongkar isi koper mereka.

Melangkah menuju saklar lampu, kemudian membangunkan Lu Han yang memang masih tertidur. “Bangun, HanHan! Cuci mukamu. Waktunya makan malam,” Wu Yifan duduk di tepi ranjang, mencolek-colek pipi Lu Han.

Lu Han hanya bereaksi dengan menangkis tangannya. Hal itu justru membuat Wu Yifan menjewer kedua pipinya. “HanHan~~”

Masih dengan mata tertutup, Lu Han mengerang, berusaha menyingkirkan tangan jahat Wu Yifan dari kedua pipinya, “Wu Yifan, stupid!” gumamnya.

Wu Yifan cukup terkejut karena ini pertama kalinya Lu Han mengigaukannya, dan itu sebuah umpatan. Untuk memastikan apakah Lu Han sudah bangun atau setengah sadar, dia menyingkirkan rambut yang menutupi telinga istrinya.

Mendekat dan berbisik, “Bangun, HanHan. Atau aku akan menciummu. Dan kita bisa melewatkan makan malam dengan saling menghangatkan tubuh masing-masing.” Setelah itu, Wu Yifan tidak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba dia sudah terjungkal dari ranjang. Rahang bawahnya terasa nyeri.

Bangkit dari posisinya, dia melihat Lu Han berjalan cepat masuk ke kamar mandi. “Kenapa memukulku!?” serunya, masih memegangi rahang bawah.

“Salahkan otak mesummu itu!” teriak Lu Han dari dalam kamar mandi.

Sejak keluar dari hotel hingga tiba di restoran, Wu Yifan sama sekali tidak mengeluarkan suara. Dia bahkan tidak memasang wajah yang ramah. Hal itu justru membuat Lu Han mengomelinya. Bagi wanita, pria selalu salah, batinnya. Nampaknya, mereka akan berperang dingin sepanjang malam.

•••••

Masih dengan suasana perang dingin, Lu Han hanya setengah hati mengikuti rencana suaminya hari ini. Dia bahkan tidak bersuara sejak bangun tidur. Wu Yifan pun dalam kondisi yang sama. Setelah menyewa perlengkapan snowboarding, mereka menuju ke lokasi cable car, transportasi yang akan membawa mereka ke puncak Matterhorn.

Lu Han menghentikan langkahnya setelah melihat alat transportasi itu, “Kenapa kita naik cable car dan bukannya sky-train seperti saat di Rigi Mountain?”

“Karena memang kendaraan ini yang disediakan,” Wu Yifan menjawab seadanya, menahan laju cable car setelah menyimpan papan luncurnya. “Cepatlah naik! Benda ini bergerak terus,” frustrasi, Wu Yifan menarik lengan Lu Han dan mendorongnya masuk ke dalam cable car.

Terkejut dengan apa yang baru saja terjadi, Lu Han merengek, “Aah~ Wu Yifan~” berdiri kaku di tengah-tengah cable car. Sementara yang dipanggil sedang mengalami kesulitan untuk meletakkan papan luncur miliknya, sebelum menyusul masuk dan menutup pintu.

“Aah~ jangan duduk bersebelahan!” Lu Han berseru histeris pada Wu Yifan yang memilih duduk di sampingnya. “Benda ini akan terjungkir~ Wu Yifan~” dan kembali merengek. Kedua lengan mencengkeram erat lengan suaminya.

Wu Yifan tidak memberikan respon apapun, hanya mengusap telinga kanannya yang berdengung karena istrinya itu berteriak tepat di sana. Di saat yang sama, dia sedikit lega karena suasana perang dingin di antara mereka sudah berakhir. Meskipun dia harus mengorbankan telinganya untuk mendengarkan rengekan Lu Han selama duapuluh menit. Juga lengan kanannya yang masih dalam pelukan Lu Han, mulai terasa pegal dan hampir mati rasa.

“Apa sudah sampai?” tanya Lu Han, masih menyembunyikan wajahnya di bahu Wu Yifan. Suaranya terdengar lirih.

“Belum,” jawab Wu Yifan singkat, melihat pemandangan serba putih dari balik kaca cable car. Mengingatkannya pada kunjungan mereka ke Rigi Mountain. Dan ciuman pertama mereka. Sebuah senyuman tipis muncul di bibirnya karena ingatan itu.

“Kenapa belum juga?”

“Aku dengar, butuh waktu sekitar empat puluh menit untuk sampai ke puncak.”

“Apaaa~~?” Lu Han kembali merengek.

“Jangan khawatir. Kita sudah setengah jalan. Lihatlah! Itu adalah puncak tertinggi di Alpen. Matterhorn,” Wu Yifan menunjuk ke luar, dan Lu Han sama sekali tidak peduli dengan penjelasannya.

Menoleh pada istrinya, Wu Yifan menyadari ada bekas air mata di pipinya. Kembali tersenyum tipis, menjewer kedua pipinya, “Jangan seperti itu. Kau jelek sekali.”

Karena Lu Han memilih untuk mempertahankan ekspresi jeleknya, Wu Yifan melepaskan kedua pipinya untuk memberinya sebuah kecupan di bibir. Seketika, Lu Han membeku di tempat. Mengedipkan matanya beberapa kali, dan senyum Wu Yifan adalah yang terakhir diingatnya, sebelum dia tersadar bahwa mereka sudah tiba di resor ski.

“Sudah pernah snowboarding sebelumnya?” tanya Wu Yifan. Seolah tidak terjadi apapun sebelumnya, dia membantu Lu Han memasang strap papan luncurnya.

Lu Han hanya mengangguk singkat. Canggung.

“Jadi aku tidak perlu mengajarimu dasar-dasarnya, kan?” Kali ini membantu Lu Han berdiri. Sekali lagi, Lu Han hanya mengangguk.

“Baiklah. Kalau begitu, ayo kita balapan. Yang terakhir sampai di bawah akan membayar makan malam,” jelas Wu Yifan, memasang goggles-nya.

“Apa-apaan itu?” Lu Han akhirnya bersuara, dan nampak tidak setuju.

Pada akhirnya, mereka benar-benar balapan. Lu Han tidak termasuk ahli namun juga tidak amatir, begitulah yang dipikirkan Wu Yifan. Menyadari bahwa istrinya tipe yang kompetitif, Wu Yifan memilih sengaja mengalah. Meskipun dia menang sekalipun, tetap dia yang bertanggung jawab dalam keuangan.

Mereka turun dari lokasi dan mengembalikan perlengkapan snowboarding yang disewa. Membeli paket makan siang, dan memakannya di dalam kereta menuju Gornergrat. Wu Yifan ingin mencoba paragliding hari itu juga. Karena dia tidak sabar menunggu hari esok, dan sekalian saja lelahnya hari ini, begitu pikirnya.

Selama perjalanan, dia sibuk membujuk Lu Han untuk ikut mencoba paragliding, bahkan sampai tiba di lokasi. Namun, Lu Han kokoh dengan keputusannya, tidak ikut melayang. Akhirnya, Wu Yifan meminta salah seorang kru yang bertanggung jawab di sana untuk mengatar Lu Han ke lokasi pendaratannya. Dia memberi Lu Han opsi untuk menunggunya.

Di lokasi pendaratan, Lu Han mencari-cari parasut milik suaminya di langit. Tangan Lu Han otomatis melambai saat melihat suaminya dan si pilot mendarat, “Kau senang?” membantunya melepas perlengkapan.

Memamerkan deretan giginya, Wu Yifan mengangguk berkali-kali. Menjabat tangan pilotnya dan mengucapkan terima kasih. “Kau harus mencobanya juga.”

“Tidak. Terima kasih,” Lu Han tersenyum datar. “Kita kembali ke hotel sekarang? Aku lelah sekali~”

•••••

Beristirahat dengan menonton film di televisi, Wu Yifan memanggil istrinya yang baru keluar dari kamar mandi untuk bergabung bersamanya. Melingkarkan lengannya di bahu Lu Han, merapatkan tubuh mereka. Aksinya membuat Lu Han agak terkejut, mungkin dia harus mulai terbiasa dengan segala skinship yang akan dilakukannya dengan Wu Yifan. Menyamankan posisinya, bahkan menyandarkan kepala di dada Wu Yifan. Tanpa mengetahui bahwa suaminya tersenyum lebar karena itu.

“HanHan,” panggilnya.

“Hm?” Lu Han masih terfokus pada film.

“Aku memikirkan ini tadi,” ucapnya, mengawali penjelasan.

“Apa?”

“Aku akan mendaftar training sebagai pilot paragliding. Jadi aku bisa membawamu melayang-layang di langit,” ungkapnya.

Lu Han menatapnya tak percaya, “Kekanakan sekali,” dan tertawa ringan. Jujur, dia menyukai sisi kekanakan suaminya. “Memangnya, kau ingin sampai kapan di sini? Kau dan aku mempunyai pekerjaan yang menunggu di Vancouver.”

Wu Yifan mengangguk pelan, istrinya benar. Saat itu, sebuah ide terbesit di pikirannya. Tangannya yang tadi melingkar di bahu Lu Han kini bergerak memegang tengkuknya, sehingga membuat si pemilik kembali terkejut.

“Bagaimana kalau sekarang saja?” mendekatkan wajahnya, Wu Yifan berbisik dengan suara berat yang berbeda dari biasanya.

Lu Han menatap kedua matanya, mencoba menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Meskipun sembilan puluh persen dia sudah bisa menduga, dan hipotesisnya benar. Menutup kedua matanya, bibir mereka bertemu.

Tidak perlu menunggu lama, Wu Yifan memperdalam ciuman mereka. Dia bisa merasakan, samar-samar Lu Han mencoba membalas ciumannya. Menggerakkan bibirnya, mencoba mengatakan pada Lu Han bahwa dia akan mengambil kontrol dan memberitahu apa yang harus dilakukannya. Dan Lu Han melakukan seperti yang diharapkannya.

Melumat bibir bawahnya dengan lembut, bergantian dengan bibir atasnya. Memutuskan untuk melibatkan lidah, mereka berciuman dengan mulut terbuka. Seiring dengan itu, perlahan Wu Yifan membaringkan tubuh Lu Han di sofa. Membawa ciumannya turun menuju garis dagu Lu Han, turun ke lehernya. Desahan yang dihasilkan oleh Lu Han membuat pikiran Wu Yifan semakin liar. Saat bibirnya mendekati area dada, dia dapat mendengar napas Lu Han tertahan.

Lu Han menarik kepala Wu Yifan dari sana. Mendorongnya sehingga mereka kini terduduk kembali di sofa. “Tunggu dulu,” berdiri, menuju ke kamar mandi meninggalkan suaminya yang tampak linglung.

Di dalam, Lu Han berusaha menenangkan pikiran dan debaran jantungnya. Dia belum seratus persen siap, tapi dia juga tidak ingin membuat Wu Yifan terus menunggu. Dia ingin menelepon ibunya, meminta nasihat, tapi smartphone-nya ada di luar. Lu Han mencoba berpikir positif. Wu Yifan adalah suaminya. Tidak ada yang salah jika mereka melakukannya.

Sementara di luar, Wu Yifan beberapa kali menghela napas kasar. Bangkit dari sofa untuk meneguk air mineral sebanyak mungkin, berusaha menurunkan suhu tubuhnya. Sembari berpikir, mungkin sekarang bukan waktu yang tepat. Dia tidak akan memaksa Lu Han jika istrinya itu belum benar-benar siap. Melangkah menuju ranjang, dia berencana untuk meminta maaf pada istrinya nanti, kemudian pergi tidur.

Terkejut saat mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Entah kenapa jantungnya berdebar-debar. Tampak Lu Han berdiri di depan pintu, tak berani menatapnya. Memberinya senyuman samar, dan menepuk ruang kosong di sampingnya saat pandangan mereka bertemu.

“Aku minta maaf,” ucap Wu Yifan, setelah Lu Han menyimpan kakinya di dalam selimut. “Kau tampaknya belum siap. Jadi, aku… emm, kita lupakan saja.”

Lu Han menatap suaminya, “A-aku… aku akan berusaha!” suaranya bergetar.

Wu Yifan balas menatapnya, kembali tersenyum, “Tidak apa-apa. Jangan memaksakan diri.” Kembali terkejut saat Lu Han menangkup wajahnya dan menciumnya lebih dulu.

“Aku… tidak apa-apa. A-aku… percaya padamu,” ucap Lu Han setelah mengakhiri ciumannya. Suaranya terdengar gugup namun ada keyakinan kuat di dalamnya.

Wu Yifan menatap ke dalam bola mata istrinya, mencari keyakinan itu. Dia tidak ingin Lu Han mau melakukannya hanya karena dirinya. Bukan benar-benar apa yang diinginkan oleh hatinya.

“A-aku ingin kau siap secara fisik dan mental. Bukan hanya karena kemauan saja. Aku akan merasa bersalah kalau kau terpaksa,” ungkap Wu Yifan. Terdengar hanya seperti sebuah alasan saja.

“A-aku bilang, aku akan berusaha!” ucap Lu Han, setengah berseru.

Wu Yifan mencoba untuk memancing Lu Han sekali lagi, “Hmm… jadi, kau ingin aku berhenti di tengah-tengah kalau seandainya tiba-tiba keyakinanmu goyah?”

Lu Han masih memikirkan maksud pertanyaan suaminya saat merasakan tubuhnya sudah terbaring di ranjang. Wu Yifan kembali menciumnya dalam, dan melumat bibirnya. Napas Lu Han terengah-engah setelah Wu Yifan memutus ciuman mereka.

“Apa kau benar-benar yakin? Karena kau tidak bisa membatalkannya saat sudah berjalan,” Wu Yifan kembali berbisik dengan suara berat.

Menatap kedua mata suaminya sebelum menutup mata, Lu Han mengangkat dagu, membuka lehernya untuk Wu Yifan, “Lakukan! Sebelum aku berubah pikiran.”

Wu Yifan tersenyum puas dan kembali mencium bibir Lu Han dengan mulut terbuka, melumatnya lembut. Lu Han kembali mendesah saat merasakan tangan Wu Yifan menelusup ke dalam kaosnya, mengusap pinggang dan perut datarnya. Mengeratkan kedua lengannya yang melingkar di leher Wu Yifan, Lu Han membalas ciumannya. Bibir Wu Yifan kembali menelusur rahang bawah, leher, dan dada Lu Han, meninggalkan beberapa tanda yang kontras.

Setelah puas mengagumi mahakaryanya di leher dan dada Lu Han, Wu Yifan melepas kaosnya, kemudian kaos Lu Han. Detik selanjutnya, tertegun dengan apa yang dilihatnya. Ternyata, Lu Han sudah melepas bra-nya. Wu Yifan tersenyum kecil atas usaha istrinya. Kedua mata Lu Han terbuka, seperti refleks, tangannya menyilang di depan dada, menutupi bagian atas tubuhnya yang telah terekspos.

Wu Yifan meraih kedua tangan Lu Han,berbisik, “It’s just me. You trust me, right?”

Kedua mata Lu Han menatap lurus ke dalam mata Wu Yifan. Seolah terhipnotis, membiarkan suaminya menyingkirkan tangannya dari depan dada. Menahan tangan Lu Han masing-masing di samping kepala, Wu Yifan mengecup bibirnya sekilas, dan melanjutkan kegiatannya. Kembali terdengar desahan Lu Han memenuhi ruangan saat Wu Yifan menangkup dan membelai payudaranya.

Ini pertama kalinya bagi Lu Han. Pertama kali dia membiarkan orang lain menyentuh bagian-bagian tubuhnya yang sensitif. Tapi Wu Yifan bukanlah orang lain. Pria itu adalah suaminya. Lu Han terus memikirkannya.

“Kau sangat indah,” Wu Yifan memandangai tubuh Lu Han yang kini telah terekspos seluruhnya, sebelum menyentuhnya lagi.

I’m your pilot. I’ll take you to Cloud 9,” Wu Yifan kembali berbisik dengan suara serak tepat di telinga Lu Han. “Ready?”

Bibir Lu Han sangat merah, kedua pipinya merona, matanya menatap sayu pada Wu Yifan. Dan dengan satu anggukan penuh keyakinan dari Lu Han, mereka bersatu.

“Aku mencintaimu,” desah keduanya.

Tonight is the night when two become one.

•••••

A/N

Apa-apaan ini~~?? Apa yang sudah kutulis~~? Memalukan sekali! Amatiran! (>///<) *blushing hard*

Halo, semuanya! ( ´ ▽ ` )ノ  Apa kabar? Sorry for late update.

Apa kalian senang? Aku menyelesaikan dan menyunting part ini pada malam hari agar tidak ada yang tahu apa yang sedang kuketik. Untung aku menulis dan merilis part ini sebelum Ramadhan. Tapi gak terlalu nambah dosa kok, hehe~

Benar-benar memalukan! Ini pengalaman pertama aku menulis hal-seperti-ini. Banyak sensorannya, ya? Hehe~ Mungkin karena efek tidak sengaja membaca fanfiction rating M sebelum cukup umur, yang memberi efek trauma pada otakku, sehingga aku tidak bisa menulis hal-seperti-ini dengan baik(?).

Untungnya(?) facfiction itu yang kubaca adalah KrisHan fanfiction berbahasa Inggris. Jadi aku hanya secuil-cuil mengerti bahasanya. Mueheheh~ ╰( ̄▽ ̄)╭   Tapi tetap meninggalkan trauma. Jujur, sekarang(?) aku hanya bisa membaca fanfiction dengan rating M kalau itu adalah KrisHan dan berbahasa Inggris. Kalau berbahasa Indonesia, eum… aneh sekali, apalagi yang tidak disensor. Aku tidak bisa… ○| ̄|_ #malahcurhatlagi

Aku menulis part ini juga mencari referensi dari novel terjemahan, yang disensor. Ini adalah part yang paling lama penyelesaiannya.

Ah, sudahlah. Mungkin tidak sesuai ekspektasi lagi dan bahasanya menjadi kaku. Tapi aku sudah memasukkan adegan berbahaya-nya untuk fanfiction ini. Aku memang berniat menulis satu, meskipun amatiran.

Seperti biasa, tuangkan semua yang kalian pikirkan, kritik, saran, apapun itu. Semuanya diterima (ditampung dan dipertimbangkan, (`∀´)).

Terima kasih sudah berkunjung! Aku menghargai semua yang kalian berikan padaku, meskipun aku tidak ahli menunjukkan rasa terima kasihku secara terang-terangan. Semoga kalian betah menunggu cerita-ceritaku. Aku akan terus belajar menulis.

Have a nice day! See ya~ ^∇^

 

Big Heart,

Ranifa Billy

Advertisements

One thought on “[Fanfiction] Tangled (part 7) | FanHan/KrisHan/KrisLu

  1. Akhirnya jebol juga 😂😂😂😂
    Kirain gak update 😅
    Ya ampuuuuuunnnn ini sweeet sweeet bangeeeeetttt astagaaa kocaknya dapet gemesnya dapet dan romantisnya beeuuhh dahsyat bangeett 😍😍😍

    Duh gemes gemes … Ah aku envy weehh sama Luhan ≥﹏≤
    Et tapi, Wu Yifan yang ini kesambet apaan yak? 😂 kok tumben2an mikirin persetujuan Luhan biasanya mah langsung to the point, agresif, pemaksa pokoknya gak sabaran lah 😂😂😂😂 *dipeluk Wu Yifan*

    Yang pas Yifan bilang “I’m your pilot. I’ll take you to cloud 9” aaahhhh meleleh aku baaaaaangggg 😍😍😍😍😍

    Pokoknya ditunggu chapter selanjutnya. Harus dilanjutin sampe tamat. Bulan puasa jangan hiatus 😅 sukses buat kuliah sama real life nya. Hwaiting!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s